Kisah Mentari

Kisah Mentari
Mass.. dan suny..


__ADS_3

🌹🌹🌹


Pagi hari...


Langkah kaki Mentari menuruni anak tangga dengan cepat, dia terlambat bangun karena telponan dengan Dafa sampai dini hari.


"Pagi Ayah... maaf Chaca kesiangan." ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Tradisi di keluarga itu jika sarapan harus kumpul semua anggota keluarga, selagi ada kesempatan berkumpul maka wajib untuk mereka duduk satu meja. Itulah titah ayah.


"Kamu tidur larut dek? ada tugas?" tanya ayah.


"Apaan haha hihi tuh yah telponan!" Bintang berkata dengan polosnya sambil menggigit roti coklat favoritnya.


Mentari membola akan ucapan sang kakak, dia menendang kaki Bintang yang berada di depannya.


"Aww... sakit Cha!" Bintang mengusap tulang keringnya yang adiknya tendang.


Ayah hanya menyaksikan tingkah ke dua anaknya, yang memang selalu ribut jika bertemu.


"Dek.. langsung ke rumah sakit?" sambil melipat koran yang telah selesai dia baca.


"Ke kampus dulu nyerahin tugas yah, baru ke rumah sakit!" jawabnya sambil mengoles selai kacang pada roti tawar yang dia pegang.


"Ayah duluan kamu hati-hati ya!" ayah bangkit dan mengecup kepala anak perempuan satu-satunya itu.


Bintang pun bangkit sambil menjulurkan lidahnya,


"Iya sayang aku berangkat sekarang, kamu tunggu di jalan biasa ya." ujarnya


Mentari menatap jengah pada kakak nya yang dia sebut buaya darat itu.


Selalu gonta-ganti pacar dengan mudahnya.


"Jemput depan gang!" ledeknya dengan tawa.


Bintang yang belum terlalu jauh meninggalkan ruang makan kembali lagi hanya untuk sebuah jitakkan di kepala adiknya itu.


"Awww... kak sakit, kepala aku selalu ayah fitrahin tau." jeritnya kesal


Bintang hanya tertawa puas sambil melenggang pergi.


*


*


Mentari berjalan menyusuri lorong rumah sakit, setelah sebelumnya mengurus dan menemani Abang nya. Dia berpamitan menjenguk temannya yang juga di rawat di sana.


"Iya , ini aku lagi jalan di lorong nyari kamar kamu!" ucapnya kesal pada lelaki di seberang telepon sana.


Dia mendengus kesal memasukan ponselnya ke dalam tas berwarna Hitam nya.


"Dasar.. nggak sabaran!" dia menggerutu kesal sambil matanya terus memperhatikan nomor kamar.


"Melati 127, ah ini kayak nya !" Mentari menemukan nomor kamar yang Dafa sebutkan tadi.


Ketukan pintu pun terdengar.


Dafa yang sedang menonton tv menoleh ke arah pintu yang menyembulkan kepala seorang wanita yang dia tunggu-tunggu kehadiran nya.


"Hai... " Mentari menyapa setelah dia masuk ke dalam ruangan rawat Dafa.


"Lama banget sih? aku nunggu dari pagi!" tanya nya kesal


Mentari yang baru menyimpan tas nya di sofa, menatap kesal pada Dafa, "Aku balik lagi nih, kalau kamu masih ngomel gitu!" ancamnya.


"Eh... jangan, aku becanda. Ini saking aku nggak kuat kangen pengen ketemu kamu!" dia tersentak mendengar ancaman Mentari.


Mentari menghampiri Dafa dan duduk di pinggir kasur.


"Kamu belum makan?" tanyanya melihat nampan makan masih tertutup plastik wrap.


"Aku kan udah bilang, aku mau di rawat kalo kamu yang ngurus. Jadi yah aku nunggu kamu!" jawabnya cuek.


Mentari mengambil nampan itu yang sudah dingin. Lalu mulai menyendok kan nasi lembek dan ayam panggang yg terlihat pucat.


"ehmm.. nggak enak!" Dafa merenggut menahan mual saat makanan itu masuk dalam mulutnya.


