Kisah Mentari

Kisah Mentari
pertemuan


__ADS_3

❤❤❤


"Akhirnya nyampe... " Dafa keluar dari mobilnya dan dengan langkah yang masih sedikit pincang dia tergesa menaiki tangga menuju pintu masuk Resto itu.


"Si monyet... kagak ada akhlak, gue di tinggal." Sungut Rijal.


Lelaki itu ikut berlari mengejar sahabatnya yang ngebet pengen makan ayam bakar.


"Duduk di mana? penuh!" Rijal bertanya pada Dafa yang juga masih mematung di dekat pintu masuk.


Pandangan mereka menyapu setiap sudut resto, mencari bangku yang bisa mereka tempati.


"Tuh, di pojok bangku dua kosong." Rijal menunjuk salah satu spot di ujung kiri belakang dekat kola. ikan.


Deg...


Dada Dafa berdenyut saat melihat tempat yang di tunjuk Rijal.


"Kenapa lu? muka ampe pias gitu?" Rijal menatap serius dengan wajah aneh.


"I-itu... " Jawabnya gugup.


"Kenapa? lu kayak liat setan?" Rijal semakin penasaran.


"Itu, tempat dimana gue ama bini dulu makan, kita ketawa bareng... "


"Dengan gombalan receh lu pasti, kekonyolan lu yang garing." Rijal memotong ucapan Dafa.


"Yang penting dia ketawa."


"Dan sekarang, dia pergi dengan tangisan." Rijal menambahi.


"Si anjing... make di perjelas, mana detektif yang bisa ngelacak GPS itu? katanya hacker sejati." Dafa mencibir nya.


Mereka duduk di satu-satunya tempat kosong di resto itu.


Rijal yang sedang membuka menu pun menengadah dengan ucapan Dafa. " Lupa gue ngasih tau, dia lagi berduka istrinya meninggal saat ngelahirin tapi anaknya selamat, kayaknya dia belum bisa fokus sama kerjaan." terangnya


"Astaga... sory, gue kagak tau!" Dafa mengubah raut wajah tengilnya menjadi wajah menyesal.


"Kasian, padahal kehamilan itu penuh perjuangan banget, dia tergolong susah punya anak mau empat taun baru di kasih."


"Udah takdir... " gumam Dafa.


"Kalo lu di kasih milih, milih anak atau istri?"


Dafa diam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kalo harus milih, kalo anak mungkin bisa di kasih lagi, kalo lu udah ngerasa cocok dan jatuh cinta apa mau lu ganti bini?" Dafa mengungkapkannya isi hatinya.


"Dih... dia curhat!" Rijal terkikik-kikik geli.


"Nggak usah ngebahas kayak gituan anjirrr, aing pusing nyari bini kabur aja belum ketemu ampe sekarang!" Sungut nya.


Dafa mengangkat tangannya ke arah seorang pelayan yang melintas di dekat mereka.


"Ayam bakar sama es kelapa ya, Lu apa?" tanyanya pada Rijal yang masih membolak-balikan buku menu.


"Samain aja lah, tapi minumnya es jeruk." Rijal menyimpan buku menu itu.


"Enak ya suasananya, buat ehemm asik nih!"


"Ehem mah enak di hotel!" timpakan Dafa.


"Anjirr... emang sayton lu mah." Rijal menepuk tangan Dafa dengan buku menu yang ada di sampingnya.


*


*


Di sisi lain.


Mentari tak berkedip, lelaki yang sangat dia cintai sekaligus yang telah menyakiti nya, berada di depan matanya.


Terlihat lebih kurus dan berantakan, lingkaran hitam di sekeliling matanya terlihat nyata.


"Sayang... " Bunda Rima melihat ke arah anaknya


"Kenapa?" Mami Nina ikut khawatir.


"Di belakang Mami, di pojok deket kolam. Laki-laki dengan kemeja flanel hijau lumut, dia Ayah baby." ucapnya dengan mata yang sudah menggenang air mata siap lolos dalam satu kedipan.


"Kedua wanita paruh baya otomatis melihat ke arah yang Mentari sebutkan barusan.

__ADS_1


" Ya Tuhan... Menantu ku, pengen tak tanya kenapa nyakitin anakku."


"Cowok nyebelin, pengen aku lelepin di kolam piranha."


Bunda dan Mami berucap mengutuk bersamaan.


"Ayo, aku mau keluar sebelum dia lihat aku." Mentari menutup wajahnya dengan buku menu.


"Tapi kita pasti ngelewatin dia, gimana?" Mentari cemas.


