Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sebuah keputusan


__ADS_3

...-----000-----...


Dafa tercengang sesaat saat melihat puluhan panggilan dan rentetan pesan masuk dalam aplikasi pesannya.


Dirinya yang berniat berhenti untuk mengisi perutnya di sebuah restoran siap saji, seketika laparnya hilang saat melihat isi pesan mengenai kondisi istrinya.


Mobil dia lajukan melesat membelah jalan menuju Bandung, pikirannya semakin amburadul. Dia terus berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk terhadap istrinya dan calon anak ke dua mereka.


Dia menghubungi ponsel istrinya namun tidak ada Jawaban, dengan berat hati namun harus di lakukan dia menghubungi Bintang yang mengirimi nya pesan berisi makian, karena membiarkan adiknya menunggu dalam keadaan kesakitan.


"Apa?" suara bentakkan terdengar di seberang sana.


"Bin? gimana keadaan bini gue?" tanyanya dengan nada sedikit kesal namun butuh informasi terkini.


"Ya, lu liat sendiri! lu kan lakinya, masa lu nggak tau kondisi bini lu." Jawabnya penuh sindiran.


"Jangan bikin gue makin pusing, " Dafa akhirnya meluapkan amarah nya.


"Heh, an*ing ngapa jadi lu yang ngotot. Udah tau bini hamil nya bermasalah, lu nggak peka." Kata Bintang semakin membuat Dafa kesal. Lelaki itu akhirnya memutuskan panggilan telepon itu.


Dia berteriak dan memaki kencang di dalam mobil yang sedang melaju kencang.


Tak lama sebuah pesan masuk, ternyata dari Bintang yang berisikan nama sebuah rumah sakit.


Dafa sedikit lega, namun membayangkan istrinya kesakitan saat lagi-lagi dirinya tidak ada.


Dia fokus mengendarai mobilnya yang semakin melesat kencang, perutnya lapar, juga tubuhnya lelah tapi pikirannya lebih lelah. Sebenarnya dia ingin cepat pulang merebahkan tubuhnya sambil memeluk istrinya. Namun sebuah ujian lagi-lagi harus dia Terima. Dia harus kuat setidaknya untuk mendampingi istrinya yang sedang sangat membutuhkan penyemangat.


...~~~~...


Dafa turun dari mobilnya berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung rumah sakit, kembali membuka aplikasi pesan untuk melihat no kamar istrinya itu. Karena panik dia merasa linglung sendiri, lalu seorang suster melintas di depannya. Dia langsung bertanya di mana ruangan yang dia bacakan dari pesan yang Bintang kirimkan.


Lalu dengan ramahnya suster itu mengarahkan dirinya ke ruangan yang di maksud.


Dafa berdebar saat telah sampai di depan ruang rawat istrinya. Dia melihat di kotak kaca kecil yang menempel di pintu, membuat dirinya bisa melihat keadaan di dalam. Bunda tengah duduk di sebuah kursi di dekat ranjang yang di tiduri Mentari, sedangkan Ayah mertuanya sedang berdiri di sebelah Bunda.


Di ketuknya pintu itu, sambil dia buka perlahan. Mertuanya itu langsung menoleh ke arahnya.


Dafa hanya mengangguk namun dengan jantung yang berdebar. Perlahan dia mendekat ke arah di mana Mentari terbaring.


"Ayah, Bunda!" Sapanya.


Bunda hanya tersenyum dan bangkit memberikan ruang untuk menantunya, raut wajah Ayah terlihat sinis seperti menunggu alasan apa yang akan dia dengar dari mulut menantunya.


Sebelum dia di cecar, Dafa segera menjelaskan semua jika sore tadi saat dia akan pulang ke rumah sesuai janjinya pada sang istri, ada telpon dari Bogor kalo Papanya masuk rumah sakit, dan dia langsung pergi tanpa memberikan kabar pada istrinya itu. Bahkan ponselnya dia tinggal di saku jas yang dia tinggalkan di mobil saking tergesa nya dia.

__ADS_1


Ayah akhirnya mengangguk, bagaimanapun itu adalah Papa dari menantunya, Bunda yang sedikit memperlihatkan raut kecemasan pada sahabatnya langsung Ayah rangkul pundaknya dan sedikit meremat nya. "Ya, sudah. Kamu tunggu Mentari, kami mau cari makan dulu." Ujar Ayah lalu merangkul Bunda keluar dari kamar itu.


"Eh, Daf... tadi di suruh ke ruangan dokter Rita, ada yang harus kamu ketahui katanya." Bunda berkata di ambang pintu, saat akan menutup pintu kamar putrinya.


"Iya, Bun. Sebentar lagi Dafa ke sana." Jawabnya.


Dafa mengelus pipi pucat itu, sedih melihat Mentari terbaring sangat lemah.


" Sayang, aku udah pulang. Katanya mau peluk!" Panggilnya tangannya masih mengusap wajah istrinya itu.


Perlahan Mentari membuka mata, lalu pandangannya beralih ke arah samping di mana seseorang tengah menatapnya penuh rasa kelegaan. Dafa menekan tombol emergency untuk memanggil perawat yang akan memeriksa keadaan istrinya itu.


"Mas ... "


"Iya, aku udah pulang sayang."


