
...❤❤❤...
Seminggu berlalu dari acara pernikahan Bintang.
Dafa baru melangkahkan kakinya di teras rumah saat pintu ruang tamu terbuka menampilkan anak-anaknya yang berhamburan menyambutnya.
Dia menciumi Helen dan Shera bergantian.
"Ibu, mana?"
"Ibu, bobo ... "
Dafa melihat ke arah pengasuh anak-anaknya. Meminta jawaban.
"Iya, Pak. Akhir-akhir ini Ibu sering tidur, katanya males."
Dafa mengangguk, "tadi ke butik nggak bi?"
"Tadinya mau Pak, udah mandi terus minta di bikinin mie goreng. Tapi udah makan malah ganti baju lagi terus tidur lagi, " katanya menjelaskan.
Dafa tersenyum sepertinya dugaannya benar.
*
*
Dia berjalan memasuki kamar, setelah sebelumnya mengikuti keinginan anak-anaknya untuk keliling komplek mengendarai motor. Se receh itu keinginan anak-anaknya, dia berusaha mewujudkan apapun yang di inginkan anak-anaknya.
Pintu kamar dia buka, terlihat istrinya masih bergelung di atas kasur mereka.
Dafa tersenyum saat melihat wajah nyenyak istrinya. Kemudian setelah puas memandangi nya, dia berlalu masuk kamar mandi.
Pria berusia hampir 29 thn itu sudah tampil segar, dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan seperti biasa.
Dafa ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Mentari.
Dia memeluk tubuh itu dari belakang, Istrinya menggeliat saat merasakan sebuah pelukan di tubuhnya.
"Mas..."
"Hemmm..." Dafa mengecupi tengkuk istrinya yang hanya terbalut daster bertali.
"Makan di luar yuk... di nasi goreng depan komplek aja, aku mauu... "
Dafa tersenyum lebar, dia semakin dengan dugaannya.
"Boleh, nanti aja abis Magrib. Anak-anak mau di bawa?"
"Iya lah, aku mah paket lengkap. Aku ikut berarti anak-anak ikut." Dia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
"kenapa, senyum-senyum gitu? serem, " Mentari memukul pelan dada suaminya.
Dafa menahan tangan itu, lalu dia tarik ke arah bibirnya mengecup sayang genggaman tangan Mentari.
"I love you... "
"Love you to... bosennn, nggak sih?"
Dafa melototkan matanya tajam ke arah istrinya.
"Sembarangan ngomong nya. Mau sekarang atau nanti 50 thn lagi juga, aku nggak akan bosen ngomong cinta sama kamu." Dafa mendengus kesal namun gemas sendiri dengan ucapan istrinya.
"50 thn lagi kayak lagu aja, sekarang atau 50 tahun lagi ku masih akan mencintaimu. Tak ada bedanya rasa cintaku masih sama seperti pertama bertemu." Mentari tertawa saat selesai mendendangkan sebuah lagu sesuai dengan ucapan suaminya itu.
Dafa semakin memeluknya gemass, "cie... Diva top di ranjang," ucapnya lalu tertawa saat melihat wajah cemberut istrinya.
"Eh, sebentar aku juga punya lagu, " Dafa menghadap Mentari dengan posisi yang pas, lalu berdehem menyiapkan suaranya.
"Lama... "
"Ck, bentar... "
"Aku sedang ingin bercinta karena
Mungkin ada kamu di sini aku ingin
Aku sedang ingin bercinta karena
Mungkin ada kamu di sini aku ingin."
"Astaga... lagu apa?"
"Lagu kita, yuk... ah main!" Dafa mulai mengecupi wajah istrinya.
saat lengkingan suara Helen menggema di luar, "Bu... Shera idungnya berdarah.. "
Mentari dan Dafa terlonjak kaget, lalu bergegas keluar kamar, melihat kondisi anak ke dua mereka.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Dafa langsung mengambil alih Shera dari gendongan pengasuhnya.
"Tadi Pak, lagi jalan. Ngelirik anak laki-laki sebayanya naik sepeda, eh Shera malah jatuh!"
"Ampun, anak ayah udah lirik- lirik. Bu, pesen ballroom hotel berbintang buat nikahan anak-anak." Dafa menggoda istrinya yang sedang membersihkan noda darah di ujung hidung anaknya.