Mentari menghela nafasnya dan menyimpan kembali nampan makan itu.


"Terus mau makan apa?" tanyanya.


"Kita ke kantin yuk!" ajak Dafa.


"Kaki kamu? emang kuat?" Mentari melihat gerakan Dafa yang tiba-tiba.


"see.. kuat lah!" Sombongnya.


Mereka pun berjalan ke arah kantin, memesan beberapa menu.


"Suapin, aku kan susah!" ujarnya mengangkat tangan kanannya yang di gips.


Mentari pun menyuapi Dafa hingga selesai


"Aku langsung balik ke kamar abangku ya!" ujarnya


"Yah... aku sendiri lagi dong?"


"Ih.. Abang aku juga sendiri kasian!" Mentari menyedot jus sirsak nya.


Dafa menatap wajah cantik mentari, hanya dengan kaos Sabrina berwarna hitam celana jins biru Dongker dan rambut panjang yang dia kepang menyamping membuat aura cantiknya semakin terpancar.


"Yuk.. balik kamar!" ajak mentari yang segera bangkit hendak membantu memapah Dafa.


"Di kamar mau ngapain sih? mau berduaan ya sama aku?" godanya


Mentari tak menjawab hanya menatap jengah lelaki yang berjalan dengan sedikit pincang.


...-------...


Hingga terus dia memapah Dafa berjalan menuju kamar.


"Pelan-pelan!" saat Mentari membantu Dafa berbaring kembali.

__ADS_1


Dafa menggenggam tangan Mentari ketika dia hendak mengambil ponselnya dalam tas.


"Apa?"tanyanya heran


Tatapan tajam di sertai senyum manis membuat Mentari semakin terhanyut oleh rasa yang mendebarkan, rasa yang benar-benar pertama kali dia rasakan.


"Apa sih?" dia salah tingkah


"Kamu cantik..." Ucap Dafa pelan.


Mentari memukul tangan Dafa spontan.


"Kamu apaan sih? dasar buaya!" namun hatinya terasa meletup-letup bahagia, bagaimanapun ini pertama kalinya dia merasakan cinta.


Seperti ada sengatan-sengatan kecil di tubuhnya, hati dan pikirannya semakin tak karuan saat Dafa menarik tangannya membuat tubuhnya tertarik semakin dekat dengan tubuh Dafa.


Tangan Dafa yang di pakai menarik nya kini sudah berada di tengkuk Mentari , mengusap dan menariknya semakin dekat.


Dafa tersenyum sebelum akhirnya dia daratkan sebuah kecupan pada bibir Mentari.


Mentari memejamkan matanya, dia tidak membalas hanya diam merasakan bibir Dafa yang memang sedikit bervolume.


Dafa merasakan tak ada balasan dari Mentari.


Lalu dia merenggangkan posisi nya, dan kembali menatap Mentari.


"Kenapa?" tanyanya


"A..aku nggak bisa, ini pertama buat aku!" jawabnya berbisik.


Dafa hanya tersenyum kecil dan kembali menarik tengkuk Mentari mendekat.


"Cukup kamu buka bibir kamu, biarin aku yang mengeksplor semua, kamu akan terbiasa dan bisa membalasnya." jelasnya.


Nafas mereka saling menyapu wajah masing-masing, Dafa kembali memposisikan wajahnya, dan kembali menempelkan bibirnya pada Bibir lembut milik Mentari.


Mentari seperti menurut atas semua titah Dafa tadi. Benar saja Dafa mel**mat dan dan lidahnya bermain di dalam sana seperti mengabsen apa yang ada dalam mulut Mentari.


Dafa begitu menikmati momen ini, hingga dia tersadar Mentari meremat pahanya dengan keras.


"Nafas... woy, kamu nggak nafas?" saat dia melepaskan tautan itu.


Mentari segera meraup udara sebanyak nya , saat Dafa melepaskan bibirnya.


Mengatur nafas dan jantung nya yang berdegup kencang. wajahnya memanas menahan rasa malu, aneh tapi juga terasa nikmat.


