Kisah Mentari

Kisah Mentari
Mitos


__ADS_3

...❤❤❤...


"Sayang... "


Mentari dan Dafa menatap ke arah pintu yang terbuka.


Bunda masuk dengan anak ke dua mereka dalam dekapan nya.


"Bunda dari kapan di sini?" Mentari bertanya heran.


Bunda tersenyum mendekati anaknya, "dari Dafa bilang kamu mau lahiran, Ayah sama Bunda langsung ke sini!"


"Daf... Ngga akan di Adzan nin anaknya?" Bunda bertanya pada Dafa yang kini terduduk di sebelah istrinya.


"Aduh, lupa Bun. Tadi ibunya Shera muntah-muntah." Dafa beringsut bangun dan langsung mendekati bayinya. Melantunkan kalimat penuh makna di telinga putrinya.


Mentari terharu melihat pemandangan itu, hal paling romantis adalah saat seorang ayah melakukan sesuatu terhadap anak perempuannya.


"Tadinya mau Ayah yang Adzan nin, tapi nggak adil katanya, dulu kan Helen sama ayah sama papa dan papi nya, karena Ayah nya nggak ada." Bunda berkata sambil membalikan posisi gendongannya agar posisi nya berbalik ke bagian kiri.


Dafa telah selesai dengan lantunan suci nanti indah penuh makna. Lalu menciumi wajah putri ke duanya.


"Masih mirip kamu, Daf." Kekeh Bunda.


Dafa tertawa jumawa. "Iya, Bun lebih dominan Ayahnya." Katanya puas sambil melirik Istrinya yang berbaring. Mentari mencebik kesal mendengar ucapan suaminya.


Dafa tertawa dan mengecup kening istrinya.


Lalu Ayah, Langit dan Cindy dengan perut besarnya masuk ke dalam kamar itu.


"Udah?" Tanya ayah pada Bunda.


Istrinya itu mengangguk, "Ayah mau Adzan nin juga?"


"Jelas dong." Lalu Ayah dan Langit bergantian mengalunkan kalimat indah nanti suci itu.


*


*


Cindy mendekati Mentari, "gimana enak mana?" tanyanya dengan wajah serius karena dia juga akan menghadapi persalinan beberapa minggu lagi.


Mentari tersenyum melihat raut wajah sahabat sekaligus iparnya itu.


"Ya, gimana ya? sesuai keinginan kita sih. Aku lebih ngerasa tenang di rumah, nggak bau rumah sakit, lebih tenang aja ngelewatin prosesnya sama yang bikinnya." Mentari terkikik geli.


"Intinya sama aja sakitnya, cuma suasana mempengaruhi hati. Jadi aku lebih nyaman di sini kayaknya lebih tenang aja." Katanya lagi.


Tiba-tiba suara berisik terdengar dari arah pagar sampai ke dalam rumah, gerutuan terdengar dari orang yang mereka kenal, ya siapa lagi kalo bukan Bintang.


Bintang masuk ke dalam kamar saat Langit sedang menggendong Shera.


"Eh, udah keluar anak Papi? Cewek atau cowok?" Dia mendekat dengan Helen dalam gendongannya.


Di ikuti Intan di belakangnya membawa nampan berisikan mangkuk dan bungkusan bubur ayam yang di pesan Dafa tadi.


"Kamu kenapa berisik?"Ayah yang duduk di tepi ranjang yang di tiduri putrinya bertanya dengan tangan yang mengelus betis Mentari yang berada di balik selimut. Dia tau kebiasaan anaknya kalo sakit pasti minta di usap-usap kakinya. Menjaga ke tiga anaknya apalagi Mentari yang masih setahun membuatnya paham akan karakter masing-masing anaknya.


" Tuh, si Intan. Ampun lelet nya nggak ketulungan. Erosi jiwa aku ngadepin nya." Dia melirik Intan yang tengah menuangkan bubur di meja nakas tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Bunda mencubit pinggang Bintang yang masih menggerutu, Lalu matanya melotot seolah menyuruh anaknya itu diam.


