
❤️❤️❤️
Seminggu sudah sejak Tari mengambil barang-barang nya dari rumah sang ayah.
Mentari melewati hari-harinya dengan banyak melamun.
Dafa beberapa kali memergokinya tengah menangis di malam hari.
"Sun... kamu nggak ke kampus?" Dafa bertanya saat mereka sedang sarapan.
Melihat sang istri masih menggunakan tank top dan celana tidur panjang.
"Aku nggak enak badan!" Ucapnya lemas sambil meminum teh panas.
"Kamu sakit?" Dafa merangsek memegang kening Mentari.
"Nggak apa-apa, cuma badan aku lemes aja. Biasa kalo abis datang bulan suka gini darah rendah." jelasnya.
Dafa mengangguk.
"Mau ikut ke sirkuit?"Dafa mengusap wajah itu yang memang sedikit pucat.
"Heumm, mau kalo boleh!" Mentari antusias.
"Boleh lah, aku nggak ngajak kamu kalau kamu ada kelas, ya kalau kamu free gini kan aku mau di temenin istri. Lagian cuma uji coba ban baru." ujarnya.
"Ya udah sana ganti baju, nggak usah cantik-cantik amat, nanti anak-anak tim liatin kamu!" titahnya.
Mentari hanya memutar matanya jengah, sambil berjalan masuk.
Dia keluar dengan dress berwarna abu-abu di balut cardigan hitam.
Dafa tak berkedip menatap kecantikan natural dari sang istri. Dirinya sengaja mengajak Mentari, untuk sedikit menghibur dari rasa sedihnya yang dia rasakan setelah keluar dari rumah sang ayah.
"Yuk..." Dafa merentangkan tangannya agar di gandeng Mentari.
Mereka pun keluar dari apartemen dengan bergandengan tangan dan senyum Mentari terus menghiasi wajah cantiknya dengan candaan receh sang suami.
*
*
Sesampainya di sirkuit, Dafa segera melakukan meeting dan mendengarkan para tim teknisi memberikan pengarahan.
Sesekali Dafa menatap sang istri yang sedang duduk di pojok ruangan. Mentari tampak semakin pucat, di mobil pun tadi dirinya hanya tiduran dan hanya sesekali menjawab pertanyaan dari Dafa.
"Sayang... kamu nggak apa-apa?" Dafa yang sudah menggenakan baju balapnya menghampiri sang istri.
Mentari mengangguk dan tersenyum padanya.
"Buruan beresin, aku pengen makan ayam bakar , enak kayaknya!" pintanya.
Dafa tersenyum mengusap puncak kepala sang istri.
"kayak yang ngidam aja, padahal belum open house buat si tongkat kasti!" godanya.
"Mas... ishh, ini di mana coba? banyak orang!" Gerutu nya kesal.
Dafa terbahak sambil melenggang kembali ke para tim nya yang sudah siap dengan motor yang akan dia uji coba.
Mentari kembali memijat pelipisnya yang pusing. "Aduh, semoga kuat. Kenapa pusing banget!" gumamnya.
*
*
Sore hari mereka sudah pulang menuju apartemen, rencana awal yang akan makan ayam bakar gagal. Mentari merengek ingin pulang ke apartemen karena katanya dia ingin segera tidur di ranjang mereka.
"Mas...
Mentari limbung berpegangan pada pintu mobil yang baru saja dia buka.
Dafa langsung berlari memutari mobil ke arah Mentari.
"Udah aku bilang kita ke dokter, kamu makin pucat...
"Sun...
__ADS_1
Dafa belum selesai bicara tubuh sang istri sudah terjatuh lemas.
"Sun..." Dafa panik terus memanggil Mentari yang tak sadarkan diri di kursi penumpang. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Oh... sayang, harusnya aku nggak ngajakin kamu, padahal udah keliatan kamu pucat banget tadi!" dia terus merutuki dirinya sendiri.
Sesampainya di UGD salah satu rumah sakit terdekat dari apartemen nya. Dafa keluar dari mobil dengan memangku sang istri.
"Tolong... tolong... istri saya pingsan."
teriaknya.
Penanganan langsung Mentari dapatkan.
Dafa terus gelisah menunggu di balik pintu ruangan di mana istrinya sedang di periksa.
Seorang dokter pria paruh baya keluar, dan Dafa langsung menghampiri.
"Bagaimana istri saya dok?" Tanya nya panik.
"Istri anda mengalami darah rendah, dan lambung nya sedikit bermasalah, seperti nya makan nya kurang teratur." beliau menjelaskan.
"Apa akhir-akhir ini istri anda memikirkan sesuatu? saya lihat seperti ada yang mengganggu pikirannya." tambahnya lagi.
Dafa hanya diam terpaku, jelas saja. Istrinya itu sedang dalam fase terpuruk.
"Mungkin istri anda butuh istirahat dua atau tiga hari di sini!" Ucap sang dokter membuyarkan lamunan Dafa.
"Oh, iya dok. Tidak apa-apa, lakukan yang terbaik!" jawabnya.
Dokter itu pun berlalu meninggalkan Dafa yang masih mematung di ambang pintu.
*
*
Dafa masuk ke ruangan itu, melihat gadis yang dia sayangi tengah terbaring lemah.
Dia duduk di bangku yang dia tarik mendekat ke arah tempat tidur.
Dafa pun tertidur di kursi dengan posisi kepala menunduk di kasur dan tangan menggenggam jari jemari sang istri.
*
*
Mentari sudah seminggu kembali ke apartemen nya. Setelah dia dua hari di rawat di rumah sakit. Dia pun sudah memulai kuliah nya kembali.
