
❤❤❤
Mentari baru selesai merapikan pakaian miliknya dan juga Helen. Dafa bermain dengan putri mereka di karpet tepat di belakang tubuh Mentari yang tengah terduduk di depan lemari. Menggeser-geser letak pakaian miliknya dan Dafa, agar untuk sementara baju Helen yang belum memiliki lemari di rumah itu bisa tersusun rapi.
"Yah, sama lemari kayaknya." Ucapnya pada Dafa.
"Iya, ntar sekalian beli box aja. Helen udah bosen nih mau tidur lagi kayaknya. Udah ndusel-dusel dada aku. Apa kasih coba aja?" Dia tengah menimang Helen yang sudah merengek ingin segera menyesap asi ibunya.
"Sembarangan, apa yang keluarnya?" Mentari menutup lemari dan merangkak mendekati suami dan anaknya yang duduk tak jauh dari posisinya.
Dafa tertawa, sambil menciumi wajah Helen yang sudah memerah karena tangisan-tangisan kecil. "Yang ke sedot, paling daki." Dia tertawa lagi.
"Sini!" Mentari merentangkan tangannya agar Helen di berikan padanya.
"Daki, jijay." Mentari ikut tertawa melihat suaminya yang selalu ada saja kata-kata yang ngeyel membuat tawa mewarnai hari mereka.
*
*
Helen kembali tertidur di pangkuan ibunya, mulutnya sudah terlepas dari puncak dada Mentari, tapi masih bergerak lucu seakan masih menghisap asi.
"Tidurin, kita makan." Dafa masuk ke kamar, setelah baru saja menerima orderan makanan dari ojol yang dia pesan.
Di tidurkan nya tubuh putrinya, di usap sebentar paha nya, agar semakin nyenyak. Dia tersenyum melihat putrinya tidur menyamping dengan memeluk guling kecil miliknya.
"Kenapa?" Dafa menghampiri dan merangkul pundak istrinya dengan sayang.
"Aku, suka masih nggak percaya punya dia. Tuhan begitu baik mengijinkan aku memiliki dia, lucu, cantik, nggak pernah rewel. padahal bibit nyebelin ada banget di darahnya." Ucapnya melirik Dafa dengan ujung matanya.
Dafa mengerutkan alisnya dengan apa yang istrinya itu ucapkan. "Siapa yang nyebelin? aku maksud kamu?" Dafa menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, siapa yang bilang kamu?" Mentari terkekeh lucu. "Ayo, katanya mau makan!" tangannya menarik lengan Dafa yang masih duduk memikirkan maksud Mentari.
Mereka sudah duduk di depan meja makan. Mentari menyalakan TV dan mengeluarkan dua dus makanan dengan logo sebuah restoran ayam bakar yang punya nama di daerah Bandung.
"Aku, ini mah yakin." Dafa berkata sambil membuka kotak nasi di depannya.
Mentari menatapnya sambil tertawa, "Apaan?"
"Aku, kan yang bawa bibit nyebelin di tubuh Helen?" rautnya serius menunggu jawaban dari istrinya.
Mentari berdiri dari duduknya, pindah ke lahunan Dafa. "Iya, itu emang bibit kamu kan?Terus kalo Helen bukan bibit kamu, bibit siapa lagi? Lagian aku bahagia, semua bibit kamu nempel sempurna sama dia." Lalu dia kecup bibir Dafa yang tengah menatapnya.
"Aku bersyukur, punya dia. Aku bersyukur benih kamu kuat tumbuh di rahim aku, dia kuat mendapatkan segala cobaan. Benih lain belum tentu." Dia memuji di akhiri godaan.
Dafa membola saat mendengar kalimat terakhir dari istrinya, "Emang,mau bibit siapa? enak aja. Cuma bibit aku yang boleh muntah di sini!" Ucapnya menyentuh cekungan hangat milik sang istri yang tengah duduk di lahunan nya.
Mentari memejamkan matanya, saat Dafa bermain nakal di area bawahnya yang hanya terbungkus celana tidur sangat pendek berbahan satin.
"Emmm ... " dia mende*sah saat Dafa menarik tengkuknya langsung menyatukan bibir mereka, saling menghisap dan lidah mereka juga saling membelit.