Intan setelah memberikan mangkuk bubur pada Dafa menunduk lalu pamit dari kamar majikannya itu.


"Kamu, kalo ngomong jaga perasaan orang dong. Kasian Intan." Bunda mengomelinya.


Bintang hanya mencebik tak suka.


"Biarin Bun, ntar lama-lama suka. Teh Intan baik cantik gitu, yang aku suka dia lembut ke anak-anak. Jadi ninggalin anak-anak aku ngerasa tenang." Mentari ikut berkata sambil mengunyah bubur yang suaminya suapi.


"Alah, aku nggak suka cewek yang lelet, mau dia cantik sekalipun." Bintang duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur itu.


Semuanya hanya menggeleng mendengar kata-kata yang di ucapkan Bintang.


"Biarin, ntar kena karmanya. Malah jatuh cinta." Cicit Ayah dengan wajah geli nya.


***


Dokter Mila dan Bidan masuk kembali ke dalam dengan beberapa bungkus obat.


"Semua sudah beres ya Bu, dedek bayinya juga udah di kasih salep mata sama suntikan vitamin K" Dokter Mila menerangkan keadaan bayi mereka.


Kemudian tak lama mereka pamit dan berjanji besok pagi akan kembali melakukan pemeriksaan untuk ibu dan bayinya.


Helen yang di bawa melihat adik ya untuk pertama kali, malah di luar ekspektasi mereka, anak berusia setahun lebih sedikit itu malah menciumi adiknya. Dan Mentari merasa lega, awalnya dia takut Helen akan cemburu tapi waspada harus tetap di jalani, takutnya emosi anak seusia itu masih meledak-ledak. Tak lama, Langit membawanya duduk di sofa di pojokan dalam kamar itu.


Mentari masih di suapi bubur ayam, Baby Shera masih dalam gendongan Bunda, dan Ayah masih mengusap sayang kaki putri nya.


"Anak kamu cewek lagi, Cha."


"Katanya, kalo anaknya cewek itu bapak nya kalahan!" katanya yang berbaring di bawah kaki adiknya dengan tertawa mengejek.


"Kata siapa?" Mentari menatap suaminya dan langsung melotot ke arah kakak nya.


"Aku baca artikel apa gitu lupa, kalo pengen anak cewek bapaknya harus keluar duluan, kalo anak cowok kebalikannya." Terangnya.


"kayaknya laki kamu suka kalah duluan ya? jadinya anak lu cewek lagi, cha." Lanjutnya.


Mentari geram sendiri apalagi melihat tatapan suaminya pada Bintang sudah sangat murka.


"Kata siapa? aku sering kalah telak tau!" Mentari membela suaminya padahal kenyataan nya dia memang sering kalah dalam permainan suaminya itu.


Bintang semakin terbahak saat sebuah jeweran dia Terima dari sang Ayah.


"Aww... Sakit, Yah!" Katanya meringis memegangi telinganya.


"Ngomong sok tau, kayak yang sok pengalaman aja!" Ucap Ayah.


"Ih, aku cuma nyeritain artikel yang aku baca." Bintang bangun dari posisi tidurnya.


Ayah yang beringsut menghadap ke arahnya hanya menggelengkan kepalanya, "Itu semua mitos, nggak bener. Kalo yang suaminya kalah anaknya cewek, yang suaminya menang anaknya cowok."


"Lah, berarti itu artikel nggak akurat ya?" Tanyanya


" Iya lah."


"Oh, berarti Ayah belum tentu juara dari Bunda ya? padahal aku mau muji Ayah yang anak lelakinya dua, berarti Ayah tangguh."


Seketika Ayah menyadari ucapannya yang malah membuka aibnya sendiri.

