
❤️
❤️
"Mas...
Mentari keluar dari kamar setelah hampir dua jam suaminya itu meninggalkan nya keluar dari kamar.
Dafa tidak menjawab, dia sibuk dengan stik PS di tangannya.
Mentari tau dan mengerti suaminya kesal.
Lalu dia berjalan menuju dapur membuat susu coklat hangat.
Dia duduk di sebelah sang suami, yang masih fokus bermain game.
"Mas... mau susu?" tanyanya.
Dasar si otak mesum, Dafa langsung menoleh.
"Nggak ah, kirain susu yang lain!" Jawabnya ketus.
Mentari membuang wajahnya sebal saat mendengar kata-kata ambigu sang suami.
"Astaga... otaknya harus di vacum terus di pel, biar bersih." Gerutunya dalam hati.
Mentari masih asik menyeruput susu coklat yang dia pegang, sambil bermain ponsel.
"Ganti baju!" Dafa mengeluarkan suara nya.
Mentari mengerutkan dahinya, "Kenapa?" tanyanya heran.
"Mulai sekarang aku nggak suka warna merah, luntur kemana-mana!" Ucapnya dengan ketus.
"Dih... nyalahin baju, ya emang itu siklus bulanan aku!" Mentari kini ikut menaikan nada suaranya karena merasa terpancing emosi.
"Jadi, kamu tau? kalau itu akan keluar?" Dafa menghentikan aktivitas game nya dan membalikan tubuhnya menghadap sang istri.
"Tau, udah kerasa nggak enak dari kemaren lusa, tapi aku nggak tau bakal keluarnya barusan!" Jujurnya.
"Ya... terus malem kenapa kamu nolak aku? mungkin aku nggak akan semenyedihkan ini." Gerutu Dafa.
Mentari tak menjawab, dia kesal. Masa hanya karena itu aja seperti dunia akan kiamat.
Dia belum tau kalau buat seorang lelaki itu sangat merugikan. Apalagi Dafa sang suami yang belum sempat mencicipi surga dunia miliknya.
"Sun..." Dafa menepuk paha Mentari.
"Apa...?" jawabnya dengan nada marah.
"Kenapa kamu yang jadi marah?" Dafa merasa terpancing emosi.
Mentari menyimpan gelas susu nya di meja dengan sedikit menghentak dan langsung berjalan menuju kamar.
"Sun..." Dafa berteriak.
Lalu masuk ke dalam kamar mengikuti istrinya.
"Kenapa sih, cuma perkara gini. Bisa buat kamu uring-uringan, tahan sebentar nggak bisa?" Mentari mengambil sebuah kaos dan sebuah celana tidur pendek.
"Kamu bilang perkara "cuma" ini nggak se sepele yang kamu kira, buat lelaki menahan hasrat itu nggak gampang." protesnya kesal.
Dafa terus mengekor sang istri dari mulai Mentari mengambil baju di lemari sampai dia masuk ke kamar mandi, untuk mengganti baju kurang bahan yang jadi bahan pelampiasan kesal sang suami.
"Ya terus, aku harus apa?" mentari langsung berbaring dan masuk ke dalam selimut.
"Sun... biasain kalo kita lagi ada yg di bahas selesaikan bukan malah menghidar."Dafa ikut naik ke atas tempat tidur mereka.
Mentari tak menanggapi, dia memejamkan mata dan menulikan pendengaran nya.
"Ngapain bahas masalah kayak gini. Terus salah aku kalo si merah dateng!" gerutunya dalam hati.
Dafa mendengus kesal lalu berlalu ke kamar mandi.
Tak berapa lama dia kembali dari kamar mandi, ikut merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri.
"Sun... curhat dong...
ucapnya pada sang istri, walaupun tidak mendapat respon.
__ADS_1
"Sun... tau nggak aku nahan si adik segimana kerasnya. Kalo aku mau, aku bisa aja maksa sama kamu waktu malem, malah sebelum kita sah. Tapi aku menghargai kamu bukan karena kamu istri dan orang yang aku cinta. Tapi aku menghargai kamu sebagai partner in my life."
