Kisah Mentari

Kisah Mentari
adik aku muntah


__ADS_3

🌹🌹🌹


"Mas... "


"Hemm..."


keduanya melepaskan tautan bibir itu.


Saat Dafa kembali mendekatkan kembali wajahnya akan memagut kembali bibir Mentari.


"Udah... bibir aku udah kek dower!" Mentari meraba bibinya yang memang terasa kebas dan terasa bengkak.


"Kamu makin seksi tau!" Puji Dafa.


Mentari memutar bola matanya kesal.


"Modus kamu mah Mas... Mana ada bibir dower kek gini, bagus dimana nya coba?" Mentari menatap spion di atasnya.


"Asli... ishhh kamu bikin aku candu!" Dafa menarik kembali dagu Pacar cantiknya itu kembali memagut nya lembut dengan sedotannya yang kencang, melebihi sedotan pompa air.


"Mas... udah ah, aku perasaan lagi ngambek deh soal yang kemarin, kenapa malah gini kejadiannya!" Mentari memukul bahu Dafa yang masih berada dengan jarak dekat dengannya.


"Hahaha... tapi enak kan? kamu juga ngebales malah!" Dafa menertawakan dengan puas.


Mentari membuang wajahnya malu, dia menatap ke luar jendela mobil itu. Lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Kenapa?"Dafa bertanya.


"Aku di jemput masih lama," Ucapnya dengan Bibir mengerut lucu.


"Eugghhhh..." Dafa menggerutu.


"Mas kenapa?" tanyanya heran.


"Ini jangan di manyun-manyunin, aku nggak kuat!" Iqbal menyomot bibir sensual itu.


"Masih sakit tau, kebas gini!" Mentari kembali melihat ke arah kaca.


Dafa yang sedang mengusap bibir itu, seketika mendengus kesal. otak mesumnya kembali berulah, memutar rekaman film-film yang sering dia tonton.


"Kenapa sih kamu mas? uring-uringan terus?" Mentari kembali menatap heran.


Dafa mengatur posisi jok nya sehingga sedikit menyandar, lalu dia merebahkan tubuhnya dia meringkuk sedikit mengejatkan kakinya seperti sedang kesal.


"Udah aku bilang, kalo deket sama kamu, aku... aku ya nggak kuat, si adik berontak blingsatan. Pengen kenalan." ucapnya sembari tangannya menangkup area bawahnya di mana sang adik berada.


"Mas... aku kan udah bilang kalo aku nggak bisa , aku takut." Tika menutup wajahnya takut dan juga sedikit malu.


"Aku bisanya sebatas kiss doang Mas..." ucapnya malu-malu.


"Iya nggak apa-apa, aku suka kok." Dafa tersenyum nakal.


"Tapi kalo udah kiss, aghh... gagang aku tegak!"


ucapnya memelas.


"Gagang? apalagi sih?" Mentari bertanya dengan nada sedikit bingung.


"Mau adik, Ade, gagang, belut listrik itu sama aja nama si onoh!" ucapnya sambil tangan yang menelungkup menutup area bawah nya dia buka sedikit, seperti sedang mengintip.


Mentari menggelengkan kepalanya, "Mass... ampun bahasa kamu, nggak ada yang lebih keren gitu?" Mentari terkekeh.


"Orang lain mah pada keren namanya, aku nyari yang lain tapi klasik gitu, lagian apalah arti nama. Yang penting kekuatan!" Ucap Dafa dengan bangganya.


"Ishhh... pembahasan yang nggak berfaedah!"


Mentari memutar matanya jengah.


"Kata siapa? ini ilmu pengetahuan tau, nanti pasti perlu!" Tegas Dafa.


Mentari hanya mengedikkan bahunya.


*


*


Jalan-jalan yuk, ntar mas anterin lagi kamu ke sini sun!" Ajaknya.


"Nggak, ah... sejam lagi aku di jemput!" Mentari mengeluarkan ponselnya.


Dafa merebut ponsel itu. "Kalo kita lagi ketemuan gini, usahain memaksimalkan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat." pinta Dafa.


"Terus aku ngapain? kan jenuh nunggu sejam!" Mentari kembali meraba bibirnya yang masih terasa bengkak.


"Di pegangin terus sih?" Dafa yang masih sedikit merebahkan badannya menatap Mentari yang sedang bercermin.


"Beliin aku es krim, buat ngompres bibir aku yang jeding ini!" Mentari merengek manja.

__ADS_1


"Udah aku bilang bagus, sensual juga duh idaman cewek-cewek jaman sekarang. Kamu nggak usah apa sih namanya yang kayak di tato itu?" tanyanya.


"Apaan? Yang Mas maksud sulam bibir?"


