Kisah Mentari

Kisah Mentari
Hari Bahagia Abang


__ADS_3

...โคโคโค...


Semua anggota keluarga dan para kerabat dekat sudah duduk berbaris rapi dengan dresscode berwarna senada. Mereka duduk memutari satu buah meja berisikan 6 buah kursi yang kini sudah di duduki oleh Abang, Cindy, penghulu, Bapak Rudi selaku Bapak Cindy, Ayah Gunawan dan seorang saksi dari pihak keluarga.


Suasana tegang juga haru melingkupi area taman luas di cafe milik salah satu keponakan Ayah Gunawan. Kak Tika yang tak lain istri dari Kak iqbal keponakan Ayah Gunawan. Perempuan cantik, muda, dan gesit. Yang mengawasi setiap gerak gerik para pekerja nya. Juga memastikan semua sesuai dengan rencana. Wanita cantik yang tengah menuyun seorang balita yang sepertinya baru lancar berjalan, namun setia mendampingi Ibu nya yang hilir mudik dengan tangan yang menggenggam erat jari jemari mungilnya.


***


***


Kalimat-kalimat berupa nasehat pernikahan di ucapkan oleh perwakilan dari KUA sebagai pendamping bagi wali.


Bagaimana kita saling menghargai, menyayangi, dan setiap pasangan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Intinya adalah sebuah biduk rumah tangga harus benar-benar di topang oleh kedua belah pihak tidak hanya salah satu nya saja. Agar lebih kokoh menghadapi berbagai macam rintangan ke depannya.


Di tengah-tengah acara yang begitu khusu, Mentari kembali merasakan keram di perutnya, "Mas ... " bisiknya ke arah Dafa yang duduk memangku Helen di sebelah nya.


Dafa menoleh ke arahnya, "Ya, cantik?" tanyanya dengan sedikit pujian. Melihat istrinya sangat cantik dengan kebaya dan rambut di sanggul modern yang simple, membuat hatinya berkedut, dia selalu merasa jatuh cinta pada istrinya itu.


"Perut aku sakit lagi." Dia meringis.


"Aku ambilin minum?"


"Pengen tiduran, nggak kuat kayak di remes2!" katanya.


Dafa menatap sekelilingnya, "Belum ijab nya juga, nggak enak ama semuanya. Seenggaknya selesai ijab. Kita pamit." Usulnya.


Mentari tak menjawab dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Tahan sebentar ya!" Dafa mengelus paha Mentari yang terbalut kain jarik bermotif Sidomukti khas Solo tempat kelahiran Ayahnya.


Mentari mengangguk lemah, masih dengan pandangan tertuju pada Langit yang sudah mulai menjabat tangan Bapak Rudi. Dan dengan mantapnya serangkaian kalimat ijab terlontarkan dengan lancar.


"Sahh ... " Suara kelurga dan para tamu undangan yang menggema di pagi itu, menandakan Langit dan Cindy telah sah sebagai suami istri.


Bunda terlihat mengusap air matanya sama hal nya dengan ibu Ida besannya di sebelah, juga terisak menyaksikan kedua anaknya yang kini sudah berstatus kan suami istri.


Kedua wanita paruh baya itu saling menggenggam tangan dan tersenyum sembari menyeka pelan air mata mereka yang menetes dengan tisu yang sudah mereka siapkan.


Pengantin langsung di sodorkan beberapa berkas untuk di tandatangani, lalu saling menyematkan cincin pernikahan di masing-masing jari. Lalu Cindy mengecup punggung tangan Langit tanda di mulainya pengabdian sebagai seorang istri, Langit pun mencium kening Cindy sebagai bukti dia akan menyayangi, melindungi, dan siap membimbing istrinya itu. Mereka siap mendayung biduk rumah tangga yang tak akan selalu mudah.


Lalu menyalami orang tua mereka bergantian, lagi-lagi itu momen harus dan sentimentil untuk para perempuan, dan Bunda kembali terisak. Ayah pun menepuk-nepuk punggung putra pertama nya.


Putra yang membantunya membesarkan adik-adiknya, putra nya yang hampir tak pernah membantah perintahnya sedikitpun, putra yang selalu pintar dalam akademi nya dan selalu membuatnya bangga, rasanya tak ada cela di diri putra pertama nya itu. Bangga, sudah pasti Ayah bangga dengan Langit yang di usianya yang hampir 32 thn masih selalu berbakti pada keluarga nya, tak pernah sekalipun putranya itu membuatnya kecewa.


"Si anak penurut Ayah, Ayah doakan segala yang baik untuk Abang." Bisiknya di atas kepala putra nya yang sedang bersimpuh memohon restu.


Bunda tak banyak berkata, bibirnya kelu dan bergetar menahan tangis, dia hanya sanggup berkata, "bahagia selalu, Bang." Lalu mengecup kening putranya.


*


*


"Kak, Ayah sebut Abang si anak penurut . Kalo nanti Kak Bintang yang nikah di sebut apa?" Mentari mencondongkan tubuhnya ke sebelah kanannya di mana Bintang tengah menatap layar ponsel nya, dia sedang kecewa karena Naya tak bisa hadir mendampingi nya.


