Kisah Mentari

Kisah Mentari
Kebahagiaan


__ADS_3

...โคโคโค...


"Kamu, dateng bulan?" Langit mengerutkan keningnya, saat dia menarik miliknya dari inti tubuh istrinya. Terlihat ada bercak merah bercampur dengan cairan miliknya di bathrobe yang melapisi tubuh istrinya.


"Nggak, Bang. Baru minggu kemarin aku selesai." Jawabnya polos.


Cindy sedikit mengangkat kepalanya melihat ke arah pandangan langit.


"Itu, darah apa?" Tanyanya ikut bingung.


"Kok, nanya sama Abang. Itu kan keluar dari kamu!"


Langit masih mematung menatap noda itu.


"Tapi, abang ... "


"Cerita semua sama Abang, apa yang dulu kamu lakuin, sampai kamu berpikiran udah nggak perawan!" Kini dia memandang lurus pada istrinya yang masih berbaring dengan kedua tangan menangkup menutupi dada.


Cindy sedikit mengingat apa saja yang di lakukan mantan busuknya itu.


"Ayo, cerita." Langit mengusap paha istrinya yang masih berada di dekat kakinya.


"Dulu, kami pernah gitu, tapi nggak kayak Aku sama Abang barusan. Awalnya kita kiss lama kelamaan dia kemana-mana, terus dia bilang pengen. Terus terang aku takut, tapi dia meyakinkan bahwa dia serius dan mau bawa hubungan kamu ke jenjang yang lebih serius. Tapi dasar mantan busuk beberapa hari udah itu aku liat dia masuk ke sebuah hotel ecek-ecek sama anak muda kayaknya masih SMA deh di liat dari mukanya masih culun banget, tapi emang us-us nya gede banget." terangnya sambil mencebik kesal mengingat kembali luka lamanya.


"Yang Abang tanya, apa yang kalian lakuin." Langit merebahkan tubuhnya di sebelah Cindy.


"Ya ... itu, setelah kiss kami yang hot dan terbilang kasar, nggak selembut sama Abang. Tangannya turun ke gagang punya dia , aku selidik2 langsing persis gagang sapu. Aku terbiasa nonton yang barat kan gede-gede ... "


Plakk...


Langit menepuk kening istrinya mendengar ucapannya yang polos walau terdengar vulgar.


"Sakit, Abang ... " Dia merengek.


"Ngapain cewek nonton begituan? Abang aja nggak pernah liat yang begituan." Ujarnya.


"Ihh ... untuk pengetahuan, Abang. Tapi asli biasa aku liat yang Barat pas liat yang si busuk, agak mencelos kecewa."


"Kenapa?"


"Iya, yang aku bilang tadi Langsing. Padahal aku pegang udah keras tapi segitu doang maksimal nya." Raut wajahnya serius memandang suaminya.


"Pas tadi kita ganti baju, aku liat sepintas punya Abang, gede banget sesuai bayangan aku selama ini, kekar nggak langsing kayak si busuk itu." kekehnya, tangannya langsung menutup mulutnya.


"Astaga, Istri Abang." Langit menggelengkan kepalanya.


"Lanjutin."


"Ya, pas kita udah sama-sama polos, dia suruh aku nyium itu. Tapi nggak lama dia narik aku ampe kejungkel baru nempel dia udah muncrat gitu aja. Aku kira udah nempel perawan aku udah ilang. Makanya pas adik kamu bilang sakit, aku ngerasa nggak sakit dan nyangka dia lebay. Ternyata ... "


"Ternyata, kamu masih Perawan, dan Abang ngerasa beruntung Mantan kamu itu, editansil." Langit meraup tubuh istrinya dalam pelukan lalu dia kecup keningnya. "Maaf, sakit ya?" tanyanya saat menunduk memandang wajah istrinya.


"Iya, sakit banget perih. Tadi kan udah bilang Abang nggak denger." Wajahnya di buat merana.


"Iya, Abang kira kamu kan emang udah nggak ... tapi pas Abang masuk, kenapa kayak ada sesuatu yang nahan gitu, lagian belum masuk semua Abang kayak yang di genggam kuat banget pas makin masuk kerasa ada yang ngejepit, Abang ampe nggak kuat lama." Lalu dia menyeringai dan mengecup bibir itu.


