
❤️❤️❤️
"Sun...
Dafa kembali berbisik di telinga belakang Mentari, posisinya sekarang memeluk tubuh langsing sang istri, tubuh mereka menyatu bak puzzle yang menemukan pasangannya.
Dafa memegang rambut sang istri, dia kumpulkan dan singkapkan ke atas kepala sang istr lalu dia kecupi. leher jenjang nan putih beraroma buah bercampur bunga yang menjadi khas dari istrinya itu menyeruak di hidung mancungnya.
"Ahh... baru nyium bau nya aja lu dah bangun!" ucapnya pada sang adik.
Dafa mengusap pelan sang adik, namun bukan kembali tidur si adik malah semakin kekar.
"Sun... ayo, si adik nih udah nggak kuat!" ucapnya lagi berbisik.
"Ehmmm..." Mentari hanya bergumam dalam tidurnya.
Dafa yang sudah tak kuat langsung menggerayangi sang istri.
"Ehmmm..." Mentari melenguh saat pucuk choco chips nya Dafa mainkan.
"Bangun..." Dafa berbisik sambil mengendusi lehernya.
"Mas...aw... Sakit!" Mentari menahan tangan Dafa yang terus memainkan choco chips nya.
"Aku, mau..." suara parau nya sudah menunjukkan dia menahan sesuatu.
Dafa membalikkan tubuh istrinya yang tadinya menyamping menjadi terlentang dan dia langsung mengungkung nya.
Menelusuri tiap jengkal tubuh yang belum dan tak akan puas dia nikmati. Dafa mengecup wajah Istrinya bertubi-tubi, antara sayang, cinta dan gemas menjadi satu.
Saat si adik semakin kekar dan Dafa hendak membawa sang adik bertraveling ke gua indah dan sangat penasaran ingin dia masuki.
tiba-tiba Mentari melonjak kaget ketika dia melihat jam digital besar di tembok belakang suaminya itu.
"Mas... aku terlambat, aku mau ketemu dosen pembimbing buat revisi tugas modul!" Mentari menggeliatkan badannya yang masih tertimpa tubuh Dafa.
"Astaga.... Sun! terus kapan?" Dafa menggeram kesal.
"Please, Mas. Maaf... ini aku lupa bener!" Mentari masih berusaha bangun.
"Terus kapan?" Dafa masih menahan tubuhnya.
"Nanti, pulang kuliah janji!" ujarnya mengiba.
Dafa melepaskan kungkungannya. Dia mengenakan kembali kaosnya dan melenggang keluar hanya mengenakan boxer ketatnya.
Dafa mengambil susu dingin dia tenggak kasar, lalu berjalan ke arah balkon di mana di sana terdapat treadmill. Dia menumpahkan seluruh tenaganya pada treadmill itu.
"Aku pergi, Mas." Mentari menghampiri dan mencium punggung tangan Dafa yang sedang mengepal karena gerakan lari nya.
Dafa tak menjawab dia masih di liputi rasa kesal dan dongkol yang begitu besar. Bagaimana tidak lagi -lagi dia gagal untuk menggagahi sang istri.
Mentari tak menghiraukannya yang ada di pikirannya sekarang, Bagaimana caranya agar dia cepat bertemu dosennya yang jarang terlihat di kampus.
*
*
Dafa keluar kamar mandi setelah berlari di treadmill hampir satu jam, dia menumpahkan tenaganya agar si adik yang tegang ikut melemas.
Setelah memakai baju, dia langsung menyambar kunci mobil dan langsung keluar dari apartemen.
Dia yang biasa ramah pada para pegawai apartemen itu, kini mimik mukanya masam. Matanya mendelik sinis tanpa senyum ramah menjurus slengean.
*
*
Tiba di cafe milik Rijal.
"Kenapa lu?" Tanya Rijal yang menghampiri sang sahabat yang datang dengan langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang biasa dia duduki.
"Sialllll... gue lagi dongkol!" Jawabnya setengah berteriak.
"Kenapa?" tanya nya lagi.
"Udah tiga Minggu lebih gue jadi suami dia , gue belum gagahin dia! ada aja halangan, masa udah nikah gue masih main gesek doang atau main sama Tante bio." ujarnya kesal.
Rijal yang mendengar curhatan sang sahabat tertawa terpingkal-pingkal hingga rahangnya terasa hampir copot.
"Si anjir.... lu malah ledekin gue!" Dafa melempar bantal sofa yang dia sandari.
__ADS_1
"Kayak kutukan buat lu, dulu lu niatnya mau mainin dia kan? tapi lu malah di bikin klepek-klepek sama si Mentari. Dan sekarang lu di bikin se penasaran gini sama dia." Ledeknya masih dengan tertawa terpingkal-pingkal.
"Resek... lu anjir!" Dengus Dafa kasar.
Dafa memakan makanan yang sahabatnya suguhkan.
"Laper bos?" tukasnya.
Dafa tak menjawab ledekan sahabatnya itu, dia menyantap roti bakar di depannya.
Rijal sibuk dengan ponselnya sambil sesekali memandang sahabat nya yang sedang sibuk makan.
"Daf... ada pertandingan tinju kalau menang lu bisa lawan si Coky musuh bebuyutan lu!" Ucapnya ragu bagaimana pun sekarang sahabat nya itu sudah memiliki istri.
Untuk beberapa pasangan melihat pasangannya bertarung dan di akhiri dengan wajah yang di pastikan babak belur, adalah hal yang sangat menakutkan, tapi tak sedikit juga pasangan yang mendukung karena tak ayal bayaran pertandingan tinju memang besar.
"Wahhh... asli ini? gue ikut!" Ucap Dafa antusias.
"Bilang dulu sama bini lu!" Usul Rijal.
Dafa sedikit berpikir namun sesaat kemudian dia tampak yakin.
"Urusan cari nafkah, dia nggak usah ikut campur lah!" yakin nya.
"Nggak bisa gitu, nanti kalo lu pulang babak belur gimana? dia pasti kaget, lu kan badung!" Rijal mengingatkan.
"Gimana ntar aja lah, yang penting sekarang gue ikut, pengen lawan si Coky dari dulu!" Dafa mengeratkan kepalan tangannya.
"Lu semangat banget sih? kalo mau lawan dia." Rijal mengintrogasi.
"Dia tuh songong, gede di omong doang ucapannya nggak bisa di pegang. kayak tete tetangga gede tapi nggak bisa lu pegang!" Dafa tertawa terbahak-bahak akan ucapannya sendiri.
"Dasar, sinting lu! mentang-mentang sekarang dah punya sendiri!" Rijal mencibir.
Dafa tersenyum sombong, "dih punya gue pas di genggaman, lembut dan ahhh bikin mata merem melek deh ko megang!" ucapnya memeragakan tangannya yang memegang bulatan padat yang lembut kesukaan nya itu.
Di tersadar dan langsung melirik sang sahabat yang terdiam menyaksikan dia menerangkan salah satu bagian tubuh sang istri yang menjadi bagian favoritnya.
"Heh... jangan lu bayangin, itu punya gue! enak aja lu mau ikut bayangin!" Dafa sedikit meninju lengan Rijal.
"Ehhh... anjir, gua mah pendengar yang baik, lu kan lagi nerangin ya gue nyimak lah!" Kelakarnya membela diri.
"Cari pacar sonoh, biar bisa ngerasain!" ucapnya sok menjadi orang yang paling berpengalaman saja.
"Lah, lu juga dah nikah ampir sebulan belum unboxing. Pake sok ngajarin!" Rijal menahan tawanya saat melihat raut wajah sahabat nya itu sudah berubah galak.
"Ok...ok... sorry. Semoga nanti malem berhasil." Dia menepuk bahu Dafa.
Dafa memutar bola matanya sebal.
"Kapan pertandingan nya?" Dafa mengalihkan pembicaraan yang menyudutkan nya.
"Lusa, soalnya lawan yang seharusnya bertanding masuk penjara, biasa narkoba!" Jelas Rijal.
"Ok, gue ikut. Ya udah gue ke sanggar buat latihan pemanasan!" Dafa bangkit dari duduknya.
"Thanks ya, sarapan nya!" ucapnya di sertai cengiran khasnya.
Rijal mengacungkan jempolnya seraya membereskan piring dan gelas bekas Sahabat nya makan tadi.
*
*
Di kampus...
"Mas Dafa ngambek ..." Tika mendudukkan tubuhnya di bangku taman kampus saat mata kuliah mereka sudah selesai.
"Kenapa?" tanya Cindy yang ikut duduk dengan satu bungkus cemilan di tangannya.
Dia membukanya dan menyomot isinya sebelum dia sodorkan pada Mentari.
"Kita belum juga... itu!" Mentari mengadukan kedua telunjuknya.
"What?" Cindy kaget tak percaya.
"Berisik!" Mentari membekap mulut Cindy sahabat ceriwisnya.
"Kok bisa? Lu nggak nahan-nahan kan?" selidiknya dengan suara berbisik.
"Dulu pernah ampir mau, tapi susah masuk. Aku stop dia sambil nangis, eh pas besoknya mau malah keluar palang merah. Terus aku sakit, terus gantian dia yang sakit. Tadi pagi mau, ishh aku kelupaan mau ketemu Bu Indri buat revisi tugas." jawabnya lesu.
