
Hujan di malam itu, semakin membuat keadaan seolah terasa mencekam. Rasa dingin itu menusuk sampai ke tulang membuat siapa saja menginginkan bergelung di bawah selimut hangat, dengan kaki saling membelit (belit guling😜).
Bunda duduk di sofa panjang dengan Mentari dan Dafa duduk berjejer di sebelah nya. Langit dan Bintang di sofa sebrang mereka. Menantikan kehadiran sang pemimpin keluarga yang beralaskan sakit perut atau entah sedang mempersiapkan agenda persidangan.
"Udah, kumpul semua ya?" Ayah yang baru keluar kamar menghampiri anak-anaknya yang sudah berkumpul.
"Kok, udah merinding ya!" Bintang mengusap tengkuknya.
Pletak ...
Ayah memukul pundak Bintang dengan keras.
"Aww, Ishh lagi-lagi KDRT." Bintang memasang wajah memelas.
"Kamu kira, Ayah hantu apa? di sebut merinding! lagian salah sendiri nggak bisa memprediksi atau ngelak pukulan Ayah, padahal udah sering tetep aja nggak bisa baca gerakan lawan." Gerutunya kesal namun sekaligus tawa kepuasan.
Bintang menatap wajah Ayah dengan meringis mengusap pundaknya yang terkena pukulan.
"Ayah itu aku anggap ya sebagai Ayah, bukan lawan." Jawabnya bijak.
Ayah hanya mencebik sambil berjalan melewati sofa panjang yang telah terisi istri dan anak juga menantunya.
"Kalo lawan Ayah sebagai lawan aku pasti bilang salam dari Binjai." Ucapnya sambil mengatup kedua tangannya seperti mempergerakan salam pembuka sebuah pertarungan.
"Udah, pasti gini kalo deketan." Bunda melerai anak dan suaminya.
Ayah langsung duduk di sofa tunggal, menatap ke sekeliling.
"Yah, nggak pake kata sambutan gitu?" ledeknya.
Langit yang sedari tadi diam akhirnya menyikut Bintang, yang dia rasa terus saja berceloteh, memancing marah ayahnya.
"Semprul," ucap ayah sinis.
*
*
Ayah memfokuskan tatapannya pada Mentari dan Dafa yang saling berpegangan dari tadi.
"Cha ... lu kayak nini-nini mau nyebrang dari tadi pegangan nggak lepas-lepas!" Lagi-lagi Bintang berceloteh asal.
Namun dengan gurauan nya yang nyatanya melelehkan suasana yang menegangkan, tidak seperti manusia yang menunggu vonis hukum.
"Bin ... Astaga!" Bunda menggelengkan kepalanya menghadapi anak ke duanya itu.
"Brisik lu, ngomong mulu." Langit berbisik di sebelah nya. Dengan mata menyalang kesal pada sang adik.
"Ape sih lu?" dia terkekeh membalas tatapan marah abang nya.
__ADS_1
"Mau diem atau keluar." Ayah membentak.
"Iya, Bos. Maaf silahkan lanjutkan ... " dengan cengiran khas kudanya.
Semua orang di sana bergidik melihat kelakuan Bintang yang tak kenal takut dengan tatapan Ayah yang menatapnya tajam.
"Tidur dimana kamu semalem? sampe pagi-pagi bunda berisik nyariin kamu!" Ayah menatap putrinya itu.
Mentari yang jadi menatap ayahnya langsung menunduk malu, wajahnya terasa panas karena malu. Bagaimana cara dia mengatakan pada Ayah nya kalo semalam ide kabur dia terapkan lagi, seperti beberapa waktu lalu saat-saat dia baru memulai hubungan dengan Dafa.
"Kabur?" Ayah berucap dengan nada sindiran
Mentari menatap kaget ke arah Ayah, "I-iya Yah!" jawabnya sambil mengangguk kecil.
Ayah, Bunda, dan Langit menggelengkan kepalanya, hanya Bintang yang tertawa.
"Ada yang lucu?" Ayah menatap putranya itu.
"Nggak Yah, tapi aku udah tau. Dia malam-malam di butik bikin tato." Lalu dia kembali tertawa terbahak.
Ingin sekali Mentari menyumpal mulut kakaknya dengan kotak tisu di depannya, tak jauh beda dari istrinya dafa ingin memasukan Bintang ke dalam toples peyek teri cap inces cetar yang harganya bisa beli beras sekarung di hadapannya, lalu dia lakban dan dia hanyutkan ke bendungan Jatiluhur.
Pasangan itu gedeg sekali dengan Bintang, entah kapan Lelaki berbibir lentur itu mendapatkan karmanya. Yang jelas mereka sangat menunggu momen itu.
Ayah membuat gerakan tangan payung tanda semua harus diam, padahal semua diam, hanya Bintang sendiri yang terbahak-bahak. Di atas rasa malu pasangan suami istri yang terbongkar aib produksi nya.