Krukk ... Krukk (suara cacing perut, cerita nya 🤣)
Dafa melepaskan pautan itu, menatap kasian, lucu, dan sebal sekaligus.
"Makan dulu, aku nggak mau kamu pingsan pas belum sampe puncak." Goda nya sambil tertawa
Menteri ikut tertawa dan kembali ke kursi yang dia tinggalkan tadi, "lagi nanjak-nanjaknya malah pingsan." Dia terkikik geli.
__ADS_1
"Nah, itu tau." Dafa menyuapkan satu sendok nasi yang telah terisi suiran ayam bakar.
Mereka pun makan siang dengan tenang, sambil sesekali di hiasi canda tawa.
🌺
🌺
Mentari selesai membereskan meja makan, dia menghampiri Dafa yang tengah berkutat dengan laptopnya di ruang TV.
Suasana siang, di rumah impian bersama-sama orang terkasih membuat hatinya terasa hangat, merasa berga*rah sekaligus bersemangat.
"Pergi sekarang yuk, biar sore kita udah di rumah lagi." Usulnya sambil duduk di sebelah Dafa.
Dafa menoleh ke arahnya sesaat, melemparkan sebuah senyuman, mengelus lembut pipi itu dengan punggung tangannya.
"Sebentar ya, ada sedikit kerjaan buat laporan besok. Aku mulai ke kantor Papa besok!" Ujarnya.
Mentari mengangguk pelan, lalu dia mengambil tangan kiri Dafa yang sedari tadi mengelus pipinya, dia cium lalu sebuah ide jail tiba-tiba muncul di otaknya.
Tangan yang sedang dia gengam itu dia tarik dan jari telunjuk itu dia kulum.
Dafa yang sedang mengetik dengan sebelah tangannya, langsung membola dan seketika menoleh, menatap istrinya kaget. "Kamu, ngapain? jangan mancing aku, Sun. Nggak bakal kuat ini, sedikit lagi kerjaan aku." Dafa memejamkan matanya saat Mentari terus mengu*lum telunjuknya.
Lelaki itu dengan sigap langsung menyimpan laptopnya di atas meja. "Arghhh ... Sun, jangan salahin aku minta sekarang, kamu nakal udah berani bangunin dia nih." Dafa menarik tangan istrinya hingga menyentuh miliknya yang sudah mulai bangun.
Mentari terkikik dengan sikap jailnya yang malah membuat suaminya itu blingsatan tak karuan.
Dafa mengungkung tubuh Mentari di bawahnya, menyusupkan kepalanya di ceruk leher jenjang istrinya, mengendus aroma manis khas parfum nya.
Istrinya itu hanya menggunakan tanktop tanpa pelapis dalam nya, membuat bulatan kecil itu mengeras menantang, terlihat membayang di tanktop berwarna baby pink itu.
"Ehhhmm ... Mas!" Dia menyerah, Dafa terus menerus membalas kejailan nya dengan sangat luar. Dari mulai menyesap sambil menggesek-gesek miliknya yang sudah sangat keras, ke celah di belahan paha miliknya.
Dafa menatapnya sambil tersenyum mesum, "Kamu yang udah bangunin dia, salah sendiri." Lalu kembali mengecupi bibir istrinya dengan hisapan sedikit keras, hingga mereka saling berdecak dan mengerang.
Di tariknya penutup satu-satunya milik sang istri, hingga sebuah bel terdengar dari luar.
Dafa menutup matanya, dengan rahang mengeras. Siapa orang yang sudah berani mengganggu aktivitas uhuyynya di siang hari itu.
"Liat dulu, takut penting." Mentari menahan wajah Dafa yang kembali akan menunduk di atas dadanya.
Dafa bangkit dari sofa itu, "Diem, jangan berubah. Aku belum selesai sama kamu. Sun!" Dafa bangkit sambil mengancam istrinya.
"Iya, iya. Buruan sana!" Mentari setengah tertawa melihat wajah kesal Dafa.
***
Dafa mendengus kesal masuk ke dalam rumah, lalu mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Apa?"
"Hansip, nagih uang sampah. Aku bayar enam bulan biar nggak bulak-balik lagi. Asem ganggu banget!" Dengusnya kesal sambil keluar dari rumah.
Mentari terkekeh geli sendiri.
