Kisah Mentari

Kisah Mentari
Abang...


__ADS_3

❤❤❤


Dua bulan berlalu...


"Mas, yakin mau ikut pertandingan boxing? berdekatan dengan tournament balap kamu loh!"


Malam itu sepasang suami istri sedang duduk di balkon kamar mereka, menatap lampu-lampu malam yang indah dan juga sejuknya angin malam setelah sore tadi Bandung di guyur hujan.


"Iya, ini udah aku nanti-nanti. Lama banget nunggu momen lawan dia!" jelasnya.


Mentari menjengit lalu menoleh sangat suami.


"Dia? siapa?"


"Choky... Dulu aku pernah tarung sama dia, tapi dia licik. Dan sekarang aku mau membuktikan kalo aku lebih baik dari dia." Dafa menyeruput kopi yang berada di tangannya.


"Terus, selang tiga hari sabtu besok kamu balap! mampu?" Mentari masih menyamping menatap sang suami.


lelaki itu hanya tersenyum, dia merasakan rasa kekhawatiran dari sang istri.


"Kamu cukup do'ain aku supaya mampu, dan menang. Udah cukup itu aja!" ujarnya yang kini membelai pipi Mentari.


Mentari merangsek masuk ke dalam dada Dafa mendekap hangat lelakinya itu.


"Segala yang terbaik, aku doa kan buat Mas." ucapnya mengecup dada yang tengah dia jadikan sandaran itu.


Dafa mengecupi Kepala Mentari yang tengah memeluknya erat.


"Sun, kamu agak anget. Sakit?"


"Emmm... kecapean kali keseringan mandi!" Jawabnya terkekeh.


"Yahhh... padahal aku mau ngajak mandi bareng!" Dafa menggoda.


Mentari mendongakkan kepalanya menatap kesal ke arah sang suami.


"Pagi kan udah, aku beneran lemes. Nggak enak badan mas." Rengeknya


Dafa hanya tertawa kecil mendengar rengekan sang istri, "iya, libur dulu. Duh padahal besok aku pulang tarung pasti libur deh. Si lukman suka ngasih obat tidur, Mas jadi suka nggak inget bangun." Desis nya


"Nggak apa-apa, kan biar Mas istirahat."


"Yuk masuk, aku beneran pengen tidur." Ucapan lagi.


Dafa mengekor Mentari yang berjalan masuk ke dalam kamar.


Mereka tertidur dengan arti kata "tidur" yang sebenarnya.


*


*


pagi harinya...


Mentari bertumpu di meja makan, kepala nya benar-benar berat, tubuhnya merasa semakin tidak enak.


"Sun... "


Dafa memanggilnya sambil berjalan ke arahnya dengan menenteng tas gloves boxing nya.


"Hemmm... "


Mentari menjawab dengan gumaman saja.


Dafa menatap cemas sang istri, "Kamu pucet banget, nggak usah ikut ke pertandingan aku deh. Istirahat di rumah." Dafa menggiring nya duduk di sofa depan TV tak jauh dari meja makan.


"Aku ikut aja, nggak apa-apa!" Mentari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.


Dafa menggelengkan kepalanya, "nggak, kamu di rumah istirahat. Nurut sama suami, Sun!" Ujarnya.


"Sarapan, minum obat terus kamu tidur lagi." Dafa bangkit hendak mengambil Nasi goreng yang istri nya sudah buat tadi.


"Mas...


panggilnya.


" Iya? Mau apa?"


Jawabnya dengan pertanyaan.


"Mau teh manis, anget boleh?" Pintanya.


"Ok! tunggu sebentar. Tapi tetep harus makan, Sun!" katanya sambil tangannya sibuk membuat segelas teh manis sesuai permintaan sang istri.


"Mau roti pake SKM coklat aja ya! Aku lagi nggak mau yg asin gurih, perut nggak enak." Terangnya.


"Asal ada yang masuk, nggak apa-apa!" dafa masih sibuk di dapur dengan pandangan mata tak lepas dari Mentari.


Tak lama dia membawa setangkup roti dengan SKM coklat, dan teh manis hangat untuk sang istri.


"Mas juga makan, masa mau tanding nggak sarapan. Aku nggak ikut, seenggaknya ada buatan aku yang ikut di tubuh Mas." Katanya sambil menggigit rotinya.


Dafa kembali bangun dan mengambil nasi goreng yang sudah istri nya buat, dengan keadaan sakit pula.


Mereka pun sarapan bersama, Hati dafa tak tenang meninggalkan sang Istri sendiri di rumah dalam keadaan sakit.


Dafa mengotak-ngatik ponselnya mencari kontak Cindy.

__ADS_1


"Cindy?"


"Iya? Ini kak Dafa?" balasnya


"Iya, kamu lagi senggang nggak?" Tanya Dafa


"Kebetulan saya libur kerja, Kak."


