
๐๐๐
Mentari turun dari taxi online nya tepat di depan kampus, dia langsung mencari mobil milik ayahnya yang sudah standby menunggu.
"Kenapa telat neng?" Tanya Mang Unang sambil melajukan mobil itu keluar Daria area kampus.
"Nyari buku dulu mang!" jawabnya tanpa melihat ke arah supir kepercayaan ayahnya itu.
Mobil pun melesat membelah jalan kota Bandung yang sedikit mendung di hari yang menjelang sore itu.
Setibanya di rumah Mentari melihat mobil Bintang sudah terparkir di garasi.
"Tumben dia udah pulang!" gerutunya sambil melangkah masuk.
Mentari masuk ke dalam rumah langsung berjalan ke arah meja makan.
"Mbok... aku laper!" dia merengek manja pada mbok Tini.
"Tumben neng pulang minta makan!" mbok Tini menghampiri dengan membawa sebuah piring.
"Mau es teh manis juga!" Mentari tersenyum lebar.
"Siap neng, mbok bikinin!" wanita bertubuh gempal itu melenggang masuk ke dalam dapur.
Tak lama datang dengan segelas es teh manis di tangannya.
"Ini, neng ku sayang!" Ucapnya menyimpan gelas berisi es teh itu.
Mentari terlihat lahap makan dengan udang balado dan perkedel kentang.
"Makasih mbok ku sayang!" ucapnya mendorong piring yang sudah kosong lalu menyeruput es teh dalam gelas itu.
"Kasian, nggak jajan di kampus tadi neng?" tanyanya melihat Mentari seperti kelaparan.
"Nggak sempet mbok!" jawabnya.
"Iya, nggak sempet soalnya sibuk pacaran!" ucap Bintang di ambang pintu ruang makan itu.
Mentari menatapnya jengah, dia bangkit dan melewati kakaknya begitu saja.
Bintang yang sudah menahan emosi sedari tadi, langsung menarik tangan Mentari .
"Awww... kak sakit, mbok tolongin aku !" Mentari merengek meminta pertolongan pada satu-satunya wanita di rumah itu.
"Den, kenapa? kasian adiknya!" mbok Tini mencoba melepaskan cengkraman kuat tangan Bintang pada tangan adiknya itu.
"Mbok, diem. Nggak usah ikut campur masalah ini," Teriaknya kesal.
Bintang terus menyeret Mentari hingga masuk ke kamarnya.
Dia melepaskan cengkraman tangan itu sedikit mendorong tubuh Mentari sampai terhempas di atas kasurnya.
"Kakak gilaaa..." Tangisnya pecah, meraung menjadi-jadi, hatinya merasakan sakit dan kesal secara bersamaan.
"Kamu tuh yang nggak bisa di kasih tau, udah gue bilang jauhin laki-laki Breng*sek itu, masih aja lu nemuin dia!"
"Maksudnya apa? kenapa aku nggak boleh ketemu orang yang udah bikin aku bahagia? aku cinta sama dia kak!" Mentari tak kalah berteriak.
"Dia breng*sek, dia baji*ngan, dan dia nggak pantes dapetin cewek sebaik kamu!" Bintang menjambak rambutnya kesal, rasanya dia ingin melenyapkan laki-laki yang sedang adiknya puja-puja itu.
"Se breng*sek apa sih dia?" Mentari menantang
"Dia... nggak pantes buat di omongin!" Bintang membuang wajahnya meredam emosi dan luka yang kembali menyeruak di dadanya.
"Aku yakin ini cuma salah paham!" sentak Mentari sambil keluar dari kamar Bintang.
"Dia hamilin calon tunangan gue, puas?" Teriaknya.
Mentari yang sudah di ambang pintu terpaku, Mendengar apa yang di ucapkan Bintang.
"Makanya gue larang lu berhubungan dengan dia, dia breng*sek!" Bintang kembali berteriak tapi suaranya semakin bergetar menahan sakit hati.
Mentari seketika mematung, hatinya seperti di hantam benda keras, kepalanya bertanya-tanya kebenaran ini.
__ADS_1
Pandangan nya terarah ke tangga di mana Ayah dan Abang Langit tengah berdiri menyaksikan pertengkaran ke dua kakak beradik itu.
"Ada apa ini?" Ayah mendekat.
