
...❤❤❤...
Mentari masuk ke dalam kolam plastik di bantu Dafa, gelombang cinta itu semakin intens dia rasakan, erangan dan rintihan terus terdengar dari bibirnya. Namun dengan keadaan tenang tanpa jeritan atau teriakan yang biasa di lakukan kebanyakan ibu melahirkan.
Dokter terus memotivasi memberi kata-kata hipnobirthing. Mentari dengan tenang mencerna kata-kata itu, sesekali Dafa mengecup kening istrinya yang tengah memejam merasakan tahap demi tahap pembukaan jalan lahir itu.
"Mass ... "
"Iya?"
"Telpon Bunda, aku butuh do'a Bunda." Katanya setengah berbisik dengan tangan yang meremat kuat tangan Dafa.
Dafa langsung berjalan ke arah meja nakas di mana ponsel nya berbunyi.
"Bun ... "
"... "
"Ibunya Helen, mau lahiran udah pembukaan 6, udah pecah ketuban juga."
"... "
"Jangan, Bun. Kita nggak di rumah sakit, tapi di rumah. Ibunya Helen milih homebirth. Jadi minta do'a nya ya Bun. Titip Helen sebentar."
"... "
"Iya, tapi Mentari nggak mau ada yang dateng, katanya pengen tenang. "
"... "
"Iya, nanti saya siapin. Nggak, udah konsultasi juga ke dokter, di sini juga di dampingi dokter sama bidan."
"... "
"Iya, pasti. Nanti kalo udah lahir saya telepon lahir Bunda."
"... "
"Amin, makasih Bun."
Percakapan itu pun berakhir dengan mulus tanpa ada perdebatan, Bunda mengerti keinginan putrinya yang menginginkan ke intiman dan ketenangan dalam proses melahirkan anaknya yang ke dua. Mengingat persalinan nya yang pertama berakhir ricuh karena Bintang yang terjatuh tak sadarkan diri.
...🌸🌸🌸🌸...
Mentari kembali mengerang, "Sakit sayang?" Dafa kembali berlutut, mengusap wajah pucat istrinya.
Tanpa jawaban namun raut wajah istrinya menyiratkan rasa sakit luar biasa, istrinya yang benar-benar tangguh, anak bungsu yang terbiasa manja, malah sangat dewasa di matanya. perempuan yang selalu tenang, namun selama hamil sifat-sifat yang belum pernah dia lihat keluar begitu saja, seperti cemburu, marah-marah, cemberut dan kekonyolan dan kemesuman yang jarang sekali istrinya lakukan malah terlihat lucu dan semakin menggemaskan.
"Kamu, kuat sayang... kamu hebat... " ucapnya mengecupi kepala Mentari.
Dokter masuk untuk mengecek keadaan Mentari, juga mendengar kan suara detak jantung anak mereka.
"Semua bagus, sudah pembukaan 7. Bapak boleh ikut masuk ke dalam air, memberi dukungan lebih pada Ibu, seperti memijat atau mengelus perut Ibu." Dokter itu menjelaskan, Dafa diam lalu menatap wajah istrinya yang memejam dengan wajah semakin pucat, lalu kenapa dia harus berpikir hanya untuk memberi dukungan dan kekuatan untuk istrinya.
Tanpa aba-aba Dafa langsung berjalan ke arah lemari dan mengambil boxer miliknya. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti celana chinos nya dengan celana boxer.
Dafa keluar dari kamar mandi, Di lihatnya Intan masuk membawakan segelas besar teh madu, minuman isotonik dan air putih sebotol besar.
Dafa langsung masuk ke dalam kolam plastik itu duduk di hadapan Mentari, memegangi gelas yang sedang di minum isinya oleh sang istri.
__ADS_1
Dafa kemudian menyimpan gelas itu di lantai dekat kolam karet itu.
"Mass... "
"Iya, Sayang... " Dafa merangsek ke belakang tubuh mentari, menyandarkan tubuh istrinya di dada bidangnya.
"Maafin aku ya, belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, aku banyak salah dan suka bikin kamu kesel atau marah. Maaf aku yang kadang susah kamu atur." Mentari berucap lirih seperti sebuah perpisahan.
"Shhhhttt... diem, diem. Aku nggak mau denger kata-kata kayak gitu. Pokoknya kamu harus fokus nggak usah mikirin yang aneh-aneh."
"Maafin aku dulu... " Rengeknya.
"Nggak usah maaf maaf mulu, bukan Lebaran. Pokoknya kamu nggak punya salah sama aku secuil pun. Malah aku yang belum jadi suami yang baik sama kamu, aku yang sering nyebelin yang suka egois pengen ngehamilin kamu terus, udah ini aja udah. Cukup dua aja anak kita." Dafa terus mengelus perut Mentari sambil mengucapkan kata-kata yang asal keluar dari mulutnya.
Seorang lelaki yang keras biasa marah-marah pun jadi se konyol ini saat sedang menghadapi kecemasan melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka.
"Kalo aku nggak kuat gimana?"
"Diem, apaan sih kalo ngomong suka nggak mikir. Emang kamu mau aku nikah lagi terus anak-anak kita di asuh sama ibu tiri yang jahat?" Dafa balik mengancam.
