Kisah Mentari

Kisah Mentari
Anti mainstream


__ADS_3

โคโคโค


Masih di malam sama, masih di tempat gelap juga.


Mentari masih setia mengelus Jamur kuncup suaminya itu. "Ini di mana, Mas. Gelap banget, takut." Rengek nya.


Dafa yang tengah meresapi gelenyar kenikmatan itu, tak menanggapi apa yang istrinya keluhkan.


"Mas," Mentari menghentikan gerakan usap-usap nya.


Dafa membuka matanya, dan menoleh pada istrinya. "Kenapa berhenti? terusin, Sun." Dengan cepat menarik kembali tangan istrinya kembali ke posisi jamur kuncup nya.


"Aku, ngeri." Ucapnya lagi.


"Apa, sih. Sun? takut apa? Ada aku, lagian di bawah sana tadi banyak banget pedagang dan orang-orang nongkrong." Gerutunya gemas tak sabar ingin meneruskan kegiatan yang di hentikan sepihak oleh istrinya, padahal memang istrinya bekerja sendiri.


"Sini deh, kamu naik ke pangkuan aku!" Dafa mengatur seat jok nya, agar lebih menyandar.


Tangannya menarik istrinya naik di atas pangkuannya. Menuntun nya dengan perlahan.


Mentari sekarang telah duduk sempurna di atas paha suaminya itu, dengan terburu-buru Dafa menyerang bibirnya membabi buta, seperti orang yang tidak bertemu berbulan-bulan.


"Mas ... " Mentari mendorong Dafa, saat di rasa nafasnya semakin sesak dan bibirnya terasa perih.


"Aghhh ... apalagi? sebentar lagi ini, Sun!" Kemudian dia mengecupi dada yang sedari tadi mengintip dari balik kancing tunik istrinya itu.


"Duh, udah penuh nih asi nya. Bentar lagi Helen pasti bangun." Mentari mendongak saat Dafa menyapukan lidah hangat nya di puncak coklat muda nya itu. Erangan lolos begitu saja, dari wanita yang tadi mati-matian menolak melanjutkan kegiatan itu, pesona dan sentuhan Dafa tak terelakkan.


"Agggghhh ... Mas, udah."


"Kamu, mau lagi?"


Pake nanya, masa iya udah nanggung gini dia mau enak sendiri. Sungutnya dalam hati.


Namun makian itu, hanya mampu dia ungkapkan dalam hati. Dia hanya mampu mengangguk lemah dengan wajah yang merona malu.


Dafa tertawa sambil menuntun jamurnya agar tertanam sempurna.


Keduanya melenguh tertahan. Dafa meremat pinggang milik istrinya. "Gerak, Sun. Bantu aku." Pintanya masih dengan memejamkan matanya.


Mentari mengalungkan tangannya pada leher dan pundak sang suami. "ehmm ... Mas," dia mele*nguh saat sesuatu mendesak dan membuncah dengan sempurna nya.


Menundukkan wajahnya di pundak sang suami, mengatur nafasnya yang terengah dan rasa nikmat yang mengarah ke lemas.


"Gerak lagi, Sun." Dafa meminta dengan suara parau menahan gair*ah yang terjadi, karena memberi waktu istrinya menikmati pelepasan nya.


"Bentar, ngilu." Mentari berkata dengan kepala masih bersandar di pundak Dafa.


"Buruan, aku nggak tahan ... " Dafa kembali menciumi leher Mentari.


*


*


Mentari kembali menggerakkan tubuhnya, Dafa kembali menikmati setiap gerakan yang istrinya berikan.

__ADS_1


Saat sebuah jeritan Helen sontak menghentikan pergerakan dari Mentari, seketika Mentari terlonjak dan menoleh ke bagian belakang, terlihat Helen tengkurap dan menjerit menangis.


"Sebentar ... " Dafa memohon sambil menahan tubuh Mentari agar jangan dulu melepaskan apa yang sedang dia tanam sekarang.


Dafa gantian bergerak karena dia pun sudah hampir mencapai puncaknya.


Mentari yang panik dengan tangis Helen, dengan sekuat tenaga melepaskan sesuatu yang masih tertanam di tubuh nya.


Dafa hanya menatapnya penuh kekecewaan, saat Mentari bangkit dan mencampakkan nya begitu saja.


Di lihat nya Mentari memunggungi nya sambil memberi Helen asi. Dafa masih menggenggam jamur kuncup nya yang hampir saja mencapai puncaknya, hanya butuh waktu sedikit lagi.


Dia elus-elus sendiri, rasanya menyiksa sekali efek jamu itu. Dia meremat dan menggerakkan jarinya yang tengah bermain solo karir tersebut, mencoba menggapai puncak sendiri.


"Sun," dia masih berusaha mengiba pada istrinya.


"Aku, nggak kuat. Ini gimana?" tanyanya sambil masih berusaha menggerak-gerakkan tangannya yang menggenggam jamur milik nya.


Mentari hanya diam, Helen menatapnya dengan tajam seolah anaknya itu tengah bersungut-sungut karena di campakan sejak tadi.


Ia hanya mampu tersenyum dan mengusap kepala dan pipi Helen yang sedang kembang kempis menghisap makanan utamanya.