"Syukur, bisa temani Mentari di apartemen kita, dia sedang kurang enak Badan, dan Saya harus ninggalin dia ada pertandingan. Jika boleh saya titip dia ke kamu?"


"Bisa?" Lanjut nya lagi.


"Bisa, kak. Kebetulan saya lagi jenuh di kostan!' Jawabnya


Dafa menghela nafasnya lega, setidaknya dia bisa tenang meninggalkan istrinya, yang keliatan lemas sekali. Salah nya juga sih keseringan minta jatah. Padahal istrinya itu sedang banyak tugas kampus, dia juga sedang mengikuti perlombaan design gaun di salah satu butik ternama.


Di kamar nya pun ada manekin dan mesin jahit elektrik sebagai penunjang nya.


Mentari kuliah jurusan Ekonomi namun dirinya lebih condong ke design. Hanya dulu Ayahnya melarangnya mati-matian dengan hobby itu, entah kenapa tanpa alasan ayahnya melarang Mentari menggambar design-design baju yang menurut Dafa itu luar biasa bagus dan indah. Itu lah cerita yang dia dengar dari sang istri.


Dan untuk membahagiakan sang Istri, bulan lalu Dafa membelikan sepaket keperluan menjahit yang modern dan sangat kumplit.


Saking senangnya Mentari, dia tidak menolak Dafa meminta jatahnya di tambah di malam itu.


Hadeuhhh... nggak nolak da sama-sama enak🙄


" Siapa?" Tanya Mentari sambil menyeruput teh manis nya. kakinya sudah meringkuk naik ke atas sofa.


"Mas, minta Cindy kesini temenin kamu!"Ucapnya bangkit menyimpan Peralatan makan dan melengos masuk kamar mengambil sebuah selimut dan obat.


" Nggak usah padahal, Mas. Aku mau istirahat aja!" Mentari menatap Suaminya yang sedang merentangkan selimut menutupi tubuhnya.


"Biar Mas tenang. Kalo kamu ada yang jaga, Mas bisa fokus di pertandingan. Minum dulu obat nya." titahnya sambil membenahi selimut, demi menghangatkan tubuh Sang istri.


Dafa melihat jam di dinding tepat pukul sepuluh, dia harus segera pergi. Harus mendengar brifing dari pelatih dan latihan sedikit sebelum pertandingan di mulai pukul satu siang nanti.


"Mas, berangkat ya." Dafa mengecup kening itu yang dia rasa masih hangat.


Mentari mengangguk dan tersenyum lemah.


Dafa menangkup kedua pipi Mentari dan mengecup lembut bibir itu dengan sedikit sesapan.


"Ting.. ting... " Bel pintu berbunyi


Dafa melepas pautan itu.


"Ganggu... " Gerutunya bangun.


"Untung aja... " Mentari terkekeh kecil.


Dafa mencubit hidung mancung sang istri. Lalu berjalan ke arah pintu.


"Sakit... bu!" Ledek nya.


"Apaaan lu mah, Gitu. Massss... " Adunya pada Dafa yang tengah mengenakan sepatu.


"Dih ngadu, mentang-mentang dah punya suami." Cindy menatapnya jengah.


Mentari dah Dafa tertawa bersamaan.


"Mas, berangkat. Kamu istirahat ya!" Dafa lagi-lagi mengecup tanpa rasa malu di hadapan Cindy.


"Ekkmmmm... Ada Jones nih, sengaja banget kek nya!" Cindy menutup wajahnya pura-pura merajuk.


Dafa hanya tersenyum lalu mengangguk pamit.


🥀


🥀


🥀


"Tari, laki lu Sweet juga ya? aku kira bakal begajulan gitu secara dia... " Cindy tak meneruskan ucapannya.


"Brengsek... gitu? justru di dalemnya penuh dengan kebaikan yang tertutup oleh ke brengsekannya yang orang-orang bilang tentang dia. Mereka nggak tau siapa Mas Dafa sebenarnya." Mentari memandang foto suami nya yang gagah di atas kuda besi kesayangannya tepat di tembok di atas TV.


"Masa? sebaik apa?" Cindy penasaran.


Mentari tersenyum menatap ke kepoan sang sahabat. "biar cuma aku yang tau!" Ucapnya.


"Dih, main rahasia." Cindy mencebik kecewa.


"Sun...


" Hemmmm..


Jawabnya masih tertawa.


"Kemarin, Abang nanyain keadaan kamu!"


Dengan takut dan ragu Cindy berucap.


"Ada abang? kenapa kamu baru bilang." Mentari bangkit langsung dari posisi rebahan nya. matanya membulat sempurna.