"Buat, kamu. Ayah dari princess saya, dan suami dari anak perempuan saya satu-satunya. Entah apa yang kamu perbuat dulu terhadap Mentari, hingga perempuan se sabar dia aja nggak kuat ngadepin kamu. Jujur Putri saya tidak bercerita tentang masalah kalian, kami menemukan nya ketika dia hamil besar di bawah lindungan Nina yang tak lain adalah sahabat istri saya."
Hening semua orang terdiam dan takut menyela omongan Ayah yang terlihat sangat serius. Bahkan Dafa pun tak berani menatap ke arah mertua laki-laki nya itu.
"Sekarang kamu datang, untuk bawa kembali mereka? setelah apa yang kamu lakukan sama mereka?"
"Jaminan apa yang bisa saya pegang, agar mengijinkan kamu membawa dua belahan hati saya?" tambahnya lagi.
Dafa menatap tangannya yang tengah menggenggam tangan Mentari, bahkan mentari mengusap lembut punggung telapak tangannya dengan ibu jarinya.
"Jaminannya ... saya, tidak bisa menjamin apapun Ayah, namun jika terjadi hal yang kembali menyakiti hati Mentari, biarkan Tuhan yang langsung menghukum saya."
"Dan saya akan mengembalikan dia pada Ayah." Janjinya dengan lantang.
Mentari yang mendengar ucapan suaminya itu, langsung menoleh dan menatap Dafa dengan pandangan berkaca-kaca. "Mas, nggak sampai segitunya kamu janji! aku kok takut sama janji kamu yang kayak gitu?" Mentari menguncang lengan Dafa.
Dafa balas menatapnya, "Supaya lebih menyakinkan Keluarga kamu, bahwa aku nggak akan berbuat sesuatu yang menyakiti kamu. Karena hidup aku sudah amburadul tanpa kamu, mana mungkin aku bisa hidup lagi tanpa kamu, apalagi sekarang ada Helen. Rasanya aku nggak akan sanggup tanpa kalian," senyumnya menatap Mentari
Terdengar deheman dari Bintang.
"Bin," Bunda menatapnya sambil mengatupkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Gatel tenggorokan, Bun." Jawab lelaki ngeyel itu sekenanya.
__ADS_1
Mereka kembali serius, Ayah hanya teangguk-angguk mendengar apa yang di ucapkan Dafa seperti sebuah ikrar.
Saat kembali akan bertanya, suara rengekan Helen terdengar dari kamar atas.
"Helen nangis, Cha!" Bunda berucap dengan cemas.
Mentari bangkit pamit dan bergegas menuju kamarnya, menghampiri Helen yang sedang merengek manja.
*
*
"Jadi?" Ayah kembali bertanya.
"Saya, mau bawa Helen sama Mamahnya kembali pulang ke rumah kami." Ujarnya mantap.
Ayah menghela nafasnya kasar, sesak rasanya akan kembali melepaskan berlian di hatinya pada orang asing, ya walaupun memang Dafa lebih berhak atas Helen dan Mentari. Dia pun merasakan bagaimana posisi seorang Ayah.
"Sesuai janji kamu tadi ya, bahkan kamu bukan hanya berhadapan dengan saya tapi dua kakak-kakaknya." Pria paruh baya itu menunjukkan ke dua anak lelakinya yang duduk di samping kiri nya.
Dafa menatap kedua kakak iparnya, "Dih, pukulan mereka udah jadi makanan sehari-hari buat gue. Ayahnya aja kagak tau kalo punya anak kayak tukang pukul," batinnya.
"Ngerti?" Ayah kembali bertanya.
"Iya, ngerti Ayah." jawabnya cepat sambil mengangguk.
Bunda mengusap air mata harus penuh kelegaan yang hampir jatuh di pipinya.
"Kapan kamu bawa pindah mereka?"
"Besok mungkin, Yah!" Dafa masih terlihat canggung dan masih meremat tangannya, walaupun merasa sedikit lega, namun belum terjalinnya komunikasi yang intens malah membuat dia merasa sedikit kaku.
"Tapi ada satu syarat buat kamu,"
"Apa, Yah?" Dafa mengerutkan alisnya.
"Kamu, harus mengijinkan Mentari dan Helen jika saya sewaktu-waktu kangen dan ingin mereka menginap di sini." Mengucapkan syarat yang sudah dia pikirkan sejak tadi.
Dafa terdiam mencerna apa yang ayah mertua nya katakan, otaknya berpikir ....
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰
Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰
__ADS_1
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲
Maaf cuma seuprit, masih meriang nih bergetar tapi tangan doang, yang lainnya kalem🤒🤕. Komen juga belum aku balesin ya🙏. Maaf kalo nggak dapet feelnya ini maksa soalnya, nggak pake otak. Otaknya lagi beli obat ke warung🤧🤧