Kisah Mentari

Kisah Mentari
aku kangen


__ADS_3

🥀🥀🥀


Dua Minggu berlalu, Mentari melewati hari-harinya tanpa semangat, bahkan dia menjadi pribadi yang murung dan tak banyak bicara.


Pikirnya tidak ada gunanya, apapun yang dia lakukan, tetap harinya terasa gelap.


"Dek... "


"Kamu sakit? atau ada masalah?" tanya sang ayah saat mereka tengah sarapan.


Mentari hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan sang ayah.


"Cerita sama ayah, atau sama kakak-kakak kamu!" Ujar sang ayah.


Mentari menatap kedua kakaknya dengan wajah masih di penuhi rasa kecewa dan sakit hati, ayahnya itu tidak tahu jika semua kesedihan nya tercipta dari ulah kakak-kakaknya, yang katanya ingin melindungi dirinya entah dari apa.


"Aku nggak apa-apa, Mentari pergi duluan yah!"


Mentari mencium tangan dan pipi ayahnya namun dia melewati kedua kakaknya yang sudah dia acuhkan hampir dua Minggu ini.


"Kalian ada masalah sama Chaca? ayah lihat kalian tidak berbicara seperti biasa." tanya lelaki paruh baya itu.


Langit dan Bintang saling tatap, tidak mungkin mereka menceritakan semua. Dan mereka merasa dapat mengatasi masalah ini tanpa melibatkan ayah mereka.


"Sedikit salah paham yah!" Langit akhirnya menjawab dengan perkataan bijak.


"Si Chaca lagi baper , mungkin lagi PMS!" Jawab Bintang dengan sedikit kekonyolannya seperti biasa.


Lelaki paruh baya beranak tiga itu, merebahkan punggungnya di kursi meja makan.


"Ayah merasa Chaca semakin menjaga jarak sama kita, mungkin karena perbedaan gender dan kita tidak bisa memahaminya." Ucapnya lirih.


"Ayah, udah lah nanti juga baik lagi seperti biasa!" Langit kembali mencoba menenangkan kegelisahan sang Ayah.


Pak Gunawan menatap kedua anaknya dan mengangguk mencoba mempercayakan putri kesayangannya pada kakak-kakaknya.


"Ayo, bang kita berangkat!" Ajaknya pada Anak sulungnya.


Mereka pun berangkat memulai pekerjaan di hari Senin yang pasti lebih banyak daripada hari-hari biasanya.


Bintang keluar dari rumah itu paling terakhir karena jadwal kuliah nya agak siang.


🌹


🌹


Mentari sampai di kampus dengan wajah yang sendu, malas tanpa semangat seperti biasa.


"Hei..." Cindy menepuk punggungnya dari belakang.


Mentari hanya menarik sebelah sudut bibirnya, terlihat senyum itu sangat di paksakan.


"Udah dong sedihnya, gue kayak liat zombie cantik tau!" Cindy mencoba menghibur sahabat nya itu.


Mentari melirik ke arah sahabatnya, Lalu menghambur memeluknya.


Tangisannya pun pecah, Cindy yang tak begitu kaget akan reaksi sahabatnya karena Mentari sudah menceritakan semuanya. Langsung membalas pelukan itu.


"Sabar... pasti bakal ada jalan keluarnya buat kalian!" Cindy mengusap punggung yang masih bergetar karena tangisan itu.


"Aku kangen Mas Dafa, aku juga merasa bersalah sama dia, aku ingin ketemu tapi di mana? aku harus kemana?" ucap Mentari dalam tangisnya.


Mereka akhirnya duduk di bangku taman dekat gedung kelas nya.


"Udah nyoba telepon dia?" selidik Cindy.


"Nggak enak, aku ngerasa nggak punya muka buat hubungi dia. Semua kesakitan nya di sebabkan Kakak aku!" Tangisnya semakin kencang.


"Shhhtttt... lu berhenti nagisnya, orang-orang pada liat ke arah kita, di sangka gue ngapain lu lagi!" Cindy mencoba menenangkan sahabatnya itu.