"Kalo ngomong, suka asal!" tangannya menepuk pundak suami yang sedang menggendong Shera.
Dafa terbahak hingga kepalanya mendongak, dia merangkul Mentari dan Helen yang berada di bawah mereka melingkar kan tangan nya memeluk kaki orang tuanya.
Kebahagiaan jelas terpancar dari keluarga mereka, rasa kasih sayang, cinta dan perhatian melimpah ruah di rumah itu.
*
*
Dafa sedang membalas beberapa email untuk pekerjaannya di hari senin.
Mentari ke luar kamar setelah menidurkan Helen dan menyusui Shera.
"Mas... "
Dafa menoleh ke arahnya, "Iya, sayang... "
Mentari duduk di sebelah nya, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa itu.
"Dada aku sakit, ngasih asi Helen!" katanya.
Dafa hanya tersenyum, belum mengatakan tentang kecurigaannya.
"Ayo... anak-anak tidur, kita aja berdua!"
"Yuk, tolong ambilin kunci mobil."
"Nggak, pengen pake motor!" Rengeknya.
Dafa yang mencurigai sesuatu, hanya menggeleng. "Pake mobil ah,"
"Ah... Mas, pengen pake motor."
"Jalan aja, yuk. Sambil jjm!"
Mentari mengangguk cepat, lalu berdiri.
"Yuk.. " tangannya mengulur.
Menteri sedikit berlari ke dalam kamar, lalu daster tak bertalinya itu di lapisi cardigan berwarna hitam.
Dan memberikan sebuah hoodie pada suaminya.
Mereka pun berjalan keluar dari rumah tepat di jam delapan malam, perjalanan menuju tukang nasi goreng di depan komplek tak lebih dari sepuluh menit perjalanan, karena Dafa membawa istrinya jalan dengan sangat pelan, dia beralasan agar menikmati waktu jalan-jalan malam bersama.
*
*
Selesai makan nasi goreng mereka berjalan melewati pedagang martabak.
Mentari berhenti dan menyeringai pada suaminya.
"Mau.. "
Dafa mengangguk kecil, Mentari dengan riang memesan dua porsi martabak keju susu, lalu dua porsi martabak telor.
Mentari duduk di kursi plastik tak jauh dari gerobak, Lagi-lagi Kepala nya terasa berat.
Dafa mendekati si abang penjual dan membisikkan sesuatu, lalu si pedagang martabak itu tersenyum mengangguk lalu memasukan dua butir telur Bebek mentah pada keresek bungkusan martabak pesanannya.
"Yuk... " ajaknya pada sang istri yang sedang sibuk dengan ponselnya, setelah melakukan pembayaran.
Mereka kembali menuju rumah dengan wajah Mentari berseri-seri.
Mereka berpegangan sambil bercerita rencana mereka untuk renovasi rumah, setelah bulan kemarin rumah di sebelah mereka beli karena si pemilik mendapatkan tugas dinas di pulau sebrang.
"Aku mau punya halaman luas, kamar banyak, terus special kamar kita pake kedap suara, biar bebas!" Dafa menatap pasti dengan rencananya pada sangat istri.
"Makasih, Mas. Aku nggak tau harus membalasnya dengan apa."
"Dengan kamu selalu ada di samping aku, anak-anak. Dan kalian bahagia juga sehat selalu. Itu udah timbal balik luar biasa untuk aku, Sun." Dafa yang menggenggam tangan sang istri mencium nya lalu mengarahkan nya pada bagian bawah tubuhnya .
"Aku mau ini, aduh udah lama banget nggak Sun."
Wajah nya memelas.
"Baru juga tiga hari, lama gimana sih?" ucap Mentari mencebik.
"Lama itu, Sun. Biasanya kan kita tiap malem, tapi sekarang kamu keliatan ngantuk mulu, aku nggak tega ngebangunin nya. Lagian kalo anu sendiri itu nggak enak, enak ya kalo bebarengan dan mencapai puncak juga barengan, beuh... mantap."
__ADS_1
"Hadeuh.... iya, ok."
"Asik... let's goooo... " Dafa mempercepat langkah kakinya, "mau aku gendong nggak?"
"Ish... lebay, tuh rumah kita dah keliatan pagernya!"
Dafa tertawa kecil, karena ketidaksabaran dirinya.
Sengaja dia tidak bertanya soal kecurigaan nya.
