Kisah Mentari

Kisah Mentari
awal yang baru


__ADS_3

💔💔💔


Mentari keluar dari kamar mandi, setelah mengganti baju pasiennya menjadi sebuah dress abu muda. warna yang cocok sekali dengan gambaran hatinya. Baju itu di bawakan oleh dua orang yang menjemputnya, karena sesuai permintaannya tadi di tlp, mengingat baju nya yang siang tadi di pakai di penuhi darah.


Wajah nya pucat, dengan kelopak mata sembab. Sudah pasti hati yang pilu juga.


Dia duduk di pinggir ranjang, menghadap dua orang di depannya.


"Kamu yakin?" tanya seorang wanita yang beringsut mendekati Mentari lalu mengusap punggung wanita hamil nan malang itu.


Anggukkan, Mentari lakukan untuk meyakinkan kedua orang yang tengah memandang iba padanya.


"Ya, udah kita berangkat sekarang? sebelum malem. Biar kamu bisa langsung istirahat sesampainya di sana." Ucap pria yang berdiri dari kursinya.


Ketiga orang itu, berjalan beriringan keluar dari rumah sakit. Mentari jalan dengan perlahan di lengannya mengapit sebuah tangan hangat yang seolah siap melindunginya.


Mereka memasuki mobil dan berlalu meninggalkan pelataran rumah sakit itu.


...---------...


Dafa keluar dari mobilnya saat tiba di rumah sakit yang dia tuju, sesuai dengan keterangan perawat di klinik tempat Mentari mendapatkan pertolongan pertama.


Berjalan terpincang-pincang ke arah resepsionis. Dan segera bertanya mengenai keberadaan sang istri.


Dafa tertunduk lesu, tubuhnya merosot ke lantai. Saat sang resepsionis rumah sakit itu mengatakan jika Mentari sudah di bawa oleh keluarga nya.


Dan satu hal yang membuatnya semakin hancur bahwa di resepsionis itu menyebutkan Mentari sebagai pasien pendarahan fatal, dan Dafa tidak mendapatkan penjelasan lebih rinci karena keadaan pasien adalah rahasia yang harus di jaga oleh pihak rumah sakit sesuai permintaan keluarga Mentari. Jadi keadaan Mentari Masih ambigu untuknya.


Rijal tiba, langsung menghampiri Dafa yang tengah tertunduk di lobby rumah sakit besar itu, Dafa tampak menyedihkan. Dengan tatapan kosong dan kakinya yang sakit menjulur.


"Daf... gimana Tari?" Rijal bertanya ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dafa.


Dafa terdiam dengan tatapan kehancuran.


"Dia pergi, aku udah kehilangan dia." dia mengusap wajahnya kasar mengacak-acak rambutnya.


"Gue harus cari kemana?gue nggak mau kehilangan dia." Dafa bangkit dan langsung berlari ke mobilnya langsung memacu kendaraan nya itu dengan sekali tancapan gas.


Rijal yang merasa khawatir langsung mengikuti sahabatnya itu, dia takut Dafa hilang kendali dan membahayakan nyawanya.


Dafa memberhentikan mobilnya di depan sebuah gang kecil, dia keluar dengan jalan yang semakin terpincang-pincang, kakinya benar-benar sakit.


Dia berhenti di sebuah tempat kost berlantai dua, jejeran pintu kamar menyambutnya.


Dafa Mendatangi kostan yang di tempati Cindy, dia pernah beberapa kali menjemput istrinya di kost an itu.


Pria itu berjalan dengan tertatih, wajahnya mengernyit menahan rasa sakit dengan peluh bercucuran di tubuhnya.


"Permisi, kalau kamar Cindy di mana ya?" tanya Dafa pada seorang wanita yang sedang memundurkan motornya hendak keluar gerbang kost an itu.


"Di atas, no 15." jawabnya lalu berlalu dengan motornya.


Rijal yang baru tiba langsung mengikuti Dafa yang menaiki tangga.


"Agrrhhh... " Dafa berteriak kesakitan, kakinya benar-benar sakit dan ngilu.


