Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sebuah surat.


__ADS_3

💔💔💔


"Sun.."


Dafa menyambut sang istri yang baru selesai mandi.


Di kecup nya pipi berlesung itu, "Ughhh... sayangnya aku!" ucapnya gemas.


Mereka pun duduk di meja makan mini di apartemen itu.


"Aku bikin nasi goreng spesial buat istriku tercinta." ujarnya bangga.


"Pake saos nggak?" ledek Mentari.


Dafa mendelikkan wajah sebalnya. Walaupun sudah masuk gua KW dan si adik kekar sudah muntah, rasanya belum puas dan masih dongkol dengan kata-kata yang berbau merah.


"Nggak usah di bahas, nanti aku suruh kamu yang aneh-aneh lagi, mau?" ancamnya


"ogah!" ketus sang istri.


Mereka pun makan dengan tenang, sambil sesekali melihat ke arah TV, tiba-tiba ponsel Mentari berbunyi. Alangkah senangnya Mentari saat tahu penelepon nya adalah Langit.


"Hallo, Bang... Apa kabar?" ucapnya nya dengan wajah berbinar.


"Bisa ke rumah sebentar." Langit tidak menjawab pertanyaan Mentari, malah langsung memberi titah pada adik bungsunya itu.


"Iya, Bang. Sekarang Chaca ke rumah." jawabnya lemah. Dia merasa ada yang aneh dari abangnya itu, memang abangnya dingin dan jutek tapi tidak sedingin ini apalagi dia adalah adik kesayangannya.


Tanpa dia tahu Dafa juga memiliki feeling kurang baik, "Pasti ada apa-apa ini!" Batin Dafa menduga.


"Mas..."


"Iya, aku anter." Jawab Dafa sebelum Sang istri melanjutakan perkataannya.


Mentari pun tersenyum dan mereka melanjutkan kembali sarapannya.


*


*


Mereka sampai di depan rumah besar Ayah Gunawan, rumah penuh kenangan untuk Mentari dari lahir dia habiskan waktu di rumah besar ini.


Mbok Tini sudah menyambut di teras rumah.


"Mbok... Chaca kangen!" Mentari menghambur ke pelukan orang yang sudah merawatnya dari kecil itu.


Lalu Dafa ikut menyalami wanita bertubuh gemuk itu.


"Mbok juga kangen ,neng Chaca sehat? cakep gini suaminya." Dia membeo.


Mentari hanya menjawab dengan anggukan.


"Pada kemana mbok, kok sepi?" Mentari bertanya heran.


"Ayah, udah sembuh kan?"tanyanya menyelidik.


Pandangan Dafa masih menyapu ke segala penjuru rumah ayah mertuanya itu.


"Rumah yang hangat," gumamnya saat otaknya mencoba membandingkan dengan rumah besar milik Papanya.


"Bapak di bawa berobat keluar negeri,Neng!" Terang mbok Tini.


"A..apa? kenapa nggak ada yang ngasih tau aku!" Jeritnya, hatinya kecewa di keadaan sang ayah yang seperti ini tidak ada toleransi sekali untuk dirinya.


Dafa menghampiri sang istri saat mendengar Mentari histeris, dia merangkul pundak yang mulai bergetar itu. Ya Mentari kembali menangis.


"Sabar, si mbok juga nggak tahu. Berangkatnya tadi pagi-pagi sekali, tapi Ayah langsung dari rumah sakit sama Den Bintang, den Langit ngurus keperluan dulu di sini!" Jelasnya.

__ADS_1


"Den langit cuma pesan, kalo neng Chaca kesini di suruh langsung masuk kamar!" Ujar si mbok.


Mentari yang masih terisak langsung menaiki tangga di ikuti Dafa tentunya.


Di bukanya pintu kamar yang selama ini dia tempati.


Pandangan nya langsung mengarah pada dua koper besar di sebelah tempat tidurnya.


"Di suruh beresin barang-barang Neng Chaca yang mau di bawa, itu pesan den Langit tadi sebelum pergi." Ucap mbok Tini di ambang pintu. Wanita tua itu pun mengusap air mata yang menggenang di kelopak matanya.


Mentari limbung, untung Dafa berada tepat di belakangnya.


"Sun..." Bisiknya mencoba menguatkan sang istri.


"Aku... di usir, benar-benar nggak ada harapan mereka mau menerima pernikahan kita..." dia histeris kemudian tangisnya pun pecah.


Dafa langsung memeluk sang istri, membawanya duduk di tempat tidur bernuansa pink itu.


Mbok Tini tidak kuat melihatnya, dia langsung berlalu sambil menahan tangisnya.


Dafa mencoba menenangkan, tapi dalam hatinya dia juga merasa bersalah, ini semua hasil dari semua ambisinya.


"Aku, akan selalu ada di sisi kamu. Aku akan menjaga, dan membuat kamu bahagia." Janjinya sambil terus mengusap punggung Mentari.


"Aku nggak punya keluarga, aku di buang!" ucapnya sambil terisak.


"Maafin aku Sun!" ucapnya lirih, hatinya merasa bersalah dan ikut sakit melihat wanita yang dia cintai harus mengalami ini semua yang di sebabkan olehnya.


