
🌺
🌺
Sunn... " Dafa berteriak dari dalam kamar.
Mentari tergopoh-gopoh membuka kamar dan mendapati suaminya meringis duduk di pinggir tempat tidur.
"Ya... Mas... udah bangun?"Ketika dia sudah sampai di depan suaminya.
"Kamu ngobrol sama siapa?" tanya dafa masih meringis menahan sakit saat hendak bangun.
Sekujur tubuhnya sakit, seperti telah di gebukin🙄 eh emang deng. Yang jelas tubuhnya sakit semua.
"Oh... ada dokter Lukman di depan. Kita sarapan yuk, aku udah bikinin roti lapis telur kesukaan kamu!" Mentari memapah tubuh jangkung Dafa keluar kamar.
Dokter Lukman menatap Dafa keluar dari kamar. Dan membantu Mentari yang seperti kesusahan memapah tubuh sang suami.
"Ck... masih pagi, udah bertamu!" gerutunya Dafa pada dokter yang juga temannya.
"Eh... gue khawatir ya sama lu." ujarnya.
"Alah... bukan karena ada yang bening kan di sini?" Dafa mendudukan tubuhnya di sofa sambil meringis.
"Mas... apaan sih?" ujarnya.
"Oh iya aku ambilin dulu sarapannya kita makan bareng." Mentari berlalu ke arah dapur yang masih dapat mereka lihat dengan jelas.
Dafa melihat tatapan mata dokter Lukman pada sang istri, seketika emosinya menanjak naik, lalu di tendang nya kaki sang dokter.
"Heh... bini gue itu, lu nyari sono!" ucapnya sinis.
" Santai... bro." dokter Lukman gelagapan dengan tatapan mematikan yang dafa berikan padanya.
"Dapet dari mana lu? kagak ngundang-ngundang gue lagi di nikahan lu." bisik dokter muda itu.
"Bini gue limited edition lu kagak bakal nemu di mana pun, susah dapetnya harus muter otak, ampe kepala lu kek biang lala muter-muter terus nyari cara." Dafa menjawabnya dengan ikut berbisik juga.
"Ck... serius gue. Lu kapan nikahnya? bukan kumpul kebo kan?" Tanya sang dokter yang masih terheran-heran.
"Siallan lu, gue tabok pake buku nikah juga lu! ampir sebulan gue nikah sama dia." Gertaknya dengan nada emosi yang mulai terpancing, namun dalam volume yang masih bersahabat.
"Gue kawin gerebek ampe gue di tabokin bokap gue, dia di usir keluarganya. Pokoknya perjuangan kita berat." Tambahnya lagi sambil tetap dengan suara pelan.
"Anjirr, emang gilaa lu. Otaknya rada-rada." dokter itu menggelengkan kepalanya.
Mereka terdiam saat Mentari mendekat dengan sebuah nampan.
"Ayo, makan... " ujarnya ceria
"Wah... kesukaan aku nih Sun." Dafa langsung menangkup roti lapis telur itu.
"Kagak gosok gigi dulu lu?" Dokter Lukman bergidik jijik melihat ulah temannya itu.
"Nggak usah, gue kan lagi sakit."
"Enak banget sayang, makasih ya!" dia mencium pipi Mentari yang juga sedang mengunyah rotinya.
"Duh... kamu udah wangi banget, ini kan minggu. Kamu libur kan?" selidiknya.
Mentari menelan makanannya lalu menoleh ke arah suaminya itu.
"Kalo di rumah nggak boleh cantik emang?" Dia memberengut.
"Ishhh... boleh dong Sun, Sebenarnya kamu nggak pake apa-apa full polosan malah bikin kamu tambah cantik kalau kata aku!" Dafa menggodanya dengan kata-kata absurd seperti biasa.
"Astaga... Mas, lagi ada tamu!" Cibir nya kesal sambil mencubit paha Dafa.
Dokter Lukman hanya menatap jijik pada Dafa.
__ADS_1
"Udah sembuh ini mah, udah ngaco lagi ucapannya."
Ujar sang dokter sambil mengunyah makanannya.
Mereka pun makan dengan sesekali saling mengorek pertanyaan.
"Aduh kenyang, makasih ya Sun!" ucap dokter Lukman.
"E-eehhh... sembarangan kalo ngomong." Dafa menjengit kaget.
Lukman yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya menatap Dafa.
"Apaan sih lu?" tanyanya.
"Sun-san... Sun-san... cuma gue yang boleh manggil Sun. Itu panggilan kesayangan gue, susah tuh dapetnya." cibir nya dengan mata yang melotot sempurna.
"Lah, bukannya namanya Sun ya?" Lukman menatap pasangan itu.
"Bukan, nama saya Mentari. Cuma mas Dafa Manggilnya Sun!" Mentari akhirnya menjelaskan.
"Oh... kenalan dulu dong aku kan belum kenal!" Lukman mengulurkan tangannya pada Mentari melewati Dafa.
Dafa langsung menangkis nya, "Kagak usah. Kan lu dah tau barusan namanya Mentari!" Sungutnya makin kesal. "Buruan, periksa gue. Biar lu cepet balik! gue pengen pipis!" ucapnya
"Ya, udah sana lu ngompol. Ribet amat nunggu gue pulang!" Lukman mulai terpancing kesal sambil membuka tas peralatan dokternya.
"Bukan pipis biasa ini!" dia menggerakan alisnya naik turun pada Mentari.
Raut wajah Mentari langsung berubah, dia malu sekali. Dengan santainya Dafa berbicara hal yang absurd seperti itu di depan orang lain.
"A-aku, beresin dulu ini." Mentari bangkit dan membawa piring-piring kotor.