__ADS_1


"Eh, tapi. Kalo Ayah tangguh nggak akan pesen jamu kuat di temen aku ya?" Bintang terbahak di sebelah Ayahnya yang menatap nya nyalang.


Bunda menyadari akan perdebatan yang pasti akan berbuntut panjang.


"Udah, ih berenti. Kasian Shera berisik kakek sama papi nya."


"Kalo kata Bunda, itu semua nggak ngaruh. Ya... semua sudah di atur oleh Tuhan." Tambahnya lagi.


Ayah langsung bangun berjalan ke arah istrinya, lalu mengacungkan jempolnya, "Bunda betul, bijaknya istri siapa sih ini?" godanya menjawil dagu istrinya.


Bintang mencebik sebal melihat tingkah Ayah mereka.


"Eh, tadi siapa nama anak ke dua gue?"


"Anak gue... anak gue, bikin sana. Seenaknya ngakui anak orang." Dafa mendapatkan momen pas untuk membalas ucapan nyinyir iparnya itu.


"Idih... baper lu? malu ya ketauan kalah dari adik gue?" Tawanya lagi.


Dafa melihat ke sekeliling mertuanya tengah menatap ke mereka, Langit dan Cindy yang berada agak jauh tak begitu menghiraukan, mereka asik tertawa memandangi layar ponsel milik Langit dengan Helen berada di pangkuannya.


"Kurang ajar lu, buktiin dong lu bisa ngadon tokcer lek gue? baru lu bisa sombong. Atau ntar kita duel durasi siapa yang menang." Dafa mengajak nya duel.


Bintang langsung berkeringat dingin dia tak bisa berkata apa-apa, di ingat kembali dia begitu mudahnya memuntahkan lahar panas nya hanya dengan gesekan saja. Bagaimana jika dia masuk ke lubang sungguhan. Kepala nya berpikir.


"Ok, kita buktikan nanti." ucapnya sombong, meyakini sesuatu yang belum terbukti kebenarannya.


Mereka pun semua diam, ketika suara ketukan di pintu terdengar.


Intan melongokkan kepalanya di gawang pintu, "Maaf, itu makanan pesenan pak Langit udah datang, dan saya sudah tata di meja." Katanya sopan.


Mereka semua pun mengangguk.


"Aku mau tidur aja, sini Shera nya Bun."Mentari meminta baby Shera.


" Eh, bentar. Arti Shera apa sih?" tanyanya penasaran setelah dari tadi Bunda nya menyebutkan nama Shera berkali-kali.


Dafa yang masih memperhatikan istrinya yang mengambil Shera dari pangkuan neneknya, berbalik seketika ke arah iparnya.


"Shera artinya cahaya... " katanya sinis.


"Dih, emaknya Mentari, anaknya Helen artinya cahaya, sekarang Shera artinya lagi-lagi cahaya. Nanti lama-lama rumah lu kagak usah pake lampu udah terang benderang, hot tuh kayak lampu di kandang ayam, nyorot lu di mana-mana." Kekehnya geli ke arah Dafa.


"Biarin, lah hot kan pasti. duh nggak sabar mau ngelakuin yang hot2 40 hari nanti, nggak cuma gesek atau solo karier." Skak mat dia melihat Bintang menganga tanpa bisa menimpali ucapan iparnya yang memang benar.


"Ahhh... kampret, " gerutunya keluar dari kamar adiknya itu.


Dafa, Mentari dan Bunda hanya tertawa melihat kekalahan si manusia julid itu.


"Nggak usah di tanggepin, dia emang gitu. " Bunda dan Mentari menghibur Dafa yang raut wajahnya terlihat masih kesal.


Dafa hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Aku tinggal ngambil makan dulu, ya. Nanti ke sini lagi, aku makan di sini." Dafa merapikan selimut istrinya dan mengecup kening itu sedikit lama dan berjalan mengekor ibu mertuanya.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2