Dafa begitu sibuk seminggu ini, antara menjaga sang istri di rumah sakit, bolak-balik ke sirkuit, lalu tak lupa kuliah nya karena dia sedang menyusun thesis S2 nya. Mentari juga bangga walaupun sang suami terlihat urakan dan badung dia mementingakan pendidikan nya.
Dan yang membuat tercengang suaminya itu mengambil jurusan hukum, tapi yang dia geluti malah dunia balap dan DJ.
...------...
"Mas..." mentari memanggil sang suami, saat menyadari di meja ruang tv itu,tergeletak kunci mobil dan ponsel milik sang suami.
"Mas... kamu udah pulang?" teriaknya lagi, sambil membuka kulkas mencari buah untuk dia makan.
Mentari masuk dalam kamar sambil memakan buah anggur. Terlihat suaminya itu tidur dengan menyelimuti tubuhnya, ruangan itu pengap sepertinya AC tidak di nyalakan.
Lalu mentari berjalan ke arah balkon lalu dia buka lebar pintu dari kaca itu. Angin sore langsung berhembus masuk menggantikan hawa pengap di dalam kamar itu.
Sebuah rintihan terdengar dari belakang tubuhnya tempat sang suami tengah meringkuk di balik selimut.
"Mas... kamu kenapa?" Mentari mendekati dan naik ke atas ranjang.
"Mas.." mentari membuka sedikit selimut yang menutupi sebagian wajah Dafa.
Hawa panas seketika terasa di telapak tangan Mentari. Dia melihat wajah pucat dan berkeringat tak lupa mulut yang menggeletuk tanda Dafa menggigil.
"Kamu demam, mas!" ucapnya dia langsung berlari ke arah dapur membawa sebuah wadah dan dia isi dengan air keran, lalu kembali ke kamar membuka lemari mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk mengompres.
Dia menemukan sebuah handuk kecil, ada sulaman nama di ujungnya "Dafa" Mentari tersenyum, suaminya seperti anak kecil mempunyai barang yang di beri nama.
Dengan telaten dia mengurus sang suami, menyuapi bubur yang dia pesan online, lalu memberikan obat penurun panas.
"Kita ke dokter yuk?" ajaknya pada Dafa.
__ADS_1
"Nggak, ah. Aku cuma kecapean doang!" tolaknya.
Mentari paham, memang suaminya itu akhir-akhir ini kegiatannya padat sekali.
"Mas,.aku kaget kirain kamu nggak bisa sakit." Dia menahan tawanya.
"Ck... aku manusia Sun." Dafa menggerutu dengan suara lemahnya.
Dan tawa Mentari pun pecah.
"Kirain setan encim!" mentari menutup mulutnya yang tertawa.
"Sun... issshhh suami sakit malah di ledekkin!" Dafa merengek.
"Iya...iya, ughhh suami aku yang tercinta. Istirahat ya!" godanya sambil menarik selimut menutupi tubuh Dafa.
"Sini... temenin aku, tapi jangan deket-deket nanti takut malah ke tularan panas aku!" ujarnya menepuk bagian kasur yang kosong.
"Aku mau mandi dulu deh, Mas!" tolaknya.
Karena memang ini sudah hampir magrib.
Tapi setelah magrib Mentari malah mencuci baju, sambil membereskan apartemen yang pagi tadi belum sempat dia bereskan karena ada kelas pagi.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Mentari pun membersihkan diri lalu naik ke atas ranjang mereka.
Memastikan keadaan Dafa, "Syukur, panasnya udah reda!" gumamnya. Lalu merebahkan tubuh si sebelah sang suami.
*
*
Mentari merasakan sesak, badannya susah di gerakkan.
"Ehhhmmm..." dia menggeliatkan tubuhnya yang tertimpa sebagian tubuh sang suami.
Bukannya melepaskan pelukannya, Dafa malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Sun... saos udah abis kan?" Tanyanya dengan suara parau menahan sesuatu yg selalu kekar di pagi hari.
"Masih ada...
"Hah... lama banget!" Dafa berucap kaget.
"Masih ada, di atas meja makan!" jawab Mentari dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Bukan saos itu, saos ini!" Dafa menyentuh bagian bawah di mana letak gua sang istri berada.
"Ehhhmmm... udah dua Minggu selesai, kan siklusnya cuma seminggu, aku pernah bilang kan? dasar pikun. Aku juga udah sholat kamu nggak liat emang?" Mentari menjawab dengan lemah.
Dafa menatap Mentari kesal.
"Kenapa nggak bilang?" tanyanya kesal.
"Kamu nggak nanya." Mentari kembali menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Sun... aku mau, aku tahan nggak berani minta takut kamu belum selesai terus takut kamu masih sedih, nanti kayak aku maksa anu lagi!" rengeknya
Tidak ada pergerakan dari sang istri, dia membalikkan tubuh itu.
"Astaga... princess kebo.."gerutunya melihat sang istri kembali terlelap.
"Dua Minggu aku terbuang sia-sia, kenapa nggak ada yg ngasih tau kalo datang bulan cuma seminggu. argghhh..." Dafa merutuki ketidak Tahuan nya.
"Kalo semalem si adik dua kali traveling kali dua Minggu berapa puluh kali tuh? akhh kenyang nih, ahh kenapa aku nggak nanya sama dia ya!" dia masih menggerutu.
itti: semalem dua kali di kali dua Minggu🙄🙄
patah tuh pinggang kamu mas😩 mentari
ngesot ntar lututnya kopong😂😂😂
Bersambung ❤️❤️❤️
makasih yang udah mampir 🙏🙏, like komen nya aku ngemis nih 🙈🙈😘😘, terus komen nya tentang cerita ya, tapi bebas Deng apa aja asal kalian komen🤭😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kalian ❤️🤲
__ADS_1