Kisah Mentari

Kisah Mentari
pekerjaan


__ADS_3

💔💔💔


Gue lelaki nggak berguna, gumam Dafa merutuki keadaannya. Dia kini sedang termenung dengan segala kecemasan yang memenuhi setiap inci otaknya.


klek... suara pintu terbuka.


Dafa melihat Rijal memapah tubuh Mentari yang terlihat lemah.


"Gimana?" dia berusaha bangun dari posisi berbaring nya. Namun nyatanya dia tidak mampu bergerak lebih lagi, semua nya terasa sakit dan ngilu. Dafa meringis kesakitan.


"Udah, nggak usah bangun, Mas. Aku nggak apa-apa." Mentari berkata sambil duduk di pinggir ranjang yang di tiduri Dafa.


"Efek awal kehamilan, memang seperti ini, kata dokter normal, hanya darah ku sedikit rendah." Jelasnya.


"Dia, udah lima minggu, Mas." Ucapnya dengan wajah berbinar mengelus perutnya yang kini tengah tumbuh calon malaikat kecilnya.


Dafa terdiam, dia merasa tidak berguna untuk istrinya itu. Dia bingung dan kecewa dengan dirinya sendiri.


*


*


Seminggu berlalu kini Dafa di perbolehkan pulang, Mentari masih mengalami masa-masa payahnya di awal kehamilan.


Dafa sedang duduk di kursi roda di taman belakang melihat para ikan yang sedang berenang kesana kemari.


Mentari yang memang baru pulang kuliah sebelum menjemput suaminya di rumah sakit, kini tengah membuat masakan untuk makan malam, Walaupun sesekali dia berlari untuk memuntahkan isi perutnya.


"Nggak usah maksain, beli aja." Ujar dafa yang melewati dapur saat melihat Mentari sedang muntah di wastafel.


"Aku nggak kuat nyium bau bawang, mual. " Rengeknya.


"Ya udah, beli aja!" Dafa melengos begitu saja melewati dapur dengan Kursi roda otomatis nya.


"Biar hemat, Mas. Kalo beli terus, sayang uangnya." Gumamnya sambil melap mulutnya.


Dafa menghentikan kursi rodanya.


Perkataan Mentari yang tak seberapa nyatanya sangat menyinggung hatinya, yang memang sedang sangat sensitif.


"Oh, Iya. Aku lupa, belum bisa nyari nafkah. Dan nggak tau sampai kapan aku seperti ini." ucapnya merendah.


Mentari yang mendengar ucapan Dafa seketika terdiam.


"Bukan gitu, Mas." Dia segera mendekati sang suami.


"Memang, kenyataannya seperti itu. Aku lelaki yang tidak berguna. aku juga tau diri, dokter saja tidak tau kapan aku bisa kembali seperti dulu!" Dafa berucap dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


"Kok, kamu jadi gini sih Mas?" Mentari ikut terpancing emosi. Suaminya itu sudah benar-benar membuat kesabaran nya habis.


Semenjak dia tau dirinya hamil, suaminya jadi jarang berbicara, sekalinya bicara dengan nada ketus atau sen takkan, selalu merasa rendah dan hilang kepercayaan dirinya. Walaupun Mentari selalu berusaha membangun lagi benteng kepercayaan nya seperti semula. Namun nyatanya Dafa tetap seperti orang lain.


Rasa lelah dan lemas yang di rasakan mentari, seolah semakin memperburuk emosinya.


"Kenapa sih kamu? semenjak aku bilang hamil, kamu berubah? kamu nggak mau sama bayi ini?" Suara Mentari bergetar, dadanya sesak dan air mata mengalir begitu saja.


"Siapa yang bilang?" Gertaknya.


"Nggak ada, tapi aku ngerasanya gitu. Kamu nggak menginginkan bayi ini." Tak kalah keras suaranya.


"Dia datang di waktu yang nggak tepat, di saat aku dalam keadaan nggak berguna seperti ini." Dafa menatapnya dengan tatapan penuh emosi.


"Enak aja, Dia udah berusia lima minggu waktu kamu ngalamin musibah itu. Jadi. dia udah hadir jauh sebelum kamu kecelakaan. Seenaknya bilang gitu." Lalu dia berlalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.


Dafa menghembuskan nafasnya yang akhir-akhir ini selalu menyesakkan dadanya.


*

__ADS_1


*


Sebulan berlalu. . .


Mentari terlihat bingung, tabungan dia sudah mulai menipis. Hadiah kejuaraan dafa pun sudah habis di pakai biaya kuliah keduanya dan membeli kembali sebuah mobil karena Dafa tidak mungkin menggunakan motor untuk waktu yang cukup lama,


Mereka sekarang seperti orang asing di rumah itu, Mentari dan Dafa memang seperti menjaga jarak.