Hingga Dafa kembali melakukan itu hingga berulang kali.


"Duh... udah dulu, aku nggak kuat. Nanti ada yang pengen kenalan sama kamu lagi." ujarnya.


Mentari menatap nya penuh kecewa, karena dia sudah mulai menikmati permainan Dafa.


"Siapa?" tanyanya polos.


"Jangan dulu lah, belum saatnya dia kenalan sama kamu." Dafa menahan tawanya.


"Kamu ishh... bikin penasaran!" Mentari merengek pada Dafa.


"Nggak enak di denger nya aku kamu mulu, ganti lah pake panggilan kesayangan, apa kek gitu?" usul Dafa.


"Terus aku manggil kamu apa?" tanya nya


"Pipi Mimi, atau honey baby mungkin?" godanya.


"Ihhhh gelay, udah eneug duluan aku, nggak mau ah!"


Dafa tertawa melihat reaksi gadis yang baru dia ambil first kiss nya itu.


"Kakak atau Abang mungkin?" usulnya lagi.


"Dih... kayak manggil ke dua kakak aku!" tolaknya lagi.


"Apa dong?" Dafa mulai bingung.


"AA neng aja?" kata Mentari sambil tertawa merasa konyol akan usulnya sendiri.


"Dih aku bukan orang Sunda, Orang tua ku asli solo, aku lahir di Jogja, dan terdampar di Bandung." kekehnya.


"Mas.. aja


ucap mereka kompak.


Tawa pun keluar dari keduanya.


"Mas Dafa... gumam Mentari.


"iya dek.. jawab Dafa.


Mentari mendengar nya dengan sedikit merenggut kan keningnya.


"Nggak enak, kayak panggilan di rumah." tolaknya.


"Panggil nama aja!" pintanya


"Nggak lah, masa aku mas terus kamu mentari nggak enak lah nggak imbang." ujarnya


"Kalo neng gimana?" Dafa kembali mengusulkan.


mereka langsung tertawa.. merasa lucu dan geli sendiri.


"Kebayang nya aku lagi jalan terus kamu manggil aku, neng...neng... hayu mas anter pulang!" Mentari memperagakan penggilan mereka.


"Geli ih nggak mau, ntar di sangka aku di panggil kang ojek!" Mentari terus tertawa sampai sudut matanya mengeluarkan air mata.


Tawa nya hilang seketika ketika tangan Dafa yang bebas menelungkup dan mengelus pipi Mentari.


"Suny.. aku panggil kamu itu ya?" usulnya


"Suny? kenapa?" tanyanya penasaran.


"Mau aku panggil matahari? itu kan sama Ama mentari, cuma lebih soft aja kedengarannya, dan lain dari yang lain manggil kamu kan?" terang Dafa.


Akhirnya Mentari menyetujui panggilan untuknya.

__ADS_1


"Test dong.." pinta Dafa.


Suara ponsel mentari terdengar dari dalam tasnya yang teronggok di sofa.


Dia langsung berlari ke arah sofa. kau mengangkat panggilan itu.


"Halo.."


"..."


"Iya, aku kesana sekarang!"


"..."


Mentari segera bangkit menghampiri Dafa.


"Aku .. harus segera ke ruangan Abang, kamu nggak apa-apa ya aku tinggal?" ucapnya dengan berat hati, jujur Dafa membuat hatinya lebih berwarna.


"Tuh kan aku kamu lagi, masih basah nih di bibir." Dafa merengek kesal.


Mentari menahan tawanya.


"Mas... aku ke kamar Abang dulu ya!" mentari mengulang kembali ucapnya.


Nyesss... Dafa merasakan hatinya menghangat mendengar panggilan Mas pada dirinya.


"Gitu dong... Sun kamu balik lagi kesini kan? seenggaknya kita ulang yang tadi!" godanya.


"Apa sih kamu mas.. mesum deh." Mentari menahan senyumnya merasakan getaran aneh kembali menggelitik di dalm dadanya.


Suka.. iyalah sudah pasti, aneh kan dia suka gombalan dari Dafa.