Bintang menoleh ke arah adiknya yang bertanya, "My son my handsome." Ujarnya dengan level kepercayaan tinggi.


Mentari memperagakan bak orang yang akan muntah, "Hweek, pd banget." Bisiknya.


"Dih, tiap gue ngaca ke cermin ajaib di kamar gue, pasti itu jawabannya, gue Handsome." Lalu dia cekikikan geli sendiri dengan yang di ucapkan.


"Pasti kaca nya udah di sogok, " lalu dia terbahak melihat kakaknya melotot kesal ke arahnya.


"Sun, " Dafa menepuk pahanya karena suara tawa adik kakak itu sebenarnya menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.


Mentari menutup mulutnya yang masih tersisa kekehan kecil.


Lalu acara berlanjut ke sesi foto keluarga, dan pengucapan selamat dari para tamu, pasangan pengantin itu berbaur ke meja-meja yang di isi oleh beberapa keluarga dan para sahabat.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Mentari yang sedang memakan puding, dan memberikan pada Helen sedikit demi sedikit karena putri nya itu sudah mulai belajar makan.


Dafa sedang ke toilet, saat Cindy menghampiri nya dan duduk di bangku yang tadi Dafa duduki.

__ADS_1


"Tari, gue degdegan. Kalo abang, minta langsung nanti malem. Apa yang mau gue kasih?" tanyanya berbisik di telinga sahabatnya yang sekarang ganti status menjadi adik iparnya.


"Lu, bisa ngasih servis yang wow buat Abang gue, kalo dia emang udah tau dan nerima masa lalu lu. Ya servis yang bisa lu kasih ke Abang gue." Mentari berkata sambil menatap sahabatnya yang seperti sedang cemas dengan malam pertama mereka.


"Emang gue nakal, tapi gue masih bego belum lihat banget, itu juga kan cuma sekali dengan si laki busuk itu."


"Jadi, nggak tau apa yang di sukai laki?" Tanyanya.


"Mulai dari usapan halus, cari titik-titik nya, tapi kayaknya laki mah cepet buat kepancing nya. Atau lu coba dari bagian bawah, mulai dari situ!" Mentari menutup mulutnya malu sendiri dengan apa yang dia ucapkan.


"Bawah mana? kaki?" Cindy benar-benar terlihat oon di depan Mentari, entah karena tegang atau emang pengalaman nya belum mempuni.


"Kaki? lu mau mijit Abang gue?" Mentari memukul pelan punggung sahabatnya itu.


"Aww ... Gue kakak ipar lu ya sekarang, sopan dong!" godanya dengan wajah di buat ketus.


"Abis ngeselin, perasaan dulu lu suka ngasih wejangan tentang film remang-remang sama gue, napa sekarang lu kek lagi berguru?" Mentari masih menghancurkan puding di depannya karena Helen sudah menjerit-jerit tak sabar menerima suapan Ibu nya.


"Lu karoke itu Abang gue, oon!" Bisiknya.


"Karaoke?" Pengantin perempuan itu membeo.


"Astaga ... " Dia menutup wajahnya yang memerah malu.


"Pasti dah ngerti lah!" Mentari tertawa sambil menyuapi Helen.


Dari kejauhan Langit mendekati istrinya.


"Sayang ... ke atas pelaminan dulu, bentar lagi tamu-tamu rekan bisnis Ayah dateng." Tangannya mengulur pada Cindy.


Cindy menyambut tangan itu, dan mereka berjalan beriringan ke alah pelaminan.


"Mengalir aja, nanti juga bisa sendiri." Mentari sedikit berteriak pada iparnya itu.


Cindy menoleh dan menempel kan telunjuknya di bibir, sambil matanya melotot pada sang adik ipar.


Dan Mentari mengacungkan kepalan tangan sambil berkata 'semangat' ucapnya tanpa bersuara.


Dia terkekeh sambil terus menyuapi Helen.


"Lama amat?" Mentari melap mulut Helen yang belepotan karena puding coklat itu.


"Aku udah dari tadi, tapi kalian lagi bisik-bisik. Jadi aku sambil nyemil risol di sana sama bakso tahu. Nih aku bawain salad buah." Dia menyodorkan satu cup salad buah dengan limpahan parutan keju di atasnya.


"Umm ... Ayah Helen tau aja kesukaan Ibu Helen." pujinya sambil menyimpan salad di meja, dan menyodorkan Helen ke Ayah nya.


"Ngomongin cara muasin Abang. ternyata dia dulu sering ngajarin aku film biru, malah berguru sama aku."


"Karena kita udah ada hasil, Si cantik ini. Jadi dia mau yang pasti-pasti." Dafa bangun dari duduknya.


"Tinggal di timang-timang udah kenyang sama puding." Ujarnya sambil menyuapkan salad kedalam mulut nya.


Dafa mulai menggoyangkan tubuhnya menimang putri cantiknya, benar saja tak lama kepala anaknya itu sudah terkulai lemas di bahunya.


Mentari masih hilir mudik mengambil beberapa menu makanan, sesekali menyuapi suaminya yang tengah memangku Helen yang tertidur pulas.


