
...❤❤❤❤...
"Emmmm... " Mentari melenguh saat Dafa memainkan chokocipsnya.
Dafa masih menekuni daerah atas tubuh istrinya, entah sejak kapan pakaian mereka terlepas hanya menyisakan kain tipis penutup inti tubuh mereka.
Dafa memejamkan matanya menikmati aktivitas itu, sungguh selama empat puluh hari itu dia sangat tersiksa, sengaja menahan tanpa solois atau apapun caranya. Ya untuk kenikmatan sekarang, melepas rindu dengan cara sebenar-benarnya.
Bagian keras itu semakin keras dan sudah sangat siap memasuki tempatnya.
"Sekarang?" Dafa menatap mata istrinya yang sudah sama-sama terlihat sayu menandakan ga*rah sudah menguasai.
Saat Dafa menarik turun miliknya dan Mentari sebaliknya.
"Sempit... "
Mentari berkata saat lututnya dan lutut suaminya itu beradu di atas sofa.
"Pindah ke karpet?" Dafa menatapnya. Lalu sejurus kemudian tangannya sudah menuntut istrinya menggelinding ke bawah.
"Sakit," Mentari memukul lengan atas suaminya.
"Hehehe... biar cepet! " Pria itu hanya tertawa.
Dafa kembali menautkan bibirnya sedikit rakus dan keras. Dengan bagian bawahnya sudah menggesek, seolah mengetuk pintu sebelum memasukinya.
"Agrrhhh... " Dafa mengerang di dalam pautan itu.
Siap menghentak, tiba-tiba lampu mati... gelap gulita, mereka terlonjak memikirkan anak-anaknya.
"Aduhhh... ujian apalagi ini?" Dafa menggeram kesal , dan Mentari beringsut menahan kungkungan tubuhnya, khawatir anak-anaknya akan histeris karena lampu mati.
"Diem dulu, aku liat keluar!" Dafa meraba di mana dia melepaskan celananya.
Setelah dapat dia merayap ke arah ruang tamu, menyibakkan gorden dan ternyata bukan listrik rumah mereka yang turun tapi memang mati lampu, di lihat para tetangga yang juga dengan keadaan sama gelapnya. Dafa meyakini jika itu memang mati listrik bersamaan.
"Mas... "
"Hemmm... diem dulu, tunggu aku."
Dafa merayapi sisi rumahnya, menuju istrinya.
"Kamu di mana?" Dafa tangannya sudah merayap-rayap mencari istrinya di atas karpet.
"Ini, deket sofa!" Mentari ikut meraba-raba kan tangannya."
"Astaga... ampun, ini mau buka puasa gini banget ya!"
"Sabar... "
"Ck, nggak sabar udah muntah-muntah jamur ku sayang!" jelasnya namun kata-kata nya seperti menggeram kesal.
Akhirnya tangan mereka bertaut, mereka berjalan perlahan dalam kegelapan menuju kamar mereka, di mana anak-anaknya tidur.
Mentari terkikik-kikik geli, mereka berpegangan tangan dengan sebelah tangan saling merayap takut menabrak atau malah tersandung.
"Lucu...?" Dafa mengernyit walau tak terlihat oleh sang istri bagaimana wajah gendok dirinya.
"Heuummm... nggak ada di novel lain, mau bobol gawang berakhir pegangan tangan di gelapnya rumah yang mati listrik."
"Shhttt... sambil pegang ini, Sun. Takut dia tidur lagi." Dafa yang memegang tangan kanan istrinya, sengaja menyentuhkan ke bagian keras itu yang sedang otw pelemasan kembali.
"Ini, masih keras!"
"Iya, tapi dia otw lembek lagi!" Dafa terus menuntun tangan itu mengusap miliknya.
Saat pintu kamar mereka tersentuh, dan kenop pintu itu Dafa putar. Mereka baru melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan.... listrik kembali menyala.
Pasangan suami istri itu saling pandang, Anak-anak mereka pun terlihat masih lelap.
Tanpa aba-aba Dafa menutup pintu dan langsung menggendong Mentari, berjalan rusuh ke arah kasur lalu langsung merebahkan tubuh mereka berdua.