Mereka sama-sama berpikir bagaimana caranya melewati lelaki yang sedang menunggu pesanan itu, yang memeng mereka tengah celingukan melihat ke berbagai sisi resto itu.


"Mami sama Bunda kami jalan duluan, baru kalian ngikutin. Mami mau sedikit ngalihin perhatian dia." Sebuah rencana terlintas di kepala designer pemilik butik besar itu.


Mereka bangkit berjalan melewati meja Dafa dan Rijal.


"Ups... Maaf," Ucap Mami Nina yang menyenggol Dafa dengan sengaja.


"Tante... bisa hati-hati nggak jalannya." Sungut Dafa kesal, wadah tampung emosinya yang hanya sejengkal itu dengan mudahnya meluap.


"Saya nggak sengaja lagian udah minta maaf juga." Mami Nina ikut terpancing oleh bentakkan Dafa.


Bunda yang berada di sisinya mencoba meredam emosi sahabatnya itu, yang dia tak mengerti apa akting atau benar-benar marah.


Rijal melakukan hal yang sama melerai perdebatan Dafa dan seorang wanita paruh baya.


"Daf... udah, orang tua itu!" Rijal menahan tubuh Dafa yang akan bangkit dari duduk.


Mentari dengan di rangkul Evan melewati meja Dafa dengan mudahnya. Karena suaminya itu tengah adu mulut.


Namun Rijal seperti melihatnya. Dan Mentari buru-buru berjalan ke arah pintu keluar.


Rijal tidak fokus dia masih mencoba melerai perdebatan Dafa dengan salah satu pengunjung.


"Hei... " gumam Rijal saat melihat dengan jelas Mentari menoleh dari arah pintu, masih dengan rangkulan Evan.


Sebuah lengkingan khas ibu-ibu cerewet membuyarkan nya kembali. Fokusnya pun kembali pada Dafa yang sedang mengamuk.


"Masih muda jangan sok jagoan!" Mami Nina masih bersungut-sungut meluapkan kekesalannya.


"Maaf ya, di sini anda yang salah tapi anda yang marah-marah." Dafa menimpali.


"Heh... anak muda yang emosian tolong jaga sikap ya, kasian saya ke istrinya." Ucapnya mencibir.


Dafa semakin naik pitam saat sang istri di bawa-bawa.


Sekarang beberapa pelayan dan manager resto pun menghampiri keributan itu. Beberapa mata pengunjung menyaksikan perdebatan sepele itu.


"Kasian istrinya punya suami tempramen banget, pasti nggak akan kuat dan kabur." Ucapnya lagi.


"Udah... yuk, nggak usah di perpanjang." Bunda Rima menarik lengan sahabatnya itu.


"Anda jangan sok tau, urusan rumah tangga saya." Dafa semakin tersulut emosi.


"Emang tau, lelaki tempramen seperti kamu pasti di tinggal istri. Mana ada yang kuat sama sikap kayak gitu."


"Nin... udah, ayok nggak usah di terusin." Akhirnya Bunda Rima berhasil menarik tubuh Mami Nina menjauh dari meja Dafa.


"Dasar... nenek lampir!" Dafa menggebrak meja dan menghempaskan kembali tubuhnya di kursi.


Rijal masih terdiam, seolah yakin tak yakin dengan apa yang dia lihat barusan. "Daf... "


"Apa? gue yang berantem lu yang bengong!" Dafa masih terdengar mendengus emosinya belum reda seutuhnya.


"Daf... ta-tadi, gue liat bini lu! Tapi sama cowok bule."


Dafa menatapnya, "Jangan main-main anjir, emosi gue lagi ningkat nih, jangan nambahin emosi gue yang pengen nonjok lu." Dafa menatapnya galak.


"Serius, dia lewat sini." Tunjuk Rijal pada jalan pinggir meja mereka, "Asli, bini lu itu. Tapi di rangkul bule... " belum selesai berucap dirinya kembali terdiam karena Dafa langsung berlari ke arah luar resto.


"Anjir... Lagi-lagi gue di tinggal." Dia ikut berlari setelah menyimpan beberapa lembar uang di meja, untuk membayar pesanan yang bahkan belum sampai di meja mereka.


*


*


"Pak... melihat orang yang barusan keluar?"


Tanya Dafa tergesa pada seorang juru parkir.


"Iya, ada Mas. Yang satu keluarga? pasangan suami istri yang suaminya bule sama dua ibu-ibu?" Jawabnya.


"Iya, kemana pak?" Tanya lagi Dafa dengan wajah panik setengah mati.

__ADS_1


"Baru aja keluar..


" Mobilnya tipe apa pak?" Dafa tergesa semakin tak sabar.


