Kisah Mentari

Kisah Mentari
mungkin hamil


__ADS_3

❤❤❤


Tiga bulan berlalu


Pagi hari selalu menjadi momen sibuk untuk Mentari. Mengurus si kecil Helen yang sudah mulai aktif berceloteh dan kini sedang belajar tengkurap.


Suara tangisan Helen yang melengking terdengar sampai dapur, "Iya, nak. Sebentar sayang." Mentari berteriak agar suaranya terdengar oleh sang putri.


Dirinya sedang membuat sup ayam untuk sarapannya sebelum pergi ke Butik.


"Sayang ... sebentar ya, ini tinggal masukin sayuran nya." Dia terus mengajak bicara putrinya yang merengek. Tangannya sambil mengaduk susu coklat khusus ibu menyusui.


Segala makanan yang masuk ke tubuhnya dia jaga betul kadar gizi nya, selalu ingin yang terbaik untuk putrinya.


Setelah selesai memasukan sayuran ke dalam panci yang berisi rebusan daging ayam, dia segera berlari ke kamarnya membawa segelas susu hangat di tangannya.


"Ugh, sayang. Haus? Helen cantiknya Ibu mau enen?" Dia meraih tubuh gemuk Helen dari dalam box bayi tepat di sebelah tempat tidurnya.


Lalu berjalan ke arah balkon apartemen miliknya.


Dengan Helen dalam pangkuannya.


"Haus? Helen mau enen? iya?" dia mengajak bicara putrinya sambil terus tersenyum, saat Helen juga ikut tersenyum seolah mengerti apa yang Ibu nya bicarakan.


Dia mengeluarkan pucuk dadanya dan langsung di sesap rakus oleh sang putri. Mentari terus saling bersitatap dengan Helen, sambil meminum susu coklat miliknya.


"Enak ya, anget ya enen Ibu? rasa coklat ya?" dia terkekeh saat helen tersenyum ke arah nya dengan mulut yang masih semangat menghisap asi.


"Sup ayamnya belum mateng, nanti siang aja ya Helen minum asi Ibu rasa sup ayam." Ucapnya lagi sambil menciumi jemari mungil Helen yang mencoba menggapai wajahnya.


"Cup ... cup ... sayang Ibu, cantiknya Ibu, cahayanya Ibu."


Sinar matahari pagi sangat cerah, namun angin di pinggiran kota Bandung masih terasa sejuk.


Pemandangan bukit terlihat jelas dari balkon apartemen nya. Mentari baru menempati apartemen itu belum satu bulan, setelah dia berhasil membujuk Bunda dan Ayahnya agar di ijinkan tinggal hanya berdua dengan Helen.


"Apa? Ibu malu Helen liatin Ibu terus." Kekehnya menatap wajah Helen yang terus memandangi nya sambil terus menyesap dadanya.


"Udah yuk, kita mandi. Terus Helen mau ikut Ibu atau di rumah nenek? Helen tersenyum sambil kedua tangannya dia tautkan dan dia **** sampai menimbulkan suara decakan.


Mentari mengubah duduknya di atas sofa, seperti tengah berjongkok lalu dia dudukan Helen di atas lututnya.


Wajahnya mengingatkan nya pada Dafa, bahkan sebuah tahi lalat yang ada di perut bagian bawah Helen sama persis dengan yang di miliki Dafa ayahnya.


" Kamu mirip banget Ayah!" Gumamnya.


"Maafin Bunda ya belum bisa ketemuan Helen sama Ayah." Tiba-tiba Helen merengek dan menangis saat Mentari berkata soal Dafa.


"Mau? mau ketemu Ayah?" Mencoba meredakan tangisan Helen.


Seketika hening, Helen dengan anehnya berhenti menangis.


"Sabar, ya. Nanti kita ketemu sama Ayah." Lalu dia bangun berjalan masuk kembali ke kamar nya, masih dengan menggendong Helen dia menyiapkan air hangat dalam bathtub .


"Kita liat sup ayam dulu yuk! udah mateng kayaknya. Biar Helen enen nya enak soalnya Ibu mau makan dulu." Mentari terus saja mengajak Helen berbicara, dia membiasakan Helen dengan suaranya, dan hasilnya bayi berusia tiga bulan itu sudah pandai mengoceh.




Mentari memarkirkan mobilnya tepat di sebuah rumah besar, dia berhenti di luar pagar dan memangku Helen dan membawanya masuk.



"Ugh ... cucu nenek sayang, Kangen." Bunda Rima sudah menunggu di teras.



"Kenapa mobil nggak masuk?" menoleh ke arah luar pagar.



