
...💞💞💞...
Di lain tempat.
"Kenapa, kamu nolak aku dengan alesan nggak jelas?" Langit berkata sambil mengusak rambut hitam nya.
"Kasih aku alasan jelas!" tambahnya lagi menatap Cindy yang berada di sebelah nya.
"Bukan, maksud aku bukan nolak Abang. Tapi, aku ngerasa nggak pantes buat Abang. Aku yakin Abang bisa dapetin perempuan jauh lebih baik dari aku!" Cindy duduk sambil meremat tas yang berada di pangkuannya.
Langit memejamkan mata menetralisir rasa kecewa dan kesalnya.
"Abang udah cinta kamu dari dulu, bahkan semakin hari kita saling kenal, Abang rasa cinta Abang semakin besar sama kamu!" ucapnya.
Cindy menatap netra hangat itu, lelaki yang di awal dia kenal adalah lelaki jutek dan dingin. Tetapi semakin lama mereka kenal semakin terasa baik, perhatian, tulus, dan hangat.
Mereka kini tengah duduk di sebuah bangku taman, di salah satu taman kota di Bandung. Keadaan taman yang gelap dengan pohon-pohon besar tak membuat seram, karena banyaknya pedagang di sepanjang pinggiran taman, dan tak ketinggalan lampu-lampu taman yang membuat taman itu malah terlihat romantis.
Setelah acara makan malam di sebuah warung bakso sesuai permintaan Cindy, Langit membawanya untuk berbicara lebih serius dan fokus tanpa terganggu.
"Abang bisa bicara kayak gitu, kalo aku jujur, apa Abang masih bisa se yakin kayak gitu sama aku?" Cindy berkata menantangnya tapi kepalanya masih tertunduk.
"Ya, makanya. Jujur semua sama Abang, biar jelas dan Abang ngerti!" Langit sedikit menaikan nada bicaranya karena kesal.
Seakan dirinya di tarik ulur, tanpa kepastian. Setelah segala yang telah dia lakuin untuk sebuah pembuktian pada sahabat adiknya itu, malah penolakan yang dia Terima. Padahal selama ini dia pun merasa memiliki balasan rasa yang sama dari Cindy.
"Apa? ngomong sama, Abang!" Paksanya.
Cindy menatap wajah teduh penuh rasa kecewa dan sekaligus penasaran itu.
"A\_aku, udah nggak perawan Bang!" jelasnya dengan menunduk dan setetes air mata jatuh begitu saja mengiringi rasa sesalnya yang terasa percuma.
Langit langsung terdiam, tak tau harus berkata apa.
"Aku pulang, Bang. Maaf udah bikin kecewa, aku harap Abang bisa dapetin yang lebih baik dari aku." Cindy berkata sambil berdiri dari duduknya. Dan langsung berbalik untuk melangkah kan kakinya yang terasa lunglai tak bertulang.
Grepp ... Sebuah tangan menahannya, Cindy menatapnya. Sebuah tangan yang sangat dia kenali tengah menggenggam telapak tangannya.
Langit menahannya, lalu pandangan itu bertemu. Dan lelaki yang sudah menguasai hatinya itu sejak lama, menariknya ke arah mobilnya di parkir.
"Biarin, Abang anter kamu." Hanya itu yang bisa dia ucapkan dari bibirnya yang terasa kelu.
Di dalam mobil pun hening, tak ada yang berbicara. Tak ada suara musik hanya suara mesin mobil halus yang terdengar. Mereka sibuk dengan segala pemikiran yang berdesakan di kepalanya.
\*\*\*
Sesampainya di gang menuju kost an nya, Cindy cepat keluar dari mobil. Tanpa menoleh dan pamit pada Langit, rasanya terlalu sesak dan malu. Air matanya sudah siap mengalir deras. Benar saja baru masuk pagar kostan nya dia sudah terisak tak tertahankan.
Dia berlari menuju tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Dia menangis sesenggukan, hatinya merasa berantakan menyesali sesuatu yang sudah tidak mungkin bisa di ulang.
Tanpa dia sadari, Langit mengejar nya. Saat akan menutup pintu, lelaki itu menahannya dan menerobos masuk.
"Abang ngapain? aku lagi mau sendiri!" Cindy mendorong tubuh jangkung itu, dia malu sudah mengecewakan lelaki yang dia cintai dengan kebodohan nya di masa lalu.
"Aku udah nggak berharga lagi, nggak ada yang bisa aku banggain. Aku udah kotor, dan nggak pantes buat Abang." Dia masih terus berusaha mendorong Langit keluar dari kamar nya.
Lelaki itu masih santai, kekuatan yang Cindy keluarkan tidak berpengaruh apa-apa untuknya, Dia dengan santai menutup pintu yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Dia memeluk tubuh perempuan yang di cintainya itu yang tengah meronta-ronta di dadanya. Dia dekap dengan erat, hingga pergerakan Cindy sedikit melonggar dan melemah, Kini hanya terdengar isak tangis dari perempuan yang tengah di peluknya itu.
"Udah?" tanyanya. "Kenyang mukulin Abang?" tanyanya lagi.
Cindy mendongak menatap lelaki yang masih melingkarkan tangannya di sekitar pinggang dan punggung.
"Pulang, sana." Usir nya sambil masih terisak.
Langit menunduk untuk menatap wajah sembab kekasihnya.
"Kenapa harus pulang?" godanya.
"Terus, mau apa di sini?" tanya Cindy ketus.
Langit sedikit terkekeh, "Mau ngobrolin rencana lamaran." Langit mengusap pipi yang basah karena air mata itu.
