
🌸🌸🌸
Dafa dan Mentari tengah duduk berhadapan, mereka tengah makan malam hanya dengan telur dadar namun terasa nikmat dan romantis.
Kesederhanaan tak seburuk perkiraan mereka berdua, Keduanya terbiasa bergelimang harta dan di paksa harus menghadapi ujian hidup berumah tangga sedikit membuat oleng apa yang mereka pijak.
"Sun...
" Iya?" Mentari yang sedang mengunyah nasi yang bercampur telur dadar bercabai itu, seketika mendongak dan menghentikan gerakan mengunyah nya.
"Aku masukin lamaran magang di firma hukum. Kamu do'a in aku ya, semoga bisa di Terima." Dafa menatap Mentari dengan lembut intonasinya pun sudah kembali enak di dengar. Tanpa nada ketus atau dingin lagi. Kembali seperti Dafa yang dulu.
"Amin... semoga semua lancar." Mentari menengadahkan tangannya seraya mengaminkan semua ucapan Dafa.
"Tapi... " Ucapan Dafa terhenti terlihat ragu.
" Apa?"
"Kalau aku udah mulai kerja di sana, kamu berhenti kerja ya! aku nggak mau kamu kerja dalam keadaan hamil seperti ini." Dafa menggenggam tangan Mentari yang kembali akan memegang sendok.
Mentari tak menjawab, dia baru saja memulai pekerjaan ini, yang sepertinya akan sangat menyenangkan, pikirnya.
"Sun... " Dafa membuyarkan lamunannya
"Tapi, Mas. pekerjaan ini fleksibel dan seru. Aku cuma duduk di meja kasir. nggak capek kok, lagian ownernya baik banget." Mentari memelas.
"Nggak, sekali aku bilang nggak ya nggak boleh." ucap Dafa tak mau terbantahkan.
"Iya... belum mulai kan?" Tanya Mentari.
"Iya, nanti kau dapet gaji kamu berhenti ya! janji?"
"Iya... iya, Mas." Jawabnya sedikit kesal
Mereka kembali meneruskan makan malam nya.
*
*
Malam semakin larut, Mereka kembali masuk ke dalam kamar setelah Mentari dan Dafa membereskan apa yang berantakan.
"Sun, mulai besok aku kerja di cafe Rijal. Kalau kamu nyari aku, aku ada di sana ya! mulai dari jam 7 malem sampai jam 11 atau jam 12 malem mungkin." Mereka kini tengah menyandar di Kepala ranjang.
"Kerja apa? bukannya mau di firma hukum? inget keadaan kaki, Mas." Mentari mendongak menatap wajah Dafa yang juga tengah memandangnya.
"Iya, lumayan buat tambah-tambah biaya dia." Dafa mengusap perut Mentari yang membulat kecil.
"Aku nggak mau kamu terlalu memforsir tenaga kamu yang belum pulih benar." wanita hamil itu terlihat cemas.
__ADS_1
"Kita baik-baik aja, Dia kuat dan sepertinya akan sekuat ayahnya, jadi jangan terlalu menghawatirkan kami."
Mentari tak bisa membayangkan suaminya itu akan sangat sibuk, belum lagi fokusnya ke skripsi yang memang menyita waktu nya cukup banyak.
"Sun, aku ingin kamu menggantungkan semua beban di pundak aku, aku suami kamu. aku ingin menjadi tempat kamu bermanja dan menyediakan semua kebutuhan kamu dan anak-anak kita kedepannya." Dafa menjelaskan keinginannya yang ingin menjadi seorang suami yang bisa di andalkan.
"Rumah tangga itu harus saling berbagi, suka dan kesedihan harus kita tanggung bersama, Mas."
"Itu rumah tangga orang lain kali, aku nggak mau. Aku mau nanggung kamu sendiri, itu harga diri aku. Biarin aku berjuang demi kalian.
"Kamu bakal capek banget, antara skripsi, kerja di firma itu dan kerja di cafe kak Rijal. Waktu buat aku kapan?" Mentari sedikit merajuk agar Dafa luluh sikap egois nya.
"Ada lah, pasti ada waktu untuk kamu." Seringai mesum kembali di bibirnya.
Mentari mendengus kesal, Dafa susah untuk di bantah, dan sepertinya dia harus mengalah untuk sekarang, tapi kedepannya tidak ada yang tau.
"Iya, aku nurut semua keputusan kamu, dimana kamu minta aku resign aku lakuin." Mentari asal berucap, walaupun hati kecilnya merasa ingin terus bisa membantu suaminya itu.
"Gitu dong..." Dafa menundukkan kepalanya ke perut Mentari mencium dan menempelkan telinganya di perut itu.
"Apa... kamu kangen Ayah, nak? Apa mau ayah jenguk lagi?" Dia seolah berbicara dengan cabang bayi nya yang bahkan masih sebesar ujung kuku.
Mentari memukul lengannya, "Modus kamu mah, Mas." Katanya sambil terkekeh geli.
