Kisah Mentari

Kisah Mentari
Merajuk


__ADS_3

...---oOo---...


Mentari beberapa kali merasakan tendangan hebat dari bayi di dalam perutnya, apa karena dia sedang emosi atau karena sang bayi juga ikut marah pada Ayahnya.


Wajahnya yang meringis tertangkap oleh Dafa, "Kenapa, sayang?" tanyanya masih dari sofa di depannya.


Mentari menatap ke arah suaminya, dan pandangannya juga bertabrakan dengan si wanita ulet bulu. "Nggak apa-apa, baby lagi aktif banget. Mungkin tau kita mau ngunjungin dia, udah nggak sabar." Jawabnya dengan suara dia buat seceria mungkin.


"Oh, sabar ya. Ini sebentar lagi selesai." Dafa tersenyum ke arahnya.


Saat pandangan mereka akan berakhir, Dafa melihat istrinya itu mencebikkan bibirnya. "Mati, gue. Pasti abis ini dia ngomel-ngomel," batinnya.


Hampir sepuluh menit Mentari menyimak percakapan Dafa dan wanita itu. Dia menyimpulkan bahwa wanita ini adalah janda yang beberapa bulan lalu dia cemburui, ternyata masalah perusahaan almarhum suaminya itu belum selesai.


Dia menelisik wanita di depanya itu, terlihat sangat cantik dengan wajah tak berpori-pori bahkan nyamuk juga akan terpleset jika menempel di wajah licinnya. Bibir merah mencolok dan riasan wajah yang terlihat terlalu tebal tapi cocok di wajahnya. Tak ketinggalan kemeja ketat yang dia gunakan saking ketatnya celah antara kancing sedikit terbuka hingga jika mungkin suaminya memperhatikan si buah kembar perempuan itu akan terlihat mengintip. Dan satu lagi dia menggunakan rok pendek berempel dengan posisi kaki yang dia tumpuk malah memperlihatkan paha bagian bawahnya. Mentari semakin terasa berat untuk bernapas, dia kesal sekaligus muak dengan wanita seperti itu.


Akhirnya wanita itu pamit dan menyunggingkan senyum aneh pada Dafa, Mentari pun ikut menjabat tangan itu.


Dia melenggang keluar dari ruangan itu dengan langkah geboy nya.


...~~~~...


"Yuk, mau langsung?" Dafa menatap istrinya yang kembali duduk.


Tak mendapatkan respon, Dafa sedikit menghela nafasnya sudah dia duga akan seperti ini.


Di duduk kan nya Helen di sofa itu, lalu Dafa memberikan kaleng Astor coklat pada putrinya, tak lupa dia menyalakan TV dan mencari chanel kartun. Helen yang langsung senang dan fokus dengan Astor dan kartun yang ada di depannya.


Dafa mendekati kursi di mana Mentari duduk sambil mengotak-ngatik ponsel nya.


"Sun, Marah?"


"Nggak!"


"Nggak salah lagi, kan maksudnya?" Dafa memutar kursi itu agar menghadap ke arahnya.


Mentari masih tak bergeming dari layar ponselnya,


"Nyari apaan sih?" Dafa sedikit menoleh ke layar ponsel yang sedang di tatap sang istri.


"Nyari baju minim, sama make-up, sama obat pelangsing. Abis lahiran aku mau mulai semua." Katanya menyindir.


Dafa berjongkok di hadapan nya, dia elus-elus perut istrinya yang terlihat menonjol di bagian kiri.


"Nggak usah aneh-aneh. Aku suka liat kamu kayak gini, apadaya." Timpalnya.


"Iya, tapi pandangan kamu setiap hari bakal nemuin kayak perempuan tadi. Coba kalo aku nggak kesini, nggak tau apa yang bakal kalian lakuin kan?" Dia menatap wajah Dafa yang mengerut heran.


"Kamu, ngomong apa sih? ini real profesional kerja. Aku nggak pernah aneh-aneh, pikiran kamu selalu negatif aja. Kasian baby, pasti tadi dia nendang2 karena perasaan kamu yang kayak gitu. Iya kan?"


"Profesional kerja?"


"Iya, aku nggak pernah atau ada niatan kayak gitu, otak ku udah penuh sama kamu, kadang lagi kerja juga kalo kamu nelpon rasanya aku pengen punya Doraemon." Dafa berkata sambil mengusap paha sang istri.


"Doraemon buat apa?"


"Buat kantong ajaib, aku mau minta pintu kemana aja, biar bisa pulang langsung ke kamar, langsung aku iya-iyain kamu." Dia terkekeh di bawah istrinya.


Mentari sebenarnya ingin tertawa, tapi dia tahan.


"Ya udah kalo profesional kerja, aku juga mau gitu. Nanti kalo udah balik kerja ke butik, Kalo ada pelanggan cowok aku yang ngukur, nggak bakal nyuruh si Iki. Aku mau pegang lingkar perutnya, mau pegang paha atas sama lipatan yang lain." Ancamnya.