__ADS_1
"Kasian, pasti gedeg banget tuh laki lu!" Cindy menutup mulutnya hendak tertawa.
"Ya udah... buruan pulang, perawatan se kinclong mungkin." usulnya setelah mendengarkan cerita dari Mentari.
Mentari berpikir "Sakit tau ... aduh takut!" ucapnya cemas membayangkan semua.
"Alah... pasti ntar lu ketagihan!" Cindy meledek.
Mentari membuang wajahnya mendengar ucapan sang sahabat. Tapi pandangannya malah menatap lurus tepat pada gedung kelas Bintang.
"Kangen kak Bintang!" ucapnya lirih.
"Eh, di market ada Abang nggak?" tanya nya antusias.
Cindy hanya menggeleng pelan, tau sahabat nya itu sangat merindukan keluarganya.
"Pasti mereka masih nemenin Ayah berobat!" Mentari menundukkan pandangan sesaat setelah kelopak matanya dia rasa penuh dengan air mata yang siap meluncur.
Tetesan demi tetesan pun jatuh di atas pangkuannya.
Cindy langsung memeluknya.
"Sabar, kamu udah coba hubungi mereka?" Cindy masih mengelus pundak Mentari.
Mentari menggeleng, "nomor aku di blokir Abang sama kak Bintang, Kalo no ayah udah lama nggak aktif. Aku serasa bener-bener di jauhi mereka!" Mentari kembali terisak.
"Mereka butuh waktu, pasti kedepannya kalian akan kembali bersama kayak dulu!" Cindy menghibur.
"Dah... sana, persiapan malam panjang!" Dia mendorong tubuh itu agar semangat. mencoba mengalihkan kesedihan Mentari.
Mentari bangkit dari duduknya setelah dapat dorongan dari Cindy.
"Iya... gue pulang." Mentari berjalan lunglai sambil dirinya memesan taksi online untuk pulang ke apartemen milik suaminya itu.
*
*
Dafa pulang ke rumah tepat pukul tujuh malam, tubuhnya serasa remuk karena latihan boxing yang sudah agak lama tidak dia ikuti.
Dia masuk ke dalam apartemen , matanya melihat ke atas meja makan kecil di ujung dapur, ada ayam goreng, tahu dan sambal.
Dia tersenyum, lagi-lagi istri instan si princess kebo kesayangannya berusaha melayaninya. Hanya kurang satu pelayanan yang sudah dia tunggu-tunggu dan selalu gagal. Pelayanan di tempat tidur. Eh... ralat mau di sofa mau di karpet bebas sebenarnya yang penting dia berhasil membawa sang adik traveling ke gua indah yang sangat dia dambakan.
"Sun..." dia masuk ke dalam kamar.
Tampaknya sang istri tengah berada di kamar mandi terdengar suara air mengalir.
Dafa mengernyitkan matanya saat melihat layar laptop sang istri yang menampilkan video tentang bercocok tanam. Di judulnya ada tulisan "Bermacam-macam gaya yang di sukai oleh lelaki" Dafa menutup mulutnya menahan tawa sekaligus rasa bahagia yang menggelitik di dadanya.
"Debaran ini... ishhh belum juga udah deg-degan!" Ucapnya.
Lalu sebuah bunyi handle pintu terdengar di putar.
Dafa langsung bergegas keluar dari kamarnya dan duduk di sofa ruang tv.
"Sun..." teriaknya memanggil.
"Mas... udah pulang dari tadi?" Mentari berlari menghampiri suara sang suami.
Dafa memandang takjub pada apa yang Mentari pakai. "Lingerie berwarna kulit tanpa kimono seperti yang merah" batinnya.
"Kamu ... udah siap sayang?" Dafa menyeringai mesum.
Mentari tersipu malu, lalu terlonjak kaget saat dirinya menyadari tubuhnya hanya memakai baju tipis itu tanpa di tutupi kimono seperti rencana awalnya, karena dia kaget menghampiri panggilan sang suami yang terdengar tiba-tiba.
"Mas..." Mentari menutupi area dada yang sangat terbuka.
Saat dia akan berlari kembali masuk kamar, lengannya di tahan dan di tarik Dafa hingga dia terjerembab di atas sofa.
Dafa langsung mengungkungnya...
"Sekarang harus berhasil... nggak ada ntar sok ntar sok... nggak ada penolakan dan alasan, pokoknya harus berhasil!" Bisiknya sambil mengecupi telinga nya.
"Ehmm..." belum apa-apa Lenguhan indah Mentari sudah terdengar di telinga Dafa.
"Ahh... Sun, Yuk..." Dafa mengedipkan matanya.
Mentari mengangguk kecil wajahnya memanas dan pasti berubah warna seperti udang rebus.
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
makasih yang masih mau mampir baca🙏 semoga suka😘😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤️