
❤❤❤
Mentari terus meringis dan mengaduh di dalam mobil, Bintang yang yang di intruksikan mengendarai mobil oleh Ayah mengerahkan segala kemampuan nya membawa mobil itu melesat di sore hari. Hectic nya ibu kota di sore hari membuat beberapa kali mobil mereka tertahan kemacetan.
Bintang keluar dari mobil yang sudah diam tertahan macet hampir sepuluh menit, mendengar rengekan dan tangisan sang adik, membuat Kepala nya hampir pecah dan degup jantung semakin kencang. Kecemasan dan kepanikan terjadi di dalam mobil SUV silver itu.
"Mau kemana kamu, Bin?" Bunda berteriak dari bangku belakang masih setia mengelus menenangkan Mentari yang terus meringis kesakitan.
"Kemana dia, Ikutin Yah." Bunda berkata pada sang suami yang masih setia dengan pandangan matanya menatap anak ke dua nya itu.
"Tunggu, sebentar."Lelaki paruh baya itu menurunkan kaca jendela, melihat apa yang di lakukan anaknya itu.
...-----...
"Pak, maaf. Mau minta pengawalan, Adik saya di dalam mobil itu, Mau melahirkan." tunjuknya pada mobil yang berisikan Mentari dan juga Ayah -Bundanya. "Bisa di bantu buka jalan? ke rumah sakit terdekat saja."Ujarnya pada dua orang polisi yang sedang berbincang di dalam pos polisi kecil di persimpangan jalan.
"Oh, Baik. Mas! " Polisi itu segera memakai helm nya dan menaiki motor Dinasnya dengan sirine yang di nyalakan. Sesekali tangannya bergerak mengatur kendaraan dalam kemacetan memang sangat sulit.
Kemacetan di sore hari di kota besar adalah suatu hal wajar, orang-orang yang sudah beraktivitas di luar rumah seharian berlomba-lomba agar secepatnya sampai rumah. Agar dapat segera mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing. Bercengkrama dengan keluarga di rumah melepaskan penat yang seharian.
Bintang pun kembali berlari ke arah mobilnya, yang memang terjepit di antara lautan kendaraan yang tak mau saling mengalah memberi celah satu sama lain.
"Oh, manggil polisi. Buat pengawalan kayaknya."
Ayah berucap sambil kembali melirik ke luar di mana Bintang berlari kembali memasuki mobil.
"Good job." Ayah menepuk pundak putranya itu.
"Ahhhh... Nggak kuat, Ah... Bunda ini apa?" Mentari menunduk merasakan ada sesuatu yang mengaliri kakinya.
"Bunda... ini apa?" Tangisnya semakin keras.
"Astaga... Ketuban nya udah pecah, tenang sayang. tarik nafas... jangan panik." Ucapnya terus menenangkan sang putri.
"Takut... Bundaa, sakit banget. Ya Tuhan aku ingin Mas Dafa di sana bisa ngerasain apa yang aku rasain sekarang." Mentari terus meringis dan menggerutu menyumpahi Dafa.
"Sayang... nggak baik, sabar fokus jangan nangis terua, tenaga kamu malah kebuang sia-sia."
"Tuh udah keliatan plang rumah sakitnya, cha." Bintang berusaha menenangkan adiknya.
Mentari mencoba tenang, memfokuskan pikiran nya. Dia membuang rasa takutnya dan membayangkan sebentar lagi akan bertemu malaikat kecilnya yang sudah dia nantikan kehadirannya.
Mobil melenggang memasuki pelataran rumah sakit menuju lobby Intalasi gawat darurat. Masih dengan kawalan polisi tadi.
__ADS_1
Bintang dan Ayah keluar bersamaan, Ayah memanggil perawat dan Bintang membuka pintu mobil membopong tubuh sang adik.
"Kak... sakit." Rintihnya sambil menerima rangkulan Bintang.
"Sabar, tenang, fokus ke ponakan kakak yang mau keluar." ucapnya menenangkan.
Ayah Gunawan datang sudah dengan seorang perawat yang membawa kursi roda.
Mentari segera di dudukan di kursi roda, dan di dorong ke ruang pemeriksaan. "Bun.. Ayah... " Rengeknya lagi menjulurkan kedua tangan nya pada kedua orang tuanya itu.
Tangan itu pun,menggenggam tangan Ayah dan Bunda nya.