"Aku berusaha untuk nggak egois, coba kamu tanya deh, ada nggak suami yang bisa kamu jeda seenaknya aja, ada aja gangguan. kepala atas bawah rasanya mau pecah, pengen aku teriak-teriak. Tapi buat apa?"
"Kata kamu aku mesum! iya emang aku mesum aku nggak bisa nahan kalo deket kamu." kekehnya
"Tau nggak, tadi di sirkuit aku nggak fokus latihan, bahkan mekanik ada yang marah sama aku gara-gara aku nggak tanggepin dia. Terus tadi di kampus, masa aku di lempar pulpen ama dosen. hehehehe... segila itu bayangan kamu ada di otak aku." Dia tertawa miris.
Mentari yang sebenarnya tidak tertidur mendengar semua keluhan dan curhatan sang suami. Dia merasa bersalah, sebenarnya suaminya itu bukannya egois itu memang sudah menjadi hak nya meminta itu semua.
"I love you... Sun, partner in my life." Bisik Dafa sambil mengeratkan pelukannya pada sang istri.
Mentari menitikkan air mata, saat mendengar semua keluh kesah sang suami.
Lalu dia berbalik dan merangsek masuk kepelukan sang suami.
"Maafin aku Mas, yang nggak ngertiin kamu!" ucapnya masih dalam dekapan Dafa.
"Shhttt... bukan nggak ngerti, tapi belum ngerti." Dafa mengecup kening itu.
"Tidur udah malem..." Perintahnya sambil tetap mengeratkan pelukannya pada sang istri.
*
*
Pagi hari...
"ishhhhh.... makin hari, lu makin kagak ada akhlak, bangunnnn mulu." rutuknya pada sang adik yang kembali kekar.
Mentari bergerak dari tidurnya bagian pahanya kembali menggesek ke sang adik yang sedang mempertunjukkan ototnya yang kekar.
Dafa menahan nafasnya, tenggorokannya tercekat menahan si adik yang mencari rumah untuk pulang.
"Ehhhmmm..." sang istri si princess kebo sekarang menggeliat masuk ke ceruk lehernya.
"Ahhhh.... kuat nggak.. kuat nggak..." batinnya
Ya nggak lah, dia langsung Berbalik menghadap sang istri, di kecupinya bibir, leher itu tak lupa dia memijit bulatan sintal ber- choco chips itu.
"Mas..." Mentari mengerjap mendapati perlakuan dari sang suami.
Lalu melanjutkan kembali aktivitas nya.
"Aku... aku kan nggak bisa," Mentari mende*sah dan mere*mat rambut Dafa yang tengah mengu*lum choco chips miliknya.
Dafa mendongakkan wajahnya, "Bisa.. ada seribu cara buat si adik muntah-muntah, aku nggak kuat nahan nya udah berat, pegel juga."
Jawabnya jujur.
Kembali ke aktivitas yang tadi, sekarang dia membuka bagian bawahnya. mengeluarkan si tongkat kasti.
"Kenapa di keluarin?" Tanya mentari dengan wajah yang merona melihat kembali benda itu.
"Bantuin aku , Sun!" Rengeknya dengan suara mengiba.
"Gimana?" Mentari bangkit membenahi kaosnya namun malah Dafa tarik hingga terlepas dari tubuhnya.
Mentari mengingat tutorial yang kemarin sore dia lihat.
"Malu-maluin nih yakin!" Gumamnya.
Dafa menyeringai saat sang istri menunduk di hadapannya.
"Aghhh... "Dia mende*sah nikmat saat merasakan sang adik kecil nan kekar itu masuk ke gua versi KW.
"Oh... Sun... enak!" Ucapnya parau.
Dafa menggenggam rambut panjang Mentari yang tergerai tak karuan oleh aktivitas nya mengu*Lum permen berbentuk jamur kuncup itu.
"Ahhh... Sun, lebih cepat..." Ucapnya sambil mendongakkan kepalanya ke atas menikmati permainan sang istri.