"Nggak ... nggak mauuuu." Mentari yang kembali merasakan gelombang cinta langsung histeris sambil memukul kaki Dafa yang mengapit tubuhnya.
"Ya, udah makannya jangan asal ngomong. Fokus aja jangan pikir yang aneh-aneh. Udah lah ke rumah sakit aja ya?"
"Mau di sini, udah bentar lagi kata dokter juga." Mentari kembali mengatur nafasnya.
Dokter kembali masuk memberikan beberapa pertanyaan dan mengecek semuanya mulai dari tekanan darah ibu, detak jantung ibu dan bayi, dan kembali memasukan jarinnya ke inti Mentari untuk mengetahui sampai mana pembukaan jalan lahir itu.
"Sebentar lagi, atur nafas terus ya Bu, jangan nangis apalagi jerit-jerit. Nggak akan bermanfaat, malah bikin badan cepet kekuras tenaganya. " jelasnya.
"Bapaknya boleh sambil pijit dan pilin2 dada ibunya, biar mancing asi keluar dan siap di sesap dedek bayi." tambahnya lagi lalu bangun dari jongkok nya.
*
*
Erangan halus terdengar kembali di telinga Dafa, dia langsung mengelus lembut perut Mentari yang mengencang sempurna.
"Ughhh ... huuuuhhhh... ffuuuuu... " Mentari terus mengatur nafasnya saat rasa sakit menjalar di tubuhnya dan berpusat di perutnya.
"Mas... minum... " Pintanya
Dafa langsung mengulurkan tangannya mengambil gelas besar berisi teh madu dan langsung memberikannya pada sang istri.
"Aduuuhh ... " Mentari kembali meringis.
"Sabar sayang... kamu kuat bisa... "
"Denger apa kata dokter tadi?" Dafa berbisik sambil mengusap pinggang istrinya.
"Yang mana?" Mentari kembali mengatur nafasnya.
"Yang aku di suruh milin ini." Dafa berkata sembari memegang dada istrinya.
"Aku nggak bisa."
Ucap mereka bersamaan.
Di sela rasa sakit itu Mentari mendongak menatap suaminya.
__ADS_1
"Kenapa?"
Ucap mereka lagi-lagi bersamaan.
"Ishhh ... nanti belut,Mas. Bangun, kebayang nggak pas aku bangun itu aku ngembung di liat dokter sama bidan. Ntar mereka mupeng!" bisiknya.
"Kamu?"
"Ihhh pake nanya itu kan kelemahan aku, ntar geli2..."
"Geli-geli mauu?" potong Dafa dengan suara kekehan.
Mentari yang sedang tidak merasakan kontraksi malah ikut tertawa.
"Enjoy?" Dafa berkata.
"Iya, lebih kalem. Nggak degdegan banget apalagi waktu itu Kak Bintang pingsan pas Helen baru keluar kepalanya!" Mentari kembali memejamkan matanya. Merasakan sesuatu semakin mendesak di bawah sana.
Tiba-tiba terdengar suara motor di depan rumahnya.
"Dek... dek... " Suara yang mereka kenal menggema di luar.
Mentari yang tengah mengatur nafasnya seketika menepuk-nepuk suaminya.
"Suruh pulang, buruan aku nggak fokus ini anak kita udah mau keluar! cepetan." Teriak nya.
Dafa yang masih bingung dan panik hendak bangun saat pintu kamar di buka...
"Dih, mau lahiran apa mau nganu lu? dokter di luar, kalian ngapain di sini?"
Intan yang sedang menghalangi pintu terlihat bersusah payah mendorong tubuh lelaki yang tengah memaksa masuk ke dalam, mengingat di dalam majikannya hanya memakai sport bra.
"Keluaaaarrrr" Mentari berteriak histeris.
"Keluar nggak lu?" Dafa pun ikut geram.
"Iya... iya cuma mau ngambil susu sama baju anak gue." Katanya sambil menjauh dari ambang pintu.
"Tehhhh... "
Intan langsung masuk mendekat ke arah Mentaya yang semakin meringis, "siapin bajunya Helen." Titahnya, Dafa kembali duduk di kolam plastik itu.
"Air nya udah nggak anget... " Rengeknya.
Dafa bangkit lagi lalu berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air panas untuk di campurkan kembali pada air yang sudah mulai dingin.
Dokter Mila kembali mengecek "Sudah pembukaan 9, hebat cepet banget ini. Ibunya nggak manja juga tenang... " Ucapnya menyemangati.
Dafa kembali dengan dua ember air panas. Dan sedikit demi sedikit menuangkannya ke dalam kolam plastik itu.
Mentari memejam menikmati air yang kembali menghangat.
"Udah, sini lagi Mas. Ini udah makin sakit... " Rengeknya dengan tubuh yang semakin gelisah merasakan kontraksi.
Dokter dan Bidan sudah menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan menyambut kelahiran anak kedua mereka. Di atas kasur sudah tertata begitu apik peralatan bayi dan beberapa alat medis yang di perlukan.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
__ADS_1
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