"Asli, dia pengen aku jenguk." Dafa kembali mengelus perut istrinya itu, kepalanya mendongak dengan sebuah seringai mesum seperti biasa.
Wanita hamil di depannya itu mendelik jengah.
"Ya, udah sekarang nggak. Tapi subuh aku nggak janji ya! Aku sebulan lebih loh Sun, kamu nggak kasian?" Dafa mengiba dengan nada bicaranya di buat menyedihkan.
"Kamu kan sakit, Mas. Masa iya anu nggak libur?"
"Kan kaki yang sakit, tongkat kasti sehat wal afiat masih kekar seperti biasa. Apalagi pagi aduh keras sempurna, kamu suka pasti."
"Stoooppp... ngomong apa sih? nggak jelas."
"Iya... iya ya udah, bumil cantik tidur ya. Istirahat besok kita kerja keras. eh aku aja deh yang keras, kamu empuk menul seperti biasa."
Satu cubitan mencapit sempurna dari jemarinya di pinggang Dafa.
Lelaki itu hanya meringis sambil tertawa.
Dafa membenarkan posisinya dan mereka tidur dengan nyenyak saling berpelukan berbagi kehangatan.
🌸
❤
🌸
__ADS_1
Sebulan berlalu...
Pasangan suami istri itu sibuk, apalagi Dafa hampir tiap malam pulang larut malam.
Dafa sudah mulai bekerja di firma hukum, dan langsung mendapatkan klien besar.
"Sun, aku udah dapet bayaran dari kasus perusahaan yang kemarin, Uang nya lumayan.
Sesuai janji aku minta kamu resign ya!" Dafa mengutarakan perjanjian yang sudah meraka sepakati.
"Tanggung Mas, kita belum di posisi aman, biarin aku masih kerja ya!" Mentari memohon.
"Tapi Sun, minggu kemarin kamu sempat sakit dan kata dokter kamu kecapean. Aku cuma cemas aja setiap hari melepas kamu kerja." Dafa kembali membujuk.
Sebenarnya Dafa tidak hanya menghawatirkan kondisi istri dan sang jabang bayi. Namun beberapa kali dia memergoki istrinya itu tengah berduaan dengan seorang pria, walaupun Mentari menyebutkan bahwa lelaki itu Beni sang asisten ownernya.
Namun rasa cemburu kerap kali merasuki otak-nya, bahkan dua kali mereka bertengkar hanya karena Mentari di antar oleh Beni atau Mentari terciduk sedang bercanda ria dengan Beni.
"Sun..."
"Sebulan lagi ya? lagian di rumah juga aku kesepian, kamu pulang tengah malem terus." Mentari menundukkan wajahnya, menatap ikan-ikan yang berenang kesana kemari di kolam kecil di depan mereka.
"Ck... terserah, padahal kamu udah janji, Sun." Dafa mengelus paha Mentari.
Mentari tersenyum tipis, sebuah ide licik melintas di kepalanya.
"Ya... sebulan lagi, sampai kamu benar-benar terlihat hasil dan merasa yakin kerja di firma itu. Sekarang kan belum terlihat kamu baru seminggu." Mentari mengelus paha atas Dafa, dia melirik sekilas ke arah wajah Dafa di samping nya.
Laki itu tengah mendongakkan kepalanya sambil terpejam, jakun nya terlihat naik turun dan mulutnya sedikit terbuka.
"Kena... nggak jadi marah kan? " Mentari terkirim geli merasa berhasil mengalihkan amarah suaminya itu hingga berbelok ke arah naf*su.
Mentari melepaskan tangannya dari paha Dafa yang hanya menggunakan celana jersey bola.
"Sun... terusin!" Dafa menarik tangan Mentari namun tidak dia letakkan di paha namun ke arah si tongkat yang mulai mengetat menggeliat bangun.
"Apa?" Mentari sedikit tertawa.
"Agh... kamu berani mancing-mancing, harus sampai tuntas." Dafa terus menggerakkan tangan Mentari yang masih menempel di tongkatnya yang sedang bersiap-siap.
Sebelah tangannya sudah menarik pinggang sang istri dan Kembali bibir yang seolah ber magnet itu menyatu, saling menghisap dan mengecap. Lidah pun bersilat salto di dalam sana.
Mentari yang niat awal hanya mengalihkan amarah Dafa, malah hanyut dalam permainannya sendiri.
"Euh... di kamar yuk!" Dafa bangun dan menarik Mentari, jalannya yang sudah hampir pulih hanya menyisakan langkah sedikit pincang tak serta membuatnya cuti berkreasi ke gua, dia malah semakin sering dengan alasan menjenguk si buah hati.
Kamar pun tertutup, dan suara-suara aneh yang membuat merinding saling bersahutan di dalam sana. Tidak sampai 20 menit, mereka kembali hening dan tak lama suara dengkuran menggantikan suara absurd.
Bersambung ❤❤
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komentar nya😘😘
sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