"Kok, berhenti!" Raut wajahnya kecewa.
"Pengen muntah..." Ucap mentari polos.
"Belum, sedikit lagi..." terangnya.
"Aku, yang pengen muntah, ke sodok sikat gigi aja pengen muntah, ini tongkat kasti." Ucapnya kesal.
__ADS_1
Dafa menahan senyumnya.
"Nanggung, bentar lagi . Please Sun. my princess ku..." Mohonnya merayu sang istri agar meneruskan kegiatan yang membuat matanya buka tutup saking menikmatinya.
Mentari memutar bola matanya saat di rayu sang suami.
"Selesai nggak selesai satu menit ya." Ancamnya.
"Iya, buruan. Ntar keburu tidur lagi!" Dafa langsung mengarahkan kepala sang istri pada tongkat kasti alias jamur kuncup alias belut listrik miliknya.
"Ahhh... ya, terus sayang.." Racaunya.
"Berisik banget sih!" gerutu Mentari dalam hatinya.
Tangan Dafa yang bermain menggapai bagian tubuh sang istri yang dapat dia jangkau, mengelus mere*mat, dan terakhir dia mendapatkan choco chips kesukaannya.
"Ehmm..."Mentari melenguh saat choco chips nya Dafa mainkan.
Saat akan protes sesuatu di dalam mulutnya menyembur.
Matanya membola langsung seketika bangun dari posisi nya.
Dia lepehkan cairan asing yang terdapat di mulutnya.
Dafa sedang menikmati pelepasan nya.
Memegang adiknya yang sedang muntah-muntah itu, namun sial muntah pertama nya mentari yang merasakannya.
"cuih...cuih... Mas..." jeritnya sambil melepehkan cairan kental dengan bau khas itu.
Dafa yang masih sibuk mengatur nafas hanya menyeringai.
"Maaf sayang, nggak ketahan muntahnya, saking enaknya." ucapnya tanpa dosa.
"Astaga... Mas, mana bau nya aneh lagi."Mentari memukuli suaminya yang kelepasan menyemburkan ****** ***** itu.
Mentari berlari masuk ke kamar mandi, dia langsung berkumur-kumur terus gosok gigi juga berkumur dengan cairan kumur-kumur.
Dia keluar mendapati sang suami, terlentang dengan senyuman puas.
"Idih... sok senyum-senyum." Dia masih kesal.
"Kamu kenapa?"Dafa menggoda.
"Pake nanya, kenapa Mas keluarin cairan itu di mulut aku!" Gerutunya sambil naik ke tempat tidur.
"Nggak sengaja, saking..." Senyum nya menggoda.
"Namanya ****** *****... bukan cairan itu!" Akhirnya gelak tawa pecah juga dari mulut Dafa.
"Dih... dia kesenengan."
"Awas, aku mau ganti sprei nya."Mentari menarik tangan Dafa agar lelaki itu bangun.
"Lagian pake di muntahin segala, orang lain pada di Telen!" ujarnya bangga.
"Ih... ogah, ntar nggak mau ah. Kamu suruh gitu lagi!" Mentari berkata sambil membuka sprei.
"Ya nggak lah, nanti kan ke gua asli yang barusan gua KW!" Dafa tergelak masuk ke kamar mandi.
Mentari masih tetap menggerutu kesal,
Dafa tersenyum melihat sang istri terus menggerutu.
"Makasih my sunshine, my princess ku!" Teriaknya sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Mentari juga ikut tersenyum mendengar ucapan sang suami. Sebenarnya dia juga ikhlas aja sih, cuma kaget dan malu aja.
Ini juga tugas istri, pikirnya sambil tersenyum.
Lalu dia pergi ke tempat mesin cuci membawa sprei dan baju kotor di keranjang cucian di dekat pintu kamar mandi.
Bersambung ❤️❤️❤️
terimakasih yang masih setia mampir untuk baca🙏🙏😘😘, semoga suka ya🤗🤗
Like komenya jangan lupa😘😘
Like komen sangat berarti 👍👍
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤️