Kisah Mentari

Kisah Mentari
perjuangan


__ADS_3

❤❤❤


Dafa sedang bergerak aktif di atas tubuh sang istri, dia seperti melupakan rasa ngilu pinggang nya. Di awal dia menyuruh Mentari yang bekerja tapi ternyata buyar dengan sendirinya. Dia tidak tahan jika tidak ikut bergerak, dan akhirnya mereka bertukar posisi.


Pemandangan sangat indah menurutnya, bergerak maju mundur dan tubuh mentari yang ikut bergerak sesuai tempo hentakan nya. Dua gundukan lembut favoritnya juga bergoyang ke sana kemari membuat dirinya semakin tak sanggup menahan gelombang yang hampir dia capai.


Mentari pun sama-sama menikmati, tangannya yang tadi mencengkram bantal yang dia pakai untuk menyangga kepalanya kini tangannya memegang kedua lengan dafa yang menjulang di kedua sisi tubuhnya menopang tubuh jangkung nya.


"Mas... " Suara merdu memanggil Dafa.


"Sun... suara kamu bikin aku makin ehmm... nggak kuat lama!"


"Ehmmm... Mas, Aku... mau sekarang!"


"Tahan, aku sebentar lagi Sun!" dafa langsung menunduk untuk kembali mengulum si chococips.


Tangannya merengkuh tubuh Mentari semakin erat, dan erangan keduanya pun saling bersahutan di sore itu.


Dafa mencabut si gagang itu dengan sekali tarikan.


"Aw... kebiasaan kalo nyabut suka buru-buru." Mentari mendengus kesal sambil memelototkan matanya.


"Maaf... ucap dafa masih terengah-engah sambil tertawa hendak merebahkan tubuhnya, namun


Dug... " Aduh... " Dafa mengaduh sambil memegang kepala nya yang membentur ujung sofa.


Mentari hanya tertawa, "makanya jangan grasak grusuk" kekehnya.


"Kamu, Sun. Suami kejedot malah ngetawain!" bibirnya mengerucut merajuk.


Mentari mendekat dan mengelus kepala bagian belakang yang membentur ujung kaki sofa.


"Ugh... kasian, aduh Ini mah benjol, Mas! " dia kembali tertawa.


"Ck... Asem kamu!" gerutunya


...--------...


" Capek...


"Siapa yang mau?" Mentari tengah mengelap bagian inti yang basah akan sesuatu yang lengket.


"Aku...


" Kamu enak banget... Astaga... susah buat ngungkapin rasanya dengan kata-kata." Dia memuji sambil melirik wajah sang istri dan mengedipkan matanya.


"Hilih... kalo udah dapet apa maunya, pasti gombalan keluar!" Cibir nya.


"Asli, Sun. kamu nggak percaya?" Dafa mengernyit dan sedikit bangun dari posisinya, menopang kepalanya dengan sebelah tangan memandang sang istri.


"Serius, kamu luar biasa!" puji nya lagi.


"Aduh, pinggang ku ngilu lagi!"


"Kan tadi kamu nyuruh aku yang kerja,Mas!" Mentari sedikit bergeser untuk mengenakan kembali pakaian nya.


"Iya, tapi setelah di rasa aduh kurang afdol, lelaki apaan aku? Terima enaknya doang! kan ikut gerak malah makin enak." Seringai mesum kembali dia lemparkan.


"Kenapa durasi semakin menurun Mas? cuma Dua puluh menit!" Mentari melihat jam di atas TV.


"Alah... yang penting kita udah sama-sama nyampe puncak!" terangnya bangga


Mentari menoleh ke arahnya dengan cibiran


"Apa? jangan bilang mau nyamain sama di novel-novel yang durasinya tiga jam? kita mah yang real aja lah ngapain ngikutin yang halu. coba tanyain deh ke othor nya kuat nggak tiga jam, pasti jawabnya " Dasar gila!"


Mentari hanya tertawa mendengar celotehan sang suami.


"Mau kemana?" Tanyanya saat melihat Mentari hampir berdiri.


"Mau mandi." jawabnya singkat.


"Sini dulu, kita tiduran dulu. Pasti capek!" Dafa kembali menarik tangannya hingga kembali terjatuh di atas karpet.


"Pake baju gih!"

__ADS_1


"Pakein... " Dafa merengek seperti seorang anak kecil.


