Kisah Mentari

Kisah Mentari
luar biasa


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Dafa memberhentikan mobilnya di depan pagar.


Lelaki itu turun dari mobilnya tanpa mematikan mesin mobil, membuka pagar lebar-lebar. Kemudian masuk kembali ke dalam mobil dan memarkirkan nya di sebelah mobil istrinya.


Dia memutari mobil, membuka kan pintu mobil untuk istrinya. "Sini Helennya," dia langsung meminta Helen dari pangkuan Mentari.


Lalu berjalan mendahului istrinya, dia langsung menuju kamar, dan Mentari mengekor di belakangnya.


"Sun, pengen kopi."


"Bentar, gantiin dulu baju helen ama baju seksay." Mentari terkikik menciumi Helen yang juga tertawa melihat Ibu nya.


"Mau, pake baju ketek? iya, aku gerah Ibu. Gitu?" dia menciumi lipatan tangan anaknya. Dan Helen tertawa karena geli.


Dafa keluar dari kamar mandi, sudah menanggalkan stelan jas nya.


Berjalan hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.


"Mas, tolong bentangan karpet ini ruang tv, Helen biar main di sana. Kasian seharian kita gendong terus." Pintanya pada sang suami yang tengah mengenakan kaos oblong nya.


"Siap, Ibu Ratu." Jawabnya singkat lalu sebelum keluar dari kamar dia menciumi anak dan istrinya.


*


*


Mentari keluar dari kamar dengan Helen yang sedang memakai baju tanpa lengan.


Dafa sudah duduk di Karpet dengan TV menyala, dan dia sedang membuka laptop yang dia simpan di atas sofa.


"Nih anaknya, jangan kerjaan mulu, Mas. Ishh... " Mentari menaruh Helen di atas pangkuan suaminya.


"Sun, aku harus kelarin dulu ini sedikit. Kita kan mau ke Bogor." Wajahnya memelas meminta ijin.


"Oh, iya. Berangkat kapan?"


"Abis Magrib lah, biar Helen istirahat dulu." Dafa membaringkan Helen di atas karpet bulu tebal dan Helen langsung berguling tengkurap dan bermain dengan boneka ikannya.


"Aku mandi dulu, " Mentari pun berlalu.


Seketika ide jahil melintas di kepala dafa.


Tak lama ...


"Sun,... " Panggilnya berteriak.


Mentari yang baru membuka kebaya nya, melenggang kembali keluar kamar mandi hanya menggunakan pakaian penutup terakhirnya saja.


"Apa?"


Dafa menatapnya seolah baru pertama kalinya.


"Mau kopi, Nggak kuat ngantuk. Biar seger." Keluh nya dengan wajah di buat se lelah mungkin.


Mentari mendengus kesal lalu berjalan ke arah dapur, dengan setengah bu*gil.


Dafa menyeringai, lalu mengacungkan jempolnya pada Helen yang menatapnya sambil memegang boneka ikannya. Seolah anaknya itu berbicara, "Modus Ayah, mau ngapain Ibu aku?"


Dafa terkekeh melihat raut wajah Helen, "Helen kenapa? tunggu sebentar ya." Dafa setengah Berlari ke arah istrinya.


Mentari yang tengah mengocek cangkir kopi, tersentak kaget saat Dafa tiba-tiba memeluknya dan menciumi lehernya.


"Mas, apa sih?"


"Belum mandi ...


" Aduh, itu Helen sendiri, kamu egois ih sebel." Dia berbalik dan memelototkan matanya.


"Aku pengen, kita mau ke Bogor. Takutnya aku capek nyampe sana." Rengeknya.


"Halah, alesan. Sampe sana juga pasti minta lagi." Gerutunya.


Dafa tertawa hingga kepala nya mendongak.


"Ya biarin, nanti ya nanti. Kamu juga ngga pernah nolak." Dia menjawil dagu istrinya yang tengah cemberut.


"Emang bisa nolak, kalo udah di pancing-pancing gitu, sebel." Cebiknya kesal.


Cupp...