Jika istrinya tau sekarang, mungkin rencananya akan gagal untuk bergoyang di atas kasur.
*
*
Mentari keluar setelah menggosok gigi, dia keluar dengan lingerie pilihan suaminya tadi sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas... ishhh, malah ke kerjaan mulu. Jadi nggak?"
Rengeknya.
Dafa menoleh lalu menepuk sisi sofa sebelah nya.
"Sini, Sayang. Foreplay dulu sebentar." Dafa merentangkan tangannya setelah menyimpan laptopnya di atas meja.
Mentari melihat ke box anak-anak dulu, sebelum menghampiri Dafa.
Setelah di rasa aman, dia menghampiri suaminya. Dan Dafa langsung menariknya agar duduk di pangkuannya.
Bibir itu saling menempel dan menyesap. Memberi sensasi memanas di tubuh mereka.
Dafa menarik turun tali lingerie itu, hingga buah itu menyembul sempurna. Dengan rasa penasaran tinggi, Dafa langsung memainkannya lidahnya di puncak dada itu sedikit menghisap, lalu dia tersenyum saat merasakan sesuatu.
"Ehmm... mas... "
Dafa mendongak masih dengan mulutnya yang sibuk di area dada istrinya.
Nikmat sekali pikirnya. Dia sudah memastikan kecurigaan nya yang dia rasa benar.
Dafa menurunkan celananya, lalu mulai menggerakan pinggang istrinya yang sedang menindih tubuh bawahnya itu ikut bergerak.
"Mas... sekarang!"
Dafa bangun dengan istrinya yang masih berada di gendongnya.
Di masukan nya milik nya yang sudah menegang itu.
"Ahhh... " Mentari mele*nguh saat sesuatu menusuknya dengan kenikmatan.
Dafa masih berdiri dengan tubuh istrinya yang menancap sempurna di bagian inti tubuhnya. Dia menggerakan sedikit pinggang Mentari yang tertancap miliknya.
Lalu dia kembali menunduk, menekuni area dadanya.
Di rebahkan perlahan tubuh Mentari, di kecup kening wanita yang sangat dia cintai.
"Mas... kenapa?"
Dafa mengerutkan keningnya. "nggak apa-apa, kenapa emangnya?"
"Tumben nggak nyuruh aku di atas dulu!"
"Aku lagi ingin muasin kamu." bisiknya sambil kembali menautkan bibir keduanya dengan sebuah hentakkan pelan dan hati-hati.
Mentari yang di landa rasa nikmat itu, mengalungkan kakinya melingkar di pinggang Dafa yang sedang menghentak nya dengan tempo yang terkesan slow motion.
"Aghh... " Mentari membusungkan tubuhnya saat Dafa menyesap dadanya kuat.
Hentakkan itu semakin cepat.
"Oh... Sun, enak banget... ehmmm aku nggak akan lama ini."
"Hmmm, iya... aku... Ahhhh... " Mentari mele*nguh kuat saat Dafa kembali menghisap dadanya keras dan penuh gai*rah. Bahkan tangannya tanpa sengaja menjambak kuat rambut kepala suaminya agar bertahan di Puncak nya, karena gelombang itu semakin dekat.
Dan... mereka pun mende*sah dan mengerang bersamaan, saat mereka mencapai puncaknya secara bersamaan, denyut itu masih terasa, Dafa menjatuhkan tubuh lemasnya dengan deru nafas terengah-engah di sebelah istrinya.
"Aku belum selesai, Sun!" Dafa menahan tangan Mentari saat akan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Loh, kok bisa?" Mentari menatap heran pada si jamur kuncup yang masih tegak dengan sombongnya.
"Tadi kan aku bikin STM(susu, telur, madu) " kekehnya.
Mentari akan mengomel namun sambaran Bibir Dafa dengan cepat membungkam nya.
Dan mereka kembali saling melu*mat menikmati kegiatan melelahkan sekaligus menyenangkan.
❤❤❤
__ADS_1
otw end ini, cuma minta like sama komen kalian ya, asalnya mau di buat sad ending. Tapi komen kalian tiba-tiba banyak dari biasanya menolak untuk Dafa meninggal. Masa harus di bikin sedih biar banyak komen🤭. Tapi makasih banget yang setia mendampingi, yang belum ke rumah Bintang aku tunggu ini🤭 peluk cium dari Bandung 😘🤗