Dafa langsung menjalankan berbagai rangkaian pemeriksaan yang di lakukan Lukman.
Setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, dia pun ijin pamit untuk segera ke rumah sakit.
Dia pun berpamitan pada pasangan yang membuatnya iri setengah mati.
Kini Dafa sedang menonton TV, dan Mentari sedang memotong buah mangga untuk cemilannya bersama Dafa.
"Sun...
Panggilnya.
" Iya...
Mentari menyauti panggilan suaminya itu dengan singkat.
"Sini...
Mentari pun menghampiri dengan sepiring potongan buah mangga. Lalu dia menusukkan garpu pada potongan buah dan menyuapi suaminya juga dirinya bergantian.
Selesai kegiatan makan buah Dafa meminum obatnya sambil mengutak-atik ponselnya.
Mentari sedang mengerjakan beberapa tugas di laptopnya.
Lalu sebuah notif masuk di ponselnya. Mentari terbelalak setelah membaca notif pesan dari salah satu Bank pemberi tahuan tentang bukti transfer masuk.
Mentari menoleh pada Dafa yang sedang tersenyum melihatnya.
" Mas... apa ini?" Tanyanya
"Simpan ya, buat tabungan kita beli rumah! sengaja aku kasih ke rekening mas kawin kamu. kalo buat nafkah dan biaya bulanan kita, aku udah transfer ke kartu debet yang awal nikah aku kasih. Jawabnya sambil duduknya semakin merapat pada sang istri.
"Jumlahnya besar banget? ini uang apa?" tanyanya.
"Iya, itu hadiah pertandingan kemarin. Aku ambil untuk jatah Rijal dan untuk ke panti. Besok kita ke panti yuk, aku ingin ngenalin kamu ke anak-anak yang sering aku kunjungi." Dafa mengelus pipi lembut itu. Wajah sang istri terus memandang kagum pada dirinya.
"Mas, Makasih ya... semoga segala perjuangan kamu untuk kita jadi ladang pahala." Mentari menitikan air mata haru, lalu memeluk tubuh Dafa dengan erat.
__ADS_1
"Buat kamu, aku akan lakukan semuanya." Dafa mengecup kepala Mentari bertubi-tubi.
"Mas, ada satu permintaan aku sama kamu!"
"Apa?" Dafa merenggangkan pelukannya.
"Aku nggak mau kamu ke club lagi buat ngambil job dj! dari cerita kamu walaupun kamu nggak ikut mabok seenggaknya kamu dapet uang dari orang-orang yang maksiat. Maaf walaupun kamu merasa enjoy. Tapi uang yang masuk ke tubuh kamu sama aku takutnya... " Mentari menggantung perkataan nya. Dia takut akan menyinggung Dafa.
"Iya, kamu tenang. Aku selama nikah sama kamu baru sekali dapet job dj, dan itu nggak aku kasih ke kamu. Aku beliin itu tuh!" tunjuk nya pada sebuah game mahal.
Mentari tersenyum kembali memeluk Dafa.
"Makasih, udah mau ngerti. Maaf bukannya aku mau ngatur kamu, Mas. Ini semua demi kebaikan kita." ujarnya lagi.
"Aku ingin berterimakasih sama Ayah Gunawan. Nge didik anak gadisnya dengan luar biasa. Pantes di kurung di dalam kastil, kamu lebih berharga dari pada Rapunzel." puji nya Mentari hanya tersenyum menanggapi ucapan Dafa.
"Sun...
" Ya...
"Nggak ada hadiah gitu buat aku?" Dafa mendongakkan wajahnya.
"Cup.. "
Mentari langsung mengecup bibir Dafa.
"Lamaan dikit Sun!" rengeknya.
"Itu, bibir Mas masih luka." Toel nya pada sudut bibir yang sedikit sobek dan lebam.
"Biar cepet sembuh, malah itu obatnya tau!" kembali merengek.
Lalu Dafa menangkup kedua pipi Mentari menariknya dan sebuah kecupan berhasil dia lakukan.
Kecupan yang lama, lembut dan berga"rah. Mereka saling membalas dan suara decapan terdengar saling bersahutan.
Mentari meremas pinggang Dafa, sedangkan tangan Dafa sebelah telah turun ke dada dan sebelah nya turun di bo*kong sang istri.
"Ehhmmm....Mas!" Lenguhnya.
"Aduh... "
Dafa mengaduh sesaat pautan itu terlepas.
"Kenapa?" tanya Mentari panik.
Dafa menarik tangan Mentari dia tuntun memegang sesuatu kebanggaan nya. " Dia bangun... tuh udah kekar gini."
"Terus?" Mentari tersenyum sambil menggerakan tangannya di tingkat kasti yang semakin mengetat itu.
Dafa memejamkan matanya menikmati tangan sang istri yang terus mengusap miliknya dengan lembut.
"Mas kan sakit, katanya badannya ngilu semua!" Mentari mengangkat tangannya.
Dafa membuka mata kecewa karena Mentari menghentikan kegiatannya.
"Sun, kali ini bantuin aku lagi ya... aku sakit tapi dia tetep sehat, bugar dan kekar." ucapnya memelas.
"Terserah kamu mau di gimanain, mau ****, di cium, di usap, di 501 terserah deh. Aku pasrah asal dia kelar, biar yang kekar kembali tidur." Dafa berucap sambil tangannya kembali menarik tangan Mentari agar kembali mengelus si tongkat kasti nya.
"501..?" apalagi itu mas....
"Iya, itu... dafa tertawa dengan kepolosan sang istri.
" Aku nggak akan mulai kalo kamu nggak kasih tau, kode apa itu? 501? "
"Appaa...?"
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka🥰🥰 like komennya ya aku minta😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