Kisah Mentari

Kisah Mentari
Menolak


__ADS_3

💔💔💔


Mentari memasuki halaman rumahnya, dia merasakan badannya yang sudah lemas dan ingin segera merebahkan tubuh nya di kasur.


"Assalamu'alaikum... "


Mentari masuk ke dalam rumah, dia mendapati Dafa yang sudah rapi.


"Aku, pergi. Ada urusan!' Kata Dafa dengan nada dingin.


"Kaki kamu? Mas, emang nggak apa-apa?" Tanyanya memastikan.


Dafa yang sedang berjalan tertatih dengan tongkatnya yang di jepit di ketiaknya, sontak berhenti dan berbalik.


"Kamu... Semakin membuat aku seakan laki-laki nggak berguna," ucapnya sengit.


Mentari langsung terdiam, kecemasannya pada sang suami, malah memicu kemarahan Dafa.


"Bukan gitu, Mas.. .


Bruk....


Dafa membanting pintu ruang tamu.


Mentari menjengit kaget, lalu mengusap dadanya yang berdebar.


" Mas.... " lirihnya menghela nafas.


Lalu suara mesin mobil pun terdengar dan Dafa pergi dengan mobilnya


Mentari tak ambil pusing, dia bergegas masuk ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya, lalu dia memakai baju tidur berbentuk daster berbahan kaos.


Dia tersenyum di depan cermin sambil mengusap perutnya yang sudah mulai menonjol.


"Ughh... sayangnya Ibu! sehat terus ya, Nak!" gumamnya senyumnya tersungging cantik.


"Kita, harus kuat. Semoga ayah bisa cepet sembuh. biar nggak marah-marah lagi." Setetes air mata lolos begitu saja.


Mentari berjalan ke dapur, melihat pasakkannya yang pagi tadi dia sediakan untuk Dafa, masih utuh tak tersentuh.


Tatapan kecewa melihat menu yang masih utuh itu, mengingat pagi tadi dia memasak sambil menahan mual walaupun akhirnya dia kembali memuntahkan isi perutnya.


Hanya untuk melayani suaminya itu, dia mati-matian melawan rasa malas dan mual nya.


"Kamu, kenapa sih Mas? Nggak usah insecure sama istri kamu sendiri." Gumamnya sambil mengocek susu hamil yang tengah di buatnya.


Selesai meminum susu hamilnya, Mentari kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menonton TV.


*


*


Jam dua dini hari sebuah gerbrakan pintu membangunkan Mentari dari tidur nyenyak nya.


"Sun... " Dafa berteriak di luar kamar.


Mentari yang masih mengumpulkan nyawa melihat ke arah jam yang menggantung di dinding.


"Jam dua." Gumamnya sambil turun dan menggulung rambutnya asal. Sedikit berlari ke arah suara suaminya berteriak.


"Sunnnnn..." suara Dafa kembali menggelegar.


"Iya...Mas!" Mentari membuka pintu kamarnya.


Dia berjalan cepat ke arah sofa ruang tamu, di mana suara suaminya itu berasal.


"Mas... kamu , kenapa?" tanyanya ,melihat suaminya itu tergeletak di sofa dengan tubuhnya Sebagian menjuntai di lantai.

__ADS_1


"Ahhhh... Istri cantikku, Sini sayang... Aku kangen. Mau cium kamu sayang... udah lama aku nggak cium kamu, Udah dua tahunn." Ucapnya meracau di sertai gelak tawa.


Mentari menjauhi tubuh Dafa karena dia mencium bau alkohol yang membuatnya mual setengah mati.


Sebelum Mentari menghindar, Dafa sudah mengenggam tangannya.


"Mau, kemana? udah aku bilang, aku kangen. Mas mu ini mau cium." Dafa masih meracau kepala nya menyadar di sandaran sofa. Matanya menutup tapi mulutnya tak berhenti berbicara.


"lepasin, kamu mabok. Mas? Aku mual nyium bau alkohol dari mulut kamu." Mentari berusaha melepaskan genggaman Dafa di. pergelangan tangannya.


"Ahhh... alasan, bilang aja kamu udah nggak mau layanin aku, karena keadaan aku yang seperti ini! iya kan? jawabbbb?" Lagi-lagi Dafa membentak."


