
💔💔💔
"Kamu..." Dafa kaget mendapati seorang pria di depannya.
Bugh...bugh... pukulan membabi buta di terima oleh Dafa.
"Mas..." Mentari menjerit menghampiri Dafa yang sudah terkapar mendapat serangan bertubi-tubi.
Mentari membola menatap siapa orang yang sudah menghajar kekasihnya itu.
"Kak Bintang...
Bintang tak kaget dengan keberadaan mentari, karena dia memang mengikuti mentari dari kampus tadi.
"Mas...
Mentari hanya bisa menangis melihat Dafa yang merintih kesakitan.
Dafa mengerang memegang pinggangnya yang belum sembuh benar kembali mengeluarkan darah, darah menembus kaos putih yang lelaki itu pakai.
"Mas, luka kamu!" Mentari ikut memegang tangan Dafa yang menekan lukanya, telapak tangannya pun sudah basah oleh darahnya sendiri.
"Kak... tolongin, Kakak apa-apaan sih?" Mentari menjerit histeris.
Bintang hanya menatapnya malas, kemudian dia menghampiri Mentari yang sedang memangku Kepala Dafa yang masih mengerang kesakitan.
"Lu ikut pulang, sekarang..."tangannya menarik tangan Mentari.
"Nggak... aku nggak mau," tangan nya dia hempaskan.
"Sun... sakiiit!" Ucap Dafa dengan suara lemah, keningnya di penuhi bulir-bulir keringat.
"Mas, sebentar aku cari pertolongan dulu!"Mentari bangkit
"Ikut gue pulang," tangannya kembali di tarik Bintang semakin kuat.
"Lepasin aku, ternyata bukan Mas Dafa yang breng*sek tapi Kak Bintang yang breng*sek."
Mentari meronta-ronta mencoba melepaskan cekalan Bintang.
"Ada apa ini?" Suara sentakan seorang pria di ambang pintu.
"jal..." Dafa mengerang memanggil nama sahabat nya itu.
"Lu apain lagi Dafa?" Rijal mencengkeram kerah Baju Bintang.
"Lu kagak usah ikut campur, Bukan urusan lu anj*ng."Bintang ikut mencengkeram baju Rijal.
"Argghh.... " Dafa mengerang tak kuasa lagi menahan rasa sakit.
Mentari menangis semakin histeris saat melihat tubuh Dafa melemas setelah dia menjerit.
"Mas... bangun, Mas!" teriaknya membangunkan Dafa.
Rijal langsung menghubungi ambulans, dan memberikan pertolongan pada Dafa, semampunya.
"Mas... "Mentari terus menangisi Dafa yang sudah semakin melemah, bahkan darahnya sudah merembes kaosnya dan membasahi lantai.
"Lu pangku kepalanya!" Rijal menginterupsi.
Bintang pergi begitu saja setelah kekacauan yang dia lakukan pada Dafa.
Ambulance pun datang dan mengangkut tubuh Dafa yang sudah tak sadarkan diri.
"Mas... bertahan ya!" Mentari menggenggam tangan Dafa yang dingin.
"Kak, kenapa tangan Mas Dafa dingin?" Tanyanya pada Rijal yang duduk di sebelahnya.
Dafa terkulai lemas, hidung mancungnya terpasang oksigen.
"Mas nya kehilangan banyak darah, minta doa nya saja!" ucap salah satu perawat itu.
Mentari semakin terisak, melihat keadaan Dafa.
*
*
"Sebaiknya lu pulang!" usul Rijal setelah melihat Mentari tak henti menangis sudah hampir dua jam menunggu Dafa yang sedang mendapatkan penanganan para dokter.
__ADS_1
"Ijinin aku di sini kak, seenggaknya sampai Mas Dafa sadar." Mentari memohon.
Rijal menatap Mentari, tanpa di ucapkan pun dia tahu Mentari sungguh-sungguh mencintai Dafa sang sahabat.
"kak.. apa kak Bintang akan di laporkan ke polisi?" Mentari bertanya dengan nada takut.
"Kalo gue jadi Dafa udah gue laporin sedari dulu. Ini sih nggak ada apa-apa nya, waktu awal-awal kematian Ayu, dia sampai di rawat hampir dua bulan, di tambah kejadian penusukan kemarin , barusan lagi dia masih belum kapok!" Rijal mendengus kesal.
Mentari menunduk merutuki perbuatan kakaknya. Dia menangis antara khawatir dengan keadaan Dafa dan juga rasa malunya mewakili sang kakak.
"Papa nya kak Dafa?" tanyanya pelan.
"Dafa seperti sebatang kara, dia yang memutuskan dan menyetir kehidupan nya sendiri." terang Rijal.
Hati Mentari semakin terenyuh, sungguh berat kehidupan yang di lalui oleh kekasihnya itu.
"Ada satu hal yang sebenarnya bukan hak aku ngasih tau kamu, tapi ini demi kebaikan kalian!"
"Kalo sebenernya Dafa ngedeketin kamu awalnya buat balas dendam sama Bintang." ucapnya sambil menatap ke arah Mentari.
Mentari kaget langsung menatap ke arah pria yang duduk di sebelahnya. "A.. apa?" tanyanya
"Jangan marah dulu, memang itu awal niatan dia , tapi karena ketulusan kamu membuat dendam yang meliputi hatinya terkikis sedikit demi sedikit. Makanya pas kejadian di club' dia nggak laporin Bintang ke polisi, dia kan mikirin perasaan kamu
"Dia bahkan tadi malem bilang, mau serius sama kamu, mau langsung Dateng ke keluarga kamu, dan meluruskan kesalahpahaman ini!" Timpalnya lagi.
Mentari kembali menangis, bersamaan dengan seorang dokter keluar.
"Apakah ada yang bernama Suny?" tanya dokter itu.
Mentari dan Rijal bangkit menghampiri doktor itu yang berdiri di ambang pintu kamar rawat Dafa
"Saya dok!" Mentari menjawab.
"Bagaimana keadaannya dok?" Rijal ikut bersuara.
Setelah mendapatkan transfusi darah keadaannya semakin stabil, luka nya kami jahit kembali, tapi barusan ketika sadar beliau menggumamkan nama sunny!" dokter menyampaikan pesan
Mentari masuk kedalam ruangan itu, terlihat Dafa terbaring dengan selang oksigen di hidupnya. Juga labu infusan dan darah yang menggantung mengalirkan isinya pada tubuh Dafa.
"Mas..."
Dadanya kembali sesak melihat keadaan Dafa yang memprihatinkan gegara ulah kakaknya.
Perlahan mata dengan netra coklat indah itu terbuka, Lalu seulas senyum tipis tersungging di bibirnya yang pucat.
"Mas... Maafin kak Bintang ya!" Mentari kembali terisak di samping ranjang itu.
"Nggak apa-apa, makasih udah mau percaya sama Mas, itu yang terpenting!" ucapnya lemah.
"Kamu pulang gih, nanti takut nya makin runyam. Kalo dah sembuh, Mas rencananya mau ke rumah kamu, lurusin semua masalah ini!" ucapnya sambil meringis.
Mentari pun mengiyakan permintaan sang kekasihnya. "Aku pulang mas!" Mentari mengecup kening Dafa.
"Kalo dah sembuh nggak mau kiss yang itu ya, mau yang lain, terus yang lamaaa kissnya!" ucapnya kembali mesum.
"CK... sakit juga tetep aja mesum!" Mentari mengusap pipi Dafa.
"Love you..."Dafa berkata sebelum genggaman tangan mereka terlepas.
"Istirahat mas!" Titah nya sebelum membuka pintu ruangan itu.
*
*
Sesampainya di rumah...
Mentari masuk dengan wajah yang menyimpan rasa kesal teramat sangat.
"Loh neng kok udah pulang?" Mang Unang keheranan.