"Dia bilang dua bulan lalu pernah liat kamu di depan apartemen, cuma ada kak Dafa. Dan sepertinya kamu buru-buru." tambahnya lagi.


Mentah berlari ke arah kamar mengganti bajunya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" Cindy terlihat panik


"Aku udah nggak kuat pengen ketemu abang, aku kangen banget sama mereka." Mentari memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas kecilnya.


"Tar... tari...


Cindy mengejar sahabatnya itu.


" Di mana sekarang abang aku?" tanyanya saat mereka keluar dari lift


"Kemarin sih bilangnya, dia mau sehari di sini. mungkin masih ada di market, atau nggak di rumah." Cindy mengira-ngira.


"Cindy, please hub orang tanyain di market ada abang nggak?" Mentari menggenggam tangan Cindy dengan derai air mata.


Sungguh sakit hati Mentari, rindu pada orang yang menjaga jarak darinya.


"Abang udah pulang, kata orang market!" Ucap Cindy setelah menghubungi seorang temannya yang sedang bekerja.


"Berarti kita ke rumah Ayah." Mentari berkata saat keluar dari loby dan langsung menyetop taksi yang selalu ada stay di depan apartemen.


*


*


Di jalan Mentari terus meremat baju yang dia pakai.


Hatinya tak menentu akan rasa senang dan takut, ya takut mendapatkan penolakan dari abangnya itu.


"Tar... tari... muka lu pucet banget." Cindy khawatir melihat raut wajah sahabatnya itu.


Mentari tak menjawabnya pikiranya sudah terpusat hanya ingin bertemu dan memeluk abangnya, rasanya rindunya sudah di ubun-ubun dan akan segera meledak.


"Sudah sampai neng!" ucap si supir taksi.


Mentari langsung keluar dari taksi dengan tergesa-gesa. Cindy langsung membayar nya. dan ikut berlari mengikuti sahabatnya.


"Mati gue, laki nya bakal ngamuk ini." Gumamnya.


"Abang..... Abang.... ini chaca. Abang.. aku kangen! " teriaknya di depan pagar.


Mbok Tini dan mang Unang tergopoh-gopoh membuka pagar tinggi itu.


"Neng chaca... Ya Allah neng!" Mbok langsung memeluk tubuh anak majikan kesayangannya itu.


"Abang Mana mbok? Abang di dalem kan?" Mentari setengah berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Neng... Abang baru aja pergi naik taksi, ke bandara." Ucap Mbok Tini yang juga ikut menangis merasa kasihan pada Mentari.


Mentari mematung di tangga menuju teras rumah besar ayahnya itu.


"Den Langit, baru aja pergi neng ke bandara. Mau kembali ke tempat bapak di rawat." terangnya lagi.


Mentari limbung, tubuhnya lemas benar-benar tak ada tenaga namun rasa rindunya tak bisa terbendung lagi.


tanpa berbicara dia menatap mang Unang yang juga tengah menatap nya haru.


"Mang, tolong anterin ke bandara." mohon nya.


Mang Unang yang melihat raut wajah pucat Mentari di tambah dengan mata sembab semakin membuat kacaunya penampilan sang anak majikan yang terbiasa cantik dan manis. Beliau tak bisa menolak, langsung berlari ke arah mobil yang terparkir.


Mentari terhuyung ke belakang kepala nya semakin sakit.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Cindy yang berada di belakang.


Mentari menggeleng lemah dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah berhenti di depanya.


*


*


Sesampainya di bandara...


Mentari berlarian mencari seseorang yang selama ini dia rindukan.


Kepalanya tak henti bergerak ke sana kemari, dan akhirnya punggung seseorang yang dia kenal betul ada di hadapannya dengan sebuah ransel yang melingkar di bahu, bahu yang dulu sering dia pakai untuk menangis,. mengadu. Bahu yang dulu sering dia naiki ketika sedang merajuk atau sedang bermain bahkan ketika berenang pun bahu itu yang selalu dia peluk.


"Abang.... " Suaranya menjerit namun di sertai isak tangis.


Pria itu memutar tubuhnya ketika mendengar suara yang tak kalah dia rindukan juga.


Pandangan mereka bertemu, Cindy dan mang Unang mematung di kejauhan. Menyaksikan pertemuan tali kasih di depan mereka.


"Abang... "


Mentari berlari ke arah dimana kakak tertuanya berdiri terpaku dengan raut wajah yang belum bisa Mentari artikan.


Yang jelas dia ingin memeluk tubuh yang selama tiga bulan ini tak dia jumpai, dan hanya membayang di pelupuk mata.


Langit menatap nya dengan tatapan sendu...


"Dek...


Gumamnya.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih banyak yang sudah mampir🙏🙏, semoga sukaaa😘😘, jangan lupa like komennya 🥰🥰.

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤


__ADS_2