"Dafa... lu, nggak apa-apa kan?" Rijal menahan tubuh itu di belakang ya.


Dafa kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, dan mencari kamar no 15.


Setelah ketemu, tanpa menunggu lama dia ketuk pintu itu.


"Tok... tok... tok... "


Kedua lelaki itu, menunggu dengan tenang. Dafa berharap Mentari ada bersembunyi di dalam, mengingat istrinya itu tidak memiliki siapa-siapa untuk di kunjungi.


"Ya... " Cindy keluar dengan wajah ngantuknya.

__ADS_1


Dafa langsung menerobos masuk ke dalam mencari keberadaan istrinya.


"Hey... Mas, ngapain?" Cindy kaget melihat Dafa yang masuk dan teriak-teriak di dalam kamarnya yang hanya sebuah ruangan panjang dengan kamar mandi dan meja kompor di ujungnya.


"Cin, apa Mentari ke sini?" Dafa mengguncang pundak Cindy.


"Hah... maksud , Mas? Aku nggak ngerti?" Cindy benar-benar terlihat bingung.


Seketika Dafa melepaskan tangannya dari pundak Cindy, Lagi-lagi dia merosot ke lantai. Dugaan nya salah, Mentari tidak ada di sana.


"Kemana aku harus cari kamu, Sun. Gimana keadaan kamu? maafin aku!" Gumamnya lirih sambil terisak, penyesalan membuatnya sesak dadanya sakit seolah sedang di remat kuat.


"Mas... Mentari kenapa? kemana dia?" Cindy balik memberondong pertanyaan.


Rijal menerangkan semua kejadian yang dia ketahui dari cerita Dafa tadi, tanpa mengurangi atau melebihkan ucapan Dafa. Cindy menangis histeris saat mengetahui keadaan sahabatnya itu.


"Cowok, brengsek... kurang ajar, kamu ngapain sahabat aku?" gertaknya kesal.


Tanpa berucap sepatah katapun, Dafa kembali bangun dan berlalu tergesa-gesa keluar dari kamar Cindy.


Tangan Cindy menarik kemeja bagian belakang yang di pakai Dafa.


"Jawab, kamu ngapain Mentari? dia udah sangat menderita dengan keadaan ini, dan apa balasan kamu?" tak ada awalan Mas lagi, Cindy sudah meluapkan emosi saat dia mendengar gumaman Dafa tadi. Dia yakin ada yang tak beres dengan Sahabatnya itu.


"Jawab? Kamu harus tangung jawab! cari dia dan bawa dengan selamat! dia udah terlalu banyak menderita, air matanya menetes sia-sia karena selalu menangisi kamu, dan keadaan dia."


"Carii... " Bentak nya lagi.


Rijal yang sedari tadi ada di sana, hanya bisa terdiam menyaksikan Cindy meluapkan emosi nya.


"Udah...? lu pikir gue nggak pusing nyari dia? lu kira gue nggak berusaha nyari dia?" Dafa balik membentak nya.


Rijal yang menyadari situasi semakin memanas, segera melerai dia membawa Dafa turun ke lantai bawah.


Cindy langsung masuk ke dalam kamar, dan mengambil ponselnya. Menghubungi nomor Mentari, namun nihil no itu tidak aktif.


*


*


Mentari menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang akan membawanya pergi, memulai hidup baru tanpa Dafa suaminya.


Berat pasti, tapi ini demi kebaikan semua. pikirnya.


Bukan melarikan diri, tapi Mentari ingin menyelamatkan mentalnya demi keselamatan malaikat kecilnya.


"Sabar ya, Nak. Maaf ya ibu pisahin kamu dari Ayah. Biarin Ayah memikirkan semuanya dengan benar, seberapa pentingnya kita buat Ayah kamu." Batinnya sambil mengusap perutnya.


Apa yang Mentari lakukan tak luput dari pandangan kedua orang yang berada di dalam mobil itu.


"Tari... Sayang, kamu yang kuat ya? pasti bisa, jangan terlalu larut, kasian baby." ucap wanita di sebelah nya.


