
❤❤❤
Siang itu, kamar rawat Mentari terlihat ramai oleh kedatangan Mami Nina, Mas Beni, dan Cindy sang sahabat.
"Lucuuuu, pengen ngumel-nguwel." Mami Nina tak henti menciumi bayi perempuan yang tengah berada di pangkuannya.
"Maaf ya sayang, Mami baru sempet jenguk. Abis ada fashion show di Kalimantan." Ujarnya menyesal.
"Baju kamu banyak yang minat, buruan pulih. Mami nunggu rancangan kamu." Wanita modis nan nyentrik itu tersenyum ke arah Mentari.
Mentari hanya mengangguk. Cindy yang menemaninya duduk sedikit di tariknya.
"Apa?" Cindy mengerutkan dahi nya.
"Mas Dafa, nggak ada nyariin aku lagi?" bisiknya.
"Nggak," Cindy menggeleng. "Kangen itu berat." Godanya sambil tertawa cekikikan.
Mentari mendengus kesal, lalu kembali merebahkan tubuhnya ke sandaran tempat tidurnya yang sudah di stel setengah duduk.
"Dia nggak ada usaha nyari? mungkin aku udah nggak ada artinya, kebayang muka dia marah saat aku pergi ninggalin dia. Tapi terakhir ketemu di resto Sentul dia keliatan baik-baik aja." Mentari bercerita sedikit menggumam.
"Tapi yang aku liat terakhir kali, bulan lalu kayaknya dia kurusan nggak rapi gitu, rambutnya juga agak gondrong sekarang. Mikirin kamu kali." Cindy mencoba menghibur.
"Kurusan pasti, dia kalo nggak laper banget emang suka lupa makan. Harus terus di todong kayak anak kecil." Jawabnya ingatannya berkelana saat mereka masih bersama, suaminya itu kuat nggak makan sampai sore.
"Aku cuma takut dia mabok-mabokan aja." Kembali dia merasa cemas.
"Jadi, kapan kamu mau ketemu sama Mas_mu itu?" Cindy menggodanya.
"Nggak kangen apa?" Dia menggerakkan alis nya.
Mentari memukul lengan sahabatnya itu yang terus menggodanya.
"Perempuan bisa nahan, laki mah yakin berat." Cindy menutup mulutnya yang hendak tertawa.
"Mungkin dia ngelampiasin sama yang lain, laki mah gampang penyatuan tanpa rasa juga bisa." Mentari menerka namun sebenarnya dia tidak rela jika membayangkan suaminya bermain dengan wanita lain.
Saat mereka tengah berbincang mentari melihat Beni tengah memandangi nya. Lalu mengalihkan kembali pandangan nya saat terciduk oleh dirinya.
"Kamu, janjian sama Mas Beni?" Bisiknya
"Nggak, kemaren aku liat status Kak Langit. Terus Mas Beni nge like, aku coba DM eh ternyata dia balas dan akhirnya kita janjian sambil nunggu Mami Nina." Jelasnya.
Mentari mengangguk mengerti.
"Cakep loh, dewasa juga." Goda Cindy, "kalo Mas mu yang onoh nggak perjuangin, kamu masih ada Mas yang satu itu." Kekehnya.
"Apa sih?" Mentari memelototkan matanya.
__ADS_1
"Eh, tapi aku nggak bisa bayangin kalo Mas Dafa tau, kamu udah lahiran."
"Iya, aku juga yakin dia marah. Aku lebih takut dia ambil Helen dari aku. Dia orang nya nekad kalo marah." Mentari mengiyakan ucapan Cindy.
Saat sedang asyik ngobrol, suara rengekan Helen terdengar. Mentari mendongakkan kepalanya menatap ke arah sofa di mana Helen berada.
"Sini, Bun. Aku susuin ngantuk kayaknya." Mentari meminta anaknya.
Bunda menghampiri dengan Helen yang merengek sekaligus menggeliat, tangannya yang terbungkus kaos tangan menggaruk-garuk kesal wajahnya.
"Dih, selalu nggak sabaran marah-marah kayak Ayah kamu." Mentari menerima tubuh mungil itu yang merengek kesal tak sabaran.
Tanpa dia sadari dia menyamakan sifat putrinya itu dengan sifat Dafa.
Semua orang di sana terdiam dengan senyuman di wajah mereka, hanya Beni saja yang terlihat sendu mendengar ucapan Mentari.
"Cie .... yang mirip Ayah," Cindy menggoda bayi merah yang tengah lahap menghisap asi.