Dafa menyatukan bibir mereka, Mentari hanya melotot kaget dengan pergerakan suaminya yang selalu tiba-tiba. Dafa lalu menggerakan bibirnya perlahan lalu melu*mat nya dan menyesapnya sedikit keras.


Mentari mulai ikut larut dalam permainan suaminya dan mulai membalas, dan kemudian memejamkan mata. Dafa bersorak dalam hati saat tak menerima penolakan dari istrinya, biasanya jika Helen bangun dia tidak pernah mau walau hanya sekedar ciuman.

__ADS_1


"Mas, ... Helen." Katanya saat pautan itu terlepas.


"Kamu juga mau kan? udah empat hari loh, Sun. Aku kangen." Bisiknya sambil mulai kembali mendaratkan kecupan kecil di daerah lehernya.


"Kasian, Helen. Sendiri!" Dia menahan kepala Dafa yang semakin menukik ke daerah dadanya.


Dafa menoleh sesaat, "anteng, sebentar. Sun. Aku pengen banget." Lagi-lagi dia merengek.


"Pegang deh, ngga kuat ini." Dafa menarik tangan istrinya agar memegang miliknya yang sudah mengeras hanya karena ciuman saja.


Lalu dengan cepat Dafa menaikan tubuh istrinya itu ke meja marmer yang kokoh.


"Aww ... " Mentari memekik tertahan.


Dafa kembali melu*mat bibir candu kesayangannya, tangannya yang sedari tadi di punggung melepaskan pengait itu dengan mudah.


"Emmm ... Mas, nanti lagi."


"Sekarang tanggung, sebelum Helen nangis." Lalu dia mulai memberi tanda di sekitar leher bawah menuju dada istrinya.


...🌸👶🌸...


"Mbuuu ... mbuuu... heekk hekkk.. " Helen terdengar merengek di karpet itu Kepalanya mendongak melihat ke arah pintu kamar. "Mbuuu.. " Lagi-lagi dia menggumam seperti memanggil Ibu nya.


Mentari mendorong Dafa dan langsung turun dari meja dapur. "Ini, Ibu sayang." Mentari setengah berlari menuju anaknya.


Dafa mendengus kesal, rasanya sudah di ubun-ubun, dan dia harus meredam nya lagi.


"Sun, aduh ... " Dia berjalan lunglai, berat sekali langkahnya karena dia harus membawa sesuatu yang kekar di bawah sana.


Dia melihat Mentari sedang memberikan asi pada Helen. Dan istrinya itu menempelkan telunjuknya di bibir tanda Dafa tidak boleh bersuara.


Lelaki itu begitu bersemangat, saat mengintip Helen yang mulai menutup matanya perlahan.


Dafa duduk di sebelah istrinya, dia mengecupi pundak putih istrinya. "Abis Helen tidur ya, aku pengen banget." Bisiknya.


Mentari tak menjawab dia menonton TV dengan seriusnya, suaminya itu terus saja menciumi, mengusap punggung, dan mengambil tangan istrinya, "usap ini, Sun. Dia kangen udah empat hari nggak di mainin kamu." Pintanya.


Mentari yang mulai terpancing namun Helen masih setia menyesap dadanya, hanya bisa pasrah akan apa yang di lakukan suaminya.


Dan akhirnya Helen melepaskan diri dari puncak makanan milik Ibu nya, dia sudah terlelap pulas.


Dafa langsung mengambil Helen dan menidurkan nya di atas sofa, membuat benteng dari bantal sofa. Sudah memastikan aman, dia kembali kepada istrinya yang menangkup kacamata dadanya yang talinya sudah di lepas dafa sedari dapur.


"Dih, pake di tahan. Lepasin, Sun. Giliran aku, pinggir nya doang nggak akan ganggu yang Helen." Dafa menarik tangan istrinya yang tengah memegangi kain penutup dadanya.


Bibir itu kembali saling menghisap dan mengecap, dafa sudah mulai menjelajahi tubuh istrinya dengan tangannya yang kreatif sekali.