Mentari tak menjawab hanya tersenyum melenggang masuk. Di lihatnya semua mobil sudah kumpul. "Para eksekutor dah pada ngumpul!" Cibirnya kesal.
Di lihatnya ketiga pria di rumahnya sudah duduk berkumpul di sofa ruang keluarga dengan wajah yang sudah tak enak di lihat.
"Duduk dek!" Ayah memberi titah.
Mentari berjalan mendekat dan duduk berseberangan dengan ke tiga pria kesayangannya, eh ralat dua pria kesayangan karena Bintang sudah sangat membuat nya kecewa.
__ADS_1
"Ayah sudah tau semua, kenapa kamu susah untuk di kasi tau sama ke dua kakak kamu! itu semua untuk kebaikan kamu!" Suara ayah sudah sedikit membentak.
"Bukan kebaikan aku, tapi kebaikan kalian. Selama ini aku merasa di penjara berada di rumah ini!" Mentari bangkit.
"Dek, yang sopan kamu ngomong sama ayah!"
Langit terlihat kesal.
Mentari hanya tersenyum sinis.
"Satu lagi, Bunda nggak salah keluar dari rumah ini, rumah ini ibarat penjara berkedok istana!" Lalu dia berlari menuju kamar.
"Mentari... "Ayah membentak anak perempuan nya itu, namun nihil Mentari tetap berlari ke arah Tangga menuju kamarnya.
"Gimana yah?" Langit menatap sang Ayah.
"Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini, besok kita bicarakan lagi dengan kepala dingin!" Ayah berujar sambil bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah kamarnya.
*
*
Pagi hari, Mentari sudah siap untuk ke kampus.
Sengaja di turun agak siang karena menghindari Ayah dan kedua Kakaknya.
Mentari berlari ke arah halaman.
"Mang Unang, ayo ke kampus!" Teriaknya pada Mang Unang yang sedang memotong rumput.
Lelaki itu menghampiri dan berkata kalo Mentari tidak boleh keluar dari rumah.
"Tapi Mang, saya mau ke kampus ada ujian mingguan!" Ucapnya memelas.
"Maaf, mamang takut, Takut bapak merasa semakin marah." Ucapnya membela diri.
💔
💔
Mentari naik kembali ke kamarnya.
"Eughhhh..."Gerutunya kesal.
dia menghempaskan tasnya, ke atas Kasur dan menangis sejadinya.
Sebuah notif masuk, Senyumnya melengkung. Saat melihat nama pemanggil.
"Ya, Mas...?" Suaranya dengan nada serak khas orang yang sedang menangis.
"Kenapa? kamu nggak di apa-apa in kan sama keluarga kamu?" Tanya Dafa panik.
"Aku, nggak di bolehin keluar rumah bahkan untuk Kuliah juga, bawa aku pergi Mas!" Isaknya meratapi nasib!
"Sabar, belum waktunya. Nanti agak kuat sedikit badan ini, Mas ke sana untuk meluruskan semua." Bujuknya.
"Lama..." Rengek Mentari.
"Sabar... ada waktunya!" Dafa menenangkan.
Panggilan terputus setelah saling menyemangati dan saling memberi kekuatan tak lupa juga saling menenangkan.
" Gimana?" Tanya Rijal.
"Makin rumit, kasian dia makin ke kekang di sana!' Dafa menghembuskan nafasnya kasar.
"Nikahin aja, biar sekalian lu lindungi dia!" Rijal tertawa terbahak-bahak.
"Boleh juga ide lu!" Dafa menyeringai dengan senyuman susah untuk di tebak.
Dafa memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar bisa membawa Mentari keluar dari rumah itu, bagus-bagus dia bisa menikahi dia. Masa bodoh dengan umur dan kemapanan.
Seketika ide bagus melintas di kepalanya.
"Harus secepatnya di realisasikan!" Gumamnya.
"Jangan, aneh-aneh lu!" Rijal berujar.
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏 jangan lupa like komentar nya, apa pun aku terima ya😘😘.
Sehat dan bahagia selalu untuk semua❤️❤️❤️