
...โคโคโค...
Hampir dua minggu berlalu, Mentari sudah lima hari pulang ke rumah, seperti biasa dia keukeuh ingin pulang ke rumah mereka, kebiasaan semasa hamil ya itu males memakai baju menjadi pertimbangan nya untuk tinggal di rumah orang tuanya. Karena Ayah yang posesif sejam sekali masuk ke kamarnya menanyakan apa yang di butuhkan atau menanyakan ada keluhan apa dari putri nya itu.
Dan dirinya masih mendiami suaminya.
Semenjak perdebatan mereka tentang usulan Dafa agar Mentari menggugurkan bayi yang tengah di kandung istrinya itu. Mentari mendiamkan suaminya itu hingga sekarang.
Bahkan selama di rumah sakit Dafa seolah menjadi bantal sofa yang teronggok, dia benar-benar di acuhkan. Dafa menerima konsekuensi atas usulannya demi keselamatan Istrinya. Tapi tidak untuk mentari dia kesal, suaminya bukannya memberikan dukungan mental untuknya malahan membuat mentalnya semakin drop.
Dafa benar-benar di abaikan, tidak di ajak bicara, dan setiap dia menghampiri Mentari istrinya itu langsung beringsut seakan jijik saat suaminya mendekat. Semua perkataan dan pertanyaan dari Dafa pun tak ada satu pun yang dia respon atau di jawab.
Seperti malam hari itu, ketika istrinya masih di rawat, dia menekan tombol emergency untuk memanggil seorang suster untuk membantunya ke kamar mandi, Dafa yang sedang di sofa dengan laptop di pangkuannya, langsung beringsut mendekati istrinya. "Mau apa? ke kamar mandi? sini aku gendong!" tawarnya.
Mentari berpura-pura membenarkan ikatan seragam pasiennya, enggan memandang ke arah suaminya yang masih mematung menawarkan bantuannya.
Saat seorang suster masuk, Mentari menoleh ke arah pintu yang berada di belakang suaminya.
"Sus, bisa minta tolong bantu saya ke kamar mandi." Katanya mengabaikan keberadaan Dafa yang masih berada di hadapannya.
Dafa sungguh tersiksa, dia juga merasa bersalah. Nyatanya istrinya bisa menunjukkan bahwa dirinya dan calon bayi mereka bisa melewati itu semua. Dan keadaan Mentari semakin baik, bahkan nafsu makannya telah kembali normal tanpa ada drama mual muntah lagi.
*
*
Selama seminggu terakhir, Dafa mulai kembali ke rutinitas pekerjaannya yang tidak bisa lagi di abaikan. Dia hilir mudik antara perusahaan Papa, sidang di sana sini, kadang meeting berjam-jam, belum lagi dua hari sekali dia mengunjungi Papa nya yang masih di rawat di rumah sakit di daerah Bogor.
Mentari gelisah sudah hampir pukul 11 malam tapi suaminya belum juga tiba. Biasanya suaminya memberikan kabar walaupun dia tidak membalasnya, masih terlalu kesal namun rasa cemas terhadap suaminya yang belum sampai di rumah tanpa ada pemberitahuan, membuatnya gelisah.
" Teh ... " Intan yang terbangun dan hendak mengambil minum, melihat majikannya mondar-mandir tak karuan.
"Eh, belum tidur teh Intan?" tanyanya berbasa-basi.
"Ini, ngambil minum. Haus!" jawabnya tersenyum.
Mentari menghampiri nya ke arah dapur.
"Pengen mie goreng deh teh, mumpung bapaknya Helen belum pulang." Mentari mengambil sebuah panci kecil.
"Sini, biar sama saya." Intan mengambil panci yang sedang di isi air oleh Mentari.
"Nggak apa-apa, " Mentari melanjutkan kegiatannya.
Membuka lemari tempat persediaan makanan, mengambil satu bungkus mie instan.
"Teh, kalo ngantuk nggak apa-apa. Saya sendiri aja!" di dorong nya tubuh wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu. Saat dia melihat Intan menguap di ujung meja.
"Eh, biarin saya tunggu." Intan menahan tubuhnya yang seperti di usir majikannya itu.
"Udah, nggak apa-apa. Sana, ntar aku potong gaji nya loh." Katanya bercanda.
Mereka pun tertawa bersamaan.
Saat Mentari sedang mengaduk-aduk mie di dalam panci agar matang merata. Dia mendengar suara mesin mobil dan pagar yang di dorong.
__ADS_1
Dia gelagapan panik seakan seorang maling yang akan tertangkap basah, tapi dia tidak mungkin meninggalkan mie nya.
Terdengar suara kunci pintu di putar, dia pura-pura tidak menyadari. Sok acuh, padahal jantung nya berdebar-debar.
Terdengar suara langkah mendekati nya.
Mentari hanya mampu memejamkan matanya, entah dialog apa yang akan dia ucapkan hanya untuk berbasa-basi terhadap suaminya yang masih dia jauhi.
...------oOo------...
Dafa melewatkan hari yang lelah, setelah menghadiri sidang mendampingi kliennya, dia langsung meeting di dua tempat, sorenya dia pergi ke Bogor karena sang Ayah kembali drop.
Namun dia memaksakan pulang ke rumah, padahal di jalan tadi dia hampir menyerah karena rasa lelah menjalar di tubuhnya. Dia hanya berhenti untuk makan karena terakhir makan saat sarapan.
Di bukannya pintu rumah, pemandangan indah langsung terpampang nyata di depannya. Istrinya sedang berdiri di depan kompor dengan pakaian yang sangat minimalis berwarna merah favoritnya.