Dan setelah hampir setengah jam mereka saling memberi sentuhan dan Dafa semakin keras memompa tubuhnya akhirnya lengu*han dan erangan yang tertahan lolos begitu saja dari mulut mereka, pelepasan di sore itu benar-benar membuat mereka hanyut dalam lelahnya kenikmatan.


...❤❤❤...


Di lain tempat


"Aku malu," Cindy merengek memegangi bathrobe nya. Dia baru saja selesai mandi, dan Langit sudah gelisah menunggu nya hampir satu jam. Dengan alasan rambut istrinya itu seperti mak Lampir akibat sasak rambut yang membuatnya terlihat berantakan.


"Malu, apa sih? sini sayangku ... " Langit merentangkan tangannya.


Cindy yang malu, tapi mau. Perlahan mendekati suaminya yang duduk di tepi ranjang penuh kelopak bunga mawar.


Cindy sudah berdiri di hadapan Langit. Tatapan mereka bertemu.


"Udah siap? katanya mau servis Abang." Langit menggoda istrinya yang merona di hadapannya.


Langit menarik tangan Cindy, sehingga perempuan itu sedikit menunduk ke arahnya yang duduk di depannya.


Langit mengecup bibir wanita yang sudah halal untuknya, lembut dan terasa kasih sayang di setiap luma*tan itu, tidak terburu-buru. Penuh dengan penghayatan, tapi tetap membuat tubuh Cindy meremang, "tidak grasak grusuk seperti mantannya yang busuk dulu, selalu tergesa-gesa dan kasar." gumamnya dalam hati.


Sebelah tangan Langit masih memegang tangan kanan Cindy, sebelah nya lagi dia sisipkan di pipi lalu turun ke tengkuknya menahan agar pautan itu tak terlepas.


Langit menuntun Cindy agar naik ke pangkuannya. Dengan bibir yang masih saling mengecap tak berniat melepaskan diri.


"Abang, mau sekarang. Boleh?" tanya nya lembut dengan suara parau dan mata teduh seperti biasa.


"Abang, ... tapi mungkin nggak akan sesuai ekspetasi Abang!" ucapnya lirih menunduk malu.


"Abang ikhlas, nggak apa-apa. Abang nerima kamu apa adanya, Abang juga banyak kekurangan nya. Kita harus saling melengkapi." Terangnya lalu kembali menyatukan bibir mereka kembali.


Langit merebahkan tubuh mereka, lalu tangan nya mulai meraba tubuh istrinya untuk pertama kali.


Namun belum lama terdengar isakan, Langit langsung menunduk menatap Cindy.


"Hei? kenapa? belum siap?" tanyanya pada Cindy saat melihat istrinya itu menangis di bawah tubuhnya yang mengukung.


Isakan itu malah semakin keras, Langit semakin bingung apa yang terjadi dengan istrinya.

__ADS_1


"Hei, nggak apa-apa kalo kamu belum siap sekarang! tapi jangan nangis, Abang bingung." Di usapnya kepala istrinya itu, mencoba menenangkan walaupun entah apa yang di tangisi istrinya, bukankah ini sudah bukan yang pertama untuk istrinya, kenapa nangis? kenapa dia seperti tidak siap? pertanyaan berdesakan di kepala Langit.


"Maaf, aku malu sama Abang. Nggak bisa ngasih sesuatu yang berharga buat Abang, aku gadis tapi bukan gadis." Ujarnya sambil terisak.


"Abang nggak mau kamu terus bahas masalah ini, ini bakal jadi bubuk mesiu di pernikahan kita. Abang udah ikhlas dan Abang cuma mau kamu bahagia di sisi Abang." Katanya, kini Langit kembali duduk di sebelah Cindy yang berbaring di sebelah nya.


Bathrobe Cindy sudah acak-acakan, bagian bawah Langit sudah siap bertempur untuk yang pertama kalinya. Namun tangisan itu menjeda kegiatan mereka.


"Janji ya, Abang nggak akan ngungkit ini di masa depan." Cindy mengulurkan jari kelingking nya.


Langit menautakan jari kelingking miliknya, "Abang janji." Ucapnya.