"Apa sih mas?" mentari berhasil melepaskan tangannya.


Lalu bergegas masuk kembali ke kamar nya. Mentari ketakutan, Dafa mabuk dan dia takut suaminya itu akan melakukan sesuatu yang membahayakan calon bayi mereka.


"Buka... " Dafa menggedor pintu kamar mereka.


*


Tak berselang lama, suara teriakkan Dafa melemah, nyaris seperti gumaman.


Mentari yang sedari tadi menangis di balik pintu, akhirnya membuka sedikit pintu untuk melihat keadaan Dafa.


"Mas... " panggilnya, berjongkok mendekati Dafa yang tergeletak di depan pintu kamar mereka.


"Kenapa... Kenapa kamu jadi gini sih, Mas?" dia mengelus wajah Dafa yang di penuhi keringat.


"Aku... sayang kamu, Sun... Sayang banget, aku malu, aku ngga bisa apa-apa... " Dia meracau dengan mata terpejam, namun lelehan air mata membasahi wajahnya.


"Aku tau, Mas. Dan ngerti keadaan kamu... " Mentari berusaha membopong tubuh Dafa masuk ke dalam kamar, dengan susah payah dia berjalan menopang tubuh suaminya itu.


Setelah berhasil dia melepas kan pakaian yang di kenakan Dafa dan menggantinya.


Mentari keluar dari kamar bermaksud mengambil minum, setelah dia memuntahkan isi perutnya, mencium aroma alkohol yang menyengat dari mulut Dafa.


Setelah selesai membuat teh hangat, Mentari masuk ke kamar lagi, dia merebahkan tubuhnya di sebelah Dafa, menatap wajah suaminya itu, yang semakin hari sifatnya semakin tak di kenalinya.


Dia pun kembali tertidur, dengan rasa sesak di dada, sakit hati dengan segala keadaan ini. Namun dia harus kuat.


*


*


Mentari merasakan ada yang menggerayangi tubuhnya, dia membuka matanya mendapati Dafa tengah menciumminya tangannya sibuk meremat dadanya.


"Aku... Mau, aku mau kamu Sun." Ucap lelaki di sebelah nya itu.


Mentari pun diam dengan perlakuan Dafa, bagaimanapun Dia memang harus melayani suaminya. Dan mengingat ini kali pertama Dafa meminta hak nya, setelah kecelakaan itu.


Subuh itu, Dafa menggagahi nya walau dengan keadaan setengah sadar, karena Dafa masih sesekali meracau sisa-sisa mabuk nya masih ada.


"Sun... " Dafa mengerang panjang saat pelepasan nya tiba.


Mentari hanya diam pasrah, Dafa memperlakukan nya agak kasar, tidak lembut seperti biasa. Bahkan puncak dadanya sampai sedikit perih karena Dafa menghisap nya kuat.


Dafa melemas, menjatuhkan tubuhnya di sebelah Mentari. Wanita hamil itu menutup tubuhnya dengan selimut itu. Di gauli saat keadaan hati tak menentu terasa aneh. Rasa kecewa dan marah juga sakit hati masih saling berdesakan di dalam dada. Namun tak kuasa menolak, dia tidak mencapai puncaknya karena memang tidak ingin dan fokusnya masih pada lelaki di atasnya yang terasa menjadi sosok asing.


Mentari membalikkan tubuhnya membelakangi Dafa, lelehan air mata kembali menetes. Bagaimana hubungan rumah tangga mereka ke depannya. Dia takut Dafa akan terus tetap seperti itu sebelum tubuhnya kembali sehat. Sedangkan dia wanita hamil yang sedang membutuhkan limpahan perhatian dan tidak munafik biaya besar menantinya di depan mata.


Ya siapa bilang suatu hubungan bisa terlaksana hanya dengan sebuah rasa cinta. Tidak... salah sekali, secara realita nya uang tetap menjadi no 1, Lebih dari 70% Perceraian memang di akibatkan masalah ekonomi. Miris... tidak cukup hanya cinta, nyatanya uang adalah pokok dari segalanya.


*


*


Pagi itu...