"Lama ... "


"Iya, maaf tadi Papa masuk rumah sakit. Tanpa ngasih kabar kamu, aku langsung ke Bogor." Jelasnya.


"Aku pengen di peluk,"


"Pasti, tapi kamu periksa dulu ya! Nanti aku peluk kamu semaleman." Janjinya saat sebuah ketukan pintu terdengar masuk lah seorang suster dan seorang dokter wanita paruh baya.


Dokter memeriksa keadaan Mentari dengan sesekali berbicara pada suster yang mencatat keadaan Mentari.


Dafa mengangguk, "baik, dok."


"Aku tinggal ya sebentar, nanti langsung ke sini lagi." Dafa pamit saat tangannya tak Mentari lepaskan, dia menggenggam tangan suaminya dengan posesif.


"Jangan lama... " manjanya.


"Iya, aku langsung balik ke sini." Ujar Dafa yakin.


Dia pun keluar mengikuti langkah kali dokter yang bernama Rita dari nametag yang menggantung di saku jas putih nya.


...----000----...


Dafa sudah duduk berhadapan dengan dokter yang menangani istrinya.


"Kita langsung aja ya, pak!" ucapnya ramah.


Dafa mengangguk, tangannya menyatu di atas meja, menantikan apa yang akan di terangkan soal keadaan istrinya itu.


"Kondisi ibu, sangat lemah. Saya takut jika di paksakan malah membahayakan kondisi Ibu nya. Janin yang ibu kandung di perkirakan hanya memiliki kesempatan sekiranya 30% saja, kalau di paksakan takutnya malah ibu nya yang beresiko."

__ADS_1


"Bukan bermaksud apa-apa, atau menakuti. Hanya saya menghawatirkan kondisi ibu. Semua keputusan ada di tangan ibu dan bapak. Saya pantau juga tidak ada perkembangan yang baik dari ibu, saya takut akan membahayakan ibu, jika kehamilan ini di teruskan. Bukan mendahului takdir Tuhan, namun untuk mengantisipasi tidak ada salahnya bukan." jelasnya panjang lebar.


Dafa merasa kepalanya berdenyut hebat seakan ada sesuatu yang menghantam nya keras. "Tapi, bakal sulit meyakinkan dan membujuk istri saya, dok." Dafa menghempas kan punggungnya di kursi yang dia duduki.


"Saya, mengerti pasti sulit. Tapi ini hanya usulan saya saja, pak. Syukur-syukur Ibu dan bayinya bisa bertahan dan sehat ke depannya. Untuk sekarang saya akan meningkatkan vitamin dan perawatan ibu, sepertinya untuk seminggu ke depan ibu harus di rawat di sini. Kita lihat apakah ada perkembangan ke arah yang lebih baik dari keduanya, kalau


"Saya coba berbicara dengan istri saya, tapi sepertinya akan sulit dok." Ucapnya pesimis di iringi raut muka yang sangat terlihat tertekan.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, "kita pasrahkan semua, semoga kedepannya kondisi ibu dan janin lebih baik dan kuat." katanya.


Dafa kelur dengan tubuh yang sudah sangat lelah dan lunglai, kepalanya sakit, hatinya bingung bagaimana cara berbicara dan membujuk istrinya itu.


Dia teringat dengan Helen, lalu Dafa segera merogoh ponselnya di saku celana, menghubungi Intan dan menanyakan keadaan putrinya. Yang katanya sudah tidur nyenyak. Dia merasa sedikit tenang.


Dia duduk di kursi besi di depan ruangan Mentari, tubuhnya berasa tak bertenaga memikirkan semua masalah yang dia hadapi, yang paling menyita pikiran nya tentu saja kesehatan istrinya dan sang papa.


"Daf... " Sebuah suara terdengar memanggilnya.


Dafa menoleh ke arah asal suara, di dapati kedua mertuanya yang berjalan ke arahnya dengan menenteng sebuah bungkusan.


"Udah ketemu dokter?" Bunda duduk dan menyodorkan bungkusan itu, " buat makan malem kamu!" tambah nya lagi.


"Keadaan nya lemah Bun, bayinya di perkirakan hanya memiliki kesempatan bertahan tidak lebih dari 30 % saja, dan kalau di pertahankan takutnya membahayakan nyawa Mentari." Terangnya lirih, Dafa menunduk memijit batang hidungnya menahan rasa pening di kepalanya.


Bunda mematung menatap sang suami, lalu berkata. " Semua keputusan ada di kalian, Bunda tau kalian akan melakukan yang terbaik." Wanita itu menepuk punggung menantunya.


"Yang penting sekarang, tenangkan dulu Chaca, terus kamu kasih penjelasan perlahan sama dia."


"Tapi, Bunda... dokter akan melakukan observasi seminggu ke depan kalo. belum ada perubahan ini pasti harus di ikhlaskan untuk di gugurkan." Ucapnya memotong perkataan sang mertua.


"Bunda doa kan yang terbaik untuk kalian, Bunda pulang dulu ya, tapi kayaknya mau pulang ke rumah kalian, mau jagain Helen kasian." Ucapnya menenangkan.


"Makasih, Bunda Ayah."


Keduanya pamit pulang, tanpa masuk ke ruangan anaknya.


Dafa menarik nafasnya dan menghembuskan nya dengan perlahan, sebelum memasuki kamar Mentari.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2