Mentari menangis dan berlari ke kamarnya, lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu. Tak dia hiraukan suara sang Ayah yang memanggil namanya.
"Nggak mungkin, ini pasti salah paham!" Dia menangis tubuhnya merosot lemas di balik pintu.
Mentari menangis dengan rasa sakit di dada.
Dia teringat ponsel nya masih ada di meja makan.
Dia menguatkan diri luar dari kamar, melewati kamar Bintang yang terbuka, di lihatnya Ayah dan Abang sedang mengintrogasi Bintang.
Mentari ke bawah mengambil tas nya, lalu kembali ke arah kamarnya.
"Dek...
"Kita bicarakan baik-baik!" Langit mencegatnya yang akan masuk ke dalam kamarnya kembali.
Tangan Langit Di hempaskan kuat olehnya.
"Aku butuh waktu sendiri!" Kemudian membanting pintu kamar itu dan menguncinya.
Langit melihat ke arah Ayah yang sedang menatapnya, sedangkan Bintang sedang tertunduk menahan air mata.
*
*
Bintang bercerita semua pada Langit, bahwa saat di kampus dia melihat Tika berlari terburu-buru, lalu dia meminta penjelasan dari Cindy tentu dengan ancaman, karena Cindy bersikeras menjaga rahasianya.
Bagaikan di sambar petir, ternyata adiknya itu masih berhubungan dengan Dafa, dan dia malah mendatangi apartemen lelaki itu, sayang Cindy tidak tau alamat apartemen nya kalo tau mungkin Bintang langsung menyusul dan menyeret adiknya itu pulang.
makannya saat Mentari pulang, emosi nya sudah di ubun-ubun mengetahui adiknya tetap berhubungan dengan lelaki itu.
๐ฅ
๐ฅ
"Mas...
"Iya, sayang?" Tak butuh waktu lama Dafa langsung membalasnya.
"Kita harus bicara!" ajaknya.
"Bintang , euh... sudah ngasih tau semua?" tanyanya.
"Belum, cuma garis besarnya aja. Aku harus segera bicara sama kamu, tapi nggak di ponsel." ujarnya lagi.
"Mau kapan?" tanya Dafa.
"Besok?" usul gadis itu.
"Ok, aku jemput kemana?" Dafa begitu bersemangat.
"Nggak usah, aku ke apartemen Mas aja!"
" Ok, hati-hati. Aku selalu ada di apartemen." ujar Dafa.
Mentari melamun di balkon , berfikir dari sisi positif maupun negatif apa yang dia dengar tadi.
Mata nya kembali meneteskan air mata, dia langsung mengusapnya kasar. Setidaknya dia belum mendengar penjelasan dari pihak Dafa.
"Lu tahu Ayu? pacar pertama gue, pacar gue sejak SMA." Bintang berucap dari balkon sebelah yang tak lain kamarnya.
Mentari menoleh sesaat namun langsung membalikkan kembali kepalanya. Dia pura-pura tak menghiraukan apa yang Bintang ucapkan.
"Gue pacaran sama dia hampir tiga tahun, dan akhirnya petaka itu datang, saat gue mau lamar dia, dia bilang mau putus dari gue karena dia hamil. Lu bisa bayangin hati gue sehancur apa?"
"Cewek ya lu jaga baik-baik tapi malah rusak sama cowok lain, bayangin jadi gue gimana? dan dengan entengnya laki-laki itu tidak mau bertanggungjawab karena dia dan Ayu melakukan nya dengan keadaan mabuk."
"Hingga akhirnya Ayu berniat menggugurkan kandungannya namun dia mengalami pendarahan hebat hingga akhirnya meninggal. Aku menemukan surat di kamarnya, ternyata dia mencintai si cowok breng*sek itu jadi saat di malam itu dia sadar memberikan mahkota nya."
__ADS_1
"Se breng*sek nya gue, nggak pernah nidurin cewek. Makanya gue terus gunta ganti cewek, gue nggak main hati takut sesuatu dari gue meminta lebih!" Bintang berbicara panjang lebar.
Namun tetap Mentari tanpa respon, tetapi di dalam hatinya semakin kacau setelah mendengar uneg-uneg yang Bintang pendam.
*
*
Esok harinya.
Mentari di antar hingga kampus oleh mang Unang namun saat mobil itu kembali, dia langsung memesan ojol, melesat membawa dia ke arah Apartemen milik Dafa.
Dia berdiri di depan pintu kamar no 79 itu, takut mendengar kenyataan yang akan di dapatkan dari Dafa, tapi ini harus selesai. Batin dan otaknya terus bertengkar.
Tangannya pun memencet bel itu.
Tak menunggu lama Dafa membukanya, lelaki itu tersenyum ramah.
"Hai... my sunshine!" sambutnya seperti biasa.
Dafa menariknya masuk.
"Ayok, apa yang mau kamu tau sekarang dari aku?" tantangnya.
"Cerita semua, cerita soal kamu yang ngehamilin kak Ayu, Mas." Ucapnya dengan menatap netra coklat itu.
Dafa menghembuskan nafasnya kasar.
Yang dia takutkan terjadi dan lebih cepat dari dugaannya.
"Malam itu, aku ada job DJ. Aku mabuk dan saat bangun kami sudah berada di kamar hotel dengan tanpa sehelai pakaian pun!"
"So... aku tidak tau apa yang terjadi, karena aku memang benar-benar tidak ingat. Hingga dia mengutarakan perasaannya sama aku. Tentu aku menolak walaupun kita sudah saling kenal , tapi aku tidak menyukainya."
"Kamu kenal kak Ayu di mana Mas?" tanya Mentari.
"Dia Pernah satu SMA sama Mas, cuma satu tahun terus dia pindah sekolah, dan kita tidak pernah ketemu lagi. Bertemu lagi saat aku sering mendapatkan job di salah satu club' dan dia sering ke sana." jawabnya jujur.
Mentari mengangguk paham.
"Hingga akhirnya kakak sama Abang kamu mukulin aku dan bilang aku menghamili Ayu dan menyuruhnya menggugurkan bayinya, jingga membuat Ayu meninggal karena pendarahan. Aku sama sekali tidak tau Ayu Hamil."
"Aku sampai masuk rumah sakit hampir dua bulan, aku sekarat di siksa Abang sama kakak kamu. Kamu tau? aku anak yang tidak diinginkan oleh papaku, karena ibuku meninggal saat melahirkan aku. Aku di rawat di rumah sakit pun papa hanya datang untuk membayar administrasi rumah sakit, tanpa peduli aku hidup atau mati."
"Hanya Rijal sahabat sekaligus teman satu-satunya yang aku miliki. Mungkin jika aku memiliki keluarga yang menyayangi aku, kakak dan Abang kamu sudah masuk penjara. Tapi karena aku seolah hidup sebatang kara. Mereka bebas berkeliaran seperti tidak ada apa-apa."
"Sekarang menurut kamu, apa aku salah atas meninggalnya Ayu?" tanyanya menatap wajah cantik kekasihnya.
Mentari menatap nya dan menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak salah Mas, ini semua salah paham. Sebenernya bisa di perbaiki, tidak akan serumit ini!" akhirnya benteng pertahanan Mentari roboh perlahan tangisnya pecah.
Dafa langsung menarik nya ke dalam pelukan hangat nya, mengusap punggung yang bergetar itu, mengecupi puncak kepala Mentari.
"Gue bener-bener sayang sama lu!" ucapnya dalam hati, matanya memejam merasakan cintanya yang tak akan mudah ke depannya.
Dafa melepaskan pelukannya lalu memegang wajah Mentari agar menatap nya.
"Makasih kamu udah mau percaya sama Mas mu ini!" Dafa berujar sambil mengusap lembut pipi Mentari yang di basahi air mata.
Kemudian wajah itu mendekat dan kedua bibir itu saling bertautan, menyesap dan mengecup di selangi hisapan dan gigitan yang Dafa lakukan.
Mereka berpelukan saat pautan itu terlepas.
"Kita lalui bersama ya, walaupun aku tau pasti hubungan ini di tentang habis-habisan sama keluarga kamu terutama Bintang." Dafa memberi motivasi pada Mentari.
Saat sebuah Bel berbunyi, mereka saling melepaskan pelukan itu.
"Rijal kayaknya soalnya dia tadi bilang mau kesini!" Ucapnya sambil bangun berjalan menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Dafa terpaku melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Kamu...
Bersambungโค๏ธโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1
Terimakasih banyak yang sudah mau mampir dan baca๐๐ jangan lupa like dan komen nya ya please ๐๐
Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua โค๏ธ