*


*


"Kamu dari mana sih? katanya mau jagain bang langit? malah kelayapan." Semprot Bintang saat Mentari masuk ke ruang rawat Langit


"Apa sih kak, datang-datang marah. Aku abis jenguk temen aku!" terang mentari mendudukkan pantatnya pada sofa, lalu membuka kantong keresek di atas meja.


"Wihhhh.... Batagor." girang nya mendapati makanan kesukaannya yang Bintang bawa.


Kakak nya itu galak nyebelin tapi rasa sayang nya tak pernah terlihat jelas pada adiknya itu.


"Abang tidur dari tadi kak?" tanyanya sambil memakan batagor miliknya.


"Iya dia sempat meringis tadi, ulu hatinya perih katanya." jawab Bintang sambil memainkan ponselnya.


"Kakak nginep di sini?" Tanya Mentari.


"Nggak lah, paling maleman pulangnya. Takut Abang butuh sesuatu." Jawab Bintang.


"Kak.. minumnya nggak beli?" Mentari merasa kepedesan.


"Noh air putih!" tunjuknya pada dispenser di ujung ruangan.


"Kalo makan yang pedes lebih enak minum yang berasa kak!" Mentari masih mengibaskan tangan pada mulutnya yang terasa panas.


"Beli Sono, ke kantin. Udah untung gue inget beliin makanan buat lu!"


"Bagi duitnya kak! Aku belum ke ATM." mentari menengadahkan tangannya pada Bintang.


"Ck... apes dah , untung cuma atu adek gue kalo empat kayak lu, ancur hidup gue!" Bintang merogoh dompet nya dan mengambil uang kertas lima puluh ribu.


Mentari menyambarnya dan berlalu sambil cekikikan.


*


Mentari sedang berjalan sambil menyedot jus mangga yang dia beli di kantin rumah sakit, melewati lorong kamar Dafa dan dia tersenyum memegangi dadanya yang kembali berdetak kencang tak karuan.


Saat dia akan masuk kembali ke kamar Dafa, ponselnya berdering menandakan pesan masuk.


"Buruan... gue mau mandi. Abang mau makan tuh urusin." Pesan dari bintang.


Mentari mencebik kesal, berjalan menghentakkan kakinya.


*


Sore harinya , mentari pamit pulang . Namun dia sudah berniat akan menemui Dafa dulu sebelum benar-benar pulang.


ketukan pintu pun di lakukan sebelum masuk ke ruangan kekasih nya itu di rawat.


"Mas... panggilnya.


Terlihat Dafa yang sedang terlelap. Di pandangi nya wajah tampan itu, ya dia tampan dengan alis tebal, hidung mancung dan bibir bervolume.


Mentari tersenyum dan ketika dia berbalik untuk pulang, tangannya tertahan.


"Mas.. aku kaget, kirain kamu beneran tidur!" ucapnya kesal.


"Tadi mas emang bener tidur, tapi ada seseorang yang duduk kerasa ada getaran aneh gitu kayak alarm jantung!" gombalnya


"Prett... " Cibir Mentari. dan Dafa pun tergelak


"Mau pulang?" Tanya Dafa


"Huuumm... tapi mau pamit dulu sama mas!"


Dafa pun bangun dari posisi nya dan duduk menghadap Mentari.


"Kiss dulu dong buat bekel aku biar kuat melewati malam yang sepi!" Ucapnya manja.


Mentari tertawa lucu melihat tingkah kekasihnya itu.


Dan tautan bibir kembali mereka lakukan, kini Mentari lebih rileks dan mulai bisa membalas dan memposisikan tubuhnya tidak se kaku tadi.


Setelah pamit dia pun keluar dari kamar itu dengan wajah yang sumringah dan terus melebarkan senyumnya.


Dan di ujung lorong seseorang memperhatikan tingkah nya yang terasa janggal.


**Bersambung❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mau mampir 🙏🙏, dan minta jejak kalian boleh🤭, like komentar juga saran dari kalian aku tunggu🙏😘😘

__ADS_1


Terimakasih banyak, sehat dan bahagia selalu untuk kita semua😘😘**


__ADS_2