Kisah Mentari

Kisah Mentari
Pertemuan


__ADS_3

❤❤❤


"Kak ... udah bangun? atau nggak tidur?" Mentari saat melihat Bintang duduk di balkon apartemen nya.


Bintang menoleh dengan wajah semrawut dan mata merah, lalu kembali menatap hamparan awan mendung di depannya.


"Gue laper!"


"Bentar, aku bikinin." Mentari berlalu ke arah dapur.


Dia mengeluarkan bahan-bahan makanan, dia berencana membuat telur dadar dan tumis pakcoy bawang putih.


Saat sedang mencuci sayur, terdengar rengekan Helen dari arah kamar.


"Iya .... sebentar, Nak!" Mentari berteriak dari arah dapur.


Saat masuk ke dalam kamar di sana ada Bintang yang sedang bermain dengan anaknya itu.


"Mau, sama kakak dulu? aku terusin masak ya!"


"Heem ... " Jawab Bintang lemas.


Ibu dari bayi gembul itu melanjutkan acara memasaknya. Dan tak butuh waktu lama menu masakannya pun selesai.


"Kak, udah beres. Yuk mau makan sekarang? aku mau nyusuin dulu Helen. Dada aku sakit." Ucapnya.


Deg...


Bintang mengingat ucapan Naya semalam.


hatinya kembali berdenyut sakit, di kala dia akan memulai hubungan yang lebih serius dan merasa sangat cocok dengan seorang wanita, penghianatan atas suatu kebohongan memporak-porandakan hatinya.


"Buruan makan! aku mau nyusuin terus mandiin Helen. Buru-buru mau ke butik ada yang mau fiiting baju pengantin." Ujarnya.


"Biar Helen sama aku," Lalu mencium pipi bayi cantik itu. "Helen sama Papi ya!" Helen tertawa seolah mengiyakan ucapan Papi nya.


"Ya udah, Aku nggak lama kok. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku ya, asi nya di kulkas yang kecil tinggal di angetin." Mentari menjelaskan apa yang harus di lakukan kakaknya itu.


"Iya, cerewet lu. Kayak yang baru sekarang aja gue ngasuh Helen."


"Dih, baper. Masih pagi marah-marah mulu."


Lalu mengambil Helen dan duduk di kursi yang terletak di balkon kamar nya.


"Lu, nyusuin di luar?" Bintang melihat Mentar keluar padahal baru saja dia bilang akan menyusui Helen.


"Iya, sambil berjemur. Biar sehat kena cahaya matahari pagi." Sautnya dari arah balkon.


Bintang keluar dari kamar berjalan ke meja makan mini di pojokan dapur.


***


"Ibu, pergi ya. Nggak boleh rewel sama Papi, Papi lagi galau." Dia terkikik saat melihat kakaknya yang sedang menggendong Helen mengepalkan tangannya.


"Hati-hati ..."

__ADS_1


"Iya, Babayyy anak ibu yang cantik." Mentari berjalan menuju lift dan Bintang yang memangku Helen terus menatap Mentari hingga hilang di balik Lift.


Dia masuk ke dalam apartemen, menidurkan Helen di kasur lalu dia bercerita panjang lebar tentang sebuah kegalauan nya pada seorang bayi berumur tiga bulan.


Helen hanya menanggapi nya dengan celoteh khas bayi kadang di selangi rengekan saat dia merasa kesal, haus ataupun ketika dia kesusahan membalikan tubuh tengkurap nya.


Hingga Bintang mulai kerepotan saat Helen mengantuk tapi tidak juga tidur dan malah terus menggeliat menangis.


"Kenapa sayang? kan udah Papi kasih susu! mau apa lagi?" Bintang terus menepuk-nepuk paha dan mengusap-usap punggung Helen.


Menyerah, dia menyerah mengasuh Helen tepat di tiga jam bersama bayi cantik kesayangan keluarga Gunawan itu.


"Ck, ibu kamu sibuk kayaknya, sayang." Bintang meletakan ponselnya saat tak berhasil menghubungi Mentari.


"Ck, kita ke rumah kakek cerewet aja, Yuk!" Helen menggerak-gerakan kakinya seperti senang.


"Kamu setuju, Sayang? ughh ... bayi pintar Papi." Lalu dia membuka lemari baju berwarna pink di pojok ruangan mengambil jaket bayi kecil itu, dan topi kupluk untuk melindungi kepala keponakan kesayangannya.


Carseat yang berada di ruang tamu pun dia jinjing keluar dari apartemen itu.


Beberapa orang melihat takjub ke arahnya, di mana lelaki muda menggendong seorang bayi lucu dan menggemaskan.


"Silakan ... "Seorang wanita cantik menahan pintu lift, menanti Bintang yang berlari ke arah pintu lift yang hampir menutup.


