Kisah Mentari

Kisah Mentari
pertanda


__ADS_3

...❤❤❤...


Tak lama dari kepergian Dafa. Sebuah mobil yang Mentari kenali sebagai milik orang tuanya, berhenti di depan pagar rumah.


Bunda datang membawa dua kantung di tangannya.


"Sayang.... " Bunda menyapa Helen yang berjingkrak di teras rumah.


"Bun kok nggak bilang mau ke sini?" Mentari bertanya sambil menyalami punggung tangan Bunda nya dan Ayah yang mengekor.


"Iya, sengaja. Mau jenguk suami kamu. Mana? masih tidur?" Bunda nyelonong masuk ke dalam rumah dan menyimpan bawaannya di atas meja makan.


Mentari duduk sambil menggendong Shera yang sudah tertidur pulas.


"Apa, ke kantor. Ada beberapa kasus yang mau dia tangani katanya."


"Aduh, bukannya baru sembuh."


Mentari hanya mengedikkan bahu nya. Lalu berdiri pamit untuk menidurkan Shera di kamar.


Ayah seperti biasa langsung duduk di karpet ruang TV menonton kartun dengan Helen sambil memakan cemilan yang Bunda bawa dari rumah.


Mentari keluar dari kamar sudah dengan keadaan yang cantik setelah mandi singkatnya. Menjadi seorang ibu harus bisa mengatur waktu segala efisien mungkin. Apalagi dirinya memiliki dua bayi.


Dengan dress rumahan berwarna hitam dengan bandana hitam juga, dia melangkah ke meja makan di mana Bunda sedang membongkar makanan yang dia bawa.


"Banyak banget Bunda!" Mentari mengambil perkedel kentang dari atas piring yang sedang di tata Bunda nya.


"Iya, buat pemulihan Ayahnya anak-anak kamu, buat kamu juga yang lagi nyusuin. Eh, Intan kemana?" tanyanya, Bunda mengedarkan pandangan nya biasanya dia melihat Intan hilir mudik.


"Nggak ada, Bun. Libur, sebenarnya waktu Mas Dafa di rawat Intan juga sakit, makanya pas mas Dafa pulang aku suruh libur aja, kasian." Jelasnya dengan mulut penuh yang mengunyah perkedel.


Bunda menuangkan rawon dari plastik ke panci kecil.


"Nih bunda bikinin rawon biar seger." ucapnya.


"Asik... " Mentari mengambil mangkuk dan langsung menata mulai dari nasi, toge, perkedel kentang, lalu di siram kuah rawon yang wanginya begitu menggoda.


Kepalanya menggeleng saat suapan pertama, "enak banget bun!" kembali mengambil sesuatu sendok toge pendek ke dalam mangkuknya.


"Hei, kebanyakan makan toge. Kamu subur itu, gampang hamil. Nanti kalo udah beres nifas langsung KB kasian kalo Shera punya adik cepet-cepet." Bunda menatap wajah bengong putrinya.


"Jangan bilang kamu udah gitu tapi belum pasang KB?"


Mentari mengangguk lemah.


"Astaga, kapan?"


"Semalem!" jawabnya sedikit malu.


"Bener ya laki, katanya sakit tetep aja bisa gituan!"


Gerutunya.


"Laki-laki kalo sakit sebenarnya itu obatnya bun!" Ayah menimpali obrolan anak istrinya.


Bunda hanya tersenyum sinis saat suaminya mengedipkan matanya.


Ayah tertawa kencang melihat reaksi sang istri.


"Cha... buruan beli pil KB darurat,"


Mentari memandang Bunda nya, "ada emang?"


"Ada, buruan sebelum terlambat."


Mentari mengambil kunci mobil suaminya, lalu bergegas ke apotek yang berada di depan Komplek rumahnya.

__ADS_1


Selesai mendapatkan apa yang dia inginkan, dia masuk kembali ke dalam mobil.


Saat mencari uang kecil Mentari menemukan satu botol obat di dalam laci dasbor mobil suaminya.


"Obat apa ini?" tanyanya pada diri sendiri, lalu masih di parkiran dia men searching pada perangkat ponselnya, kegunaan obat itu.


"Obat sakit kepala? tapi ngga umum ini, hah... buat saraf kepala yang kejepit." Gumamnya. karena rasa penasaran tinggi dan kesal pada suaminya yang tidak memberitahu soal sakitnya dia pun melakukan panggilan.


"Halo, Mas. Dimana?"


"Masih di kantor sayang, nggak akan lama kok. siang juga aku udah pulang."


"Aku lagi di mobil Mas, terus nemuin botol obat. Obat apa ini?"


"Kamu dari mana pake mobil?" Dafa malah balik bertanya.


"Abis beli pil KB darurat, malem kita gitu aku belum pake KB, dan mas nggak pake pengaman."


"Oh, iya." Terdengar kekehan di sebrang sana.


"Jadi obat apa ini?" Mentari kembali bertanya.


Dia pura-pura tidak tahu kegunaan obat itu, ingin mengetahui apa suaminya jujur atau tidak.


"Obat sakit kepala, tapi udah lama itu. Buang aja!"


"Obat sakit kepala kok kayak gini?" Mentari kembali memancing suaminya.


"Iya, dulu aku saraf kepala kejepit. Tapi sekarang udah sembuh kok." jelasnya.


Mentari tersenyum puas, suaminya berkata jujur. Dan lebih melegakan lagi adalah itu penyakit lama, dan sekarang sudah sembuh.