"Eh ... " Mentari baru tersadar akan ucapannya.
Cindy makin terbahak-bahak melihat raut malu dan salah tingkah sahabatnya.
****
"Mi, kayaknya aku nggak bisa lama." Beni berkata memotong suasana yang membuatnya sesak.
Ya, dia memiliki rasa lain terhadap Mentari. Dan ucapan wanita impian nya itu membuat dadanya terasa sakit dan sesak, dia yakin Mentari masih memiliki rasa pada lelaki yang berkelakuan brengsek menurutnya.
"Sekarang aja, Mi. Aku besok kerja pagi." Sautnya.
Mereka berdua pun pamit, bahkan Beni tak segan mengelus kepala Mentari dan mengecup pipi bayi mungil yang tengah berada di gendongan sang ibu.
"Kalo, Dafa nggak bener-bener, kita jodohin Tari sama Beni. Aku rasa Beni suka sama anak mu." Mami Nina berbisik pada sahabat nya yang tengah duduk di sofa.
"Ngaco kamu." Bunda menepuk pelan paha sahabatnya.
"Lu, mah sombong. Mentang-mentang baru rujuk, lupa nggak pernah ngasih kabar. Kayaknya ngamar terus ya? pembalasan 20 tahun terpisah!" Mami Nina terkikik geli membayangkan sahabatnya itu kembali bersatu.
"Kamu, bikin malu aja." Bunda sudah sangat malu jika ada yang membahas soal pribadi seperti itu, bahkan dengan sahabatnya sendiri.
Sedang tertawa Ayah datang setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di kafetaria melakukan meeting zoom dengan para maneger yang di pimpin oleh putranya di Bandung.
"Eh, udah pada pulang?" Tanyanya canggung.
"Iya, aku juga pamit sekarang ya. Mau ada yang fiiting baju." Bunda Nina berdiri menautkan pipi nya pada Rima sahabatnya dan menghampiri Mentari.
"Namanya sesuai rencana kamu dulu?"
"Iya, Mi." Mentari mengangguk.
__ADS_1
Dia mengeluarkan sesuatu dari kotaknya.
"Hadiah dari mami, buat Helen." Dia membuka kotak itu, terdapat kalung dan gelang bayi berukir kan nama Helen.
"Ughhh ... manis banget, Makasih banyak Mi. makasih atas semua pertolongan Mami buat aku, nggak tau kalo dulu aku nggak ketemu Mami. Bakalan kayak apa hidup aku." Mentari menangis membayangkan awal-awal dia bertemu Dan menerima semua kebaikan Mami Nina hingga dia juga yang akhirnya mempertemukan dirinya dengan sang Bunda.
"Semua sudah ada yang ngatur," lalu mengecup puncak kepala Mentari dengan kasih sayang layaknya seorang ibu kandung.
Bunda ikut menangis harus membayangkan perjalanan yang harus di lalui putrinya itu. Ayah dengan sigap merangkulnya, "kita nggak akan membiarkan dia sedih sendiri lagi." Bisiknya menenangkan. Bunda hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.
*
*
Saat tengah dalam suasana haru, Bintang muncul di balik pintu.
"Aku dateng, si tampan tak terkalahkan. Lah, pada kenapa ini?" Tanyanya heran saat melihat beberapa orang terlihat sendu.
Bunda menatapnya, "jidat kamu kenapa benjol?" tanyanya.
"Di bilangin kena karma." Saut Ayah.
"Ck, anaknya celaka seneng bener. Tapi makasih , berkat itu aku kenalan sama suster cantik." seringai tengil terpancar.
"Dasar playboy cap cicak." Ayah meledeknya.
"Yang lebih gahar lagi, dong Yah. Masa cicak." wajahnya memelas sedikit merengek.
"Biawak kek, atau iguana agak mahalan." Tambahnya lagi.
"Komodo lah," Ayah menimpali.
"Weehhh, aku tersanjung. Itu kan hewan di lindungi," Dia tersenyum puas.
"Iya, saking di lindungi mau punah." 🤣🤣🤣
"Dih, yang disebut komodo bangga banget." Bunda ikut meringis menyaksikan perdebatan di antara anak dan suaminya itu.
"Anak itu emang langka, kayaknya harus kita musium kan Bun, atau di kandangin." Usul Ayah.
"Buju buneng, bukan main. Anak se handsome ini mau di kandangin!" Dia melongo kaget memandang Ayah nya.
Mereka pun tertawa tak terkecuali Mentari dan Mami Nina yang tengah memakaikan gelang kecil di tangan Helen.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰
Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