
...❤❤❤...
Waktu berjalan...
Kini Ayah sudah sehat bugar seperti dulu, pengobatan nya selama hampir empat bulan di Australia berhasil dengan baik.
Anak-anak nya bergantian menjenguk.
Dan akhirnya mereka berkumpul di rumah baru Mentari, rumah yang baru selesai renovasi dan peluasan karena di satukan dengan rumah sebelah yang Dafa beli.
Semua berkeliling seakan melakukan room tour.
"Wahhh... enak gini," Langit berujar.
"Bikin yang gini, Ma... " katanya pada Cindy sang istri yang tengah menggendong putranya.
"Kegedean ah, anak kita baru satu. Kalo chaca pantes rumah gede anaknya otw 3." Cindy terkikik.
"Iya kamarnya berapa, sayang?" Ayah bertanya dengan mengedarkan pandangannya.
Di bawah kamar aku, sama dua kamar tamu entah nanti untuk anak-anak atau bakal terus buat kamar tamu,di belakang ada kamar buat yang kerja. Di atas ada tiga," kata Mentari menerangkan.
"Bagus, biar nggak ada tamu tidur bareng terus bisik-bisik minta anu." Ayah menatap wajah putra keduanya yang membulat kan mata ke arahnya.
"Wah... ada kang nguping kayaknya, waktu dulu acara kemping keluarga." Bintang menepuk keningnya lalu menenggelamkan wajahnya di bahu sang istri seolah merasa malu.
"Kapokmu kapan sih?" Istrinya itu mencubit perut Bintang sambil menahan malu.
Semua ikut tertawa, Mentari mengusap-usap pinggang nya yang terasa ngilu.
"Kenapa?" Dafa yang di sebelah nya melihat kejanggalan tingkah istrinya.
"Pegel,"
"Padahal semalem pelan ya, nggak lama lagi." bisik Dafa.
Mentari mencubit perut suaminya. Dafa hanya tertawa sambil merangkul dan mencium kepala istrinya.
Mereka berada di barisan belakang dari acara room tour keluarga besar mereka.
"Wahh... ada kolam renang juga," Bintang histeris seperti anak kecil.
"Kampungan... " Ayah berdecak.
"Daf... bisa nyoba main di kolam dong?"
"Gila, nggak enak lah... enak di kamar."
"Si anjirr, jujur. Sayang nggak jadi lah nyoba di kolam, kagak enak katanya." Bintang berkata pada sang istri. Istrinya hanya mengehela nafasnya mulai terbiasa dengan tingkah suaminya.
"Hehehe... nggak nyangka si budak yang demen di gerebek, bisa sukses kayak gini," ucap Bintang takjub.
"Dan kamu hanya butiran debu," Ayah kembali melontarkan kalimat menghina budak semprul nya.
Bintang sudah terbiasa, karena itu cara Ayah nya menunjukkan rasa sayang terhadap nya. Selama Ayah nya tak ada di rumah dia begitu rindu kaan bullyan Ayah nya.
"Biarin lah debu juga bermanfaat, bisa di pake tayamum... " Jawabnya bangga.
Semua orang tertawa, dan Bintang menarik istrinya untuk duduk di sebuah kursi ayunan di ujung kolam renang.
"Mending debu tayamum, kamu mah debu buat mandi ayam." Ayah kembali membalas ucapan sang anak.
Bintang yang berjalan ke arah ayunan menghentikan langkah nya. Lalu berbalik, "dan ayamnya itu Ayah, yang berkotek aja berisik." Lalu dia berlari sambil tertawa terbahak takut akan reaksi sang Ayah.
"Budak gelo, "
"Udah, ah berisik." Bunda duduk di tepi kolam.
Suami bucin nya itu langsung diam dan ikut duduk di tepi kolam.
Langit dan Cindy duduk di sofa yang berada di teras belakang itu.
__ADS_1
"Cha, sekarang berapa orang yang kerja?" Langit memperhatikan beberapa orang pekerja yang lalu lalang.
Mentari dan Dafa mendekat, ikut duduk di sofa itu.
"Yang beresin rumah suami istri, aku juga butuh laki-laki takutnya ada apa di rumah Ayahnya anak-anak nggak ada. Kalo buat ngasuh anak-anak aku pake seorang aja soalnya aku nggak lepas full anak-anak aku juga ikut ngasuh lah, cuma selama hamil ini bawaannya ngantuk terus," ujarnya.
"Cin... kapan nambah anak?" tanyanya pada sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Enak aja, AL baru mau dua tahun. Nanti aja lah kalo udah empat atau lima tahun ya kan Pa... " katanya pada Langit yang tengah menciumi putra nya.
"Gimana nyonya aja, yang hamil nya." Jawab Langit.
Mentari mencebik merasa tersinggung dengan perkataan pasangan di depannya.
"Mas... kamu bikin aku hamil terus... " Rengeknya.
Dafa yang tengah membalas email pekerjaan langsung menoleh ke arahnya.
"Nggak tau, jangan salahin aku. Cebong aku aja yang terlalu hebat bisa jebol kb kamu." Dafa setengah tertawa memandang wajah istrinya yang manyun ke arahnya.
Langit dan Cindy hanya tertawa mendengar pembicaraan pasangan banyak anak itu.
*
*
"Bu... mau sekarang?" seorang wanita paruh baya menghampiri nya.
Mentari menoleh ke arah pekerjanya.
"Bunda.. mau sekarang?"
Bunda yang masih duduk di pinggir kolam bersama suaminya entah berbincang apa, namun mereka begitu terlihat bahagia kadang tertawa, kadang Bunda memukul Ayah. Kegiatan itu tak luput dari pandangan anak dan menantunya.