"Ya udah, aku tutup telpon nya ya! kliennya udah dateng, kamu siapin diri aja. Aku mau nagih utang." Dafa tertawa kecil.


Mentari ikut tertawa, "iya, pulang cepet." katanya.


"Iya, siang aku pulang."


*


*


Dafa keluar dari kantor nya tepat pukul sebelas, dia berencana untuk makan di rumah saja. Tapi sebelum pulang dirinya hendak ke bengkel dulu, untuk servis mobil istrinya, merasakan rem nya kurang pakem, dan ada sedikit masalah di mesin nya yang dia rasakan.


Saat menuruni teras lobby, ponselnya berdering.


Seorang dokter mengabarkan jika Ayah nya kembali drop dan sekarang masuk ruang ICU.


Dafa tanpa pikir panjang langsung berlari masuk ke dalam mobil, kemudian segera melajukan dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di Bogor.


*


*


Di rumah


Mentari baru saja melambaikan tangannya pada mobil orang tuanya yang pamit pulang.


Tak lama sebuah motor besar dari kejauhan terlihat.


Mentari kenal motor kakaknya itu.


"Ngapain?" tanyanya heran saat kakaknya memasukan motor itu ke dalam carport rumahnya, memarkirkan di sebelah mobil suaminya.


"Kagak boleh Papi ngunjungin anak-anaknya?" katanya saat membuka helm fullface itu.


"Anak-anaknya! Mas Dafa suka ngambek kalo Mas ngomong gitu!"

__ADS_1


"Ahhh, laki kamu baper!"


"Ya jelas lah, itu kan emang anak-anaknya!"


"Sombong banget, mentang-mentang produktif. Lu liat ntar ya gue bakal punya anak banyak." Bintang masuk ke dalam rumah dengan menggendong Helen.


Mentari hanya tertawa meledek. Sambil ikut masuk ke dalam rumah.


"Kenapa nggak bareng Bunda ke sininya?" Mentari duduk di sebelah kakaknya.


"Ada tuan raja yang selalu menindas hamba nya." Katanya di tujukan pada sang Ayah.


Mentari tertawa, "Aku suka aneh, kakak sama Ayah kalo ketemu pasti aja berantem."


"Jangankan kamu Cha, gue juga heran. Bawaannya pasti sentimen kalo ketemu gue, apa-apa bakal dia bahas atau dia hina. Kagak ngarti lagi... mungkin gue anak Sultan yang Ayah pungut." kekehnya lucu.


"Anak Sultan masa si buang, yang ada anak pemulung yang di buang." Mentari terkekeh lalu hitungan detik lehernya di kunci oleh tangan Bintang.


"Kurang ajar lu!" Bintang mengetuk-ngetuk kepala adiknya yang terus tertawa di bawah kungkungan tangan nya yang mengunci leher Mentari.


"Ampun kak... ampun... "


Helen yang bermain tak jauh dari mereka langsung berlari menangis melihat Ibu nya menjerit-jerit.


"Piihhh.... " Anak cantik itu histeris dan langsung mengigit tangan Bintang.


"Awwww... " Bintang menjerit, saat gigi susu yang tajam karena baru tumbuh itu menancap di tangannya.


Mentari berhasil meloloskan diri lalu mengambil Helen yang masih berusaha menggigit kembali Papi nya.


"Sokooooorr!" Mentari terkekeh berlari sambil menggendong Helen.


*


*


Tak lama dari itu Bintang sedang makan rawon bawaan Bunda nya, duduk di sofa. Matanya mengedar mencari seseorang.


"Si lelet mana?"


"Pulang ke rumahnya, kasian masih lemes."


Bintang mengangguk mengerti, setelah selesai dengan makannya dia berjalan ke arah kamar Intan dengan di temani Helen, sementara adiknya di kamar dengan Shera.


Mentari baru keluar kamar saat Shera sudah tidur, dia duduk di sofa sambil menikmati cemilan.


Tadi dia menghubungi suaminya, karena sudah hampir jam tiga Dafa yang berjanji pulang siang nyatanya belum pulang juga, ternyata suaminya itu di bogor karena Ayah mertuanya kembali drop. Namun katanya dia otw pulang ke Bandung.


Ada sedikit kecemasan di hati nya, tapi entah apa itu.


"Yayah... datuh(Ayah jatuh) " Helen berjalan ke arahnya dengan wajah takut.


"Ayah jatuh?" Mentari mengulang ucapan putrinya.


Helen hanya mengangguk, lalu tak lama dia berlari ke kamar. Datang kembali dengan jam tangan milik Dafa, tepatnya jam tangan kesayangan suaminya.


Yang kacanya pecah.


Mentari menatap nanar jam tangan itu, semakin cemas saat Helen terus merengek sambil memanggil Ayah nya.


Tak lama ponselnya berbunyi. Dia merasa lega ternyata suaminya yang menelpon.


Dia menggeser bulatan berwarna hijau di layar ponsel nya, "Ya, Mas? kamu di mana?" wajah yang tadi sumringah tiba-tiba menegang dengan lelehan air mata yang berjatuhan di pipinya. Sesaat kemudian dia histeris dan menangis.


Bintang yang sedang travelling di kamar Intan berlari mendekat saat mendengar adiknya menangis.


❤❤❤

__ADS_1


Bersambung....


nggak banyak permintaan cuma minta like sama komen 🙏🙏🙏😘😘😘😘


__ADS_2