Drrtt...Drrtt...


Ponsel Mentari bergetar, dia merogoh kantung cardigan nya, lalu matanya berbinar saat melihat siapa nama kontak yang menghubungi nya itu.


"Mas...


"Hai... Kamu apa kabar?" Tanya lelaki di sebrang sana.

__ADS_1


"Mas...." Mentari tak mampu berbicara panjang lebar, tangisannya malah kembali pecah.


Bagaimana bisa lelaki itu malah bertanya kabarnya padahal jelas-jelas dia yang tidak baik-baik saja.


"Hei, malah nangis. Aku kangen!" Dafa menggodanya.


Mentari mengangguk seolah Dafa bisa melihat dirinya.


"Maass, aku juga kangen! Mas baik-baik kan? aku khawatir!" Mentari masih terisak.


"Maaf bikin kamu khawatir Sun, Aku udah baikan udah dua hari di apartemen. Hp ku di sita Ama si Rijal resek, aku nggak hafal no kamu!" Ucapnya dengan nada menyesal.


"Aku mau nelpon kamu bingung, aku takut!" akunya sambil mengusap air matanya.


"Kangen, kamu nggak mau jenguk Mas mu ini?" rengeknya.


"Mau, aku mau banget!" jawabnya semangat.


"Nanti aku kirim alamat nya ya, tapi janji kalo kesini nggak nangis!" Ucap lelaki yang selalu mesum itu.


"Iya..."


"Love you My sunshine."


"Love you to Mas!"


Panggilan pun berakhir, Mentari menatap ke arah Cindy yang mengusap matanya yang tiba-tiba berair, menyaksikan kisah cinta sahabat nya itu.


"Kenapa?" tanya Mentari tersenyum melihat sahabatnya itu ikut menangis.


"Gue, nggak bisa bayangin ada di posisi lu." ucapnya lirih.


"Nggak usah bayangin, aku harap orang-orang yang aku sayang nggak merasakan hal yang aku alami. Sakit hati, bingung, kecewa jadi satu."


Cindy memeluk sahabatnya itu, "kamu kuat banget, salut asli!" ucap nya.


Mentari melepaskan pelukan itu setelah menyadari ponselnya kembali bergetar.


Wanita cantik itu tersenyum, membaca isi chat yang Dafa kirimkan.


"Aku mau ke Apartemen Mas Dafa!" Ujarnya sumringah.


"Nggak ada kelas, lagi nyari tempat buat magang!" jelasnya.


"Aku pergi ya, Udah kangen banget!" Mentari beranjak dari bangku taman itu dan segera berlari.


"Lu hati-hati, jaga diri ya!" Teriak Cindy.


Mentari hanya mengacungkan jempol dan tersenyum lebar. Terlihat jelas aura jatuh cinta begitu terpancar dari wajahnya.


"Gue doain lu bahagia!" lirih Cindy.


*


*


Mentari turun dari taksi online nya, berdiri menatap apartemen yang menjulang di depannya. Sesuai dengan alamat yang Dafa kirimkan padanya.


Dia berjalan menuju ke arah lobby, senyumnya mengembang sempurna melihat seorang pria berdiri menjulang tersenyum ke arahnya.


Mentari berlari menghampiri Kekasihnya itu.


"Hai... My sunshine!" Dafa merentangkan tangan nya.


"Mas...kangen!" Ucapnya setelah berhasil memeluk dan menghirup aroma pria di depannya ini.


"Sama, kayaknya lebih gede kangennya aku deh!" Bisiknya.


Mentari mendongak menatap wajah Dafa.


"Kenapa bisa yakin banyak kan kangen kamu Mas?" tanyanya penasaran.


"Soalnya kangen aku di kali dua sama si adik!" dia berucap sambil tergelak.


Mentari yang menyadari ucapan mesum kekasih nya langsung refleks mencubit pinggang Dafa.


"Aww... ish, Sun ini masih sakit!" Dafa meringis sambil memegang Pinggang nya yang masih tertutup Perban berbentuk seperti koyo.