"Nah... iya itu, kamu aku bikinin gratis malah, enak lagi!" Jawbanya asal.


Mentari membulatkan mata sempurna. memukul lelaki mesum di sebelah nya itu.


Dan alhasil mereka tertawa bersama.


*


*


Kini mereka tengah memakan es krim yang mereka beli dari salah satu restoran cepat saji tak jauh dari kampus Mentari, namun mobil itu kembali ke parkiran kampus.


Dafa terus memandangi Mentari yang sungguh menikmati Es krim nya, Jilatan demi jilatan yang Mentari lakukan malah membuat Sesuatu di tubuh Dafa kembali bereaksi.


"Aishh... Napa lu bangun terus sih? paha gue dah pegel nih!" Batinnya menyadari gagang nya kembali bereaksi.


Mentari tersadar bahwa Dafa sedang menatapnya.


"Mau mas?" Tanyanya polos .


Dafa tak menjawab, dia memalingkan pandangannya tak kuat lagi rasanya.


"Mas... kenapa?" Mentari yang masih memegang es krim itu, mencondongkan tubuhnya ke arah Dafa.


Dafa berbalik ke arahnya dan jarak mereka sudah terkikis sangat dekat.


Dafa langsung menyerang kembali, menautkan kedua bibir itu, menghisap dan sedikit menggigit kecil. Dafa menahan tengkuk Mentari agar tak melepaskan nya.


"Sun..." suara Dafa terdengar parau.


Mentari menutup matanya, ia masih menata nafas dan jantungnya yang berdegup kencang.


"Sun..." Dafa kembali memanggil


Mentari membuka matanya dan menatap netra Dafa yang mulai kelam tertutup kabut naf*su.


"Aku nggak tahan sun!" Dafa memegang Area bawahnya.


"Udah pegel banget, dia nggak mau tidur, nggak ada Tante bio."


Mentari terdiam mendengar ucapan Dafa, jujur dia juga merasakan sengatan-sengatan aneh pada tubuhnya.


"CK... kamu tega, ninggalin aku lagi tegang-tegangnya." Dafa mendengus dan merengek.


Seketika wajah Mentari merona, dia malu dan tentu saja takut dan bingung lebih mendominasi.


"Terus kalo nggak pulang aku gimana? Takut.."


Mentari sedikit menjaga jarak dengan Dafa.


"Please..." Dafa memohon


"Bantu aku, ini nggak lama, aku janji." Dafa kembali memohon dengan kata-kata yang mengiba.


Mentari menatap jam di tangan nya. "Waktu kita nggak banyak." Ujarnya.


"Ini... nggak akan lama, please ya bantu aku!" Dafa membuka pintu mobilnya.


"Kita pindah ke belakang, biar lebih leluasa." Ajaknya.


Mentari mengikuti Dafa turun dari mobil dan pindah ke jok belakang.


Kini mereka sudah duduk di belakang, Mentari sedikit salting, bingung apa yang akan terjadi selanjutnya dia sama sekali nggak tau.


"Sekarang ya... aku janji ini bakal cepet!" Ucap Dafa memangkas jarak nya semakin menempel pada tubuh Mentari.


"Dih... ini gips ganggu banget!" gerutunya.


"Mas... a..aku harus apa?" Tanya Mentari gugup.


Dafa merapikan rambut kecil mentari , dia selipkan ke belakang telinganya. Lalu leher mulus itu terpampang indah.


"Kamu nggak usah ngapa-ngapain, aku yang kerja tapi dengan bantuan kamu. Kamu nyatai aja jangan tegang." Dia mencoba menenangkan pacarnya itu yang terlihat sangat tegang.


Dafa mengecup seluruh wajah Mentari, berakhir di bibir menyesapnya lama. Tangannya dengan terampil membuka kancing kemeja Mentari satu persatu.


Suara decapan dan Leng*han terdengar saling bersautan di mobil itu. Dafa tersenyum dalam kegiatannya mengecupi leher indah itu, dia merasa puas mendengar de*ah*an Mentari.


"Mas... jangan bikin tanda di leher!" Suara mentari tercekat, tubuhnya sudah mulai kacau mendapatkan bermacam sentuhan dari Dafa.


Dafa menatapnya dan mengangguk.


Kecupan itu semakin turun dan tangan yang tak henti mengusap dan meremat apa saja yang dia temukan, lalu benda bulat padat dan lembut itu dia temukan.

__ADS_1


"Ehhmmm..." Mentari mencengkram kerah baju Dafa, saat bulatan empuk miliknya di remat kuat oleh Dafa.


"Sakit, Mas..." Rengeknya.