*


*


"Agggghhh ... " Dafa mengerang sendiri, sepertinya dia berhasil mencapai puncaknya sendiri.


Mentari hanya memejamkan matanya, dia merasa bersalah namun bingung dengan keadaan yang tengah mereka hadapi.


Tiba-tiba Dafa memukuli stir, Dia memaki-maki dengan menyebut nama Rijal.


Helen yang hampir kembali terlelap seketika melepaskan puncak dada Ibu nya, dan menjerit karena kaget akan teriakan Dafa.


"Kenapa sih, Mas?" Mentari bangun sambil menggendong Helen.


Dafa menoleh ke belakang dengan wajah yang terlihat lemas dan lelah.


"Masa, masih tegak. Sun. Aku udah capek banget, pegel. Astaga ... " Dia mengeluh frustasi.


Mentari mencondongkan tubuhnya ke arah Dafa, melihat wajah lelah suaminya yang menyandarkan kepalanya di jok mobil, keringat sudah membasahi tubuh dan wajahnya, Tangannya sudah lunglai dengan tisu berserakan di sekitarnya. Dan si janur kuncup dengan setia dan sombongnya masih tegak berdiri, seolah dia adalah landmark monas yang selalu tegak dengan kokohnya.


"Kok, bisa. Sih? Kerumah Papa masih lama, Mas? atau nggak kita nyari penginapan. Kamu harus mandi air dingin kayaknya.


" Aku capek, Sun. Mana besok meeting jam delapan di Jakarta lagi, aduh udah ngantuk tapi ini sakit kalo nggak selesai." Keluhnya.


Mentari mengusap keringat yang bercucuran di kening Dafa. " Apa yang bisa aku bantu?" tanyanya.


"Sekali lagi coba, Sun. Mungkin akan agak enak." Mohon nya mengiba.


Istrinya itu terlihat sedikit berpikir, sambil sesekali menatap Helen yang masih mengecap asi nya.


"Sun, ... " Panggilnya.


"Pindah kebelakang, tapi caranya aku sambil ngasih Helen Asi, gimana ya?" tanyanya bingung.

__ADS_1


Dafa dengan segera bergerak pindah ke belakang, setelah istrinya beringsut menggeser tubuhnya.


"Gimana?" masih mencari posisi agar bisa sambil memberi Helen asi.


Dafa segera memposisikan Istrinya itu, "Helen, tidurin!" titahnya.


"Masih, ngegantung." Mentari menatap Dafa kesal.


"Tidurin, jangan sampai lepas puncak dada kamunya." Usulnya.


Mentari seketika mengerutkan alisnya, berpikir dengan apa yang di usulkan suaminya itu.


Dafa, memposisikan tubuh Mentari sedikit menukik dengan Helen di bawah dadanya yang masih menghisap kuat.


Lalu dafa membuka sedikit lebar celah paha Istrinya itu. Dan tanpa aba-aba, Dafa menghujami nya dengan hentakan yang lembut, Mentari memekik tertahan. Demi dua orang sekaligus yang sama-sama butuh dirinya. Batinnya.


Dafa mengerang di belakangnya, dan saat Mentari menengadah kan kepalanya. Pemandangan luar langsung membuatnya panik ....


Dengan sekali gerakan Mentari melepaskan jamur Dafa yang sedang tertancap sempurna.


"Sun ... " Dafa membentak kesal. Saat lagi-lagi kegiatannya di hentikan sepihak.


"Buruan, pergi dari sini. Cepetan ... Ini bukan tempat bagus, Mas." Dia terlihat panik memukuli Dafa agar segera bergerak pindah dan menjalankan kembali mobilnya.


"Kenapa?"


"Pokoknya, jalan dulu. Ke hotel atau ke rumah Papa. Nanti aku pasrah mau kamu apain aja. Asal cepet pergi dari sini."


"Tanggung, Sun. Bentar lagi." Rengeknya


"Dari tadi, aku dengar bentar lagi- bentar lagi, tapi udah dari tadi masih aja berdiri. Kalo nggak secepatnya pergi dari sini, aku biarin jamur kuncup kamu tegak terus biar jadi fosil." Omel nya sambil membenarkan baju nya dan kembali menggendong Helen.


"Kenapa sih? kok tiba-tiba kamu nyuruh pergi!"


"Dari tadi, aku udah bilang. Kenapa tempatnya gini, liat sisi kiri Kamu, Mas." Bentaknya kesal.


"Astaga ... Kuburan." Dafa pun panik menjalankan mobilnya memutar balik lalu menuruni lagi jalan ke arah jalan utama yang tadi mereka lewati.


"Anti mainstream kita, Sun. Keren." Kekehnya setelah mereka menemukan jalan agak ramai kendaraan.


"Keren, sekeren jamu yang kamu minum." Sindir Mentari dengan nada ketus.


Dafa kembali terbahak-bahak, "Untung Villa Papa, tinggal sepuluh menit lagi." Jelasnya.


Mentari membulat kan matanya saat mendengar ucapan Dafa, "apa? udah sedeket itu? tapi kamu malah milih tempat semak-semak, di ketok orang gila, ada pindah tempat malah di kuburan." Dia geram sekali di pukuli nya pundak Dafa dari belakang. Kesal sekali dia, merasa di tipu dan di kerjai suaminya.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ

__ADS_1


__ADS_2