Dafa kembali masuk, dia ingin segera melanjutkan apa yang tertunda. Namun saat masuk dia tak mendapatkan istrinya di sofa. Lalu dia masuk ke dalam kamar.
"Sun?"
__ADS_1
"Bentar, lagi pipis!" suara Mentari menjawab dari kamar mandi.
Dafa membetulkan letak guling dan bantal penghalang yang akan melindungi Helen.
Klek...
Istrinya itu keluar dari kamar mandi, Dafa langsung menggendongnya seperti sebuah karung, dia bawa kembali ke sofa ruang tv yang cukup besar untuk menampung mereka berdua.
"Agghh ..." Mentari memekik saat Dafa sedikit keras menurunkannya ke atas sofa.
Dafa langsung membuka kaos dan celana pendeknya, menyisakan boxer ketat pembungkus si jamur kuncup bin belut listrik miliknya.
Sebuah kecupan kembali Dafa luncurkan, dan kedua tangannya sudah mengelus sedikit meremas si gundukan yang membuatnya candu dan Helen sering mengalami mabuk asi, (minum asi ampe teler).
Gagang itu, semakin keras dan menggesek-gesek. Memberikan sensasi gemas pada Mentari, yang sama menginginkan nya. Namun Dafa masih menahannya membalas apa yang di perbuat istrinya.
"Euhmm ... Mas!" Mentari sudah basah di bawah sana, pintu gua nya sudah bertuliskan 'Welcome'.
"Ayo, mohon sama aku. Panggil aku, Sun." Dafa kembali menggigit kecil puncak dadanya dan menghisap dari luar baju yang Mentari pakai.
"Aghh ... Mas, Ayo. Masuk sekarang ... " Mentari merengek memohon, dia tinggalkan rasa gengsi saat keinginannya memuncak menguasai akal sehatnya.
Dafa menyeringai puas, kapan lagi istrinya memohon seperti itu. Dia semakin semangat bangkit dan segera menurunkan boxer nya.
Mentari pun melakukan hal yang sama, namun Baru membuka tanktop miliknya Dafa sudah kembali menerkam dirinya hingga dia kembali terjengkang di atas sofa. Sambil sedikit terkekeh Mentari menerima perlakuan buas Dafa, seperti seekor singa menerkam mangsanya, dia tak ingin kehilangan buruannya.
"Argghhh Sun, ughhh .... Aku mau kamu sekarang!" suaranya yang parau dengan mata yang semakin berkabut gai*rah.
Dafa membuka tekukkan paha sang istri, membukanya lebar menatapnya seperti itu adalah hal yang baru saja dia lihat untuk pertama kalinya.
Dia menundukan kepalanya, membelai dan kemudian dia mengecupi celah hangat yang sangat membuatnya gila itu.
Mentari meremas rambut Dafa saat lelaki itu, mengecupi bagian paling sensitif di tubuhnya itu.
"Massss ... " Dia sudah sangat tak sabar dan semakin mendamba.
Lalu gerakan tangan cepat, dan terburu-buru dari Dafa saat membuka kain renda segitiga milik istrinya bersamaan dengan suara tangisan Helen dari dalam kamar.
Pasangan itu terlonjak kaget, dan juga panik.
Mentari bahkan langsung terduduk dan langsung bangun menyambar si kain renda yang masih Dafa pegang dengan wajah kecewa nya.
"Ini, Sun ... gimana?" Dafa memegang jamur kuncup miliknya yang sudah siap dia tanamkan.
"Kelamaan, sok banyak gaya! nggak inget apa sekarang udah ada Helen." Mentari menggerutu kesal, sambil memakai kembali celananya dan berlari ke arah kamar.
Dafa merebahkan tubuhnya di sandaran sofa sambil mengelus belut listrik nya.
"Terjadi lagi, Iklan terosss .... " Dia menjambak rambutnya frustasi.
Bersambung 💋💋💋
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰
Lupa, cerita ini udah lulus kontrak hampir dua minggu, saking senengnya ampe lupa ngasih tau, jadi makin semangat ya buat like komen nya, terus yang mau promoin boleh banget. Aku balas dengan doa di sepertiga malam ku buat Orang-orang baik kayak kalian🥰🥰🙏🙏.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰
__ADS_1
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