
❤❤❤
Setelah hampir satu bulan berlibur, akhirnya Mentari pulang ke tanah air, Bunda pun turut serta. Wanita paruh baya yang memiliki mata sama persis dengan Mentari itu tak bisa menolak permintaan sang putri. Agar menemaninya saat kelahiran nanti.
Butik nya di Australia dia serahkan pada Evan, dia berjanji akan mengunjungi anak angkatnya itu, juga akan ikut membantu persiapan pernikahan Evan beberapa bulan lagi.
Sebuah butik cukup besar dan sudah memiliki beberapa pelanggan dari kalangan artis lokal di sana. Terbukti kan dari mana jiwa designer yang Mentari miliki itu turun dari siapa.
Mereka baru mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
"Abang mana ya, Bun?" Mentari berdiri dengan kepala menoleh ke sana ke mari. Satu cup besar minuman kekinian dan dua buah burger double cheese sudah berada dalam pelukannya.
"Sebentar lagi mungkin, Duduk dulu. Katanya kamu laper. Anak Bunda baru juga di pesawat makan berat, turun udah laper lagi." tangannya langsung menutup mulutnya yang akan tertawa.
"Ishhh... Bunda, aku laper terus. Cucu Bunda nih nyuruh makan mulu." Rengeknya sambil duduk dan membuka bungkusan Burger yang sedari tadi dalam pelukannya.
"Bunda, mau?" Mentari menyodorkan bungkusan burger nya.
"Kamu aja makan, bunda masih kenyang Banget." katanya sambil tersenyum dan kembali menggambar rancangan baju di tab miliknya.
Mentari tersenyum dan kembali menggigit burger nya. Sebuah senyum langsung merekah, sesaat melihat tiga orang lelaki kesayangannya berjalan di kejauhan.
Tangannya pun dia lambaikan, tanpa sepengetahuan Bunda dan Ayahnya , dia dan kakak-kakaknya merencanakan pertemuan ini.
Dengan niat ingin kembali menyatukan kedua orang tuanya yang masih sama-sama saling cinta namun tertutup oleh rasa egois dan gengsi yang menjulang tinggi membentuk tembok di hati keduanya.
"Bun... " Suara Bintang terdengar.
Bunda Rima pun mendongakkan wajahnya ke arah suara.
Matanya terpaku menatap sepasang mata yang sangat dia kenal, dan tak munafik juga sangat dia rindukan.
"Sehat Bun?" Langit menyela.
Langit menyambar telapak tangan wanita yang telah melahirkannya, kemudian mencium punggung tangannya. Anak sulung yang selalu sopan dan manis di matanya.
"Ayah... " Mentari bangkit dan segera berjalan ke. arah Ayah Gunawan yang masih terpaku beberapa langkah darinya.
"Yah... Maafin Chaca." Kemudian dia menabrakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan sangat Ayah.
"Ya ampun, Anak gadis Ayah." Di peluk dan di kecupi puncak kepala gadis kesayangan nya.
"Apa ini?" Tanyanya sambil mengusap perut besar Mentari.
"Cucu cantik Ayah." Dia tersenyum mendongak pada Ayahnya.
Mata mereka memancarkan kasih yang tak akan pernah lekang oleh waktu, Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Dan cinta yang tak pernah pudar adalah cinta orang tua terhadap anaknya.
Mentari merasa lega, saat dia mendengar Abangnya berkata, bahwa Ayah tidak mempermasalahkan keadaan rumah tangga nya kini. Ayah nya lebih legowo. Yang utama sekarang adalah kesehatan putrinya yang akan memberikan nya seorang cucu.
\*
Keheningan kembali melingkupi keluarga yang kembali bertemu.
"Ayah... Bunda... " Panggil Mentari.
"Ya...
Jawab keduanya bersamaan.
Ketiga anak yang sangat menginginkan orang tuanya kembali bersatu, hanya saling pandang dan tersenyum. Kecanggungan itu sungguh lucu dan manis untuk mereka saksikan.
" Cie... "Bintang menggoda pasangan lawas yang baru bertemu itu.
" Apa sih kamu, Bin." sebuah pukulan langsung mendarat di punggung nya hadiah dari sang Bunda.
__ADS_1
"Yuk ... Kita rayakan kepulangan bumil dan Bunda."
Bintang merangkul bahu Bunda nya, sedangkan Mentari masih bergelayut manja di lengan sang Ayah.
\*\*
Mereka kini sampai di rumah Ayah Gunawan di daerah Jakarta, untuk apa? masih dalam mode pelariannya dari Dafa.
Hanya Mentari, Ayah Gunawan dan Bunda Rima yang di rencanakan Langit untuk menempati rumah yang tak terlalu besar itu, tak semegah rumah nya yang di Bandung. Namun terlihat asri dan nyaman untuk di tinggali.
Kedua pasangan itu kini tengah duduk di halaman belakang, dengan hati mereka masing-masing yang sudah di pastikan sedang tegang, di sertai malu tentunya.
"Apa kabar, Yah? eh... Mas." Ralatnya.
Ayah Gunawan menahan senyuman, wajahnya sedikit memanas, dan dadanya seperti ada sesuatu yang menggelitik.
Suasana ini, seperti masa-masa awal mereka berpacaran dulu, rasa malu namun senang yang di rasakan.
"Aku baik, jauh lebih baik saat wanita-wanita ku kembali." Jawab Papa Gunawan dengan jujurnya.
"Emmm... Maaf." Bunda menunduk dan tangannya saling meremat di atas pangkuannya.
"Aku juga, Minta maaf." Ayah Gunawan berkata dengan suara nya yang lembut.
