
🌹🌹🌹
Mentari bangun saat adzan subuh belum berkumandang, dia telah siap-siap.
Ya... hari ini dia berencana akan menyaksikan turnamen yang akan Dafa ikuti.
Dia akan pergi, tapi tentu tanpa seijin para penghuni rumah. Mentari mengenakan stelan olahraga untuk mengelabui Mang Unang yang akan membuka pagar.
"Mau kemana neng?" tanya Mang Unang saat melihat Mentari berjalan ke arah pagar.
"Mau joging mang, mumpung udara masih seger." jawab Mentari meyakinkan.
Mang Unang memang sedikit heran pasalnya anak bungsu sang majikan itu jarang sekali bahkan tidak pernah melakukan joging, karena di rumah itu ada ruangan olahraga sendiri.
"Tumben neng Chaca joging, subuh-subuh lagi." tanya nya lagi sambil membuka gembok pagar setinggi orang dewasa itu.
"Nyari udara seger mang, saya pergi ya kalo ada yang nanya saya joging." Mentari berpesan sambil keluar dari rumah nya.
"Oh tuhan aku bebas... " Batinnya sambil berpura-pura menggerakkan tubuhnya karena Mang Unang masih memperhatikan nya di sisi pagar.
Jalan komplek itu masih sepi, lenggang karena ini hari Minggu dan masih jam lima pagi.
Mentari melihat ke belakang, rumahnya sudah semakin jauh.
Ponselnya berdering.
"Ya Mas... aku udah keluar dari rumah!"
"Ini lagi jalan, mobil kamu juga udah keliatan!" Ucapnya lagi.
Panggilan pun terputus.
Seorang pria menyeringai bersandar di depan mobil nya. Melihat kekasih hatinya berjalan ke arahnya ,hanya memakai stelan olah raga, dan rambut hitam panjangnya dia selipkan pada topi hitam yang melingkar di kepalanya.
"Oh... Morning my sunshine?" Dafa merentangkan kedua tangannya.
Mentari tersenyum dan memeluk tubuh jangkung itu. Mereka saling berpelukan.
"Kayak Teletubbies aja!" ledek Dafa.
"CK... lagi sweet gini." Mentari mencubit perut Dafa.
Dafa meringis, "Sakit Sun, ampun!" ucapnya sambi mengusap perutnya yang terkena Capitan jari lentik itu.
"Yuk... aku mulai turnamen jam 10," Dafa mengajak nya masuk.
Mentari malah masuk ke pintu belakang.
"Kenapa di situ?" Dafa merengut bingung.
"Jangan liat kebelakang awas, pokoknya nggak boleh nengok ke sini sebelum aku bilang selesai!" Ucap Mentari.
Dafa mendengus kesal sekaligus bingung.
Dia kemudian menjalankan mobil, dia kira kekasihnya itu tidak ingin duduk di sebelahnya.
Mentari membuka topinya, Kemudian sweaternya meninggalkan kaos berkerah, dan celana olahraga nya dia turunkan, kini dia tidak menggunakan bawahan.
Di bukanya tas punggung kecil mengeluarkan sebuah celana jeans hitam, saat akan memakainya dia melirik ke arah depan Dafa tengah tersenyum dengan wajah tengil seperti biasa.
"Massssss....." dia menjerit kesal.
"Mas melanggar janji, aku bilang kan tadi jangan nengok kebelakang!" Mentari menyembunyikan badannya agar tak menjadi santapan mata Dafa, bis bahaya. batinnya.
"Mas emang nggak nengok kan, itu kaca spion yang nengoknya mas dapet contekan dari spion." dia menahan tawa.
Mentari yang sudah kepalang tanggung, dengan tergesa memakai celana jeans nya.
"Sabar... lu sabar ya, jangan bangun, jangan bikin gue nggak bisa nahan lu. Ntar dia marah lagi berabe jadinya." ucapnya dalam hati pada adik kecilnya itu.
"Berhenti..." Ucap Mentari dari belakang.
"Susah Sun, ini lagi ngebut-ngebutnya dah mau masuk tol lagi." Dafa beralasan.
"Ya udah, aku nggak akan pindah ke depan!" cicitnya kesal.
"Pindah dong sayang, aku kayak supir kamu, biasanya juga kamu loncat ke sini!" ucapnya menepuk jok sebelahnya yang kosong.
"Buruan... ada yang mau aku omongin juga!" terangnya.