Mentari melihat lipatan kertas di atas Koper besar itu. lalu dia berjalan mengambilnya.


dear... Mentari Adikku


Ketika kamu membaca surat ini , mungkin kita semua sudah nggak ada di rumah.


Ayah sakit dan mengharuskannya menjalani operasi pemasangan ring di jantung nya.


Sekalian menenangkan hati dan pikiran ayah.


Maaf bukan bermaksud menjauhi kamu dek, tapi kita memberikan kamu waktu untuk berpikir.


Salah kami di mana?


Mau kami apa?


kenapa kami melakukan itu semua?


Kita semua sayang sama kamu, kita menjaga betul kamu dek, kamu ibarat berlian di rumah ini. Tidak mau ada sedikitpun yang menyakiti atau membuat kamu terluka.


Kamu sebut kita pengekang atau apapun itu.


Percayalah dek, itu semua buat kebaikan kamu.


Kita pergi, maaf nggak ngasih tau kamu.


Tapi rasa kecewa kita masih besar mendominasi.


Tapi Abang percaya akan ada waktu nya kita bisa berkumpul lagi.


Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu sekarang.


kami yang selalu menyayangi kamu dek...


Ayah, Abang, kakak.


Mentari meremat dadanya yang sesak. Sakit seakan sesuatu menusuk-nusuk bongkahan daging yang ada di dalamnya.


Dia meraung-raung menangis kencang.

__ADS_1


Dafa hanya mampu memeluknya, mengecupi puncak kepala sang istri.


Mbok Tini menangis di bawah tangga mendengar tangisan anak majikannya yang begitu dia sayang seperti anak kandungnya sendiri.


"Sakit...".dia memukul-mukul dadanya.


Dafa hanya mengangguk, sungguh hatinya pun pilu dan rasa bersalah menghantui dirinya.


"Aku nggak punya siapa-siapa lagi!" keluhnya.


"Ada aku Sun, kamu selalu bilang sendiri. Terus aku apa? aku akan selalu ada di samping kamu. please jangan buat aku semakin merasa bersalah sama kamu! memang semua salah aku, tapi aku janji bakal buat kamu bahagia aku bakalan tebus semua kesedihan kamu." Dafa menarik tubuh mentari ke dalam dekapannya.


💔


💔


Setelah mereka selesai membereskan dan memasukan barang-barang yang benar-benar Mentari butuhkan.


"Udah cuma segini?" tanya Dafa yang menjinjing satu koper sedang berisikan barang-barang yang istrinya pilih untuk si bawa.


"Iya, biarin semua di sini. Buat jadi kenangan aku masih tetap ada di sini!" ucapnya lemah memeluk boneka kesayangan miliknya.


Sebuah boneka beruang berwarna putih memakai rok bunga-bunga.


"Aku cuma mau bawa pegie." unjuknya mengacungkan boneka itu pada Dafa.


"Pegie?" tanyanya.


"Huum... dulu aku berharap dia bisa hidup, karena aku ingin punya adik perempuan, tapi kata ayah nggak mungkin soalnya bunda udah pergi ninggalin kita!"Terangnya sedih.


Helaan nafas panjang terdengar, Mentari mencoba tersenyum tapi sorot matanya yang sembab memperlihatkan kesedihannya.


"Udah..." Dafa bertanya di ambang pintu.


Mentari masih memandangi kamar yang dia habiskan seumur hidupnya itu.


"Yuk.." balasnya.


Mereka turun ke lantai bawah, di bawah mbok Tini menangis sesenggukan melepas anak majikannya itu.


"Mbok... titip ayah, Abang sama kakak ya. Bilang sama mereka kalo aku sayang banget sama mereka!" Mentari kembali menangis di pelukan mbok Tini.


"Yang sabar ya neng, semoga ini cuma emosi sesaat dari mereka." Ucapnya sambil mengelus-elus punggung Mentari.


"Aku pamit mbok!" Mentari tersenyum melepas pelukannya.


"Den... jagain neng Chaca ya," pintanya pada Dafa.


"Pasti, mbok!" Jawabnya yakin.


Mentari menatap rumah besar itu, di mana hari-harinya di habiskan.


"Aku... di usir!" gumamnya.


"Shhttt... bukan di usir neng, memulai hidup baru!" Mbok Tini kembali memeluknya.


"Kita mulai semua, kita ciptakan bahagia itu. Tunjukkan sama semua, kalau kita bisa bahagia!" Dafa membukakan pintu mobilnya.


Mobil Dafa pun keluar dari pekarangan itu Mentari terus menatap rumah sang ayah.


"Aku, sayang kalian semua!" gumamnya tapi masih dapat Dafa dengar.


Bersambung ❤️❤️❤️


Terimakasih yang sudah mampir 🙏, semoga suka😘🤗, like dan komen aku ngemis nih🙈


terus mau tau deh novel yg kalian suka yang kek gimana? tapi kalo yang buat halu lebay aku nggak bisa nggak dapet feel nya🤗, yg gesrek takut kena semprot, yang sedih bikin nyesek Mulu. jadi aku campurin semua aja ya🤭.

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤️


__ADS_2