__ADS_1


"Ma... maaf , aku lupa Mas!" Mentari panik ikut mengusap pinggang yang sedang di pegang Dafa.


Dafa tersenyum melihat perhatian yang Mentari lakukan padanya.


"Ayo, kita masuk. nggak enak di sini kayak patung selamat datang, berdiri di depan lobby!" Kekehnya sambil menggenggam tangan wanita yang dia rindukan itu.


"Kamu Mas, masa di samain sama patung!"


keduanya tertawa sambil memasuki lift, lantai 7 kamar no 79, kamu ingetin ntar kalo aku minta kamu tengok, atau kamu butuh aku. Kamu bisa Dateng sendiri." Jelasnya


"Sekarang aku juga aku kan dateng sendiri Mas!" Mentari menatap pria di sebelah nya itu.


"Aku kan sambut kamu kek security, sampai banyak yang senyum-senyum liat aku ngobrol sama security-nya." dia menggerutu kesal.


"Hahaha... Masa? duh ganteng gini security-nya!" Mentari menggodanya.


Dafa memutar matanya kesal.


Mentari menyadarkan kepalanya pada lengan Dafa. "Kangen banget ya?" tanya Dafa.


Mentari menjawabnya hanya dengan anggukan.


Lift pun terbuka, Dafa sedikit menarik tangan Mentari berjalan ke arah kamarnya.


"Welcome..." ucap Dafa setelah berhasil membuka pintu.


Mentari tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk, Matanya menatap setiap sudut ruangan itu, apartemen cukup luas dengan dua kamar lumayan besar, ruang tamu dan keluarga yang di sekat sebuah rak penuh dengan piala kejuaraan.


Mentari menyelidik piala-piala apa saja yang kekasihnya raih.


"Kalo kamu nyari piala kejuaraan di bidang academic, maaf kamu nggak akan nemu. Jujur aku nggak minat sebenernya kuliah makanya aku nggak selesai terus, soalnya aku banyak ngajuin cuti."


"Mending ngelakuin sesuatu yang feel nya kita dapet, dari pada ngelakuin sesuatu hanya demi orang lain!" Tambahnya lagi.


Mentari menatapnya bingung, "Maksud Mas?" tanyanya penasaran.


"Iya, aku ngelakuin ini semua, karena desakan Papa, dan janji aku sama almarhumah Mama!" jawabnya lirih.


Mentari memeluk Dafa, mengelus punggung tegap itu.


"Isinya juara balapan, Boxing aja?" tanya Mentari.


"Tetot... kamu kurang teliti Sun, di ujung ada Modif otomotif, ada juara DJ juga!" Tunjuknya pada ujung rak sebelah kiri.


"Terus yang sekarang Mas tekuni apa?"


" Semuanya yang bisa menghasilkan uang!" kekehnya.


"Serius?" Mentari sudah mulai kesal.


"Asli, kamu nggak percaya, kapan-kapan aku ajak kamu ya!" Dafa meyakinkan.


"Nggak janji Mas." Mentari membuang nafasnya kasar.


"Pesimis..."Dafa mencibirnya.


Mentari berjalan masuk lebih dalam di apartemen lumayan luas Itu.


Duduk di sofa yang menghadap ke balkon.


"Aku cuma punya waktu sampai jam 11!" Ucapnya melihat ke arah Dafa yang sedang mengambilkan minuman untuknya.


"Ya... sebentar lagi dong!" Dafa melihat ke arah jam yang sudah hampir jam 10.


"Abis jarak Apartemen Mas jauh dari kampus aku!"


Dafa memberikan sekaleng kopi yang dia ketahui sebagai brand kopi kesukaan kekasihnya itu.


Mereka duduk bersebelahan, terdiam namun sebenarnya otak dan hati mereka di penuhi berbagai pertanyaan dan kata-kata yang ingin mereka ungkapkan.


*


*


*


Bersambung ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, tinggalin jejak ya like sama komennya, kritik saran juga aku terima dengan senang hati😘😘


Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua❤️


__ADS_2