"Aku nggak bisa, Abang. Aku malu, Abang terlalu baik dan sempurna buat aku!" Dia kembali menunduk masih dalam dekapan Langit.
Langit memegang dagu itu perlahan, menatap mata sembab itu.
"Abang, udah yakin dan nyaman sama kamu. Terlepas dari semua masa lalu kita, mau kamu janda sekali pun seperti pacar Bintang. Abang nggak akan masalahin, abang cuma kaget kamu jujur dengan keadaan kamu, berarti kamu bener-bener serius sama Abang, dan nggak mau ngecewain Abang setelah pernikahan."
"Nggak peduli dengan masa lalu kamu, yang penting di masa depan kamu sama Abang saling melengkapi dan menghormati. Udah lebih dari cukup buat Abang." Tambah nya lagi.
Bukannya tertawa senang, Cindy semakin meraung menangis di pelukan Langit.
Lalu, secepat kilat Langit mendaratkan bibirnya untuk pertama kali di bibir Cindy.
Tidak ada kata pacaran yang tercetus dari hubungan mereka, Langit langsung mengajukan sebuah lamaran untuk sahabat adiknya itu.
Bibir yang awalnya hanya menempel itu, lambat laun menjadi sebuah \*\*\*\*\*\*\* apalagi ketika Cindy membuka mulutnya, Langit langsung menerobos kan lidahnya menjelajah isinya.
Pautan itu terlepas, mata mereka saling bersi tatap.
"Abang nggak akan nyesel kan?"
"Nggak, malah kalau Abang masih ngulur waktu, Abang yang akan nyesel. Besok Ayah mungkin manggil kamu ke rumah." Ujarnya.
"Aku takut, aku harus pulang ke rumah dulu. Mau liat keadaan Bapak sambil ngasih tau berita ini." jawabnya.
Lalu, pautan itu kembali lagi namun lebih singkat hanya semakin liar.
"Abang, anter pulang ke rumah orang tua kamu ya? sekalian Abang bantu bicarain rencana lamaran kita!" usul lelaki itu.
Cindy hanya mengangguk, sambil tersenyum. Hatinya menghangat dan sungguh sangat lega, dengan semua sikap Langit yang menerima semua keadaannya.
Langit menuntunnya duduk di atas kasur, mereka kembali siang bersitatap.
Lagi-lagi Langit menyambar kembali bibir yang di rasanya sangat manis dan membuat candu.
__ADS_1
Cindy tak bisa menolak, perlakuan lembut Langit yang membuatnya bagai melayang, tak bisa terhindarkan. Hingga tak sadar tubuh mereka sudah berbaring di atas kasur kecil itu.
Langit masih setia dengan kegiatan baru nya, masih menyesap dan menggigit kecil bibir Cindy.
Tangannya memeluk pinggang ramping itu.
Cindy merasa kehabisan oksigen, lalu dia mendorong Langit agar pautan itu terlepas, "Abang, aku nggak bisa nafas." Rengek nya.
Langit tertawa sambil mengusap bibir Cindy yang terlihat basah dan membengkak, karena ulahnya tentu saja.
Lalu kecupan hangat nan tulus dia labuhkan di kening Cindy, sang calon istri.
"Mau pernikahan kayak gimana?" Langit memeluknya dan pandangan mereka sama-sama memandang langit-langit kamar kost itu.
"Terserah, aku mau sederhana aja. Hanya keluarga dan teman-teman dekat aja yang di undang, kita berbaur dengan para tamu, menyapa mereka satu persatu." Katanya sambil membayangkan pernikahan hangat impiannya.
"Abang anak pertama, kamu juga anak pertama. Kayanya akan agak rame sedikit." Langit ikut menerawang.
"Udah lah, gampang itu. Yang penting kita selangkah ke jenjang yang lebih indah." Tambahnya lagi.
Mereka pun sama-sama tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
\*
\*
Langit pun sudah berdiri di depan pintu hendak pamit.
"Langsung pulang ya," Cindy melambaikan tangannya.
"Iya, kamu langsung istirahat. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Semua pasti lancar." Lelaki itu menasehati calon istrinya.
"Iya," jawabnya sembari tersenyum malu.
Langit pun kembali sedikit mendorong Cindy masuk ke dalam kamar kost nya, kembali memagut bibir kekasihnya yang semakin membuatnya candu.
Cindy membulat kan matanya, saat lagi-lagi mendapatkan serangan rujak bibir dari calon suaminya itu.
"Udah, lah ... Abang, pulang. BAHAYA kalo di sini lama-lama." Ucapnya.
"Idih, nggak ada yang nyuruh juga. Dasar soang." Cindy mencebik kesal.
Langit pun terkekeh, lalu melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga kost an itu.
"*Cinta tidak memandang kesempurnaan, asal hati kita sudah yakin dan nyaman. Rintangan apapun akan mudah di lalui, asal yakin dengan pilihan kita*." gumam Langit sambil berjalan menuju mobilnya terparkir.
**Bersambung ❤❤❤**
**Di selingin cerita kakak-kakaknya Mentari ya biarin? soalnya dikit lagi tamat. Jadi biar ada kejelasan dari semuanya. 🤭🤗🤗🥰🥰**
**Terimakasih yang udah mampir dan setia baca cerita bubuk peyek ini. Makasih yang udah promosi in ke temen2 nya, Cuma bilang semoga Dapet balesan uang lebih2 dari apa yang kalian lakuin buat aku😘😘😘. Nggak minta hadiah yang penting jejak like dan komen kalian itu yang utama 🙏🙏😘😘😘**
__ADS_1
**InsyaAllah, malem up lagi buat nerusin Mentari yang nyasar di kegelapan puncak. 🤭🤭**