"Huum, sakit ... tapi enak." Cindy menenggelamkan wajahnya di dada polos suaminya.


Mereka tertawa bersamaan.


"Enak kan? yuk lagi!" Langit meraup wajah malu yang tengah menunduk itu.


Cindy mendongak dan menggeleng, " masih sakit, Abang." Rengeknya.


"Biasain, biar makin sini makin ilang sakitnya. Makin kerasa enaknya." Langit langsung kembali mengungkung tubuh istrinya, mulai mengecupi dari mulai kepalanya, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir yang dia lakukan lebih lama dari kecupan sebelum nya.


Kecupan Langit semakin menuruni leher, mengarah ke dada. "Abang ... " Cindy memanggilnya.


Langit menatapnya, "Ya? " dengan suara parau nya.

__ADS_1


"Janji, pelan-pelan." Katanya.


Langit mengangguk, "iya, abang bakal slow motion." janjinya.


"Ya, nggak gitu juga ... Agghhh ..." Lenguhnya saat benda milik suaminya kembali memasuki intinya, namun dengan perlahan penuh penghayatan, miliknya terasa penuh sesak , dia menatap wajah suaminya yang berada di atasnya tengah memejam dengan mulut sedikit terbuka, terdengar erangan halus dari suaminya itu.


"Kamu, Luar biasa ... Sayang .... " Racaunya sambil tak henti bergerak bertempo lembut namun tak terhenti.


"Abang, ehmmm ....


" Iya, sayang." Langit masih sibuk bergerak, tubuhnya dia condongkan ke bawah di lum*at nya kembali bibir istrinya dan sebelah tangannya yang bebas tak menopang tubuhnya mengusap lembut puncak dada coklat muda itu.


Dan erangan dan desa*an saling bersahutan di kamar pengantin itu. Keduanya di buat bahagia, Langit yang serasa mendapatkan bonus karena ternyata istrinya masih perawan, dan Cindy merasa lega bisa memberikan apa yang seharusnya dia jaga dulu, dan dengan beruntung nya dia, si mantan busuk itu, tak sampai menerobos pintu perboden miliknya.


Mereka menjeda hanya ketika makan malam, lalu tertidur kelelahan dan subuh mereka mengulang lagi kegiatan yang membuat mereka bagai terbang ke langit. Cindy merasa di bawa terbang ke Langit oleh Langit suaminya. Dan Langit pun merasakan hal sama. Mereka sama-sama menikmati.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Sebulan berlalu


Keluarga Gunawan tengah di sibukan dengan acara makan besar di rumah itu, bahkan Bintang sudah pergi dari subuh menuju Jakarta untuk menjemput Naya.


Di taman belakang, Bunda tengah menyiapkan berbagai menu yang akan di hidangkan, Ayah sibuk memberi makan ikan-ikannya.


"Mbok, salad sama pudingnya keluarin dari kulkas," titahnya.


"Baik, Bu." si mbok pun pergi ke dapur.


Pengantin baru pun ikut sibuk menyiapkan bahan-bahan barbeque, sambil sesekali mereka cekikikan. "Abang," Cindy yang semakin hari semakin manja bertingkah menggemaskan di mata Langit sang suami.


Mentari menatap bahagia sekaligus aneh, saat melihat sahabatnya yang terbiasa slengean dan kuat menjadi manja dan gemulai. Sedangkan Abangnya yang biasa kaku dan cuek jarang tersenyum, kini berlaku manis dan tak jarang tawa renyah keluar dari bibirnya.


"Liat apa?" Dafa yang baru datang setelah membalas email dari salah satu klien nya, duduk di sebelah istrinya yang tengah memandangi keluarganya.


"Aku, seneng liat keluarga ini. Aku kira hanya mimpi, tapi ternyata ini nyata dan indah banget." Dia tersenyum menatap suaminya. Dafa hanya mampu mengelus puncak kepala istrinya itu.


"Mas, ini titip dulu Helen. Aku mau angetin bubur nya dulu." Helen dia pindah alihkan ke pangkuan Dafa.


"Sakit lagi?" Dafa bertanya khawatir.


Mentari masih meringis, "Mas, aku nggak dateng bulan udah lewat tanggal lebih tiga minggu." Mentari membola kan matanya.