"Apa?" tanya Mentari penasaran.
"Pindah dulu sini..." Ia kembali menepuk jok sebelahnya.
__ADS_1
Mentari mendengus kesal.
"Jangan mesum!" saat tubuhnya melewati Dafa.
Dafa tersenyum saat bagian belakang kekasihnya itu melewati kepalanya.
"Sabar... lu sabar ya tong, belum saatnya!" gumamnya sambil menahan senyum.
Mentari sudah duduk dan langsung memakai safety belt nya.
"welcome to the club', selamat datang di dunia Dafa, si bocah petualang." ujar lelaki itu setengah berteriak.
Mentari tersenyum dan membalas ucapan Dafa
"Let's Goo ... aku pacarnya bocah petualang!" dia ikut berteriak semangat.
Mereka tertawa bersama, Dafa mengelus kepala Mentari kemudian tangan mereka saling bertaut.
"Yang bener ah pegang setirnya, aku suka ngerii kalo ada orang yang nyetir pake sebelah tangan!" ujarnya khawatir.
"Aku udah ahli dalam setir menyetir segala bisa aku kendalikan kecuali si adik!"Kekehnya.
Mentari menatapnya jengah namun wajahnya merona menahan malu atas ucapan Dafa yang selalu menjurus ke hal-hal mesum.
"Aku seneng banget kita bisa pergi jauh gini, aku yakin bakal menang karena ada kamu sebagai penyemangat." ucapnya yakin.
Mentari tersenyum, namun hatinya mendadak tegang.
"Aku takut, ayah sama kakak-kakak aku nyariin. Entah apa yang akan mereka lakuin kalo tau aku pergi sama kamu Mas!" lirihnya dengan wajah sendu.
Dafa mengerti keresahan hati gadis itu.
Dia menghela nafas beratnya, sesak sama dia pun merasakan kekalutan seperti apa yang Mentari rasakan. Memang hubungan terhalang restu sangat berat untuk di jalani.
Tapi apa mau di kata jika hati sama-sama saling tarik menarik walaupun berbagai rintangan menghantam keteguhan hati mereka, malah membuat hati mereka semakin terpaut.
"Sabar ya, tenang... aku akan usahakan segala cara buat kita, terutama buat kebahagiaan kamu!" lelaki itu mengusap lembut pipi Mentari.
Gadis itu tersenyum menyandarkan kepalanya pada Pundak Dafa yang sedang serius menyetir.
Dafa mengecup kening Mentari yang menyandar di pundaknya.
"Cara apa yang bisa buat mereka memberikan restunya!" otaknya terus berpikir.
Mobil itu semakin melesat menyusuri jalan tol menuju tempat Dafa akan mengikuti turnamen.
"Sun... sayang, bangun ... kita sarapan dulu yuk, kamu belum makan kan?" tanyanya setelah Mentari terbangun dari tidurnya.
"Huum... aku belum sarapan, lapar..." cengirnya lucu.
Dafa mengusak rambut Mentari sambil tertawa, lalu mengajaknya turun untuk sarapan.
*
*
Di rumah Ayah Gunawan.
"Mbok, tolong bangunin Chaca biar sarapan!" Ucap lelaki paruh baya itu saat duduk di meja makan namun anak gadis satu-satunya belum terlihat hadir.
"Baik, pa!" lalu art bertubuh gempal itu menaiki anak tangga menuju kamar Mentari.
"Neng... neng, di suruh sarapan sama Bapak!"
"Neng, mbok masuk ya?" ketika tak ada jawaban dari dalam.
Kamar dalam keadaan gelap, lalu Mbok Tini membuka tirai agar cahaya masuk, dia tercengang saat mendapati kamar itu rapi tak berpenghuni, lalu dia memeriksa kamar mandi pun sama anak gadis sang majikan tidak ada di mana-mana.
Dia menuruni anak tangga dengan tergopoh-gopoh, panik entah kenapa feeling dia mengatakan anak gadis yang sudah dia asuh sedari lahir itu kabur.
"Pak, maaf. Neng Chaca nggak ada di kamarnya." lapornya panik.
Ayah Gunawan, Langit dan Bintang menatap mbok Tini dengan mata yang membola kaget.
"Cari di rumah ini , mungkin dia lagi di suatu ruangan!" Titah Ayah Gunawan.
Semua orang berpencar mencari Chaca.