Dafa kembali menautkan bibirnya, agar memulihkan bi*ahi yang sempat down karena mati lampu yang membuat mereka ketar ketir merayap di dinding menuju kamar anak-anaknya yang mereka cemaskan.
"Mas... berarti harus di kamar!"
"Heem, coba dari tadi ya di kamar. Kayaknya aku udah sesi dua." Dafa dengan rusuh membuka kembali celananya.
__ADS_1
Erangan dan desa*an saling bersautan dari mereka, bergantian saling mencengkeram, saling mengusap dan bibir yang bulak balik bertaut.
Kegiatan yang sama-sama meraka rindukan akhirnya terealisasikan, gerakan Dafa yang menghentak nya berubah-ubah, kadang pelan nan lembut, kadang cepat dan keras.
Mulut dan tangan mereka tak henti bekerja, Dafa yang mere*as segala yang dia sentuh. Berbeda dengan istrinya yang mencengkram dan mencakar apa yang dia pegang.
Begitu pun dengan bibir, Dafa mencium dan melu*at apa yang dia temukan di tubuh istrinya. Tapi istrinya menggigit apa yang temukan.
"Sungguh air susu di balas air tuba!" Dafa berdecak saat Mentari menggigit bahunya.
"Air susu ku cuma buat anak-anak." Jawabnya berbisik.
"Arggghh... " Dia kemudian menjerit saat Dafa tanpa aba-aba menghentak nya kuat.
"Pelan-pelan!"
"Nggak bisa, aku lagi berpacu dengan kenikmatan!"
Dafa memacu tubuhnya lebih keras, kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam.
"Enak... " Lirih Mentari kelepasan.
Dafa menunduk dan tersenyum, "jelas, Mas mu nggak pernah mengecewakan kalo soal... aduh... sebentar lagi ini... "
"Ehmm... aku... arghh... Mas!"
"Tunggu.. aku juga, mau... "
Mereka mengerang bersamaan saat mencapai puncak, kembali saling mengecupi dan saling berterimakasih. Berpelukan di bawah selimut dengan tubuh yang masih polos, karena rencana mereka untuk kembali bermain di sesi 2.
*
*
Suara tangisan terdengar.
Pasangan yang masih sama-sama lelah, namun memaksakan bangun. Dafa mengenakan boxer tipisnya. Dan Mentari berlari ke arah kamar mandi membersihkan tubuh bagian bawahnya, dan menyambar bathrobe yang menggantung di kamar mandi.
Dafa mendekati box Helen dengan cepat, takut membangunkan adiknya yang masih nyenyak.
"Yayahh.. " Gadis kecil itu merentangkan tangannya ke arah Dafa.
"Aduh, panas gini kamu nak!" Dafa panik saat merasakan suhu tubuh putri pertamanya begitu panas.
Mentari yang keluar dari kamar mandi, langsung mendekat saat melihat sorot mata suaminya mengatakan tak baik-baik saja.
"Kenapa?"
"Ini, Helen panas banget!"
Mentari menempelkan pipinya pada pipi anaknya.
"Aduh, sini sama Ibu!"
"Nda... Yayah!" Helen menolak dan malah melingkarkan tangannya pada leher Ayah nya.
Mentari mengusap pelan kepala anaknya, lalu berjalan ke luar kamar mengambil persediaan obat.
Masuk kembali dengan sebotol obat syrup berwarna merah.
"Minum dulu obat yu... " Mentari membujuk anaknya yang bersandar di pundak ayahnya.
"Yah, tidur lagi. Mas. "
"Biarin, nanti aja kasih obatnya. Pasti nggak lama!"
Dafa masih menggoyangkan badannya menimang memberikan rasa nyaman untuk putri sulungnya.
"Tidur lagi, mumpung Shera masih tidur. Helen biar sama, Mas." Perintah lelaki itu.
Mentari mengangguk patuh, dia berbaring kembali lalu tak lama dengkuran halus terdengar.