"Buru-buru Bun, ada yang mau fiiting baju. Lagian mau ke butik Mami, mau ngasiin beberapa design pesanan." Terangnya sambil menyodorkan Helen pada dekapan sang Bunda. "Ayah, kemana Bun?" tanyanya melihat mobil milik Ayahnya tak ada di garasi yang pintunya sedikit terbuka.



"Ada rapat sama Abang, siang juga udah pulang katanya."

__ADS_1



"Huweekk ... huweekk... " Bunda seperti orang yang mau muntah, Mentari dengan sigap mengambil Helen dari gendongan Bunda



Bunda masih menutup mulutnya. Rasa mual masih kuat dia rasakan.



"Kenapa Bun?" tanyanya cemas.



"Dari kemarin Bunda agak mual," Jawabnya jujur.



Mentari membawa Bunda masuk ke dalam rumah, dan seorang perawat menghampiri mereka dan langsung menggendong Helen.



"Kamu aneh, pake babysitter tapi nggak di bawa ke apartemen." dia masih memijit pelan perutnya yang mual.



"Aku pengen quality time sama Helen." Pandangannya tertuju pada Helen yang merengek dalam gendongan susternya.



"Sini, Sus. Mungkin mau tidur! biar saya susu in dulu." Kembali merengkuh tubuh putrinya dan langsung membuka kancing kemejanya.



"Tuh, bener mau tidur." Helen sudah mulai menutup matanya tangannya memegang kakinya sendiri dan menggerak-gerakan kakinya.



"Lucu, kalo lagi posisi gini. Rasanya bahagia banget." Punggung kecil Helen terus dia usap-usap, mulut kecilnya terus menghisap sampai terdengar suara decapan lucu.




"Kok, aku takut punya adik ya!" gumamnya.



Mentari merogoh ponsel nya.



"Ayah, selamat. Bunda hamil." isi pesan yang dia kirimkan pada sang Ayah.



Dia terkekeh, padahal belum tentu tapi mungkin.


"Nggak bisa ngebayangin," dia menutup mulutnya saat membayangkan Bunda nya hamil di usia 52 tahun.



Dering ponsel nya mengagetkan, terpampang nama si pemanggil '*Ayah*' dia terkekeh dan memberikan Helen pada susternya.



"Halo,Yah ... "



"Jangan, sembarangan kamu." Ayah terdengar panik di sebrang sana.



"Asli, Bunda muntah-muntah. Ayah cepat pulang, aku mau ke butik tapi nggak ada yang nunggu *bumil*." Dia menahan mulutnya agar tidak tertawa.


__ADS_1


"Ayah pulang sekarang, tungguin dulu Bunda." Pintanya.



Panggilan pun berakhir, dan Mentari langsung tertawa.



\*



\*



Di lain tempat



"Gimana? udah ada alamat nya?" Rijal duduk di ruang tamu rumah Dafa.



"Udah, aku mulai capek terus di over ke sana ke sini. Kayak apa aja." Gerutunya kesal.



Rijal tertawa sambil menepuk punggung Dafa, "Ujian lu, hadapi."



"Dari mulai butik di Jakarta, rumah orang tuanya di Jakarta, villa di Bogor, rumah yang di sini udah nggak keitung berapa kali gue ke sana.Di market Ayahnya, ke Cindy juga. Gue kayak di permainkan beberapa bulan ini." Dia menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.



"Urusan gue bukan cuma nyari Bini kabur, ada perusahaan Papa, ada kerjaan gue di firma yang membuat gue harus bulak balik pengadilan, kadang kantor polisi. Duh *Hayato* lelah Bang." Dia menghela nafas lelahnya.



"Terus, lu mau nyerah?" tanya Rijal menyeruput kopinya yang baru saja dia buat di dapur sahabatnya yang kini sedikit rapi.



"Nggak mungkin lah, cuma sampai kapan gue kucing kucingan sama dia. Capek Bos." Geramnya.



"Sabar ... mungkin ini perjuangan lu, buat meyakinkan keluarga besar Tari." Rijal kembali memberi semangat.



"Udah kangen, kangen banget. Kalo udah ketemu gue kurung kagak boleh keluar kamar sebulan, nggak boleh pake baju juga." Otaknya menghayal.



"Si anjirrr, lu mah otaknya anu mulu." Rijal terbahak-bahak.



"Karena gue udah punya ini, kalo anu punya bini gue. Jadi kalo udah bersatu judulnya lain '*Ini mau anu*'



Mereka pun tertawa geli, namun hati dan pikiran Dafa tetap tak bisa fokus, lebih ke gemas, kesal, marah dan yang sangat mendominasi adalah rasa kangennya.



**Bersambung ❤❤❤**



**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**



**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**

__ADS_1



**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**❤


__ADS_2