
...โคโคโค...
"Hai, udah siap?" Bintang turun dari mobilnya, saat melihat Naya keluar dari gedung Rumah Sakit tempat nya bekerja.
"Udah beres, bukan udah siap. Eh aku nggak apa2 pake baju gini?" nggak bawa baju ganti, mau pulang dulu kan kata kamu nggak usah." Naya menunjuk baju yang diap pakai berupa kaos yang di lapisi jaket.
Bintang tersenyum dan mengangguk, "udah gitu juga cakep banget!" pujinya.
Naya mencebik, "gombal, cari sarapan dulu yuk. Laper ... " Ucapnya manja.
"Ok, mau di mana? kamu yang pilih!" Bintang membukakan pintu mobilnya untuk Naya sang kekasih.
Mereka pun meninggalkan area parkir gedung rumah sakit tepat jam delapan pagi.
*
*
"Mas, kamu dari Bandung jam berapa?" Naya bertanya sambil bercermin sedikit memoles wajahnya dengan lipstik.
"Jam 4."
"Serius?" Naya menoleh dengan wajah kaget.
"Iya, lah. Bunda ngedadak ngomong nya. Pas jam tiga subuh, pas aku ngambil minum. Bunda lagi sibuk di dapur, terus nyuruh kamu dateng buat makan-makan acara keluarga. Asalnya mau nyuruh kamu naik travel, kok nggak tega. Jadi aku jemput aja langsung." terang Bintang.
Naya masih menyimak yang Bintang ucapkan, "Makasih ... Mas, selalu sweet." Dia mengulurkan tangannya hendak mengelus pipi yang sedikit berjambang, namun Bintang menahannya dan makan mengecup punggung tangan itu.
Naya merasa tersipu malu, lalu menarik tangannya dari genggaman kekasihnya.
"Makan, di situ mau?" Bintang menunjuk sebuah tempat makan dengan spanduk besar, 'Nasi kuning'
Naya mengangguk, "Boleh, apa aja. Aku laper banget." Dia menyemprotkan parfum beraroma manis dan segar.
Bintang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, menatap segala aktivitas Naya, dengan sebuah senyuman, "Cakep, body goals, wangi. Dih otak aing." Batinnya menggumam.
"Yuk," Naya membuka menaikan tali tas nya pada bahunya.
Bintang yang masih melamun, dengan segala lamunan bersih maupun kotornya, mengerjap seketika.
"Eh, iya ayo." Lalu dia membuka pintu mobil, memutari mobilnya dan membuka pintu sisi Naya.
Mereka pun berjalan masuk ke tempat makan itu, yang cukup ramai orang yang mencari sarapan.
"Mas, Nasi kuning nya mau pake apa? telor balado? atau Ayam serundeng?" Naya bertanya saat sedang memesan.
"Ayam aja, Telor aku dah ada dua." bisiknya di telinga Naya.
"Dada ya, aku sukanya itu." Tambahnya lagi
Naya menoleh ke arahnya dengan mata melotot, khawatir si ibu penjual yang tengah memegang piring mendengar apa yang di ucapkan Bintang.
Benar saja, si ibu mendengar nya. "Pengantin baru ya?" Tanyanya dengan sebuah seringai.
Belum Naya menjawab, Bintang langsung menyambar, "Iya, bu. Masih panas-panasnya." Dia merangkul pundak Naya.
Naya hanya tersenyum kaku sambil mencubit perut Bintang, "Awww ... Sakit, sayang." Lalu dengan sengaja nya Bintang mencium pipi Naya.
"Astaga, Mas ... " Naya menggerutu dengan mata mendelik, banyak orang di sana pikirnya.
Mereka pun duduk di salah satu tempat agak pojok.
"Sebel," Naya mendengus kesal pada Bintang yang masih terkikik di sebelah nya.
Bintang menjawil dagunya, "nggak usah bikin aku makin gemes." katanya dengan wajah menempel di telinga Naya.
Mereka pun mulai memakan nasi kuning dengan potongan dada ayam bertabur serundeng itu.
__ADS_1
*
*
Mereka keluar dari tempat makan itu dan saat Dafa membukakan pintu mobil untuk Naya.
Karena terus menggoda dan berbuat hal-hal konyol di hadapan Naya, sampai dia tidak melihat lubang got.
"Aduh ... " pekik nya, saat kakinya terperosok masuk lubang got yang untungnya kering.
"Mas, ya ampun. Nggak apa-apa?" Naya yang baru mendudukkan tubuhnya di jok mobil, seketika mencondongkan kembali tubuhnya ke luar mobil.
"Nggak apa-apa, cuma kakinya nggak liat, soalnya mata aku liat kamu terus dari tadi." Masih berusaha gombal walaupun dia malu, dan kakinya berdenyut perih.
Dia memutari mobil dengan jalan masih terpincang-pincang.
"Liat, takut luka." Naya melihat kaki yang tertutup celana chinos crem itu.
Bintang menahan tangan Naya yang akan menyentuh kakinya. "Nggak apa-apa kok, biasa aja."
Lalu dia sedikit terkekeh.
Mobil pun melaju kembali menuju Bandung.
Namun Naya melihat ada rembesan cairan berwarna merah dari balik kaki bagian tulang kering kekasihnya.
"Mas, liat itu. Aduh berdarah." Dia meringis saat melihat darah yang memang terlihat agak banyak, merembes di celana Bintang.
"Cari apotek deh, biar beli obat dulu." Usulnya.