"Sun, belum tidur?" tanyanya dia ingin sekali memeluk wanita yang sudah dua minggu ini mendiamkan nya.
Mentari seperti biasa tak menjawab, dia sibuk dengan mie dalam pancinya.
"Bikin apa sayang? aku mau dong!" Dafa sedikit menatap istrinya dari pinggir. Cantik, istrinya selalu cantik dalam kondisi apapun, dia sudah jatuh cinta jatuh sejatuh-jatuhnya pada wanita di hadapannya itu.
"Sun ... "
Mentari akhirnya meliriknya hanya persekian detik.
Dafa merasa ada titik terang dengan Mentari yang mau menatapnya walaupun cuma sekilas.
Dengan memberanikan diri karena dia sudah tak tahan dua minggu dia di acuhkan, Dafa langsung memeluk istrinya dan menciumi wanita yang akhir -akhir ini terasa jauh dari jangkauannya.
Mentari sedikit meronta, padahal dia juga sama rindu nya dengan Dafa.
"Nih ... " Mentari menyodorkan satu piring mie goreng pada Dafa.
"Makan bareng, " pintanya
"Aku belum bikin,"
"Aku, tunggu." Dafa masih mematung menunggu istrinya kembali membuka lemari mengambil sebungkus mie instan.
Dia menatap tubuh itu, perut istrinya yang kini sudah mulai terlihat menonjol. Membuatnya miris, bagaimana jika saat itu istrinya setuju dengan usulannya untuk menggugurkan bayi mereka. Nyatanya feel seorang ibu dengan anak-anak nya memang kuat. Dan Dafa bersyukur dengan keras kepala istrinya waktu itu.
Dafa memijat tengkuk nya yang memang pegal, kegiatannya tanpa dia sadari di lihat sang istri.
"Aku ganti baju dulu ya, " Dia mengecup singkat pipi istrinya. Lalu melenggang menyimpan piringnya di atas meja makan, dan dia masuk ke dalam kamarnya.
*
*
Mentari sudah duduk di meja saat Dafa keluar dari kamar sudah dalam kondisi segar dan langsung tersenyum duduk di hadapannya.
Mereka makan dengan hening, sesekali Dafa bertanya tentang kegiatan apa saja yang di lakukan Mentari dan Helen selama dia kerja, tapi masih dengan kaku Mentari menjawab dengan seadanya.
Ponsel Dafa di atas meja berdering, terlihat jelas nama si pemanggil ' Selvi'. Mentari sedikit mengernyit. Tapi dengan sigapnya Dafa mematikan ponsel itu.
__ADS_1
Mentari semakin curiga, seorang perempuan menelponnya di malam hari. Hatinya kembali berdenyut. Saat hatinya sedikit demi sedikit pulih dari rasa kecewa, suaminya itu kembali membawa bibit penyakit dalam rumah tangga nya.
"Siapa?"
"Kenapa di matiin, jawab aja!" Mentari berkata dengan suara judesnya.
Dafa yang tengah mengunyah mie nya, langsung menatap ke arah istrinya. "Klien!" jawabnya singkat.
"Ya, jawab kalo emang klien!" Mentari menantangnya.
"Nggak lah, udah malem. Besok aja aku telpon balik." Dafa kembali dengan aktivitas nya.
Mentari mencebikan wajahnya, Dafa menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
Lagi-lagi ponselnya berdering masih dengan nama yang sama dengan foto profil yang menampakan seorang wanita cantik sedikit heboh terlihat dari dandanannya.
"Angkat, " Mentari kini menatapnya sinis.
Dafa kembali mematikan ponselnya.
Perlakuan itu, justru membuat kecurigaan Mentari semakin menjadi.
"Cuma klien, jangan mikir yang aneh-aneh. Aku lagi ngurusin masalah perusahaan almarhum suaminya. Kasian dia nggak ngerti apa-apa!" Dafa menjelaskan semua.
"Oh, dia janda?" Mentari bertanya.
"Iyalah, kalo suaminya almarhum berarti dia janda." Dengan entengnya Dafa berkata memperjelas sebuah status wanita yang berkali-kali menghubungi nya.
Mentari bangun dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar nya, sebelum menutup pintunya pandangan mematikannya menatap ke arah Dafa.
"Sun, belum abis nih makan ka ... " belum selesai Mentari sudah membanting pintu dan terdengar suara kunci yang di putar.
"Anaknya lagi tidur loh itu, main banting pintu aja!" dia sedikit mengencangkan suaranya.
untuk memastikan pendengarnya yang merasa pintu itu di kunci, Dafa mendekat dan memutar gagang pintu, "Sun, di kunci? tega kamu. Aku capek nih pengen istirahat." Teriaknya dari balik pintu.
"Sana sama si janda aja." Teriak Mentari menimpali dari dalam kamar.
"Nggak usah cari penyakit deh, Sun."
"Kamu yang nyari penyakit,"
"Cuma, klien."
Tidak ada jawaban lagi dari dalam kamar, Dafa berjalan ke arah sofa dan membuka tas mengambil laptopnya. Tubuhnya pegal-pegal, impiannya saat tadi dia mandi, tidur di kasur empuk sambil melakukan aktivitas nya dengan sang istri yang sudah sangat lama tidak terjadi buyar seketika. Dia malah akan tidur di sofa. Karena kamar satunya lagi tidak ada kasurnya, di pindahkan ke kamar belakang tempat Intan tidur.
"Nasib ... Nasib ... " Ucapnya keras di jam 12 malam itu.
Bersambung ๐๐๐
Terimakasih yang sudah mampir๐๐, semoga suka๐๐, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐๐, cuma buat rame2 aja๐ฅฐ๐ฅฐ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐๐, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐คฒ๐คฒ.