Kisah Mentari

Kisah Mentari
melemaskan yang tegang


__ADS_3

❀❀❀❀


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Acara makan selesai, kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, yang muda pada duduk di karpet tebal nan lembut.


Sambil mengajak main para bayi yang sedang berceloteh lucu.


Ayah sedang menatap para anaknya dan pasangan mereka satu persatu, tak ada yang luput dari penelitian terawangannya.


"Yah ... " Bunda mengelus paha suaminya, seolah hapal apa yang tengah suaminya pikirkan.


Bunda tersenyum menggelengkan kepalanya, rasanya tidak pantas mengutarakan isi hati, sedangkan ada dua wanita yang belum SAH menjadi bagian keluarganya.


Ayah menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Bunda tersenyum senang berhasil meredam suaminya.


*


*


"Ayah, Bunda ... aku pamit ya balik ke market, udah masuk jam kerja lagi. Nggak enak sama pegawai yang lain, kalo bawa Cindy seenaknya." Langit pamit bangkit dari atas karpet menyalami kedua orang tuanya.


"Bang, bikin tulisan. ' Calon gue'. Tempel di jidat atau di punggung Cindy. Yakin nggak akan ada yang berani sama calon anaknya owner. Godanya sambil tertawa puas.


" Gue nggak KKN ya, pake bawa nama Ayah." Sombongnya.


Bintang kembali tertawa meledek, "Buruan ... kalo lama, gue duluan lah. Kagak kuat ... " Kelakar nya kembali.


Langit tak menanggapi hanya mengepalkan tangannya ke arah Bintang. Adiknya itu selalu berkata tanpa saringan atau ayakan.


"Ya, udah. Hati-hati, sering main ke sini ya. Bunda kayaknya sebentar lagi ditinggal Chaca sama Helen." Matanya melirik ke arah Mentari dengan seringai penuh arti.


"Iya, tante ...


" Bunda ... " Rima langsung melarat ucapan Cindy.


"Eh, iya Bunda." Senyumnya malu-malu.


Mereka pun pamit kembali ke market tempat mereka kerja.


"Abang ... " Ayah menghentikan langkah Langit yang hampir mencapai pintu menuju teras rumah.


"Malem, kita kumpul jam 7. Ayah mau semua ada." Titahnya.


"Iya, Yah ... " Langit pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah orang tuanya.


*


*


"Aku juga?" Bintang menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu, anak Ayah bukan? kalo bukan ya nggak usah." Katanya santai.


"Astaga ... kagak di aku, Bun...." Rengeknya menatap penuh belas kasih pada Bunda nya.


"


"Aku, juga pamit Bun. Naya besok masuk sift pagi."


Bintang mengedipkan matanya pada Naya.


"Oh ... i_iya Bun. Besok saya masuk pagi."


Helen terlihat rewel merengek menatap pada Ibunya.


"Haus tuh, pengen enen." Bunda berkata sambil menyodorkan teh pada suaminya.

__ADS_1


Mentari menatap Dafa, lalu memangku Helen bangun. "Kemana?" tanya Bintang, "gue, mau pergi kok! lu bebas ngasih asi Helen. Ayah juga masuk kamar." Ucap Bintang.


"Mau, di kamar ah."Mentari beranjak bangun dengan Helen di gendongan nya.


" Lah, Bun. Paling banyak tato macan dari Ayahnya si Helen." Bintang kembali menggoda adiknya.


Mentari mencebik tak suka, dengan wajah merahnya, dia melewati kakaknya. "Sotoy," lalu melengos menaiki tangga menuju kamarnya.


"Mas," panggilnya pada sang suami yang masih termenung kikuk di ruang keluarga itu.


Dafa menatap istrinya yang mengangguk kan Kepala, tanda agar dia mengikuti nya ke kamar.


Bintang tertawa puas, merasa berhasil menggoda sang adik.


Bintang dan Naya pun pamit, dan melenggang ke luar rumah. Bertujuan mengantarkan Naya kembali pulang ke Jakarta.


*


*


"Asem, banget Kak Bintang. Sebel, kan aku malu. Lagian kamu, Mas. Pake bikin tanda segala." Ketusnya.


Dafa yang masuk dan menutup pintu kamar yang di tempati istrinya. "Udah aku bilang, kelepasan. Saking enaknya." Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dengan menyangga kepalanya dengan sebelah tangan memandang pemandangan indah, di mana anaknya yang sedang menyesap makanan utamanya, hingga berdecak berisik.


"Anak Ayah, haus?" Dafa menciumi tangan Helen, yang tengah menggapai wajah Ibu nya.


"Lucu, banget." Dafa mengendus-endus punggung Helen, hingga bayi itu tergelak kegelian.


"Ayah, jangan di ganggu. Mau tidur kayaknya." Mentari menjauhkan kepala Dafa yang tengah menciumi punggung bayinya.