__ADS_1


Mereka tengah duduk berhadapan di meja makan, Dafa tengah memakan roti yang di buatkan oleh sang istri.


Mentari sedang mengoleskan selai strawberry pada rotinya. Ketika Dafa menyodorkan sebuah amplop padanya.


"Apa ini?" Mentari mengerutkan keningnya.


"Uang... " Jawab Dafa kembali dingin.


"Uang? dari mana?" selidiknya.


"Hasil kerja aku, kamu pikir dari mana?" Dafa mulai meninggikan intonasinya.


Mentari menarik nafas sebelum nya.


"Kamu, ambil job dj lagi?" Mentari menatap wajah Dafa yang juga tengah menatapnya.


"Iya... " jujurnya.


Mentari memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya yang lagi-lagi terasa sesak.


"Maaf... aku nggak bisa nerima uang ini, aku nggak mau kamu dosa karena memberi nafkah anak istri mu dengan uang yang kamu hasilkan dari orang-orang yang bermaksiat." Mentari mendorong kembali amplop itu ke arah Dafa.


"Maaf, bukan aku menolak nafkah. Terimakasih sudah berjuang untuk aku, selama ini perjuangan Mas yang begitu besar aku rasakan sekali, tapi maaf untuk uang dari kerjaan kamu yang satu itu aku nggak bisa nerima." tambahnya lagi.


Terlihat raut wajah Dafa mengeras, dia marah... sudah pasti. Suasana hatinya yang masih sensitif di tambah rasa insecure dengan sakitnya membuat emosinya mudah meledak.


"Kamu mau makan apa? Aku tau, persediaan uang kita udah menipis bahkan mungkin bulan depan udah habis. Mau dari mana lagi kita dapat uang, kamu lupa suami kamu ini cacat? " Dafa menyeringai sinis padanya.


Mentari terdiam masih dengan wajahnya yang menyaksikan Dafa berbicara dengan tatapan putus asanya.


"Kamu, anggap uang ini haram? silahkan kamu cari uang yang menurut kamu itu halal... " Dafa kemudian bangkit dan berjalan tertatih tanpa tongkatnya ke arah taman belakang.


"Aku kerja, mulai hari ini. Minta ijin dan ke ridho an kamu, Mas."


Dafa yang tengah berjalan tertatih, seketika berhenti dan mengahadap Mentari.


"Silahkan... Aku tidak bisa melarang, karena aku memang sudah tidak berguna."


"Mas...


" Lakukan apa yang menurut kamu baik, nggak usah mikirin aku." Dafa kembali melangkahkan kakinya.


"Aku pergi sekarang..."


Tak ada jawaban dari lelaki itu, dia masih setia melihat ikan yang berenang kesana kemari di kolam ikan kecil di taman belakang.


Mentari yang ingin mencium tangan Dafa mengurungkan niatnya, saat Dafa tak merespon ucapannya.


Mentari menutup pintu rumahnya, sedikit meringis ketika berjalan karena perlakuan Dafa yang kasar di subuh tadi, membuat intinya sedikit nyeri dan perutnya tadi terasa kencang saat terbangun di pagi hari.


Dia menutup pagar rumah saat taksi online pesanannya tiba.


Tanpa sepengetahuan Mentari, Dafa menangis di pinggir kolam itu. Demi apapun dia merasa hidupnya tidak berguna. Dia merasa rendah saat Mentari menolak nafkah yang dia berikan untuk kebutuhannya.


Bahkan dia tidak bisa melarang istrinya yang sedang mengandung anaknya itu bekerja. Harusnya dia memberikan limpahan kasih dan segala yang istrinya butuhkan selama kehamilan. Namun apa daya musibah tidak ada yang tahu.


"Aku, harus gimana? nyari uang kemana? kerjaan apa yang bisa aku lakuin?" Gumamnya sambil mengusak rambutnya kasar.


Lalu dia merogoh sakunya mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu di layar ponsel itu.


"Gue mau ketemu! Bisa? sekarang gue otw." ujarnya pada seseorang di sebrang sana.


Bersambung ❤❤❤


Makasih yang sudah mampir, dan mau baca🙏🙏


semoga suka🥰🥰, like komen nya jangan lupa😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤


__ADS_2