Saat ke arah kolam renang di taman belakang, Mang Unang yang tengah membersihkan kolam renang, Menatap heran melihat Bintang Memanggil nama adiknya.
"Kenapa mas?" tanyanya.
"Lihat Chaca nggak mang?" tanya Bintang.
__ADS_1
Keningnya mengerut, menyadari seperti nya dia akan mendapat masalah.
"Bukannya tadi neng Chaca joging ya? tadi pagi perginya masih gelap!" terangnya.
"Pake baju olahraga kok mas, pake topi juga!" tambahnya lagi.
"Bawa tas nggak mang?" Dafa mengintrogasi.
"Iya, tas kecil tapi!" jawab Mang Unang.
Bintang tertegun mendengar penjelasan Mang Unang, lalu bergegas ke dalam rumah menceriakan pada sang Ayah.
"Biarin dulu, mungkin memang benar dia joging. Kalo sampai siang nggak pulang, baru kita bergerak!" Ujar Ayah Lalu melenggang masuk ke dalam kamar.
"Sarapan dulu yah!" Langit mengingatkan.
"Ayah istirahat dulu seketika kepala ayah pusing!" Tolak Ayah Gunawan.
Langit dan Bintang saling bertatapan,
"Feeling gue kabur dia sama si bang*sat." Bintang berkata.
"Kita lihat nanti siang!" Langit sambil berlari ke arah meja makan.
*
*
Kini Mentari sedang memperhatikan Dafa yang sedang melakukan briefing dengan para tim dan teknisi nya. Lelaki itu gagah dengan Baju balapnya. Sesekali Dafa melihat ke arahnya dan melemparkan senyum.
"Kamu jadi umbrella girl aku ya!" pintanya.
"Hah... nggak ah , aku malu!" tolaknya.
"CK... nanti kalo sama cewek lain kamu ngambek!" cibirnya.
"Ya... mau ya?" ajaknya.
Mentari sedikit berpikir, lalu mengangguk malu.
"Tapi nggak usah ganti baju kan?" tanyanya dia takut dalam bayangan nya seorang umbrella girl selaku memakai pakaian yg terbuka.
"Ya nggak lah, nanti kan aku bilang kalau kamu pacar aku, nanti di kasih Name tag sebagai tim!" jelasnya.
Mentari hanya ber oh ria.
"Yuk... aku kenalin sama yang lainnya,!" tangannya menggenggam tangan mungil itu.
"Ada kak Rijal juga?" tanyanya.
"Hahaha iya lah, dia kan manager aku!" jawab Dafa.
Dafa mengenakan mentari pada semua orang di tim maupun orang-orang yang dia kenal.
Mentari merasakan Hatinya senang sekaligus bangga. Di perlakukan sedemikian rupa, lelaki ini lelaki yang di sebut oleh keluarganya bukan lelaki baik nyatanya dia lah yang membuat hatinya selalu bahagia membuat hatinya menyenangkan dan selalu memberikan warna baru dalam hidupnya.
"Tak akan menyesal aku perjuangkan cinta kita!" ucap Mentari dalam hatinya sambil sesekali tersenyum pada Dafa.
Balapan pun akan segera di mulai, Dafa menarik Mentari ke sisi ruangan tertutup tumpukan ban.
"Mau ngapain ke sini?"Mentari mencebik kesal.
"Minta tenaga biar imun aku naik dan semangat aku full Sun!" Rengeknya.
Mentari tau Dafa akan meminta sesuatu darinya.
"Cup... ini? Ucapnya setelah mengecup bibir Dafa singkat.
"Ck... lamaan dikit Sun, nggak kenyang!" rengeknya lagi.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya itu, Dafa menahan tengkuk Mentari, sebelah tangan nya lagi mere*mat pinggang sang kekasih.
Kecupan itu saling berbalas, saling mengecap berbagi saliva, berbagi rasa kasih dan cinta yang membuncah antara keduanya.
"Udah..." Mentari mendorong dada Dafa.
Dafa mendengus kesal karena belum puas.
"Nanti kalo kamu menang, aku kasih bonus!" bisik Mentari sambil berlalu dari ruangan sempit penuh ban itu.
"Asikk..." Dafa berteriak sambil berlari mengejar sang kekasih.
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
terimakasih banyak yang sudah mampir, dan baca. semoga suka, 🙏🙏😘😘 jangan lupa jejak like dan komen ya 😘😘
sehat dan bahagia selalu untuk kita semua ❤️