Dada menghentikan kegiatannya, dia menarik kemeja Mentari hingga lolos menyisakan Kain berenda warna hitam.


Tangannya mengusap lembut bagian indah yang di miliki wanita cantik di depannya. Mengeluarkan isinya dan seketika menyesap nya.


"Agggghhhh.... Mas." Mentari menjambak kuat Rambut Dafa.


Dafa yang sudah semakin tak kuasa menahan, menuntun tubuh Mentari untuk sedikit berbaring dia mengungkungnya, memagut kembali bibir itu, Dan tangannya mengusap lembut bagian dada Mentari.


Dia menggesek dan menekan adiknya itu di atas tubuh Mentari, dengan di awali tempo yang pelan.


"Mas... sakit."Ucapnya polos, memang benda itu tidak masuk tapi tekstur nya yang keras dan menekan pangkal pahanya membuat Mentari sedikit kesakitan.


Dafa menulikan pendengaran nya, Dia menyesap bulatan empuk itu dan tangannya menopang tubuhnya, karena sebelah tangannya yang sakit tak bisa leluasa bekerja.


"Sun... Sekarang! Dafa semakin cepat menggerakkan tubuh bagian bawahnya yang bergesekan dengan pangkal paha Mentari.


"Aghh......" Dafa Menggeram ke enakkan, sesuatu meledak dengan sangat nikmat.


Mentari merasakan sesuatu yang berdenyut dari dafa. Tapi dia diam dan terlalu malu untuk bertanya tentang kepolosan nya itu.


Mereka bangun dari posisi itu, Mentari membenahi pakaiannya, Dafa masih menikmati pelepasan nya tadi.


Tersenyum menatap gadis di sampingnya yang akhirnya luluh juga dari penolakan nya.


"Sun..."


"heum?" mentari mendongakkan kepalanya menatap Dafa.


"Celana aku basah, si adik muntah enak!" Ucapnya sambil terkekeh.


Mentari menatap jengah dengan bahasa yang cukup fulgar dari lelaki yang dia sebut pacar itu.


"Makasih ya, sayang..." Dafa mengecup kening Mentari yang sedang mengancingkan kemejanya.


Dafa meraih tisu dan membuka resleting celana jeans nya. Dia lap cairan kental yang baru saja adiknya muntahkan.


Mentari berbalik setelah selesai merapihkan bajunya, seketika menutup mata dan berteriak kecil.


"Mas....


"Apa? liat deh Sun dia tidur nyenyak, mimpi indah pasti si adik udah di tidurin sama kamu, walaupun belum jabat tangan. tapi dia dah muntah enak menandakan dia welcome sama kamu." godanya.


"Mas... cukup, ampun omongan kamu bikin aku, geli. dih... ada ya cowok kayak gini!" Gerutu mentari tapi dengan wajah yang memanas merona menahan malu.


*


*


"Kapan kita ketemu lagi sun? besok ya?" ujarnya.


"Aku libur mas besok, istri dosen ku melahirkan, jadi beliau cuti. Barusan juga kan setengah hari keburu di telpon istrinya lahiran." terangnya.


"Ya udah besok kita main yuk? kita jalan-jalan kemana aja yang kamu mau, kencan gitu !" tawarnya dengan wajah penuh pengharapan.


Mentari menatapnya dengan wajah berbinar.


Ini kesempatan dia merasakan kencan seperti orang normal, tanpa kekangan sang ayah.


"Kamu bilang aja kuliah seperti biasa, nanti aku jemput di sini, dan pulangin lagi kamu ke sini sebelum supir kamu jemput."


"Mau ya?" Dafa bertanya.


Mentari mengangguk dengan antusias.


"Mau... mau banget, aku pengen jalan-jalan ke perkebunan gitu, yang sejuk . Ya mas.."


"Siap, mau ke kebon , bukit, atau gunung juga aku jabanin!" Ucapnya pasti.


"Makasih Mas... kamu ngasih warna lain di hidup aku!" Mentari sedikit berkaca-kaca.


Dafa mengusak rambutnya lembut. Bersamaan sebuah notif pesan dari Mang Unang masuk.


"Mang Unang udah di parkiran, aku pulang ya!" Mentari turun dari mobil hitam itu setelah sebelumnya Dafa kembali memagut singkat bibir itu.


Seringai tipis Dafa sunggingkan di bibirnya melihat punggung Mentari semakin menjauh dari pandangannya.


"Sedikit lagi Sun..." gumamnya.


Bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mampir, tinggalin jejak like dan komennya ya please🙏🙏🤭😘😘.


Kritik saran aku tunggu 🙈🙈

__ADS_1


Makasih, sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤️❤️❤️❤️


__ADS_2