Dafa menatapnya serius, "Eh, iya ya! waktu nikahan Abang kan kamu bilang mau PMS, tapi ampe sekarang aku belum libur!" kekehnya tanpa rasa bersalah.


"Jadi, mungkin Sun?"


"Jadi- jadi... Helen baru 7 bulan, malu." rengeknya.


Dafa masih terkekeh, "yang nggak ada bapaknya aja nyantai, kamu ada aku. Sun. Ngapain malu?" Dafa merengut.


"Keliatan doyan." jawabnya polos namun terdengar lucu di Terima Dafa, hingga lelaki yang tengah menggendong anaknya itu terbahak kencang.


Semua orang di sana memandang pasangan suami istri itu.


"Kenapa sayang?" Bunda bertanya dari kejauhan.


Mentari menggerakkan tangannya, lalu mencebik ke arah suaminya yang masih menahan senyum.


Dia berlalu ke arah dapur dengan tergesa-gesa. Sambil sesekali menggerutu tak jelas.


*


*


Tak lama Mbok tergopoh-gopoh ke arah taman.


"Den, itu Neng Chaca muntah-muntah di dapur!" jelasnya pada Dafa dengan wajah yang panik.


Dengan segera Bunda berlari ke arah dapur, di ikuti Dafa yang menyeringai, "Helen mau punya adik." Bisiknya pada sang anak.

__ADS_1


Sesaat sampai di dapur.


"Sayang?" Bunda memijit tengkuk leher putrinya yang sedang menunduk di wastafel, mengeluarkan isi perutnya.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


Mentari membasuh mulut dan juga wajahnya.


"Nggak tau, Tiba-tiba mual pas ngangetin bubur Helen. Apa karena pake salmon jadi bau amisnya nggak banget." Ujarnya.


Pandangan nya menatap suaminya yang tengah tersenyum ke arahnya.


Bunda mendekat ke arah panci kecil berisi bubur Helen, "wangi kok. Enak ini." Katanya sambil mencicipi bubur milik cucunya.


"Nggak kuat Bun, hwueekk ... huweek... " Dia kembali memuntahkan cairan pahit dari mulutnya.


"Sun, istirahat dulu." Dafa mendekat lalu mengelus punggung istrinya. Dan tersenyum ke arah mertuanya.


Bunda menggeleng, "Nggak ... isi lagi kan?" tanyanya dengan nada kaget.


"Kayaknya, Bun." Dafa menjawab dengan yakin dan tanpa berdosa.


Mentari berbalik dan memukul dadanya, padahal dia tengah menggendong Helen.


"Ya, ampun. Bunda seneng banget, tlp dulu Bintang yang masih di jalan, udah deket kayaknya dia. Titip testpack ah, biar pasti. Bunda bakal punya cucu ke dua." Wanita paruh baya itu berlari untuk mengambil ponselnya.


Mentari tak ada berbicara lagi dengan suaminya, dia terlihat kesal dan gemas dengan reaksi senang dari suaminya.


Dia kembali ke taman, dan duduk di sebelah Ayahnya, dengan Bunda yang sedang histeris bercerita kemungkinan anak bungsunya kembali hamil.


"Ayah,... " dia menyandarkan kepalanya.


"Hemm ... doyan banget, Helen masih bayi." Ayahnya berkata sambil sedikit terkekeh.


"Nggak tau, aku padahal pake KB." rengeknya.


"Kok bisa, cebong suami kamu mendobrak portal?"


"Tau, ah. sebel."


"Rejeki, asal kalian sehat." Ayah merangkul putri nya, masih terasa dalam bayangannya anaknya yang merengek ingin liburan, atau pun di goda kakaknya dan berlari menangis memegangi kakinya yang akan bekerja. Sekarang putrinya sudah menjadi seorang ibu.


*


*


"Halo?"


" ... "


"Kak?"


" ... "


"Beliin testpack ya!"


" ... "


"Kamu udah di jalan kan?"


"Halo? kak lagi apa sih?"


"BINTANG ... jangan macem-macem." teriaknya membuat semua orang yang berada di taman melihat ke arahnya yang tengah menjerit ke seorang yang ada di sebrang sana.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2