Kisah Mentari

Kisah Mentari
Rengekan Bintang


__ADS_3

❤❤❤


"Bun... bayi aku mana?" Tanya Mentari ketika mulai tersadar, setelah inisiasi dini mengenalkan asi pada bayinya Mentari kelelahan dan tak sadarkan diri.


Kini setelah hampir tiga jam tertidur, dia terbangun dengan rasa sakit hebat di bagian bawah tubuhnya.


"Aww..." Mentari meringis saat menggerakan tubuhnya.


"Jangan bangun dulu sayang, biar Bunda stel ranjang kamu." Bunda yang sedang meletakkan makanan yang baru saja di belinya di kafetaria di lantai dasar rumah sakit itu.


"Bun... Bayi aku?" Tanyanya lagi, dia belum puas melihat bayinya tadi.


"Ada, lagi di kerubuti sama tiga laki-laki ganteng." Jawab Bunda sambil tersenyum.


"Pada kemana?" Tanyanya lagi.


"Lagi ngeliatin princess." Bunda membenarkan letak bantal yang di tiduri anaknya.


"Princess?" Mentari mengerutkan keningnya.


"Kan baby belum punya nama, jadi kita sepakat manggil dulu dengan nama princess."


Mentari tersenyum sambil mengangguk, "Huum, aku belum nyiapin nama. Siapa ya?"


"Ngga apa-apa, santai tapi harus bermakna baik." Ujar Bunda.


"Makan ya? Bunda suapin." Tawarnya.


Mentah mengangguk.


Saat sedang makan, Mentari menundukkan wajahnya. Air mata jatuh menetes di atas selimut yang terulur dari pinggang sampai menutupi kakinya.


"Sayang... " Bunda bergegas mengusap pipi anaknya yang basah.


"Aku jahat, misahin anak dari Ayah nya." Katanya sambil terisak.


Bunda langsung menangkup tubuh putri nya.


"Sayang... niat kamu kan hanya untuk menenangkan hati, nggak apa kalo niatnya untuk memberi Dafa sedikit pelajaran bagaimana caranya untuk lebih menghargai seorang istri." Di usapnya punggung sang putri yang menangis tersedu di pelukannya.


"Kapan kamu ada niat kembali?" Tanya nya.


"Nggak tau, sesiap mental ku aja. Aku masih sakit hati." Mentari menjawabnya.


Suara riuh di pintu terdengar, Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah suara.


Ada Ayah, Langit, tak lupa Bintang si biang kerok.


"Dih... Ada yang udah sadar dari pingsannya." Bunda terkikik lucu.


"Apa sih Bun, anak sendiri di ledekin." Bintang merengek di depan ibunya.


"Aku pingsan, ya jelas. Capek , sakit banget juga." Mentari menyombongkan diri.


"Gue ngeri liatnya tau!"


"Ishhhh... ngilu, sakit banget ya cha?" Tanyanya pada sang adik.


"Iya lah, pake nanya... "


"Bikinnya sakit nggak?" katanya menggoda.


Plak... Sebuah pukulan mendarat di punggungnya.


"Ayah... sakit ih." Bintang mengernyit memandang Ayahnya.


"Adik, belum pulih udah di godain terus." Matanya menatap tegas pada sang anak keduanya yang entah dari mana sifat slengean nya berasal.


"Iya, Maaf Yah... " Wajahnya menyeringai seolah meminta ampun.


Ayah mengusap-usap kepala Mentari, Putri kecilnya kini sudah menjadi wanita dewasa, tugas nya menjadi seorang ibu baru saja di mulai. Dia bangga sungguh, putri manjanya telah menjadi wanita seutuhnya, walaupun dia masih memendam marah dan kecewa pada menantunya yang dia anggap sudah kurang ajar dan mengingkari janjinya dulu ketika menikahi putrinya.

__ADS_1


"Udah enakkan?" Tanyanya setelah mengecup kening Mentari.


"Udah, Yah. Anak aku gimana?" tanyanya.


"Cantik, mungil, hidungnya persis kamu." Senyuman seorang pria yang kini berstatus seorang kakek terlihat jelas di raut wajahnya.


"Mana, bawa sini Yah... " Mentari merengek dirinya tak sabar ingin memandang wajah putrinya.