" Terimakasih ... "Bintang mengangguk.


"Putri nya cantik ... " Kata wanita di samping nya.


"Ehh, iya." Bintang sedang tidak ingin menebar pesonanya. Dia sedang malas untuk melontarkan kata-kata manis gombalannya.


Sampai di mobilnya, meletakan Helen di carseat dan melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Namun saat keluar dari area parkir apartemen, mobilnya hampir menabrak sebuah motor.


Bintang yang khawatir akan Helen, langsung menoleh ke bangku belakang di mana carseat Helen terpasang. Untungnya keponakannya itu baik-baik saja, sedang menghisap jempolnya.


Lelaki yang sedang galau dan melow itu keluar dari mobil, dengan emosi tinggi dia menghampiri pengendara motor yang hampir di tabraknya.


"Kamu, bisa bawa motor nggak?" Bentaknya.


"Saya bawa anak bayi, kalo ada apa-apa gimana?" Tambahnya lagi.


"Maaf, saya tadi rem mendadak karena ada anak kucing yang berlari. Takut tergilas mobil bapak." katanya memberi penjelasan.


"Alasan, cepat minggir saya mau lewat." Usir nya ketus.


Perempuan itu masih terdiam sambil menatap wajah Bintang.


"Malah bengong, minggir! atau mau saya lindes sekalian motor butut kamu!" Bintang yang sedang dalam mode rungsing, dengan mudah nya meledakan emosinya.


Wanita cantik di depannya seketika menggeser kan letak motor nya.


Terdengar suara jerit tangis dari Helen di dalam mobil.


Bintang langsung masuk dan mencoba menenangkan Helen, namun sulit dia kewalahan. malah Dot yang berisi asi pun di tolak bayi cantik itu.

__ADS_1


"Sayang, Papi harus apa? Helen mau apa?" Tanyanya bingung pada Helen.


Perempuan yang tadi hampir pergi lagi, melihat Bintang yang terus mencoba menghentikan jerit tangis bayi.


Dia pun turun dari motornya, menyimpan tas dan map yang berisi lamarannya. Menghampiri mobil Bintang, dan mengetuk kaca jendela itu.


Kaca pun Bintang buka, "apalagi?" bentaknya.


"Kenapa bayi nya?Boleh saya coba tenangkan!" dia menawarkan diri.


Bintang yang sudah bingung menghadapi Helen, walaupun dia malu karena sudah marah-marah pada perempuan di depannya itu.


Kunci pintu mobil pun terbuka, dan dia langsung melongok kan tubuhnya, langsung meraup tubuh Helen yang terus menggeliat dan menjerit-jerit.


"Dia ngantuk, Mamah nya di mana? Harus di timang-timang kayaknya."


Bintang matanya memandang ke sekitar, "di depan ada cafe, kita kesana aja. Kamu timang-timang dia sampai tidur." Ucapnya memberi perintah.


perempuan itu hanya melongo bingung memandang lelaki yang tadi marah-marah, sekarang malah menyuruhnya mengasuh bayi nya.


"Cowok gila." Gerutunya.


"Apa? kamu bilang apa?" Bintang memastikan pendengarannya.


"Itu, sebagai bentuk tanggungjawab kamu. Udah memperlambat saya membawa Helen ke rumah nenek nya, jadi dia nangis tak sabar." katanya menyalahkan.


"Astaga ... kenapa jadi saya yang salah?"


"Udah cepet, ke cafe itu. Nanti saya traktir kamu di sana." Titahnya menuruni mobil.


Mereka pun sudah tiba di cafe, Bintang dengan asiknya bermain game di ponsel sambil memakan kentang dan sosis goreng.


"Dih, anak siapa sih ini. Malah dia asik2 main game." Dia mencebik menatap sebaliknya ke lelaki yang duduk di depannya, sementara dia masih menimang-nimang Helen.


*


*


Dafa sedang mengendarai mobilnya.


Saat dia melihat Mentari keluar dari apartemen itu, dengan mobil sama yang dia lihat di malam hari itu.


Istrinya itu sedang membuka kacanya berbicara pada security apartemen itu.


"Sun ... akhirnya, aku nggak akan membiarkan ku kembali lolos." Dafa amat senang, rasa rindunya semakin menjadi tata kala melihat senyum yang sekian bulan tidak ia lihat.


Lalu dia mengikuti kemana mobil Mentari berlalu, dia terus mengikuti. Hingga mobil itu berbelok ke sebuah butik bernama "Helen mode"


Dafa diam di sebrang jalan, masih mengamati butik itu, dia masih menerka-nerka apakah Mentari pelanggan atau bekerja di butik itu.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


__ADS_2