
❤❤❤
"Asli, gue kangen banget sama dia. Pengen nenangin dia , pasti dia terpuruk karena harus kehilangan calon anak kita gara-gara gue yang bego, sampai nyakitin batin dia." Dafa menghela nafasnya yang terasa sesak itu.
Susana mobil yang tadi penuh gelak tawa seketika hening, Rijal yang tadi tertawa terpingkal pun diam tak bersuara.
"Gue ngerti, gimana perasaan lu. Udah ngerasain sekarang artinya bini lu apa? nyesel kan lu udah kayak gini? Penyesalan pasti di akhir kalo di awal pendaftaran. Yang harus lu lakuin sekarang jadi orang bener dan berguna. Tunjukkin ke semua orang lu layak memiliki Mentari."
"Jangan lu gedein emosi mulu-
" Apa lagi yang mesti gue gedein? anu gue dah gede wani di adu gue mah!"
"Yuk... mana liat gue, dia adu sama gue!" Rijal menantangnya.
"Najis...
" Lah, barusan kan lu yang ngajakin di aduin."
"Masa iya mau main nunjukin? terus kalo udah saling tau mau main pedang-pedangan? eh gue pedang deh lu belati." Dia tertawa hingga kepalanya mendongak.
"Anjir emang lu manusia mesum, parah."Rijal menggelengkan kepalanya menatap heran bisa bertemu dengan jenis manusia seperti sahabatnya.
...~~~...
Mereka kembali terdiam dengan pemikiran masing-masing, saat dafa melewati cafe tempat Mentari dulu kerja, terlihat Ke dua kakak laki-laki Mentari turun dari mobil bersama dengan Cindy.
Otomatis kakinya langsung menginjak rem.
" Aduh... " Rijal mengaduh dia yang sedang menunduk memandangi ponselnya seketika kepalanya terguncang karena Dafa menginjak rem secara mendadak.
"Napa lu?"
"Itu, ada Bintang sama Bang Langit, ada si Cindy juga." Tunjuk nya pada cafe di sebrang jalan itu.
"Eh, BMW putih itu juga ada di sana."Tambahnya lagi.
"Anjir... gue harus turun, Bini gue pasti ada di sana."
Dafa langsung membelokkan mobilnya memasukkan nya ke dalam area parkir cafe itu. Dan langsung keluar dari mobil sesaat setelah mematikan mesin mobilnya.
Jalan yang masih sedikit pincang itu melangkah dengan langkah besar dan cepat memasuki bagian dalam cafe yang masih tutup itu.
Beberapa orang yang ada di sana langsung menatap ke arahnya, Sorot mata penuh kemarahan terpampang jelas dari wajah kedua kakak iparnya itu.
Dafa belum mengeluarkan suara, Bintang sudah berjalan cepat ke arahnya dan melayangkan sebuah tamparan.
"Apa yang lu lakuin, sama adek gue? Bangsat... "
Bintang memegang kerah kemeja Dafa dan akan melayangkan sebuah tonjokan saat tangannya yang terkepal sudah dia layangkan, sebuah tangan mencekal nya.
"Nggak usah kotorin tangan lu, dengan darah lelaki pengecut kayak dia. Lagian sekarang dia udah kehilangan Chaca. Sekarang kita fokus sama Adek kita aja." Langit menarik Tubuh Bintang yang masih meremat kemeja Dafa.
Suasana cafe benar-benar hening. Langit, Bintang, Cindy dan juga Beni saling berhadapan dengan Dafa dan Rijal.
"Gue yakin, Mentari ada sama kalian, please ijinin gue minta maaf. Ijinin gue menghibur dia yang kehilangan calon anak kita." Dafa ambruk bersujud di depan kedua kakak iparnya.
Semua terdiam saling menatap, ternyata Dafa menganggap Mentari keguguran. Padahal jelas-jelas Mentari yang tadi mereka sapa dan peluk masih berperut besar. Sebelum akhirnya mereka mengetahui kedatangan Dafa di luar cafe.
Dan akhirnya Mentari, Bunda, dan Evan sembunyi di dalam ruangan Mami Nina di atas. Mami Nina tidak ikut karena akan ada janji dengan costumer butik nya.
