Kisah Mentari

Kisah Mentari
terlalu menyakitkan


__ADS_3

❀❀❀


Dafa langsung mengekori Mentari, yang berjalan tergesa-gesa ke arah lain ruangan yang dia tempati tadi.


"Mau kemana dia?" gumamnya mengikuti, dia melewati lorong yang terdapat beberapa pegawai yang tengah menekuni pekerjaannya di atas mesin jahit.


Dia berpapasan dengan seorang lelaki kemayu, "Bu Mentari kemana?" tanyanya agak sedikit bergidik melihat tingkah pria setengah jadi di depannya, yang sangat centil menurut nya.


"Ihhh, nggak boleh ke sini. Ini tempat pegawai," ucapnya dengan suara lemah dan tangan yang gemulai itu hampir menyentuh lengannya, Dafa langsung beringsut menjauh. Sayup-sayup dia mendengar suara Mentari.


Dafa mendekat ke arah pintu yang sedikit terbuka. Jelas sekali suara Mentari, istri nya yang baru saja dia temukan.


"Putri Ibu, haus banget. Maaf ya, Ayah kamu kelamaan ngajak ngobrol nya."


"Sri, bilang ke lelaki yang ada di depan kalo dia nyari saya, bilang nggak bisa di ganggu." Mentari berkata kepada Sri, sambil mengasihi Helen.


"Teh ... "


Sri memanggil nya.


"Udah, cepet entar dia nyari saya. Saya nggak mau dia liat Helen sekarang." Mentari menggerakan tangannya mengusir Sri.


"Ta_tapi ...."


Sri menghentikan ucapannya.


Mentari menoleh ke arah Sri yang berdiri di sebelah nya, pegawai nya itu meremat tangannya dan ekor matanya menunjuk ke arah gawang pintu.


Saat Mentari membalikan kepalanya ke arah pintu, dia melihat Dafa mematung tepat di belakang tubuhnya yang membelakangi pintu.


Dafa masih terdiam, dengan sorot mata yang menakutkan menurut Mentari. "Habis udah, mati aku." Berkata dalam hati, kini ketakutan terbesarnya adalah Dafa murka dan mengambil anaknya.


"Mengambil?" nggak mungkin, bukannya dulu dia tidak menginginkan Helen, sampai dirinya tersiksa secara batin. Karena merasa kehamilan nya di tolak Dafa.


Mentari mengeratkan pelukannya pada Helen, dia takut Dafa akan berbuat yang aneh, karena sebagian isi dari pria di hadapannya itu adalah emosi.


"Tamu saya masih ada Iki?" tanyanya pada lelaki kemayu yang ada di belakang Dafa yang masih mematung.


Iki si kemayu pun melongok kan kepalanya di sela ketiak Dafa, karena pria tinggi itu menghalangi pandangan nya terhadap bos nya. "Udah pulang, Teh. Bieu pisan. (baru banget).


Mentari mengangguk kecil dan kembali fokus pada Helen. Tubuhnya yang sedang mengASIhi membelakangi gawang pintu, jadi bagian yang terbuka nya tidak dapat di lihat oleh Dafa apalagi Iki.


Dafa hanya melihat Mentari menggendong seorang bayi, karena kaki Helen sedikit menjuntai dalam gendongan Ibu nya.


" Bisa tinggalin kita berdua." Kata Dafa pada Sri yang masih diam di sebelah istrinya.


Mentari memejamkan matanya kuat, "ini waktunya." gumamnya.


Sri pun mengangguk dan sedikit membungkuk melewati Dafa dan mendorong tubuh Iki yang masih penasaran dengan lelaki tampan yang membuatnya semakin kecentilan.


*


*


Dafa menutup pintu itu, berjalan ke arah Mentari.


Dia melihat dengan jelas, seorang bayi tengah menghisap barang yang dulu mutlak miliknya.

__ADS_1


"Sun, apa dia anak ...


Belum selesai Mentari sudah mengangguk, " Iya, dia anak aku." Jawabnya tegas.