Cindy langsung tersenyum walau dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Kalau gitu, biar aku mulai servis Abang." Dia bangun dari posisi berbaring nya dan mendorong tubuh suaminya agar berbaring.


Langit yang terlentang sedikit terkekeh akan ulah istrinya itu. Lalu matanya membulat saat Cindy membuka bathrobe miliknya dan terpampang lah tubuh indah itu. Dia dengan susah payah menelan saliva nya, jakunnya terlihat naik turun bergetar.


"Sayang ... " Panggilnya saat Cindy menunduk di bagian bawah tubuhnya, wanita itu menggenggam sempurna kelelakian nya, mengusap nya dengan gerakan halus.


Langit hanya memejamkan matanya sesaat menikmati apa yang di lakukan istrinya itu, lalu dia tarik bantal untuk sandaran kepalanya, melihat apa yang di lakukan istrinya di bawah tubuhnya.


"Agghhh ... " erangnya saat mulut kecil itu memberi kehangatan di bagian tubuhnya yang semakin terasa mengetat.


"Ughh ... sayang, servis kamu ... ehmmm" lelaki itu terus meracau.


Cindy masih bergerak naik turun kan mulutnya di bawah sana. Dia pun menikmati apa yang dia lakukan, apalagi saat Langit mencengkram rambutnya yang setengah basah dan memandang wajahnya dengan tatapan memuja.


Langit mengusap mulai dari punggung atas dan turun ke buah yang terlihat indah, bulatan itu terasa lembut dan terasa penuh. Dia mengelus lembut puncaknya dengan jarinya. Cindy mele*nguh saat tangan suaminya sudah mulai bermain di tubuhnya.


"Udah ... aku nggak tahan!" Langit menarik kedua lengan Cindy agar menghentikan kegiatan nya.


Cindy bergerak di atas tubuhnya, "No, aku yang di atas." Langit kemudian merubah posisi mereka dengan sekali gerakan.


"Agghhh ... " Cindy membusungkan dadanya saat Langit mulai meraba dan mengecupi nya.


Lalu dengan lembutnya mulai mengecupi dan menyesap puncak dada coklat muda itu.


"Sekarang, boleh?" lagi-lagi dia meminta ijin.


"Iya, aku punya kamu , Bang." Cindy juga menginginkan nya.


Saat Langit mengarahkan adiknya masuk, Cindy meringis, "Sakit! " lirihnya.


"Tahan, " Langit berpikir itu sakit karena sudah lama tidak di masuki.


"Awww ... Abang, sakit banget. Perih." Dia mendorong tubuh suaminya.


"Ini, baru masuk helm nya. kenapa kamu udah kesakitan?" Dia sedikit kesal karena mendapatkan jeda saat gai*rah nya sedang memuncak.


"Tapi dulu si busuk nggak gitu, "


"Jangan samain Abang sama dia," Langit kesal dan langsung memasuki inti istrinya dengan sekali dorongan.


"Awww ... Abang .... sakit." Cindy menjerit sambil meremat kedua lengan Langit yang berada di sisi tubuhnya.


"Sakit, Abang." Dia merintih.


Langit menulikan ucapan Istrinya itu, dia menganggap istrinya itu sedang berlaku manja.


Dia terus memompa tubuhnya dengan hentakan yang ritme nya masih teratur namun tak henti.


"Abang ... " Cindy terus meracau dengan wajah meringis.


Dan setelah beberapa menit Cindy mengejan tanda dia hampir mencapai puncaknya.


"Agghhh Abang... "


"Sebentar, Abang juga seben ... Agghhh ... " Langit pun mengerang merasakan sesuatu yang sungguh luar biasa nikmat nya.


Lalu dia kecupi kening istrinya. "Makasih, kamu ... luar biasa." Bisiknya.


Lalu Cindy kembali menangis, "Abang, perih. Sakit." rengeknya.


Langit bingung dengan apa yang di rasakan istrinya itu.


Lalu ketika dia mencabut miliknya, Cindy kembali meringis.


Dan mata mereka sama-sama membola saat melihat ...


Bersambung 💋💋💋


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲.


__ADS_2