"BMW X5 putih, Mas ke arah kiri." Sahut juru parkir itu.


Tiiiiittt


Rijal sudah berada di balik kemudi.


"Turun, gue yg bawa." Dafa membuka pintu kemudi.


"Jangan main-main lu!"


"Bacot... kelamaan buruan," Dafa mendorong Rijal ke bangku penumpang.


Mobil pun melaju kencang, Dafa tak mengindahkan Rijal yang terus mencoba memenangkan nya. Membujuk sahabatnya itu agar menurunkan kecepatan.


*


*


"Udah, sayang." Bunda masih memeluk anaknya yang menangis sesenggukan.


"Dia keliatan kurus nggak keurus. Kasian Bun... " Katanya di sertai isakan.


"Ck... nggak usah di kasihani, lelaki mah pikirannya cetek liat dia bisa makan-makan enak sambil bercanda ketawa-ketiwi gitu." Mami Nina yang duduk di depan menolehkan kepala nya.


"Udah jangan di tangisin, kasian baby." Tambahnya lagi.


"Huum... yang penting kamu tau dia baik-baik aja." Ucap Bunda menenangkan.


"Iya, dia kelihatan sehat kakinya juga tadi aku liat udah agak mendingan nggak terlalu pincang juga."


Mentari menerawang apa yang dia lihat tadi.


"Kamu, udah ngeh dari tadi kalo dia dateng?" Tanya Bunda Rima.


Mentari mengangguk. "Aku liat, pas dia dateng berdiri di depan pintu masuk resto kayaknya nyari tempat duduk." Jawabnya.


"Udah, nggak usah pikirin, Mami liat diatasi langsung diem ya saat Mami bawa kata-kata istri." ucapnya terkikik.


"Aku kaget, takut dia ngamuk. Kamu kebiasaan suka mancing-mancing emosi orang." Bunda mencibir sahabatnya itu.


"Aku pengen tau, apa dia akan mencari Mentari." Evan ikut dalam perbincangan itu.


"Ck... tumben ikut nimbrung kamu, Van!" Mami Nina tertawa mendengar Evan yang lebih banyak diam pun ikut menebak rumah tangga asik angkatnya itu.


"Penasaran tante. Laki-laki sejati pasti akan nyari lah apalagi istrinya lagi hamil."


"Kayaknya mas Dafa nggak tau kandungan aku masih bertahan, dia taunya aku pendarahan. Pasti nyangka nya aku udah keguguran." Mentari menebak.


"Udah, kamu istirahat aja. Pikirin kesehatan kamu biar cucu Bunda juga sehat." Bunda menarik sebuah bantal kecil menyimpan nya di atas pahanya lalu menuntun Mentari berbaring ke dalam lahunannya.


"Bun...? " Mentari mendongakkan kepala nya menatap sang Bunda.


"Kenapa, Bunda langsung ngenalin aku? Bunda kan ninggalin aku waktu aku setahun lebih." Pertanyaan yang sedari tadi dia pikirkan akhirnya terlantarkan juga dari bibirnya.


"Kata siapa? Bunda sering liat kamu lagi bercanda sama mbok Tini. Bunda jadi mata-mata buat anak Bunda sendiri. Bunda juga sering scroll akun sosmed kalian anak-anak Bunda, bersyukurnya kalian pake nama asli dan lengkap. Jadi Bunda nemunya gampang."


"Ughhh... Bunda, pasti nggak mudah ya nahan rindu?" Mentari mengeratkan pelukannya pada Perut Wanita yang telah melahirkannya.


Bunda Rima hanya mengangguk, dengan bibir yang dia gigit untuk menahan air mata agar tak keluar.


"Aku sayang, Bunda." Bisiknya sebelum tertidur pulas di temani usapan lembut dari tangan wanita yang sangat dia rindukan.


...~...


"Itu Daf ... BMW X5 putih, iya... kayaknya itu." Rijal berucap sambil menunjuk sebuah mobil yang terhalang oleh empat mobil di depannya.


"Anjirr... tuh mobil depan lelet banget." Dafa mendengus kesal.


"Nggak usah nyalip, di sini daerah mobil gede semua_"


"Gue harus bisa jelasin semua, pengen meluk dia dan sujud minta maaf." lirihnya air mata menetes mengiringi rasa penyesalan dan rasa rindu yang memenuhi jiwa raganya.


"Daf... Awas, trukkkk..... " Rijal histeris


Chhhhhhhhhiiiiiiittttttttt.....


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, like komennya jangan lupa😘😘, semoga suka🥰🥰

__ADS_1


Yang nge like komen aku doakan panjang umur, sehat, dan bahagia🤭🤭


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤


__ADS_2