"Kita pulang yuk," Ajak Mentari pada suaminya.


"Ayo, kasian Helen. Udah mau sore belum ganti baju."


"Kasian Helen atau diri sendiri?" Mentari menggoda nya.


"Kamu masih sakit perut?" tanyanya dengan senyum mesum.


"Udah nggak, kayaknya mau keluar deh." Jawabnya.


"Pas, sebelum libur seminggu. Boleh kan kasih aku bekel."


"Hilih, alasan. Aku nggak bisa juga, kamu tetep minta cara lain, Mas." Dia mencebik.


"Lah, aada seribu cara menuju anu." Dafa berbisik.


Dan keduanya pun tertawa.

__ADS_1


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Sore itu semua orang sudah meninggalkan acara, hanya tinggal keluarga inti, yang mulai Berpamitan di pelataran parkir cafe itu yang cukup luas menuju hotel.


"Bunda sama Ayah langsung pulang ya, kalian baik-baik. Bunda tunggu kunjungan pertama dari menantu Bunda." Katanya Seraya memeluk Cindy.


"Iya, Bun."


Dua keluarga eh sekarang menjadi tiga keluarga berpisah di mobil yang membawa mereka.


Di dalam mobil Langit.


"Sayang?" Langit melihat raut tegang dari istrinya.


"I_iya Abang?"


"Kenapa?"


"Nggak, cuma sedikit ... " Dia tak berani meneruskan ucapannya.


"Santai sayang, Abang nggak maksa kamu sekarang. Se siap nya kamu aja."


Cindy terdiam dia menyerap apa yang di ucapkan suaminya, ucapan itu seakan membuatnya lega, namun dalam hati kecilnya pasti suaminya itu menginginkan hak nya dengan segera, dan dia juga tidak akan mengulur waktu, suaminya itu sudah sangat baik menerima masa lalunya, lalu apa yang bisa dia balas selain memberikan hak dan servis seperti apa yang adik iparnya itu katakan tadi.


"Nggak, aku nggak akan menunda. Kita bisa mulai malam ini! karena cuma itu yang bisa aku berikan untuk membalas semua kebaikan Abang." jawabnya dengan penuh keyakinan.


Langit tertawa, dan mengecup punggung tangan Istrinya, "Kalo sore ini abang, minta nya. Boleh?" tanyanya dengan tatapan teduh yang membuat siapapun akan meleleh.


Cindy tersenyum dan mengangguk, "Siap, aku bakal buat servis memuaskan untuk suami ku."


Lalu Langit mengelus pipinya dengan lembut.


"Ahhhh Abang makin semangat, nggak tahan." Lalu mobil mulai memasuki basement sebuah hotel yang tak jauh dari cafe tempat pernikahan mereka.


"Ayo, istri Abang. Kita mulai permainan nya." Langit membuka pintu mobilnya menuntun istrinya itu keluar karena kesusahan dengan tatanan hiasan Siger rambut khas pengantin Sunda.


Mereka pun berjalan dengan wajah yang ceria, pandangan banyak orang pun tak mereka hiraukan.


****


Memasuki kamar pengantin yang di penuhi bunga di mana-mana, juga ada makanan sambutan di atas meja bertuliskan "Happy honeymoon MR & MRS Langit."


"Ughhh ... Sweet nya." Cindy menjerit gemas.


Langit langsung membuka sepatu dan jas yang membuatnya gerah. Dia mendekati Cindy yang masih melakukan room tour di kamar hotel yang dia rasa terlalu luas.


"Ahhh abang, liat deh kamar mandi nya. Penuh bunga, sayang masuknya."


Jeritan-jeritan manja itu malah semakin membuat Langit gemas dan tak sabar. Dia memeluk tubuh istrinya yang menguatkan wangi melati di sekujur tubuhnya.


"Abang, seenggaknya bantuin lepasin sanggul dulu. Kalo mau cepet." Elak Cindy saat Langit mengecupi tengkuk dan lehernya.


Langit dengan sigap dan terburu-buru mencabuti jepit-jepit hitam yang menancap di rambut istrinya itu. "Banyak banget sih jepitnya, ini sanggul nya masih nempel kuat." Gerutunya kesal. Cindy yang sedang membuka kebaya juga kain yang membelit tubuhnya hanya tertawa melihat ketidak sabaran suaminya.


"Sabar, " Pandangan mereka bertemu di kaca besar di atas wastafel.


"Nggak kuat, abang nggak sabar."


"Masa? aku liat selama ini abang orang yang sabar."


Godanya sambil melepas jatuhkan kemben yang berada di balik kebaya nya dengan mudahnya karena pengait kain itu ada di pinggiran jadi mudah di lepaskan. Kini tubuhnya hanya menyisakan celana da*am saja.


"Kamuu ... mancing Abang, makin nggak sabar ini. Udah biarin sanggul kamu terpasang lah." gerutunya sambil mengusap perut mulus itu.


"Belum beres, nggak boleh pegang-pegang." Cindy mengancamnya.


Langit kembali membongkar sanggul di kepala istrinya dengan sesekali gerutuan dan makian dia lontarkan.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2