Dafa ambruk di sebelah Mentari, dia terduduk lemas di lantai. Tangannya terulur memegang telapak kaki bayi cantik di depannya, yang sedang bergerak-gerak kecil.


Mentari menggeser kan posisinya, seperti tidak mau Dafa bertindak lebih jauh.


"Kenapa? kenapa kamu menyembunyikan hal besar seperti ini?" tanyanya mendongak menatap wajah Mentari yang duduk di atas kasur.


"Bukannya kamu tidak menginginkan dia, Mas?" mentari balik bertanya.


"Siapa? siapa yang tidak menginginkannya?" Dafa berkata dengan wajah frustasi.


"Kamu! di awal aku hamil, kamu jelas menolak dia."


Mentari menunduk menatap wajah dafa yang duduk di lantai tepat di sebelah kaki nya.


"Kamu nggak bisa gitu sama aku, Sun. Menyembunyikan darah daging dari seorang Ayah!"


Dafa beringsut duduk di sebelah Mentari menghadap Helen yang masih asik menghisap asi ibunya, dengan mata yang sudah terpejam.


"Dia, Anak aku aja titik dia ber orangtua tunggal." Mentari bangun dari duduknya.


Dafa langsung menahannya.


"Nggak bisa gitu, Sun. Kamu anggap aku udah mati gitu?" Dafa membalikan tubuh Mentari yang hampir mencapai gawang pintu.


"Ada darah aku, di tubuh bayi kecil ini." Dafa mengelus wajah Helen yang tertidur di gendongan Mentari.


"Siapa namanya?"


"Boleh aku, gendong dia?"


"Buat, apa? kamu menolak dia dulu! sekarang kamu tidak berhak atas dia."


"Cukup , Sun. Kamu udah bener-bener keterlaluan, kamu udah nutupin dia dari aku, dan sekarang kamu mau menjauhkan dia dari aku?" Dafa mulai meninggikan suaranya.


Mentari diam, dia kesal jika mengingat kejadian dulu. sakit hati sudah pasti, kecewa juga, dan rasa malu pada keluarga nya karena kelakuan Dafa.


"Nggak menjauhkan, tapi aku masih belum bisa nerima kamu. Aku masih sakit hati sama kamu, dulu kamu tidak menginginkan dia dan sekarang kamu mau di akui sebagai Ayah? Kenapa kamu nggak punya rasa malu?"


Dafa menyerap semua perkataan Mentari, hatinya sakit. Sepertinya kata maaf sulit untuk dia dapatkan.


Tubuhnya melemas, dia kesal dengan semua keadaan. Pikiran dan batinnya sudah lelah di terpa masalah bertubi-tubi selama beberapa bulan ini.


Mentari menoleh ke arah Dafa, karena tidak mendengar lagi suara lelaki yang masih suaminya itu.


Dafa berdiri di depan jendela kaca, menatap ke luar yang langitnya menggelap sepertinya akan turun hujan.


Dia merutuki semua keadaan yang sudah dia lalui. Lalu sebuah tangisan terdengar, Dafa menangis sesenggukan, sungguh dia sudah sangat lelah dengan semua keadaan yang dia lalui.


"Aku ... nyari kamu, Sun. Jangan pernah kamu kira aku tidak berusaha mencari kamu. Aku di oper kesana kemari saat mencari jejak kamu. Aku bahkan menyewa seorang detektif, untuk menemukan kamu di mana. Sungguh kamu seperti di sembunyikan di tempat yang tidak bisa aku temukan. Setiap alamat yang aku dapatkan selalu nihil. Kamu yang menjauh dari aku, bukan aku yang meninggalkan kamu. Seolah aku berlari mengejar bayangan ku sendiri, susah dan tidak mungkin aku gapai."


"Sekarang, kamu menyembunyikan hal besar dari aku. Menutupi kehadiran anak, yang kamu sangka dulu aku menolaknya. Kamu tau hancurnya aku dulu, dengan keadaan aku yang cacat, aku yang di timpa masalah bertubi-tubi. Sampai kamu pergi meninggalkan aku."


"Aku pikir selama ini, kamu yang paling tersakiti di sini. Dan ternyata aku yang paling tidak di anggap di sini, semua perjuangan ku berbulan-bulan nyari kamu sia-sia ternyata." Dafa mencurahkan semua rasa yang selama ini dia pendam sendiri.

__ADS_1


"Kamu tau, saat kamu ninggalin aku. Aku merasa dunia ku gelap, ada yang hilang, aku kesepian. Tapi semua itu suatu keadaan yang sudah kamu rencanakan."


"Maaf, kalo selama ini aku selalu nyakitin kamu." Tubuh Dafa merosot ke lantai dia menyandarkan punggungnya di tembok bawah kaca jendela.


Dia menangis pilu, rasanya dia sudah sangat tak bertenaga.


Mentari yang sedari tadi berdiri di dekat pintu sambil memangku Helen, kini ikut menangis. Melihat suaminya tergugu di bawah sana. Ternyata selama ini bukan dirinya saja yang tersiksa, suami nya pun tak kalah hancur.


Beruntung dia di kelilingi orang baik dan bahkan keluarganya bersatu memeluknya. Tapi suami nya itu sendiri dalam keterpurukan.


Mentari menghampiri Dafa, dia ikut berjongkok dengan Helen di dekapannya.


Dafa yang masih tersedu dan menutup wajahnya yang sedang menangis dengan telapak tangannya, tak menyadari Mentari sudah duduk di depannya.


Rasa sakit dan kecewa yang Dafa rasakan menghapuskan rasa gengsinya sebagai lelaki. Dia menangis bagai anak kecil.


"Mas ... " Mentari memanggilnya, dia sama sedang menangis, merasa bersalah atas semua. Niatnya memberi pelajaran pada Dafa nyatanya terlalu kejam hingga membuat lelaki itu sungguh kecewa.


"Aku, memang brengsek, Sun. Tapi apa pantas kamu perlakuan aku seperti ini?" Gumamnya lirih.


"Ini, terlalu berat untuk aku! lebih baik aku di pukuli kakak-kakak kamu, dari pada berpisah dari kamu. Nyawa aku kayak hilang separuh, aku malas menjalani hidup ... "


Mentari menggelengkan kepalanya, air mata semakin deras membasahi pipinya.


"Aku, minta maaf. Bukan maksud aku seperti ini. Aku hanya kecewa sama kamu." Mentari mengelus bahu Dafa.


Dafa mengangkat wajahnya, mereka saling menatap. Terlihat sorot mata yang saling merindu di sana. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa cinta yang begitu besar.


"Mau gendong?" Mentari menyodorkan Helen ke arah Dafa.


Dafa terlihat sangat antusias, wajahnya berseri. Tangannya langsung memposisikan agar bayi bertubuh gemuk itu aman dan nyaman di tangannya.


"Cantik ... " Ucapnya sambil menangis dan tertawa sekaligus. Menciumi pipi Helen bertubi-tubi, hingga Helen bereaksi karena bulu-bulu tajam di dagu nya.


"Dia geli, kalo di cium Ayah juga pasti gitu."


"Mulai sekarang aku nggak akan menumbuhkan bulu-bulu di muka." Janjinya.


Mentari tersenyum melihat Dafa yang begitu bahagia memangku Helen.


"Aku kira, aku yang akan memberikan kamu kejutan dengan datang ke sini. Tapi aku yang lebih terkejut akan hadir nya dia." Dia kembali menciumi Helen.


"Makasih, Udah bawa dia ke dunia ini. Maaf, tidak bisa menemani kamu selama hamil hingga proses melahirkan." Ucapnya.


Mentari mengangguk, "nggak apa-apa, banyak orang yang sayang sama Helen." Jawabnya.


πŸ’”πŸ’”


Pintu terbuka, "Ngapain kamu, di sini?" sebuah suara menggelegar di gawang Pintu.


Pasangan itu lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, menampilkan sosok orang yang tengah menatap marah pada mereka.


Bersambung ❀❀❀


Terimakasih yang sudah mampirπŸ™πŸ™, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi πŸ™πŸ™, cuma buat rame2 ajaπŸ₯°πŸ₯°


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❀


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir πŸ™πŸ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2