Dafa masih berdiri menggendong Helen, dia tersenyum menyaksikan pemandangan istri dan anak-anaknya.
"Sehat dan bahagia terus ya kalian." ucapnya sambil menciumi Helen yang tertidur di pelukannya.
*
__ADS_1
*
Mentari terbangun saat mendengar Shera menangis, sedikit terburu turun dari tempat tidur ke arah box Shera.
Saat Shera telah berada di gendongannya, dan langsung mengecap kuat dadanya karena rasa haus.
Mentari melihat Dafa dan Helen tidur di sofa kamar mereka. Dia ikut duduk di sebelah suaminya yang terlelap memangku Helen.
Di pegang nya kening Helen untuk merasakan suhu tubuhnya. "Udah nggak panas!" Gumamnya pelan, namun menyadarkan suaminya yang ternyata baru saja tertidur.
"Iya, udah minum obat tadi. Helen langsung tidur."
Lelaki itu bangkit dan berjalan ke arah box Helen, menidurkan putrinya setelah dia ciumi pipinya.
Dafa berjalan ke arah sofa lagi.
"Tidur gih, aku bentar lagi kok. Shera dah mau tidur lagi."
Dafa melihat jam di dinding baru pukul dua malam, lalu berinisiatif membuat minuman hangat untuk istrinya.
Masuk kembali ke kamar dengan segelas susu coklat, memberikannya pada Mentari.
Wanita itu tersenyum penuh cinta, dia merasakan limpahan kasih dan cinta dari lelaki yang pernah membuatnya kecewa, sekaligus membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Makasih.. Mas!" Mentari menyodorkan gelas kosong itu pada suaminya.
Dafa berjalan ke arah nakas, "aku tidur duluan, tapi aku pengen nambah ya ntar!" katanya sambil mengedipkan mata menggodanya.
Mentari terkekeh pelan lalu mengacungkan jari jempolnya. Dafa tersenyum puas, lalu merebaknya tubuhnya dan tak lama suara dengkuran halus terdengar.
*
*
Rencana mereka untuk menambah sesi percintaan itu gagal, nyatanya Dafa dan Mentari bangun terlambat, Dafa yang seharusnya sudah berada di kantor pukul delapan baru terbangun pukul 7 kurang.
"Mas, sarapan dulu." Mentari yang menggendong Shera menyodorkan setangkup roti coklat.
"Aku udah kesiangan ini, aku bekal aja ya di makan di mobil!" Dafa mengambil roti itu.
Mentari berjalan mengikutinya ke teras Helen yang sudah bermain di teras langsung menyambut Ayah nya yang sudah rapi.
"Yayahh... " panggilnya.
Dafa berjongkok sebentar untuk mencium putrinya.
"Anak Ayah udah sembuh!" katanya setelah mencium kening Helen.
"Iya.. " Helen menjawab dengan mimik wajah menggemaskan
"Ayah pergi ya, Helen jaga Ibu sama adik Shera."
Mentari memandang interaksi anak dan suaminya itu.
Dafa bangun dan mencium Shera kemudian kening istrinya, lalu berbisik "kamu hutang sesi tambahan!"
Mentari menjengit sambil tertawa, "Iya, nanti aku bayar!"
"Nanti aku tagih."
"Siap, "
Mereka pun tertawa, dan Dafa membuka pagar rumah lebar...
"Mas, kan mau servis mobil aku!" Mentari berteriak saat Dafa malah membuka SUV hitam miliknya
"Eh iya lupa, siniin kunci nya!"
Kemudian dia masuk ke dalam sedan putih milik istrinya, "iya, ada suara gerutuk... kayaknya mesinnya juga udah kelamaan nggak di panasin!"
"Aku pergi!"
"Iya, Hati-hati."
Dafa melajukan mobil sedan itu dengan kecepatan seperti biasa, dia tidak pernah bisa menjalankan mobil di bawah 60km/jam.
❤❤❤
__ADS_1
Bersambung
Beberapa part lagi end ya, cuma minta like dan komen plisss 🙏🙏🙏🙏, nggak rela tapi udah kepanjangan dan aku nggak bisa fokus ama