Kebahagiaan yang di harapkan anak-anak adalah masa tua orang tua mereka yang bahagia dan sehat.
"Sekarang aja lah, udah siang laper juga... " Bunda beranjak bangun dengan bertumpu pada bahu suaminya.
"Kan... sakit lagi lututnya, di suruh terapi nggak mau terus." Gerutunya Ayah saat melihat istrinya meringis saat bangun dari duduknya.
"Nyamber aja ... kayak petir." Ayah menimpali kesal.
"Lah bagus Ayah, nama kakak jadi Bintang petir."
"Yang ada Bintang ketar-ketir." Ayah terbahak sendiri.
Bintang melengos begitu saja menghampiri para perempuan yang tengah menata karpet dan membentangkan lembaran daun pisang sebagai alas mereka makan. Ya mereka akan makan-makan dalam rangka rumah baru Dafa Mentari, kesembuhan Ayah. Kemarin juga Dafa sudah membagikan 200 sembako di jalanan dan santunan ke beberapa panti sebagai bentuk syukur nya.
"Keluarin menu nya bi... " Katanya pada pembantunya itu .
Menu makanan kali ini terjajar rapi di atas bentangan daun pisang, ada nasi liwet teri, nasi merah untuk Ayah, ada Ayah goreng serundeng, pepes ayam untuk Ayah. Ada lalapan, sambal dadak, tahu, tempe dan tak lupa ikan asin peda merah.
"Peuteuy... atuh, meh afdol. Cha pengen pete." Bintang berkata pada sang adik sebagai tuan rumah.
"Dih, nggak ada yang doyan."
"Tapi gue pengen, buruan beliin. Tuan rumah harus ngejamu tamunya." Bintang terus menekannya.
Dafa bangun mencari keberadaan Mang Adun, "Mang.. punten bisa beliin pete,"
"Oh, bisa Pak." Lalu dia pergi dengan selembar uang menuju warung sayur yang tak jauh dari rumah mereka.
*
*
"Hei... jangan dulu makan, nungguin dulu pete." Bintang menahan keluarga nya yang akan mulai makan.
"Nggak kuat laper liat sambel." Mentari merengek sambil mengambil tahu dan mencocolnya pada sambel dadak yang berwarna merah menggugah selera itu.
Dafa datang dengan dua buah papan pete.
__ADS_1
"Nih... " Dia menyodorkan nya pada sang kakak ipar.
Bintang langsung menyambar nya.
"Jangan pipis di rumah aku." Mentari mulai menyuapkan nasi pada mulutnya.
Bintang tidak menghiraukan ucapan adiknya. Dia dengan lahap makan bersama nasi liwet and the gank nya.
Sudah habis satu papan panjang pete. Saat akan mengambil pete satu lagi, Istrinya yang sedari tadi diam berbisik di telinganya.
"Jangan pipis di kamar... "
Bintang menoleh , "Hah... "
Istrinya menutup hidungnya, "Jangan pipis di kamar," dengan suara kecil karena hidungnya yang dia tekan.
"Biarin lah, aku pipis di kamu aja." Bintang nyengir lalu melanjutkan membuka bulatan mata pete itu satu persatu.
"Pipis di aku gimana?" tanya istrinya polos sambil berbisik.
"Kamu nggak tau?"
Istrinya menggeleng.
"Yang suka aku keluarin kalo malem, yang kamu ampe nyakar aku, itu masuk pipis... cuma pipis enak." Bintang tekikik geli.
"Gustiiiii... " Potongan timun yang di pegangnya dengan kesal dia jejalkan ke mulut suaminya itu.
"Bagus... sekalian kamu sambelin, tuh pasti mulutnya ebell. " Ayah ikut mengompori menantunya itu, memeberikan dukungan motil untuk membully Bintang
"Euhhhh... kompor, dasar... ngerasa harus ngehasut istri aku biar durhaka, mertua macam apa Ayah?"
"Kamu yang budak macam apa?"
"Lah, yang begini. Handsome dan baik nggak ketulungan." Dia terus menimpali ucapan Ayah nya, dengan tangan dan mulut tak henti bekerja.
Yang lain seperti biasa hanya sebagai penonton acara Srimulat dan debat mata Naura secara live.
"Kenapa?" Lagi-lagi Dafa menangkap gelagat aneh dari istrinya.
"Kok makin panas pinggang aku." Dia meringis menatap ke arah suaminya.
"Mau lahiran kali?"
"Shhttt... Aku mau kayak Shera, tenang... cuma kita doang," katanya sambil meremas paha suaminya menahan rasa sakit.
"Kalo berojol di sini gimana?" bisiknya.
"Nggak, waktu Shera juga lama. Siapin kolam plastik di kamar."
"Kan udah ada bathtub!"
"Hehehe lupa... Ishhhh...." Matanya terpejam.
"Kenapa?" Tanya Bunda.
"Biasa pinggang aku ngilu, Bun."
"Oh, biasa udah di atas delapan bulan pasti gitu."
"Hati-hati loh, takutnya tanda2. Jangan kamu samain ama kakak-kakaknya, tiap anak pembawaannya beda-beda. Anak Bunda yang paling lama kamu, paling sakit Abang karena pertama. Paling nyantai kakak kamu, dia nyelonong aja lancar." Terang Bunda nya.
Mentari mengangguk.
"Tuh kan, kayak ayam main nyelonong aja." Ayah yang baru datang cuci tangan menyambar ucapan istrinya.
"Iyalah, kayak anak ayam toh emang anaknya ayam." balasnya lalu bangun untuk mencuci tangan.
❤❤
Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣
__ADS_1
tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.
Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