"Iya, nanti. Kata suster kalo nanti sudah menangis karena haus, pasti di anterin ke sini." Bujuk Ayah Gunawan.


"Aku mau lihat, tadi nggak begitu jelas kepala ku kayak kunang-kunang nggak kuat." Ucapnya lirih.


"Eh, Yah. Bilang soal Butik itu." Bunda berkata pada sang suami.


"Oh, Iya. Kamu mau di mana, Bandung apa di Jakarta? ada dua lokasi yang ayah sudah tandai." Tanya ayah.


"Aku kira, Ayah cuma ngasih semangat aja." Mentari masih tak percaya.


Kedua kakak laki-laki nya masih menyimak ucapan Ayah dan adik bungsu mereka.


"Serius, itu udah di bicarain sama Bunda dari bulan lalu." Terangnya meyakinkan.


Bintang datang mendekat, Duduk di samping Ayah nya.


"Yah... chaca di bikinin butik. Aku?" Telunjuknya dia arahkan ke depan wajahnya.


"Oh, kamu mau juga?"


"Jelas dong, Yah... " Seringai nya senang.


"Mau Ayah bikinin apa?" tanyanya lagi.


Bukan maen senangnya, di dalam dada Bintang meletup-letup kembang api kebahagiaan, dia senang bukan main.


Apalagi melihat raut wajah Ayah nya serius dan meyakinkan.


Semua orang memandang ke arahnya, Mentari yang sedang menyandarkan kepala di bahu Bunda nya yang duduk di sebelah nya, juga Langit yang kini berdiri di dekat kaki Mentari tepat di sebelah Bintang kini berdiri.


"Asikkk, jangan ngiri lu." Ucapnya pada Langit tangannya menepuk-nepuk pelan pundak Abang nya.


"Buruan, kamu mau apa?" Ayah kembali bertanya dengan tergesa.


Bintang langsung merangsek mendekati Ayahnya, memijat lengan tua Ayahnya, sambil tersenyum.


"Aku pengen showroom motor ... " Ucapnya nyengir.


"Ok, Ayah acc."


"Hah... Asli yah?"


"Iya, Bisa ngasih Ayah, cucu lucu kayak yang adik kamu kasih? Ayah langsung kasih kamu sesuai keinginan."


Bintang yang hatinya tadi sempat berlarian ke taman bunga penuh keindahan, seketika di tarik pulang seakan terjatuh di lubang sumur lima meter yang kering, hingga menghasilkan suara gedebuk jika jatuh ke dalamnya.


"Ayah... " Bintang seketika lemas langsung jongkok di lantai wajahnya dia tutupi karena malu sekaligus kesal Ayah nya mempermainkan perasaan nya.


"Aku udah seneng, lah... kenapa ini?" Rengeknya.


Semua orang di sana tertawa, melihat Bintang yang merengek di lantai tepat di bawah kaki sang Ayah.


***


Tok... tok... tok


Suara ketukan menghentikan gelak tawa di ruangan itu.


Bintang langsung bangun, dan tebar pesona seperti biasa, playboy cap kadal sawah itu langsung tersenyum genit. Saat mengetahui yang datang seorang suster cantik tinggi semampai.


Seorang suster cantik mendorong Kotak kecil berisikan seorang bayi mungil.


"Wah... princess kita datang." Bunda dan Ayah langsung menyambut kotak bayi itu.

__ADS_1


"Ughhh... cantiknya princess kakek." Ayah mengusap pipi merah juga selembut sutra itu.


"Bayi nya sudah kehausan, Ibu bisa mulai mencoba menyusui." Seorang suster mengangkat bayi merah itu dan memberikannya ke dalam pelukan Mentari.


Rasa haru seketika menguar, Lagi...air mata menetes saat bayi itu kini nyata ada dalam pangkuannya.


"Sayang... Sayang bubun, ughh... " Ucapnya gemas, menciumi pipi putrinya yg menggeliat kehausan.


"Kamu, mau di panggil Bubun?" tanya Bunda yang duduk di sebelahnya.


"Iya, gabungan Ibu sama Bunda jadi Bubun, bagus kan Bun?" Tanyanya menoleh pada Bunda nya.


"Bagus, manis dengernya." Ucap Bunda ikut mengusap bayi mungil itu.