Bintang berlari ke arah polisi yang telah membantunya mengawal hingga bisa menembus kemacetan.
"Ah... pak terimakasih atas bantuan pengawalan nya." Dia mengulurkan tangannya pada polisi bertubuh tinggi itu.
"Sama-sama, Mas. Sudah kewajiban kami mengayomi masyarakat yang membutuhkan."
"Semoga, adik Mas bisa lahiran dengan selamat." Tambahnya lagi.
Polisi itu pun Pamit dan berlalu kembali mengendarai motornya lagi.
Bintang pun kembali masuk ke dalam, menghampiri di mana adiknya berada sambil mengirimi pesan pada Langit mengenai keadaan asik mereka.
*
*
"Si anjir... lu ke cafe gue, cuma numpang ke toilet doang?" ucap Rijal.
"Dah tiga kali lu, keluar masuk toilet." Dia mencibir wajah sahabat nya itu yang sedang meringis mengusap perut nya.
Dafa duduk di sofa sebelah Rijal. Wajah nya mengernyit dan tangannya terus mengusap-usap perut nya.
"Tau dari sore, perut gue mules. Padahal nggak ada makan yang aneh deh.. " Dafa menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dengan wajah sedikit pucat dan keningnya berkeringat sambil sesekali mengernyit menahan sakit.
"Mules? apa sakit melilit?" tanya kembali Rijal.
"Nggak tau, baru kali ini gue ngerasain sakit perut kayak gini."
"Aduh... tuh gini. Sakit tapi nggak melilit, tapi sakit banget." Berlari kembali ke arah kamar mandi.
Rijal hanya bisa tertawa melihat tingkah Dafa yang dia anggap lucu.
__ADS_1
Dafa kembali dari kamar mandi, dan merebahkan tubuhnya dia atas sofa.
"Mungkin, lu grogi besok wisuda. Pulang sana, kayanya lu butuh banyak istirahat." Rijal menyuruh sahabatnya itu pulang.
Dafa bangkit dan menyambar kunci mobilnya, saat akan melangkah pergi.
"Eh, udah ada alamat Mentari waktu dia nge aktifin ponselnya beberapa bulan lalu. Gue lupa mulu mau ngasihin kertas ini." Dia membuka dompetnya dan mengambil secarik kertas dari dalam dompetnya.
Dafa mengambilnya dan membaca, sambil tangannya tak lepas mengusap perutnya.
"Napa lu, baru ngasihin ini sekarang?" Bertanya kesal.
"Dih, di Bilang Lupa." Jawabnya membela diri.
"Gue pulang dah, thanks buat alamat ini." Sambil mengacungkan kertas alamat itu.
"Istirahat lu, biar bisa cepet nyusulin bini lu." Teriak Rijal tak menyadari beberapa orang menoleh dan menatapnya. "Maaf.. " ucapnya canggung.
*
*
Dafa memasuki halaman rumahnya, setiap masuk rumah dia merasa tercekik, dadanya sesak . "Kamu, tunggu aku ya! Sun." Bisiknya lirih.
Memasuki kamarnya, berganti baju dan mencoba merebahkan tubuhnya di jam yang baru menunjukkan pukul delapan.
Hingga pukul giga dini hari, Dafa pun tak bisa tidur. Perutnya semakin sakit. Dafa meraih ponselnya menelepon Lukman dokter sekaligus sahabatnya.
"Hmmm... " Jawab di sebelah sana.
"Luk, gue sakit perut dari semalem, bisa lu dateng?nggak kuat sakit bener. Gue ampe lemes." Suaranya sangat lemah.
Dokter lukman segera mengambil tas dokter nya, tanpa dia mengganti bajunya, hanya celana training dan kaos oblong yang sudah berlubang di beberapa titik di pundaknya.
Dafa menutup sambungan telepon itu, Dia kembali meringis menahan sakit pada perutnya.
Kakinya mengejanya menahan gulungan rasa sakit di perutnya.
"Argghh... Sakit." Dia meringis berguling-guling di atas tempat tidur.
Keringat semakin bercucuran, dia sudah tidak ada tenaga lagi. Rasanya tubuhnya ada sesuatu yang aneh dan membuat rasa sakit itu datang semakin gencar.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Terimakasih nyang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, maaf jika ada typo Semoga dapat di pahami🤭😘😘, like komen nya jangan lupa🥰😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