"Maksud lu apa? kita nyembunyiin Mentari gitu? buat apa? kalo bukan karena Cindy. Gue nggak akan tau adik cewek gue kabur!" Langit berbicara dengan suara yang di buat sedemikian cemas. Padahal sesaat yang lalu dia merasa senang dan lega bisa memeluk kembali adik kesayangannya setelah berbulan-bulan memendam rindu.
"Jadi?" Dafa yang masih bersimpuh di lantai mendongak ke arah Kakak iparnya itu.
"Ya, Kita juga lagi nyari bego." Bintang berkata dengan sinis nya.
Dafa terduduk lesu, dugaannya salah. Dia kira Mentari kabur pulang kembali ke keluarganya.
__ADS_1
"Di mana kamu, Sun?" Dafa menunduk kan Kepala nya di atas lutut. Menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil yang di tinggal ibunya.
"Jadi lelaki, kok brengsek... liat perjuangan dia memilih lu dan ninggalin keluarga nya, hahaha sia-sia pengorbanan dia, mempertahankan lelaki brengsek kayak lu." Kembali Bintang berkata seperti sebuah bensin yang menyambar api yang tengah menguasai Dafa, dia bangkit merangsek ke arah Bintang yang terus mengolok-olok keadaannya.
"Argghhh... lu jangan buat ini semakin runyam." Dada keduanya menempel Dafa berontak saat kedua tangannya Rijal tahan.
"Tenang, situasi ini nggak akan bikin Mentari ketemu. Lu harus sabar Daf... " Rijal berbisik.
"Mobil BMW putih di depan punya siapa?" Rijal bertanya setelah berhasil melerai Dafa.
"Kemarin, saya lihat Mentari menaiki mobil itu dengan pria bule." Rijal menambahkan ucapannya.
Semua orang saling pandang, Beni langsung menyadari keadaan. Mentari sudah hampir di temukan Oleh Dafa, namun tenyata masih berhasil lolos.
"Mobil gue, kenapa?" jawab Beni asal, jangan sampai Dafa tau itu mobil yang di kendarai Evan dan Mentari.
"Masa? lu kemaren ke daerah Sentul?" kini Dafa yang bertanya.
"Nggak? gue di cafe seharian." jawabnya meyakinkan.
Dafa tersenyum getir, menyadari Mobil seperti itu pasti banyak, sialnya dia tidak tau no plat mobil itu. Sungguh mustahil mencari keberadaan mobil tanpa mengetahui no platnya.
"Terus, ngapain lu masih di sini?" tanya Bintang dengan sinis.
"Cindy... kalo lu tau, please kasih tau gue ya!" Dafa mengatupkan kedua tangannya menatap Cindy yang sedari tadi diam.
Cindy hanya mengangguk pelan, tanpa bersuara.
Rijal pun merangkul Dafa keluar dari cafe itu, sepertinya semua orang sedang mencari Mentari pikirnya.
*
*
Di sudut tangga...
Mentari menutup mulutnya untuk meredam suara tangisnya, dia tidak tahan. Ingin sekali berlari dan memeluk tubuh suaminya itu. Dan berkata dia sudah memaafkan semua.
"Cha... "
Langit memanggilnya, mendongak kepala ke atas tangga. Melihat adiknya yang sedang menahan tangis. langit langsung menaiki tangga menghampiri adiknya.
Sebuah pelukan hangat dia berikan untuk adik kesayangannya.
"Bang... aku nggak kuat, harus gimana?" Mentari terisak di balik dada sang abang.
"Biarin dulu, dia merasakan kehilangan. Itu konsekuensi udah nyakitin kamu, Abang harap kamu akan kuat pendirian memberi pelajaran sama dia. Fokus ke kandungan kamu." Tanganya tak lepas mendekap hangat sang adik.
Bunda Rima menyaksikan interaksi anak-anaknya, hatinya pilu, Sesuatu mencengkram dadanya kuat.
Anak-anaknya terbiasa saling menguatkan. Di mana seharusnya itu adalah tugasnya sebagai seorang ibu.
Bunda Rima berjongkok menyamai posisi tubuh anak-anaknya, "di dalem ngobrol nya." Anaknya sambil mengusap puncak kepala Mentari yang masih sesenggukan di pelukan Abang nya.
*
*
Rasa canggung terasa di ruangan itu, Bunda Rima yang akhirnya bertemu dengan ketiga anaknya setelah puluhan tahun hanya menatap mereka dari kejauhan atau hanya dari medsos mereka.
"Bunda, Sehat?" Suara Bintang memulai percakapan yang terlihat kaku.
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah, "Iya, Bunda sehat apalagi setelah ketemu kalian." Jawabnya.
Tanpa aba-aba Bintang berlari dan langsung memeluk Bunda nya yang sudah lama ingin dia temui.
"Aku, kangen Bun!" Ucapnya lirih.
__ADS_1
Bunda Rima hanya mengangguk dan membalas pelukannya, Mentari pun ikut menghampiri untuk ikut memeluk Bunda dan kakaknya tanganya menarik tangan Langit yang masih mematung untuk ikut dalam lingkaran pelukan hangat nan mengharukan.
"Seperti adegan tali kasih, temu kangen." Bintang selalu dengan banyolan nya.
Mereka tertawa sesaat pelukan itu terlepas, hanya Mentari yang masih betah memeluk Bunda nya.
"Bunda di mana selama ini?Langit akhirnya bersuara.
" Bunsa, dateng berkali-kali ke rumah kalian, tapi selalu di usir Ayah kalian, Terus Bunda harus gimana? Hanya bisa melihat kalian dari jauh dan dari medsos, untung kalian pake nama asli. Coba ko pake nama samaran Bunda nggak akan tau Mentari akan tumbuh secantik ini." Dia mengecup kening putrinya yang menyandar di bahunya.
"Bun, ketemu Chaca di mana?" Tanya Langit penasaran. Bagaimana bisa Bunda dan adik perempuan nya yang kemarin baru dia ketahui kabur dari suaminya itu.
Bunda Rima pun menjelaskan semua dari awal pertemuan nya dengan sang putri, hingga niatannya membawa Mentari ke Australia untuk menenangkan hati dan pikiran si ibu hamil itu.
"Oh, Iya dek. Jadi si brengsek nggak tau kalo bayi kalian selamat?" Bintang bertanya.
Mentari mengangguk, "Jangan bilang brengsek, Kak. Dia masih tetep suami aku." Bela nya.
Bintang hanya memutar matanya jengah, "Pengen nonjok dia ampe nyungseb." Sungut nya.
"Kak...
" Iya, iya..." Timpalnya.
"Jadi? kamu mau ke Australia?" Tanya Langit.
Mentari mengangguk.
"Untung, Pasport aku masih ada di rumah Ayah." Leganya.
"Ayah gimana Bang?"
"Udah, di apartemen. Lebih baik setelah operasi, mungkin satu atau dua bulan lagi Ayah bisa pulang ke indo." Terangnya.
Bunda Rima hanya diam mendengarkan kabar kondisi suaminya itu, apa status mereka pun masih terasa abu-abu, mencintai masih kuat dia rasakan. Tapi dengan sifat Suaminya yang sangat posesif kadang membuatnya terkekang.
"Bun... mikirin Ayah ya?cie... Bunda kangen." Bintang menggodanya.
Anak keduanya itu, memang sudah terlihat bibit slengean sedari kecil yang selalu berceloteh lucu. Tidak heran kini tumbuh menjadi anak yang seperti ini.
"Apa, sih?"
"Nggak apa-apa, Bun. Nanti ketemu Ayah kok bentar lagi." masih mode menggoda Bunda nya.
Bunda Rima hanya tersenyum malu, tapi anak-anaknya tertawa menggoda.
"Suasana ini, sangat di harapkan sedari dulu." Batin Langit.
"Ada hikmah, dari semua masalah kamu Dek." Gumam Bintang.
Mentari masih menyandar kan tubuhnya di pundak sang Bunda, kedua kakaknya mempersiapkan semua keperluan sang Adik yang akan ikut Bunda mereka.
"Turun yuk, Yang lain pasti pada nunguin di bawah." Mentari mengajak Bunda dan kedua kakaknya untuk turun ke lantai bawah cafe.
Mereka pun satu persatu keluar dan menuruni anak tangga satu persatu.
"Hati-hati... " Sergah Langit.
"Awas, jangan meleng." Bintang menimpali.
"Tuh, kan Bunda. Mereka selalu anggap Chaca anak kecil." Rengeknya pada sang Bunda.
Wanita paruh baya itu tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, "Karena mereka sayang sama, kamu."
"Denger... " Saut Bintang dari balik tubuh sang Bunda. Puas karena Bunda membela ucapannya.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 🙏🙏, Semoga suka🥰🥰, like komennya jangan lupa😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