Tak lama, Helen tertidur. Mentari menatap wajah Dafa juga yang ikut tertidur.


"Ya ampun, muka kalian fotocopy banget." Mentari mengusap wajah Helen dan Dafa bergantian.


Dia pun ikut memejamkan mata, dan ketiganya tertidur dengan nyenyak nya. Dafa bahkan memeluk pinggang Mentari hingga mengurung tubuh mungil Helen.


*


*


"Kenapa?" Ayah yang baru selesai mandi sore, mendekati istrinya yang termenung menyaksikan guyuran hujan yang membasahi halaman rumahnya.


"Kayaknya, sebentar lagi. Anak-anak bakal bener-bener ninggalin kita, padahal aku baru sebentar sama mereka." Ucapnya mengusap air mata di ujung matanya.


Ayah, duduk di sofa yang berada tak jauh dari istrinya berdiri.


"Itu, hukum alam. Udah alurnya seperti itu." Mencoba menenangkan gundah nya hati sang istri.


Wanita itu menoleh pada suaminya yang juga tengah menatapnya.


"Calon Bintang seorang single parents."


"Nggak apa-apa, selama anak kita bahagia. Ayah nggak masalahin itu semua."


"Kamu, juga kan dulu hampir nikah sama Ayah nya mantu kita."


"Tapi, Ayah nikung."


"Dan kamu, Bun. Tetap aja berhubungan dengan lelaki itu."


"Karena, dia sahabat aku sejak SMP." Belanya.


"Dan, dunia mengatur semua dengan begitu mudahnya. Nggak menyatukan kalian, Anak-anak nya yang bersatu." Ayah mengulurkan tangannya kepada Bunda, agar istrinya itu duduk di sebelah nya.


"Ayah, mau pensiun. Biar Langit dan Bintang yang ngurus market. Kita habiskan masa-masa tua dengan bahagia, kita keliling Indonesia mencari destinasi seru buat liburan." Katanya membujuk sang istri yang memang suka ber travelling.

__ADS_1


"Janji ya ... "


"Iya, kita nikmati hari tua."


Bunda menaruh kepalanya di pundak sang suami.


Sepasang suami-istri old member tersebut, larut dengan angan-angan mereka di kemudian hari.


*


*


Dafa yang baru mandi menatap tubuh istrinya yang sedang menidurkan Helen.


"Kenapa?" tanyanya pada suaminya yang sedang termenung di dekatnya.


"Aku, tegang."


"Tenangin aku dong,Sun. Biar lemes, nggak tegang."


Mentari mendekati Dafa, tersenyum dan mengelus dada bidang sang suami, "Tenang ya suamiku sayang." Lalu dia terkikik geli.


"Ini juga, kayaknya minta di lemesin, biar nggak tegang." Dafa menarik tangan sang Istri, ke arah bagian kelelakian nya.


Mentari menatapnya sinis, "Kebiasaan, Tuman." Dia menghempaskan tangannya ynag di gengam kan Dafa di area bawah miliknya.


Dafa tertawa, merasa gemas sendiri dengan marahnya sang istri.


"Yuk, ke bawah. Kayaknya dah pada ngumpul, suara Kak bintang udah mendominasi." Mentari menarik tangan Dafa.


Pasangan itu menuruni tangga dan menjadi pusat perhatian orang-orang di bawah.


"Nih, Artisnya. Dateng." Bintang mencibir


Mentari tak mengindahkan nya, dia melewati kakaknya itu, dan duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Bunda nya.


"Udah, kumpul semua ya?" Ayah yang baru keluar kamar menghampiri anak-anaknya yang sudah berkumpul.


"Kok, udah merinding ya!" Bintang mengusap tengkuknya.


Pletak ...


Ayah memukul pundak Bintang dengan keras.


"Aww, Ishh lagi-lagi KDRT." Bintang memasang wajah memelas.


"Kamu kira, Ayah hantu apa? di sebut merinding." katanya kesal.


"Udah, pasti gini kalo deketan." Bunda melerai anak dan suaminya.


Ayah langsung duduk di sofa tunggal, menatap ke sekeliling.


"Yah, nggak pake kata sambutan gitu?" ledeknya.


Langit yang sedari tadi diam akhirnya menyikut Bintang, yang dia rasa terus saja berceloteh, memancing marah ayahnya.


"Semprul," ucap ayah sinis.


Bersambung ❀❀❀


Terimakasih yang sudah mampirπŸ™πŸ™, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi πŸ™πŸ™, cuma buat rame2 ajaπŸ₯°πŸ₯°


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❀


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir πŸ™πŸ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🀲🀲


Maaf cuma seuprit, aku teh sakit kalo orang mah, berhubung aku dewi ayang2 jadinya hareeng bahasa gaulnya πŸ₯΄πŸ₯΄


__ADS_2