Jika Dafa mendekat maka Mentari pergi, begitu pun sebaliknya.


Kini Dafa sudah terlepas dari kursi roda hanya menggunakan tongkat yang setia menemaninya melangkah.


Kata dokter akan cukup lama masa pemulihan nya.


Itu yang terakhir mereka dengar ketika melakukan check up rutin.


Dafa semakin minder, dia sudah tidak bisa bekerja sebagai petarung boxing apalagi pembalap karena tangan dan kakinya tidak kuat bertumpu lama mengendarai motor tunggangan kesayangannya itu.


Hari-hari nya dia habiskan hanya membaca buku-buku mata kuliah nya, dan mengerjakan tugas-tugas kuliah secara online, terkadang juga harus pergi ke kampus di antar Rijal.


*


*


Mentari sedang duduk di cafe tak jauh dari kampus nya, dia sedang bertukar cerita dengan Cindy. Menanyakan soal supermarket sang ayah di mana cindy bekerja di sana.


Dia termenung saat mengetahui bahwa 40% saham kepemilikan usaha sang ayah itu, sudah di beli oleh seorang wanita pengusaha sukses.


"Katanya sih buat biaya berobat bokap lu!" Terang Cindy dengan hati merasa bersalah.


Mentari tersenyum tapi matanya mulai berkaca-kaca. "Memang, semua kesalahan berasal dari aku, Cin." ucapnya lirih


Cindy mengusap tangan sahabatnya itu yang sedang menggenggam cangkir kopi.


"Masih mual muntah?" Cindy bertanya mengalihkan pembicaraan agar Mentari tak terlalu larut dalam kesedihan.


"Dih... jangan nikmat di bikin nya doang dong, nikmati juga prosesnya." Cindy dengan gamblang nya berucap.


Mentari hanya menggelengkan kepala nya sembari melempar tisu yang dia gulung ke arah wajah sahabat nya itu.


Mereka terbahak, Mentari mengusap lembut perut itu, di mana anaknya sedang tumbuh.


Cindy ikut mengelusnya, "ih... udah sedikit nonjol ya?" Cindy histeris, dia antusias dan gemas sendiri.


"Bapaknya pasti demen banget ngelus-ngelus, nggak ndusel-ndusel dong?" Tanyanya lagi-lagi dengan bahasa yang menjurus.


"Apa sih?" Mentari merona malu, padahal dia dan Dafa sedang dalam sebuah hubungan yang tidak sehat saling menjauh tanpa komunikasi. Bukan kah suatu hubungan yang harmonis adalah sebuah benteng komunikasi yang di junjung tinggi?


"Eh... gue duluan ya! bentar lagi gue masuk jam kerja." Cindy bangkit dan pipi mereka saling menempel saat dirinya pamit.


Mentari masih termenung, memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan uang. Karena uang yang ada di tabungan akan habis mungkin dua sampai tiga bulan lagi. Belum dirinya akan menghadapi masa kehamilan yang masih lama, juga kelahiran buang pasti akan membutuhkan banyak biaya. batinnya menerawang.


Helaan nafas dengan berat dia hembuskan, saat pendengaran nya menangkap percakapan. Mentari pun menoleh ke arah suara itu.


Seorang wanita paruh baya namun cantik dan modis sedang memarahi seorang karyawan nya.


"Pokoknya saya nggak mau tau, kamu harus dapat pengganti kasir secepatnya." titahnya dengan mimik wajah kesal.


Sebuah ide muncul di benak Mentari, bagaimana jika dia saja yang melamar menjadi pengganti kasir itu.


Lalu sesaat dia mengusap perutnya yang sudah mulai sedikit menonjol di usianya yang menginjak dua bulan setengah.


"Kita harus berjuang, kamu ijinin ibu buat kerja bantuin ayah ya?" Ucapnya sambil tersenyum.


Semenjak dia melihat calon bayinya di monitor untuk pertama kalinya, walaupun hanya sebuah titik kecil. Entah kenapa dia ingin sekali di panggil dengan sebutan "Ibu" Kata-kata itu selalu berhasil membuat hatinya hangat dan bangga.


Mentari pun bangkit dari duduknya, berjalan memberanikan diri menghampiri wanita yang sedang mengomel itu.

__ADS_1


"Permisi... Maaf Bu, saya menyela." katanya sambil mengangguk sopan


"Iya? ada apa? ada yang bisa saya bantu?" Ucap si ibu itu.


"Maaf, saya lancang mendengar pembicaraan ibu tadi, soal pengganti untuk kasir!" Mentari kembali berucap.