Dafa melotot seketika, "Husss, ngomong apa sih kamu. Amit-amit kamu harus pegang-pegang punya orang, Nih pegang punya , Mas mu." Dafa berdiri dan meraih tangan Istrinya lalu dia usap-usapkan pada tubuhnya.


Mentari melengos membuang wajahnya, malu, menahan tawa dan rasa kesal sekaligus.


"Kamu nggak boleh aku mikirin aneh-aneh, tapi kamu posesif sama aku. Nggak adil banget," Kembali wanita itu mengomel.


Dafa duduk di meja, di tariknya kursi itu hingga menempel pada meja dan tubuh istrinya sangat dekat dengan nya. "Itu beda, aku nggak pernah kontak fisik sama mereka," katanya membela diri.


"Iya kontak fisik nggak, tapi kontak mata sama batin nggak tau." Mentari berkata sambil sesekali menoleh ke arah Helen yang terlihat sedang mengacak-acak kaleng Astor yang ada di tangannya.


"Kontak mata sama batin cuma sama kamu aja berlakunya, aku cuma ngeliat kamu aja kamu udah senyum atau ngangguk ngerti, aku kontak batin kamu udah bukain kancing daster. Kan sama yang lain nggak bisa gitu." Dafa masih berusaha membujuk istrinya yang cemberut.


"Oh, terus kamu berharap yang lain bisa ngerti kamu kayak aku gitu? gimana nggak ngangguk kalo kamu nggak gerak-gerak in alis, atau gimana nggak buka kancing kalo tangan kamu terus ngunyel-ngunyel dada aku, udah aja sekalian aku buka semua." Jawabnya dengan ketus namun kata-kata itu malah membuat Dafa tertawa terbahak-bahak.


"Iya, namanya itu kontak batin suami istri." Dia menangkup pipi istri nya itu, kemudian menunduk mengecup wajah dan berlanjut ke sesapan bibir.


Mentari yang awalnya sedikit menolak lama-lama hanyut juga. Mereka pun saling berbalas, hingga Dafa kembali turun dari meja dan setengah berlutut di depan istrinya, mereka larut dalam sesapan dan belitan lidah yang saling berbalas, lenguhan keluar begitu saja dari mulut keduanya apalagi saat tangan Dafa meremat kuat dada sintal itu.


Mentari merasa suaminya sudah terlalu jauh, dia takut berakhir tergeletak di atas meja kerja suaminya.


"Udah, kita kan mau ke dokter." Katanya saat pautan itu dia lepas paksa.


"Duh, aku pengen. Udah empat hari nggak, nih pegang." Dafa menarik tangan Mentari agar menyentuh area itu.


"Ya, mau gimana lagi? buruan udah mau magrib. Helen juga liatin kita ntar." Saat mereka menoleh ke arah Helen, putrinya itu tertidur dengan kaleng Astor di pangkuannya.


"Tidur, Sun. Yuk sebentar di kamar mandi aja." Ajaknya


"Nggak ah, perut aku udah gede banget kalo di posisi duduk pegel, berdiri lutut aku udah sering sakit." tolak nya.


Dafa mendengus kecewa, "Ya udah nanti kita sewa resort ya di Bogor, tapi Helen titipin di rumah Papa." usulnya.


"Terserah lah, padahal aku masih kesel sama kamu."


"Jangan... " Timpalnya


Mentari tak menjawab dia bertumpu pada pundak Dafa saat akan bangun dari duduknya.


Lelaki itu membereskan beberapa dokumen dan menyerahkannya pada Bu Dini.


"Sini, aku gendong." Ucap Dafa sambil memakai tas ransel kerjanya yang berisikan map dan laptopnya.


Mentari mengangguk, mereka pun keluar dari ruangan itu, tepat di jam setengah enam.




Sesaat tiba di ruang praktek dokter kandungan, Mentari dan Dafa turun dari mobil sedangkan Helen yang tertidur pulas mereka tinggalkan bersama intan di dalam mobil yang jendelanya sengaja di buka lebar.


__ADS_1


Dokter paruh baya itu langsung menyuruhnya berbaring untuk melakukan pengecekan dan USG.



"Posisinya sudah bagus bu, kalo nggak melenceng 10 sampai 2 minggu lagi mungkin debay udah di pelukan Bunda nya." Katanya sambil masih menggerak-gerakan alat USG.



Mentari di bantu Dafa untuk bangun, lalu mereka duduk berhadapan dengan sang dokter.



"Semua baik, dan sehat. Tinggal menunggu waktu aja." Dokter itu berkata sambil menulis sesuatu di sebuah kertas, "Saya masih kasih vitamin ya,"



"Iya dok," Mentari mengangguk.



"Dok, masih boleh di tengokin kan?" Tanya Dafa tanpa malu.



Mentari mencubit perut Dafa karena merasa pertanyaan itu membuatnya malu.



Dokter itu tertawa melihat ke pasangan suami istri itu, "Boleh, malah bagus. Tapi pelan-pelan ya Pak, inget ada dede bayi yang sudah turun ke Panggul Ibu nya." Dokter itu menahan senyumnya.



Dafa menyeringai puas menatap Mentari.



Perempuan hamil itu hanya melengos malas.