Mentari menatapnya jengah, namun tetap bergerak memakaikan kaos yang tadi suaminya pakai.


"Tinggal boxer, pake sendiri!" Mentari duduk di sebelah tubuh Dafa mengambil remot TV dan menyalakan nya.


"Pakein, dih jangan setengah-setengah kamu kerjainnya!" Dafa menarik tangan Mentari untuk meneruskan kegiatannya.


"Ck... beliin aku sate, aku liat di pintu keluar ada gerobak sate." Pintanya


"Siap... Nanti malem kita makan di sana!" mengiyakan permintaan istrinya.


Mentari menunduk memakaikan boxer itu.


"Angkat dong bo*kong kamunya, Mas. Berat tau!" Mentari susah payah memakainya.


Dafa menurut mengangkat sedikit tubuhnya.


Saat Mentari menaikan boxer itu, tangannya tak sengaja menyentuh si tongkat kasti yang sedang tertidur nyenyak.


"Ssshhhh... " Dafa meringis merinding.


"Ah, kamu. Sengaja pasti!" Dafa mengeluh.


"Apa?" wanita berlesung pipi itu menahan senyumnya.


"Ck... Nggak usah kamu bangunin, nanti si adik bangun. Mau tanggungjawab emang?" Dafa kini mendekap tubuh wanita tercinta nya yang ikut berbaring di sebelah nya.


"Capek... Mau tidur!" Mentari melingkarkan tangannya di pinggang Dafa.


Dafa tersenyum mengecup kening itu berkali-kali.


Di sore hari itu mereka tertidur kembali di karpet tebal dengan tisu bekas yang berserakan di sekitar mereka.


Pasangan itu tidur dengan nyenyak, lelah yang melingkupi tubuh mereka membuat mereka kembali ke alam mimpi walaupun baru terbangun beberapa jam saja.


...--------...


Mentari mengerjapkan matanya saat dia melihat ke. arah jendela yang tertutup gorden berbahan tile tipis, sudah memperlihatkan suasana langit yang ternyata sudah menggelap.


"Mas... " dia mengguncang tubuh suaminya yang masih meringkuk memeluk tubuh bagian belakangnya.


"Hemm... " Gumamnya di belakang kepala sang istri.


"Udah malem tau, aku laper!" rengeknya.


"Ayo, mau makan sate kan?" tanyanya masih dengan suara serak khas bangun tidur


"Iya, ayo bangun mandi dulu!" ajaknya.


"Berdua ya!" tanya Dafa.


Mentari menatap ke arah belakang dengan tatapan sinis.


"Nggak ah, Mandi nya pasti yang aneh!" Mentari bangkit meninggalkan Dafa yang masih tergeletak di atas karpet seperti pengungsi bencana alam.


"Kita belum nyobain di kamar mandi Sun!" teriaknya.


"Kapan-kapan aku nggak kuat laper!" Jawabnya dari arah kamar.


...--------...


Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari lift. Dafa tak melepaskan pegangan tangannya pada Mentari.


Kini mereka sedang ada di tenda sate, tepat di depan pintu keluar apartemen.


Dafa memandang istrinya yang lahap memakan sate lengkap dengan potongan lontong, tak lupa acara dan sambal yang dia bubuhkan tadi.


"Pelan-pelan makannya. Nggak akan aku minta juga, Sun!" ucapnya sambil menjawil pipi Mentari yang sedang mengunyah sate.


Mentari tersenyum dengan Lesung pipinya yang terlihat, membuat dafa semakin gemas di buatnya.


"Kayak yang nggak pernah makan sate aja, helm?" Dafa mendongakkan wajahnya.


"Sering banget malah, dulu di ujung komplek. Sama ayah kita sering makan sate, jalan dari rumah sambil ngobrol di sepanjang jalan sampai ke jajaran pujasera(PUsat JAjanan SERba Ada). Pilihan kita pasti ke sate atau bakmi." terangnya.

__ADS_1


Seketika Mentari terdiam dengan ucapnya sendiri. Rindu... Ya dia sangat merindukan keluarga nya. Keluarganya seolah hilang di telan bumi, tidak ada sedikit pun kabar. Mau di tempat usahanya dimana sang sahabat bekerja di sana. Cindy selalu berkata tidak pernah melihat Langit di sana, maupun di kampus Bintang tidak pernah dia lihat lagi. Mereka semua menghilang. No yang masih di blokir membuatnya susah mencari tau keadaan ayah dan kedua kakaknya itu.