Di mobil itu hening... tanpa ada suara sedikit pun, hanya sesekali Isak kan tangis dan suara helaan nafas terdengar. Kecanggungan itu semakin membuat keadaan terasa pilu.


"Nyalain musik dong, biar nggak sepi." Ucap Wanita yang tengah mengusap-usap punggung Mentari.


Lelaki di balik kemudi pun segera menyalakan nya.


Jangan sakitiku lagi


Mungkin aku bisa pergi


Pergi untuk selamanya


Dan mungkin takkan kembali


Belum cukup sembuh hatiku ini

__ADS_1


Dari luka yang kau tikam ke jantungku


Sudah kamu lukainya lagi


Sudah kamu hancurkan percayaku kepadamu


Aku mungkin takkan pernah tau


Apa salahku kepada dirimu


Mungkin kamu juga masih ragu


Dan tak pernah menganggap ini adalah serius


Jangan sakitiku lagi


Mungkin aku bisa pergi


Pergi untuk selamanya


Dan mungkin takkan kembali


Setelah aku menjadi milikmu


Masihkah kamu akan sakiti aku lagi?


Belum cukupkah kamu menyiksa aku?


Belum cukupkah kamu membuat aku jadi gila?


(lagu by:dewa 19)


Lagu yang kini berputar, seolah paham akan situasi, seolah radio pun menyindir nya. Menyadari akan kata-kata yang terasa pas dengan kondisi Mentari, membuat lelaki di bali kemudi itu langsung merubah chanelnya.


Pandangan matanya menatap Mentari dari kaca spion, wanita yang kemarin masih ceria, saat ini dia melihatnya sebagai sosok lain yang seolah tanpa ada aura di wajahnya. Wajah dengan raut kesedihan dan kehancuran tatapan kosong menatap ke luar jendela.


"Kasian, Kamu. Seandainya bisa aku melindungi kamu lebih dari ini. Aku nggak akan pernah ngecewain kamu." Hatinya menggumam.


...------...


Tak berselang lama, mereka sampai di sebuah rumah mewah. Mereka pun turun, Mentari di papah memasuki rumah itu.


"Ini kamar kamu, nanti ada beberapa baju yang mungkin bisa kamu pakai sementara waktu. Besok kita beli ya, mengingat peut kamu yang akan semakin membesar." Wanita itu menuntun Mentari hingga terduduk di pinggir ranjang.


Mentari hanya mengangguk kecil.


"Ya udah, kamu istirahat. Kalau ke kamar mandi hati-hati ya jalannya."


Satu buah kecupan di kening, membuat hatinya menghangat. Seolah dia mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, yang sangat dia rindukan.


Setelah dia sendiri di dalam kamar, air mata kembali menetes, dia sendiri hanya Bayi yang dia kandung sebagai sumber kekuatannya untuk hidup. Tak bisa dia bayangkan jika bayi nya tidak selamat mungkin dia akan memilih mati. Karena merasa hidup sebatang kara.


Hari baru menantinya , Mentari berjanji akan menjadi sosok yang berbeda, sosok yang lebih kuat demi buah hatinya. Menyongsong masa depan yang mungkin akan berat dia lalui.


Ingin dia meraung menangis dalam pelukan Ayah tapi rasanya dia sudah tidak punya muka untuk bertemu keluarga nya, ketidak setujuan mereka pada Dafa ternyata kini terbukti sudah. Menyesal?tentu tidak, jika dia menyesal berarti dia juga menyesal akan kehadiran bayi yang tengah dia kandung.


Setelah meminum segelas susu hangat, yang di sediakan sang tuan rumah, Mentari pun tertidur dengan rasa lelah di tubuh juga batinnya. Larut dalam mimpi berharap ini semua hanya mimpi, dan terbangun dengan keadaan yang lebih baik.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir 🙏, semoga suka🥰🥰 like komen nya ya di tunggu pisan😘😘


Mungkin ada yang promoin cerita ini, jadi banyak pembaca baru, dan ninggalin jejak like🥰🥰 pokoknya terimakasih orang-orang baik😘😘


I love you satu ton deh❤❤❤


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua.

__ADS_1


__ADS_2