"Tuh, kan masih boleh sayang." Dafa menggoda istri nya saat sedang menunggu obat di ruang penebusan resep obat.



"Siapa yang nggak nge bolehin?"



"Kamu!"



"Nggak, aku cuma nggak kuat kalo kamu minta nambah, pegel dan lemesnya seharian." Jawabnya ketus.



"Bikin malu, pake nanya begituan ke dokter."




Mereka berjalan keluar setelah menerima obat dan membereskan administrasi.



❤❤❤❤



Mereka menikmati makan malam di restoran biasa yang menjadi saksi sejarah hubungan mereka.



"Euuummm ... enak banget!" Mentari memejamkan mata saat mengunyah ayam bakar yang sudah di colek sambal terasi.



Dafa tersenyum puas, rasa lelahnya hilang jika melihat senyum istri nya, namun rasa lelahnya berkali-kali lipat jika istrinya cemberut.



"Kayak familiar ama kata-kata itu!" Bisik Dafa.



Mentari menoleh "Kayak kegiatan malam hareudang kita ya?" mereka terkikik bersama, Tanpa Intan dengar karena wanita itu sedang membawa Helen melihat kolam ikan yang tak jauh dari tempat duduk majikannya itu.



"Teh, sini makan dulu. Helen kasih ke Ayah nya aja udah selesai kok." Mentari melambaikan tangannya.



Intan datang dan mendudukkan Helen di sebelah nya, "Saya belum terlalu lapar," Jawabnya.



"Makan dulu, nanti saya kan bakal ninggalin teteh. Mau Baby moon dulu." Mentari tertawa geli dengan bayangan yang memenuhi kepalanya.



"Nanti ada apa-apa, bilang ke bibi aja. Lagian Helen pasti tidur di kamar kakeknya. Setiap kita ke sana dia pasti di sekap sama kakeknya." Dafa menimpali.



Intan hanya mengangguk dan mulai memakan porsi makannya.



\*


__ADS_1


\*



Mentari sudah berada di kamar resort hampir jam 10 malam, setelah sebelumnya men transit Helen dan Intan di rumah Papa mertuanya.



Dafa memasuki kamar saat selesai dengan menjinjing sebuah paperback, "Nih baju ganti aku sama kamu!" Dia menyimpan di tepi kasur sebelah sang istri.



"Saking buru-burunya ampe baju lupa nggak bawa." Mentari tertawa melihat kekonyolan suaminya.



"Dah lah aku mandi dulu," Dafa melenggang ke kamar mandi.



Tak sampai lima menit dia sudah keluar dari kamar mandi, "Cepet amat! mandi apa itu? mandi kucing?" Mentari tertawa sambil melenggang ke dalam kamar mandi.



"Kamu juga jangan lama-lama! Aku udah nggak kuat." Katanya yang duduk di tepi ranjang dengan lilitan handuk tanpa berniat memakai baju.



Dia sudah sangat mendamba kehangatan yang akan istrinya beri.



"Mas ... " Mentari melongokan kepalanya di pintu kamar mandi.



"Merek baju ku nyangkut di kalung, susah di bukanya. Malah kecekik." Mentari berkata di gawang pintu.



Dafa menyimpan ponselnya dan berjalan menghampiri, membenarkan benang yang memang menyangkut di pengait kalung istrinya.



Setelah berhasil, tunik itu jatuh memperlihatkan punggung mulus itu.



"Astaga, nggak usah mandi dulu deh. Sekarang aja, nggak kuat nih." Dafa menarik Mentari kembali memasuki kamar mereka.



"Mas ... " Tolak nya namun terhenti saat Dafa mengecup dan menyesap keras bibirnya.



"Kan harus pelan-pelan, Mas."



"Ini kan belum masuk, nanti kalo udah masuk aku pelan-pelan." Dafa kembali melu\*mat dan meloloskan kacamata dada istrinya dan seketika bulatan yang semakin hari semakin siap dengan asi nya.



Mereka sama-sama melenguh dan mende\*sah dengan leluasa.



Dafa turun menelusuri leher dan berhenti di daerah dada yang semakin wow di matanya.



"Astaga ... bisa gilaaa aku, Sun. Body kamu best of the best." puji nya.



Mentari hanya memejamkan matanya saat lidah itu menyapu puncaknya dan bermain-main di sana.



"Mas, sekarang aja." Rengeknya tak tahan.



Dafa mulai melepaskan pelapis bawah itu, yang sudah terasa lembab. Dan saat dia melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya.



Bel kamar mereka berbunyi.



Dafa menatap wajah istrinya, "Kamu pesen servis room?" tanyanya.



"Aku pesen kopi, sama jus." Mentari tersenyum kaku.



"Eugghhh nggak di mana-mana gangguan ada mulu, aneh aku kan suami sah bukan pacar yang nyolong mau coba-coba." Dengusnya sambil kembali melilit kan handuk, dan Mentari menarik selimut menutupi tubuh polosnya.



Lalu Dafa menghampiri pintu dan menerima pesanan istrinya itu.



**Bersambung ❤❤❤**



**Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik**.

__ADS_1



**Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘**


__ADS_2