"Gue kira, Babu nya Bunda jadi Bubun." Celetuk Bintang.


Semua orang menatap tajam ke arahnya.


"Ishhh... jelek ya?" Mentari menatap satu persatu orang di sana.


"Udah, nggak usah dengar kata orang. Apa yang kamu rasa bagus aja." Ayah menyauti.


Bintang hanya tersenyum geli, dia masih dongkol dan merasa mengenaskan sudah di prank oleh ayahnya.


"Ayah, kalo aku terlahir jadi perempuan bakal di manja kayak Chaca nggak?" Tanyanya memandang dengan wajah memelas.


"Nggak tau, kamu itu anak yang nggak di rencanakan Ya Bun?" Menjawab dengan bertanya pada sang istri.


Bunda hanya tersenyum, dan mengangguk. "Dulu Abang kan sering sakit-sakit an kita lagi sering bulak balik Ke rumah sakit, eh taunya Bunda hamil kamu. Nggak di sengaja, setelah kamu lahir kita memang merencanakan adik kamu. Karena kita yakin pasti perempuan. Dan benar kan?" Cerita Bunda panjang lebar.


Bintang semakin terpuruk, dia menunduk lemah . Wajahnya meringis miris mendengar ucapan Bunda nya.


Padahal itu semua hanya akal-akalan Ayah dan ternyata di dukung Bunda.


"Fix... anak yang tak di harapkan, pantes selama ini... " Dia menghela nafasnya kasar.


Semua orang menahan tawa, hanya Mentari yang tertawa terbahak-bahak puas. Tanpa sadar dia tengah memeluk seonggok manusia baru yang tengah gelisah karena haus.


oekkk.... oekkk... sebuah suara tangisan melengking dari mulut bayi mungil itu. Karena merasa di abaikan dia akhirnya menangis kencang. Tak sabar ingin minum susu ibunya.


Semua orang di sana tertawa merasa gemas dengan tingkah lucu bayi merah itu , anggota baru keluarga Gunawan.


"Maaf sayang, kamu haus ya?" Mentari langsung bergerak membuka ikatan tali seragam rumah sakit berbentuk kimono yang dia pakai. Para lelaki pun bergerak mundur ke arah sofa, membiarkan para wanita berada di balik tirai yang baru di tarik menutupi ranjang oleh suster.


Perlahan Mentari menyodorkan puncaknya pada mulut sang buah hati, Mulut nya yang mungil menyambar dengan tergesa-gesa tak sabar sepertinya dia untuk segera menghisap asi miliknya.


"Aw.... Ishhh... " Mentari meringis merasa kan puncak nya di hisap kuat perih dan ngilu menjadi satu, bahkan kakinya sampai mengejan menahan rasa perih di bagian dadanya.


"Biasa, kalo untuk awal-awal pasti seperti ini. Anak pertama kan?" Suster berbicara.


Namun bukannya diam Bayi mungil itu melepaskan puncak dada ibunya yang tengah ia kecap dan menangis kencang.


Mentari yang bingung dan takut malah panik dan ikut menangis.


"Sayang... " Bunda menenangkan.


"Bu, Bisa di gendong dulu bayinya? sepertinya Air susu ibu nya belum keluar deras. Jadi bayi nya tak sabat."


"Biar, saya coba pijat laktasi dulu!" Tambahnya.


Bunda pun menggendong bayi mungil itu dan membawanya ke arah para lelaki yang duduk di sofa.


"Kenapa?" Ayah mendekati


"Air susu nya belum keluar. Dua nggak sabar ngamuk, Bubun nya malah ikut nangis." Bunda mengayunkan tubuhnya yang sedang menggendong cucunya yang sedang menangis. Mencoba menenangkan jerit tangis sang princess keluarga Gunawan itu.


"Nggak di rangsang bapaknya kan?" Bisik Bintang Pada Langit yang duduk di sebelah nya.


Langit menahan tawanya, walaupun kata-kata Bintang terdengar mesum namun sepertinya ada benar nya juga. Karena adiknya itu memang berpisah dengan suaminya semenjak hamil usia lima bulan.


Bersambung ❤❤❤

__ADS_1


Makasih yang udah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komennya dong kesayangan kuhhh😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤


__ADS_2