"Ayah... " lirih nya.


Dafa yang menyadari perubahan dari istrinya, seketika mengusap punggungnya mencoba menenangkan.


Mereka saling pandang, Dafa tersenyum sambil menganggukan kepala nya pelan. Mentari pun membalas senyuman itu.


"Sabar, Ya! mungkin sekarang Ayah ingin fokus berobat!" bujuknya bermaksud menenangkan hati dan pikiran sang istri.


"Udah, lanjutin makanya lagi!" titahnya.


Mentari melanjutkan makannya, tapi entah mengapa matanya malah berembun, hatinya sakit jika sedang memikirkan keluarganya.


"Sun... " Dafa menyadari Mentari yang menangis.


"Apa? aku kebanyakan masukin sambel ini. Terlalu pedes sampai mata ku berair!"Mentari beralasan.


Padahal Dafa pun tau, istrinya itu menangisi keluarganya.


Selesai makan mereka kembali ke apartemen, dengan Mentari yang bergelayut manja di pinggang Dafa.


Malam ini Dafa ingin benar-benar istirahat, mempersiapkan fisiknya untuk pertandingan besok.


Dia ingin menang dan maju ke babak ya g lebih bonafide lagi. Dia mengincar hadiah dan pertarungan dengan musuh bebuyutannya.


Hatinya sudah mantap akan bisa memenangkan pertandingan ini.


...~~~~~...


Besoknya...


"Sun... aku mulai sebentar lagi, do'a in aku menang ya!" isi pesan dari Dafa yang dia Terima di siang itu.


Sejak menerima pesan dari sang suami pikiran dan hatinya semakin tak karuan.


Saat jam pelajaran usai, tepat pukul empat dia langsung tergesa-gesa untuk segera pulang.


Ponsel suaminya itu belum aktif, dia semakin cemas. Di dalam taksi online yang dia tumpangi dia terus mencoba berpikir positif. Mentari tidak mau membayangi hal yang buruk akan menimpa suaminya itu.


Dia setengah berlari memasuki gedung apartemen dimana dia kini tinggal.


Saat menekan pas code pintu kamar dan langsung masuk, dia melihat Rijal yang baru saja keluar dari kamar mereka.


"Kak...


" Kamu, udah pulang?" tanyanya basa-basi.


"Iya, Mas Dafa?" Mentari semakin masuk ke dalam apartemen.


"Tidur, baru aja selesai bebersih badan dan minum obat penahan rasa sakit. Nanti malam sama besok pagi akan ada dokter ke sini untuk memantau luka yang Dafa dapat kan. Kamu nggak usah khawatir!"


Terangnya menenangkan.


"Tapi, Mas Dafa nggak apa-apa kan?" tanyanya.


"Iya, lukanya masih tahap wajar. tapi mungkin dia nggak akan bangun untuk beberapa jam ke depan. Ada onta tidurnya biar dia mengistirahatkan tubuhnya." terangnya lagi.


"Aku, pamit kalau begitu!" Rijal menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas Meja TV.


Mentari hanya mengangguk dan setelah Rijal keluar dari apartemen itu. Dia langsung masuk ke dalam kamar.


Terlihat suami nya itu, tidur meringkuk di atas tempat tidur. Dia mendekati ranjang, gorden tipis itu tertiup kan angin kencang mengenai tubuhnya yang ingin melihat suaminya dari arah cahaya di balik jendela.


Mentari menutup matanya saat mendapati wajah suaminya itu babak belur, dengan luka di pelipis yang di plester matanya bengkak keunguan, dagunya juga memar.


Itu bukan seperti dafa suaminya, wajah itu menyeramkan untuknya. Dia menangis melihat perjuangan suaminya. Dia naik ke atas tempat tidur, mengusap wajah sang suami yang penuh luka.


"Mas... apa harus seperti ini, kamu berjuang untuk uang?" bisiknya sambil mengusap wajah Dafa yang tidur pulas tanpa sedikitpun gerakan.


Setelah puas menangisi keadaan suaminya dia pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh Dafa.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir untuk baca🙏🙏, Jangan lupa tinggalkan jejak like sama komen nya ya😘😘 saran juga aku Terima biar bisa buat karya yang baik🥰🥰

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua❤❤


__ADS_2