Tangannya terulur menggenggam tangan mungil wanita pujaannya, yang telah memberikan nya tiga orang putra dan putri.
Mata mereka kembali saling menatap, Kemudian sejurus kemudian mereka berbalas senyum.
"Jadi..?"
"Jadi apa?" Ayah menautkan alisnya tak mengerti.
Kekehan kecil keluar dari mulut pria yang baru pulih setelah operasi jantung itu.
"Ya kamu, tetep Bunda anak-anak." Pura-pura tak mengerti.
"Bu-bukan... status kita maksudnya, Ayah... eh Mas sama aku itu...
" Kamu masih istri aku, dan aku masih suami kamu. Masih tetap jadi nyonya di rumah ini." Terangnya.
"Kamu , nggak pernah ucapin talak?"
"Nggak, sampai kapanpun itu tidak akan terjadi."
Ayah mengelus punggung tangan Bunda yang sedang dia genggam.
"Kenapa, beberapa kali aku dateng ke sini malah di usir?"
"Karena kamu datang dengan emosi ingin membawa anak-anak, Bun."
"Aku, Yakin. Kamu bakal kembali pulang cepat atau lambat." Ucapnya lagi.
Obrolan-obralan terus mereka lakukan hingga malam semakin Larut, Tanpa mereka tau ketiga anaknya melihat dan menyimak pembicaraan mereka di balik tirai jendela. Tepat di balik punggung mereka.
"Sweet nya...
" Adem...
"Menenangkan, romantis juga.
Ucap ketiga kakak beradik itu.
__ADS_1
" Yuk, Kita masuk kamar masing-masing. Jangan ganggu." Langit mengajak dia adiknya meninggalkan pasangan yang tengah meluapkan rasa rindu itu.
\*\*\*
Keluarga ini kembali utuh, Bunda dan Ayah kembali bersama, Tak pernah merasa bayangkan kembali tidur di satu kamar, setelah puluhan tahun tidur sendiri. Dan betapa malunya di hati pertama mereka keluar dari kamar beriringan dengan wajah yang berseri-seri dan rambut setengah basah.
Mereka pikir anak-anak nya masih berada di dalam kamar nya, nyatanya semua anak sudah duduk manis di meja makan menunggu kedua orang tuanya.
"Cie... ada pengantin old." Bintang lagi-lagi menggoda orang tuanya itu.
Tak ada yang menjawab namun semua orang di meja makan itu tertawa dan pasangan yang sedang di goda habis-habisan masih menahan senyuman malu nya.
\*
\*
Kini kandungan Mentari semakin Mendekati HPL.
Seisi rumah sudah sering di buat nya kewalahan, oleh kelakuan manjanya. Minggu lalu pun saat Mentari berbelanja melengkapi keperluan bayi mereka, Semua orang harus ikut. Bahkan Langit dan Bintang jauh-jauh dari Bandung hanya untuk ikut memilih barang-barang calon keponakannya itu.
Di sore itu, Mentari sedang memegangi pinggang nya yang sakit dia terus berlatih mengatur nafas sambil berjalan berkeliling di area sekitar perumahan itu.
"Astaga... makin sakit." dia meringis sambil berjalan kembali ke rumahnya.
"Bun... " Mentari memanggil Bunda nya dari arah teras rumah.
"Bunda di dapur, sayang." Saut nya.
Mentari berjalan dengan tertatih memegangi pinggang nya yang sedari beberapa hari terasa begitu sakit, dan sekarang semakin sakit.
"Mau makan?" Bunda yang sedang menghadap kompor hanya menolehkan sedikit kepalanya.
Mentari mengangguk lemah. "Aku laper terus Bun, timbangan badan aku udah naik 17 kg." Mulutnya mencebik matanya sambil memandang keseluruhan tubuhnya.
"Aku, gendut banget. Kaki aku juga udah bengkak! Ah... Badan aku apa mungkin balik lagi?" Dia meringis melihat kaki bawahnya yang bengkak bahkan jari jemari nya sudah menggembung.
"Yang penting sehat. Dulu, Bunda hamil kalian semua ya gitu bengkak. Apalagi waktu hamil pertama Abang langit Bunda naik timbangan ampe 20 kg. Tapi ya sesudah bayi lahir terus kita sering begadang, Surut sendiri tuh lemak." Bunda menjawab memberikan setitik semangat dan mengobati kekalutan Mentari akan badannya yang membesar.
"Semoga ya Bun, aku pengen badan dulu lagi." Seraya mengelus perutnya.
"Bun, ishh... " Dia meringis
"Kenapa? Sakitt?" Tanyanya panik.
"Ishh... Aw... Bunda, Sakit... " Dia semakin tak tahan dan akhirnya histeris.
Ayah Gunawan yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri ke arah jeritan Mentari, Bintang yang baru tiba dari Bandung langsung keluar dari kamar nya dengan cepat menuruni tangga ikut panik mendengar teriakan sang adik.
"Bun... sakit, nggak kuat... " Mentari semakin Meringis
"Bintang, siapin Mobil." Ayahnya menginterupsi.
Bintang berlari menyambar kunci mobil dan langsung menyalakan nya.
"Yah... sakit." Rengeknya saat tubuhnya di bopong menuju mobil. Dan Bunda mengejar dari belakang dengan menenteng tas berisi keperluan Mentari dan calon cucunya, yang sudah di siapkan sejak dia minggu terakhir.
"Mas Dafa.... Anak mu mau lahir... " ucapnya lirih sambil meringis menahan sakit.
**Bersambung ❤❤❤**
**Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰 like komen jangan lupa😘😘**
__ADS_1
**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤**