
❤❤❤
Mentari keluar dari kamar mandi masih menggunakan bathrobe nya.
Dia mengendus-endus bau yang masih di penciuman nya.
"Mas...
" Hemmmm... Dafa menjawab masih dengan mata yang fokus pada ponselnya.
"Nyium bau sesuatu nggak?" Mentari berdiri di depan meja yang kini terjejer botol-botol perawatan kecantikannya.
"Nggak, malah wangi kamu!" jawabnya.
"Masa nggak bisa nyium, idung mancung nya nggak manfaat." gerutunya pelan.
Dafa terkekeh kecil mendengar gerutuan sang istri.
"Idung aku buat ngendus kamu," Dafa memeluknya dari belakang dan hidungnya menyesap leher Mentari yang menguarkan wangi buah dan bunga khas parfumnya.
Mentari melepaskan pelukan itu, melangkah menuju pintu yang menuju ke balkon. Membuka nya lebar.
"Eh.. kamu belum pakai baju, pintu di buka gitu!" Dafa membola matanya membayangkan istrinya mengenakan baju dengan posisi pintu menuju balkon terbuka lebar.
"Ck, nggak akan ada yg liat." Cueknya berjalan ke arah lemari memilih baju yang akan dia kenakan.
Seakan tak di dengar, Dafa berjalan ke arah pintu dan kembali menutupnya.
"Mas... Ini pengap bau, bau aroma semalem tau!" akhirnya Mentari mengucapkan kata yang menurut nya akan membuat malu.
Dafa menatap perempuan di depannya yang sedang mendekap baju.
"Bau semalem kan satu kesatuan antara aroma kamu sama aku, Sun." Dafa tertawa melihat kepolosan sang istri.
"Bau nya, masih asing." Mentari menutup mulutnya menahan tawa.
"Baunya pasti bikin otak kamu berkelana kan?" Dafa kembali merengkuh tubuh yang tadi terlepas.
tingg... tingg...
suara bell di pintu terdengar.
"Tuh makanan udah dateng, pake baju dulu terus makan. jangan dulu di buka pintunya sebelum kamu selesai berpakaian!" titahnya sambil berjalan ke arah pintu apartemen.
Mentari mendengus kesal dengan peraturan sang suami. "padahal nggak akan ada yg liat juga." ucapnya kesal sembari memakai baju.
Dafa masuk kembali ke kamar.
"Aku simpen di meja makan, aku mandi dulu!" ucapnya sambil melenggang masuk ke kamar mandi.
*
*
Mentari keluar dari kamar memakai kaos hitam oversize dengan celana super pendek yang tenggelam tertutup kaosnya.
Dia berjalan ke arah meja makan mengeluarkan menu yang Dafa pesan menata nya di atas piring, dan di susun di atas meja makan.
Mentari tersenyum, menatap menu yang suaminya pesan. Ada ayam bakar, sayur capcay ayam dan sambal, ada juga salad buah. Dia mulai tau suaminya itu senang dengan menu yang berbau ayam. Dan suaminya pun sudah mulai hapal kalo dia menyukai buah.
Mentari masuk kembali ke dalam kamar, dan seperti biasa suaminya jika mandi pintu kamar mandi selalu di buka.
Di ambil gelas berisi susu dingin yang tadi suaminya bawa. Mentari berjalan ke arah balkon menatap pemandangan di bawah sana yang ramai akan aktivitas orang-orang di siang itu.
Sesekali Mentari meneguk susu dinginnya dan kepala nya berputar Kesana-kemari melihat pemandangan di bawahnya.
Dafa berjalan ke arahnya sudah dengan kaos oblong tak berlengan dengan celana boxer nya.
"Ngapain sih serius banget?" Rangkul nya pada pinggang sang istri.
"Liat yang macet, Mas... "
Di usapnya lengan dafa yang melingkari pinggang nya.
"Makan yuk, ngisi tenaga kamu. aku ngisi sel darah putih yang abis aku tranfser ke kamu, semalem!" kekehnya dia geli sendiri dengan ucapan nya.
"Dih... bahasa baru lagi." Mentari ikut tertawa.
Suara sirine terdengar di jalan bawah sana.
Mentari otomatis mendongakkan kepalanya ke bawah. Sebuah ambulance melintas di jalan tepat di depan Apartemen nya.
"Mas...
" Ya..?"
"Kalo aku meninggal kamu bakal nikah lagi nggak?"
__ADS_1
Tiba-tiba dia ingin bertanya seperti itu.
Dafa yang sedang mengendus tengkuk nya terperanjat mendengar pertanyaan sang istri.
"Kamu, ngomong apa sih? ngomong kok ngelantur!"
Gertak nya tak suka.
"Cuma nanya doang, aku pengen tau aja?" Mentari berbalik menatap sang suami.
Tangannya menarik lengan Dafa agar berjalan ke. arah meja makan.
"Jawab... " Mentari masih menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut suaminya itu.
Dafa masih memberengut kesal.
"Aku nggak akan nikah lagi... nggak tau deh nyari yang kayak kamu di mana? perjuangan banget dapet kamu!" jawabnya sendu.
"Hilih.... preet, laki nggak nikah lagi itu cuma bualan yang di tiup angin... " cibir nya.
"Ck, nggak tau dan aku nggak mau bayanginnya. Sekarang aku yang tanya, Kalo aku yang duluan?" Kini sorot mata Dafa menatap tajam padanya.
"Aku mau dandan... perawatan, pokoknya aku bakal jadi perempuan yang lebih dari ini!" Ujarnya sengaja menggoda sang suami.
"Apa... Sun, kamu jahat!" Dafa berdecak sebal.
"Kalo kamu gitu, aku nggak akan tenang, di dalam kubur gelisah, ah... ngebayangin kamu jadi janda yang cantik, bohay, dan ah...."
"Bisa-bisa aku bangkit dari kubur, terus gangguin kamu setiap di deketin cowok, aku bakal terus jadi bayang-bayang kamu." Timpalnya lagi.
Mentari tak kuat menahan tawanya lagi, dia terbahak-bahak sambil menyendokkan nasi ke piring dafa.
"Kamu ngaco, Mas!" Kekehnya.
"Iya, biarin nanti judulnya janda cantik diikuti arwah suaminya!" Dafa berucap sambil menyendokkan lauk ke dalam piring yang telah Mentari isi dengan nasi.
"Udah, ah. Serem!" Mentari mengakhiri percakapan yang awalnya untuk menggoda sang suami.
...*****...
Setelah acara makan pagi dan siang yang menjadi satu itu selesai. Mereka berdua berbagi tugas, Mentari mencuci piring, dan dafa membereskan tempat tidur mereka yang sudah tak jelas seperti sebuah tempat tidur.
Mentari masuk ke dalam kamar dengan membawa dua buah cangkir kopi di tangan.
"Mas... kamu ngapain?" tanyanya heran saat melihat dafa memasukan seprei ke dalam plastik bening.
"Buat kenangan di mana kamu menjadi milik aku seutuhnya." jawabnya bangga.
Mentari merebut plastik itu. "Cuci dulu, aku nggak mau nyimpen kayak gitu!" rengeknya.
"Biarin... "
"Nggak... aku nggak mau!"
pasangan suami istri itu saling berebut bungkusan berisi seprei itu.
Mentari melepaskan pegangan nya dan membuat Dafa yang sedang menariknya malah terjungkal di atas kasur.
"Kamu... Sun!" Dafa bangun dari posisinya dan mengejar sang istri
Mentari berlari ke luar kamar, mereka berlarian di dalam apartemen itu.
...------...
"Hahahahah... Mas. Ampun... udah ah... geli!" Mentari berguling-guling di atas karpet, dia mendapatkan serangan gelitikkan dari Dafa.
"Udah ampun kamu, Sun?" Dafa masih terus menggelitiki.
"Iya... udah, ampun. Mas... "
Mereka kini tiduran di atas karpet, menatap atap apartemen.
"Sun... Makasih ya, makasih udah mau menemani aku." Dafa membalikkan tubuhnya memandang sang Istri.
"Tetap begini ya, Mas. Aku nggak punya siapa-siapa lagi. Kalau kamu berubah, aku nggak tau harus gimana!" Mentari terlihat sendu.
"Mungkin aku pergi, pergi juga nggak tau kemana!"
tambahnya lagi.
"Shhhhtttt.... Sun, aku udah sering bilang. Itu nggak mungkin."
"Kamu tempat aku pulang, kamu semangat aku." Ucapnya pasti.
Kemudian Mentari menatapnya dan tersenyum.
Dafa mendekat dan merengkuh tubuh itu.
__ADS_1
Mentari pun menyambutnya.
"Kamu... bikin aku jadi gemesss!"
"Yuk... lagi."
"Katanya masih sakit pinggang, aku juga masih sedikit sakit!" Godanya
"Bisa lah, aku diem. Kamu belajar banyak gerak dong. Kamu yang mimpin permainan." pintanya tanpa rasa malu.
Mentari hanya menggelengkan Kepala nya dan semakin menenggelamkan wajah merona nya di dada suaminya itu.
"Yuk... Sun, Sebelum besok aku ada pertandingan boxing!" Ujarnya.
Mentari mendongak menatap wajah suaminya.
"Pertandingan...?"
"Heemm
" Do'a jn aku ya, semoga menang. Aku juga bisa melangkah ke pertandingan lebih bonafide. Hadiahnya besar. Bisa buat nambah buat beli rumah impian kamu!" Dafa mengecupi puncak kepala Mentari.
"Aku bilang, apartemen ini kan bisa buat beli. Biarin yang kecil. Asal kita bahagia di dalemnya."
"Nggak... aku nggak mau, aku ingin memantaskan diri di keluarga kamu, Aku ingin buktikan aku bisa membuat kamu bahagia dan mencukupi semua kebutuhan kamu seperti waktu kamu masih bersama mereka."
"Ck... Tapi aku nggak butuh itu, Mas. Aku mau kita hidup sederhana aja!" Mentari merengek.
"Tapi aku nggak bisa, Sun. Kamu harga diri aku. Aku ingin buktiin ke Papa juga, aku bisa hidup tanpa uang dari dia." Dafa tetap keras kepala gengsinya tinggi sekali.
Mentari berhenti menimpali argumen sang suami, yang tak ingin terbantahkan.
"Sun... ayo, besok pasti libur." Dafa merengkuh tubuh itu, bahkan sebelah tangannya sudah meremat bo*ong Mentari.
"Janji ya, besok libur!" Mentari menatap nya.
Dafa mengangguk, dia juga tidak yakin besok bakal pulang dengan wujud seperti apa. Setelah pertandingan boxing selesai tidak pernah ada bagian yang mulus walaupun juara sekali pun. Pasti akan mengalami luka lebam ringan maupun berat tidak bisa di prediksi.
Dia sebenarnya takut akan reaksi istrinya besok. Namun sepertinya Mentari belum bisa menebak apa yang akan dia hadapi besok.
"Mas... Kalo pertandingan Boxing, kayak berantem lagi?" Tanya nya saat dafa semakin merapatkan tubuh mereka.
"Iya, cuma ada taktiknya." jawab nya sekenanya
Dafa sudah kembali menyerukan kepalanya pada leher Mentari, menyesap aroma parfum yang menguar memabukkan di penciuman nya.
"Waktunya?"
"Siang!"
"Aku ada kuliah siang,"
"Nggak apa-apa, doa nya aja!" Dafa kembali menjawab. Sekarang fokus otaknya sudah pada tubuh yang dia dekap.
"Tapi...
" Sun... please, jangan banyak iklan lagi deh."
Dafa menekankan si adik yang sudah mengerat sempurna pada tubuh sang istri.
"Apa itu?" Mentari tertawa masih pura-pura polos.
"Kamu, Masih belum kenal aja. Ayolah kamu yang mimpin permainan. Aku lagi awet-awet tenaga." dia merengek kembali.
"Ya udah nggak usah, istirahat aja." Mentari menyusupkan Kepala nya di dada sang suami. tapi tangannya dengan jail memegang si tongkat kasti itu.
Dafa mengerjapkan matanya. "Arghh... Sun, kamu... ehhmm... iya... lanjutin sayang, tangannya masuk dong... ah...gerakin." dia memejamkan matanya menikmati rasa itu.
"Iya... Sun... ughh... " Dafa semakin menggeram nikmat...
Kemudian Mentari sedikit bangkit dan menyatukan Bibir mereka, membungkam mulut suaminya yang terus berisik meracau tak karuan. Tangannya masih di bawah menggengam dan mengusap-usap tongkat kasti itu.
"Udah... , buka aku nggak kuat. Pasti nggak akan lama." Dafa melepas kaosnya dan menarik milik sang istri juga dengan tergesa-gesa.
"Nggak akan kayak novel sebelah yang berjam-jam?" Mentari kembali menggoda.
"Alah... halu itu mah, boongan. Nggak usah percaya, yang pasti-pasti aja!" Dafa kembali memagut bibir Mentari dengan menggebu.
"Mau di sini? di kamar?" tanyanya pada Mentari yang juga sudah tergulug naf*su.
"Kamar baru rapi." jawabnya.
"Kalo gitu di sini?" Dafa kembali meneruskan kegiatan mereka.
Mentari hanya tersenyum malu-malu.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
terimakasih yang masih mau baca🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komennya jangan lupa😘😘
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