"Iya," Bintang meringis semakin terasa perih di kakinya.
"Tuh, di depan keliatan plang apotek, Mas. Berhenti dulu." Tunjuk Naya pada jalan di depannya.
Mobil pun Bintang belokkan masuk ke parkiran apotek itu. Dan Naya langsung turun setengah melompat dari mobil, dia tergesa-gesa memasuki apotik.
Bintang langsung merengek dan mengaduh memegangi kakinya. " Aduh, Bun. Sakit banget ini kaki ku."Ucapnya meringis.
"Sini, kakinya. Naikin ke paha aku!" pintanya.
Bintang masih mematung riskan, "Jangankan kaki aku yang naik, sama badannya sekalian juga aku mah nggak akan nolak." Otaknya bermonolog.
Bintang menaikan kakinya, Naya menggulung celananya dan mulai terlihat luka di kaki Bintang, berupa kulit yang mengelupas cukup dalam.
"Ck, yang gini nggak apa-apa?" Naya mulai menuangkan alcohol ke atas kapas. Lalu mulai membersihkan luka itu.
Bersamaan suara dering ponsel Bintang terdengar.
"Bunda," Gumamnya. "Ya angkat." Naya berkata.
"Halo?" Sapa Bunda di sana
" Ishhh ... " Bintang mendesis saat kapas beralkohol itu di usapkan pada lukanya.
"Kak?"
" Eggghhh." Bintang mengerang menahan perih.
"Beliin testpack ya!"
" Emmm , Pelan-pelan ngusap nya Nay." Katanya pada Naya, yang semakin keras menggosokkan kapas pada lukanya.
"Kamu udah di jalan kan?"
"Halo? kak lagi apa sih?"
"BINTANG ... jangan macem-macem." teriaknya membuat semua orang yang berada di taman melihat ke arahnya yang tengah menjerit ke seorang yang ada di sebrang sana.
__ADS_1
Bunda semakin berang, saat hanya desisan dan erangan yang terdengar dari anaknya.
"Apa, sih Bun? aku nggak ngapa-ngapain, kaki ku lagi di obatin Naya, tadi keperosok masuk got." Katanya sambil tetap meringis menahan perih.
"Oh, awas kalo bohong. Abis Bunda cuma denger suara-suara aneh."
"Ck, negatif mulu. Positif napa. Eh ... testpack buat siapa? buat Bunda?" matanya kini membola membayangkan ketakutan yang terus membayangi nya.
"Sembarangan, buat adik kamu." Gertak nya.
"Oh, doyan banget dia. Helen masih bayi juga." Gerutunya mengomentari adiknya yang kembali hamil.
Panggilan pun berakhir.
"Nay, minta tolong sebentar boleh?"
"Beli, testpack?" Naya tersenyum lalu kembali keluar dari mobil.
...***...
Mentari tengah rebahan di sofa, tubuhnya terasa lemas dan lunglai, Helen pun anteng dengan Cindy jadi dia bisa tiduran di sofa ruang keluarga.
"Sun, di kamar aja gih! aku liatnya kasian." Dafa duduk mengusap kepala dan punggungnya yang menyamping menghadap TV.
"Perut aku sakit, kayak yang di peret, di teken gitu." Dia meringis.
"Kita kedokter aja nanti pulang dari sini." Tawarnya.
Mentari mengangguk lemah.
"Yuk, pindah ke kamar." Dafa menuntun tangan istrinya agar bangun dari posisi tidur nya.
Saat mentari sudah berdiri dan melangkahkan kakinya. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya, meremat perutnya dengan keras.
"Sakit ... " suaranya lirih dan belum Dafa menimpali dia terjatuh lemas di pelukan Dafa.
"Sun? sayang ... kenapa?"
"Bun, Yah ... tolong." Dafa berteriak dengan Mentari di pelukannya.
Semua orang yang berada di taman berlarian mendengar teriakan meminta tolong dari Dafa.
"Ada apa?" Ayah datang pertama.
"Kenapa?" tanyanya, lalu di susul teriakan Bunda.
"Bang, tolong bukain mobil. Aku gendong Tari, kita langsung ke rumah sakit." Ucapnya dengan sigap Langit berlari mengambil kunci mobil yang Dafa sodorkan tadi.
Sebelum pergi dengan Mentari dalam gendongan nya, dia melihat ke arah Helen yang menangis seolah mengerti keadaan Ibu nya. "Cindy titip Helen ya!" Pintanya lalu langsung berlari di ikuti Ayah.
Bunda memutuskan menunggu Helen dengan Cindy.
Langit mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan tergesa.
"Kenapa bisa begitu?" Ayah bertanya dari bangku depan.
Dafa yang masih mengusap-usap istrinya, menoleh sesaat. "Tadi bilang sakit perutnya, belakangan ini dia sering ngeluh sakit perut. Tapi nggak pernah mau di suruh periksa." Jawabnya.
Lalu mobil masuk ke area rumah sakit. Berhenti di lobby IGD.
Ayah dan Langit turun terlebih dahulu, Ayah meminta brangkar pada perawat dan Langit membantu Dafa mengangkat Mentari yang masih tak sadarkan diri.
Bersambung ๐๐๐
Terimakasih yang sudah mampir๐๐, semoga suka๐๐, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐๐, cuma buat rame2 aja๐ฅฐ๐ฅฐ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค
__ADS_1
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐๐, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐ฅฐ๐ฅฐ
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐คฒ๐คฒ.