"Bolehkah saya melamar untuk posisi kasir yang kosong itu?" Mentari menatap takut akan wajah jutek si ibu yang dia kira sebagai pemilik kafe itu.


"Kamu pengangguran?" tanyanya tegas.


Mentari meremat tasnya yang dia pegang.


"Saya mahasiswi bu, saya sedang membutuhkan biaya. siapa tau posisi ini memang rejeki saya." Ucapnya masih menunduk tak berani menatap wajah si ibu jutek itu.


Pemilik kafe itu memandang Mentari dari atas sampai bawah. "Semua bermerek, nggak mungkin dia anak yang biasa saja. Pasti keluarga berada." batinnya menebak.


"Ikut, keruangan saya!" Lalu dia berjalan dengan elegan dan angkuh ke sebuah ruangan di pojok cafe itu.


"Silahkan duduk!" Titahnya


Mentari pun duduk. Dan mereka pun saling bertukar pandangan.


"Saya kira, kamu bukan gadis biasa! di lihat dari apa yang melekat di tubuh kamu. Saya tau brand yang kamu gunakan bukan yang ecek-ecek. Tas kamu lebih dari dua puluh juta kan? terus harga celana jins kamu itu seharga gaji di sini selama sebulan. Apa nggak salah kamu mau melamar di sini sebagai kasir?" tanyanya menelisik.


Mentari terdiam, dia memang terbiasa dengan brand tertentu itu sudah dari dulu, masih di tanggung sang Ayah bahkan setelah menikah dengan Dafa. Dia masih mencintai Brand itu. Walaupun mahal tapi Mentari jarang sekali berbelanja jika belum benar-benar membutuhkan nya. Jadi bukan tipe yang tiap saat harus membeli. Dia bisa mengerem ***** belanjanya. Bahkan seringnya ayah nya lah yang membelikan nya.


"Bagaimana? nggak akan nyesel? di sini gajinya UMR. Kalau waktu saya kasih kompensasi deh buat kamu karena kamu masih pelajar." Ucapnya sekarang agak melembut nada bicaranya.


"Saya mau bu!" Mentari meyakinkan.


"Tapi maaf, sebelumnya. Saya.. . saya sedang mengandung!" Mentari menunduk takut tapi bagaimana lagi dia harus memberi tahu keadaanya.


"Hah... kamu hamil? di luar... Si ibu tak berani melanjutkan kalimat nya.


" Nggak bu, saya sudah menikah. Tapi suami saya terkena musibah dan saya tidak bisa membantu ya."


Terangnya. Air mata jatuh, bukan maksud mengemis rasa kasihan. Tapi memang benar keadaan ini menyesakkan untuknya.


"Musibah apa?" Kini wanita yang tadi terlihat jutek angkuh dengan nada bicara keras. Sekarang melunak suaranya pun lembut dan tubuhnya sudah condong mendekati Mentari, jiwa kepo emak-emak langsung keluar.


"Suami saya kecelakaan bu, sekarang kakinya patah. Masih terapi sih bu, cuma saya menggantungkan hidup dari nafkah dia seorang pembalap motor, dan kini dia tidak mungkin kembali ke arena balap dalam waktu dekat. Sementara saya sedang hamil dan pasti akan membutuhkan biaya besar." Mentari mencurahkan isi hati dan kepalanya.


Ibu itu sedikit berpikir dan tersenyum pasti.


"Ok, kamu saya Terima. Mulai besok kamu kerja di sini ya. Untuk jadwalnya kamu bisa bicarakan dengan Beni asisten saya yang mengurus segalanya di sini. Tapi dia sedang keluar, kamu besok ke sini pagi bisa nggak? biar jadwal kerja kamu menyesuaikan dengan jadwal kuliah kamu." Tawarnya.


Mentari mengangguk senang, dia mengusap air matanya yang masih tersisa jejaknya di pipi.


"Baik bu, terimakasih sekali lagi, besok saya langsung ke sini pagi-pagi." Katanya dengan semangat.


"Nggak usah pagi-pagi, ini kafe bukanya jam 10! enjoy aja ya inget sama kandungan kamu." Si ibu itu terkekeh.


"Oh iya kamu bisa memanggil saya Bu Nina." Titahnya.


Mentari kembali mengangguk antusias dan mencium punggung tanganku wanita itu sebelum dia pamit.


*


*


"Gimana reaksi Mas Dafa? Ah... semoga dia mengerti!" Gumamnya di dalam taksi. Tapi sebagian hatinya takut dan sebagian lagi senang bukan main.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih 🙏 semoga suka🥰, jangan lupa like komennya 💋❤😘


sehat dan bahagia selalu ❤❤❤💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2