
ππ
Mentari selesai mandi setelah hampir dua jam mengerjakan tugas kuliah nya.
Dia meregangkan tubuhnya di kasur langsung memeluk boneka kucing kesayangannya.
Sebelum matanya terpejam sepenuhnya, dia teringat akan kegiatannya bersama Dafa tadi.
Mentari tersenyum malu menutup wajahnya dengan boneka. Seakan ada orang yang dapat melihat wajahnya yang merona karena rasa malunya.
"Ya Tuhan... rasa apa ini? getar-getar menyenangkan ." ucapnya seraya kakinya menendang-nendang ke segala arah.
Dia teringat ponselnya yang masih di dalam tas, dia berlari ke arah tiang kayu tempatnya menggantungkan macam-macam tas kesayangannya.
"Ya ampun... " kekehnya melihat panggilan dan chat yang menjajar kek kereta api dari Dafa.
Tak berselang lama, ponsel itu bergetar dengan nama pemanggil Dafa.
"Iya... halo!" jawabnya
"....
"Maaf , tadi aku ngurusin Abang aku sakit, terus ngerjain tugas nggak liat2 hp!" Mentari memberi keterangan.
"...
"Nggak janji ya, kalo kegiatan di luar kampus supir aku harus ikut. suka kurang nyaman aja kalo di buntutin kemana aja, aturan ayah ketat banget ampe aku nggak bisa ajakin mereka kompromi saking takutnya sama ayah." Terangnya dengan raut wajah lesu.
"...
"Hah.. kamu nggak serius kan? aku mana bisa nonton kamu balapan! enggak mungkin aja walaupun aku juga pengen liat." Tolaknya
"...
"Cindy? nggak lah dia sekarang ikut kerja di restoran ayah setelah pulang kuliah, jadi Ayah pasti tau aku pulang jam berapa nya!"jawabnya lagi.
"...
"Iya .. maaf ya, cuma doa semoga kamu menang, dan hati-hati." Ucapnya menekan kata di akhir.
Panggilan pun terputus
Mentari menghela nafas, "pacaran macam apa ini?oh... kebebasan segera lah datang, aku udah jenuh..." ucapnya sambil memejamkan matanya berharap bangun kebahagiaan lah yang akan dia rasakan.
*
*
Pagi hari..
"Dek.. ngampus jam berapa? belum siap?" ayah yang sedang meminum kopi melihat Putrinya berjalan dengan masih menggunakan kaos rumahan.
"Aku nggak ngampus yah, dosennya nggak hadir ada keluarga nya yang meninggal, cuma di suruh ngerjain tugas aja di kumpulin besok." jawab Mentari sambil duduk di meja makan dan mengambil roti dan mengoles dengan selai kacang kesukaannya.
"Pagiiii.... semua...orang cakep datang!!" Bintang datang dengan setelan nya yang sudah rapih dengan tas ransel di pundaknya.
"Makasih adekk ku sayang sarapannya." dia merebut roti yang baru selesai Mentari oles selai.
*Ishh... enak banget tinggal makan, dateng2 nyomot makanan orang!" mentari mencebikkan bibirnya kesal.
Ayah hanya menggelengkan kepalanya , melihat tingkah laku ke dua anaknya yang tak bisa akur.
"Abang ... masih sakit?" tanya Bintang
"Tadi ayah liat masih lemes katanya, biarin dia istirahat kalo udah lambung nya kumat ya gitu."
Ujar lagi Ayah.
"Heran aku... kenapa Abang bisa punya penyakit lambung, sedangkan kerjanya mantau restoran dan supermarket, kan banyak makanan itu." Ucap heran Bintang sambil mengunyah rotinya.
Mentari yang tengah mengoles lagi selembar roti setelah yang sebelumnya di embat sang kakak. hanya menoleh dan mengedikkan bahunya menjawab perkataan sang kakak.
"Abang kalian terlalu fokus kalo lagi kerja." Ucap ayah
"Ayah berangkat ya.. dek titip Abang kamu ya! awasin makanya!" Ucap ayah bangkit dan mengecup puncak kepala Mentari.
"Siap ayah.. ini juga aku mau bikin lagi bubur biar abang makan." Mentari mengacungkan jempolnya pada sang Ayah.
"Aku juga berangkat... dah tukang bubur!" Bintang pun berdiri sambil mencubit pipi Adiknya itu.
"Ayah.... kak Bintang jail ." teriaknya
"Dih... aduan, cengeng lu..!" Bintang berlari.
"Bin... " suara bariton ayah terdengar di pintu ruang tamu.
"Siap komandan.." Bintang berlari ke arah Ayah.
"Jail terus sama adik kamu, berisik terus!" Ucap ayah .
Bintang hanya tertawa sambil mencium tangan sang ayah. "Aku duluan yah.." sambil berlalu ke arah mobilnya.
*
*
Mentari baru menyelesaikan membuat bubur, dia menyiapkan di nampan dan membawanya ke kamar langit.
"Abang.. Chaca masuk ya?" Setelah tak ada sautan dari dalam kamar itu.
"Bang... " mentari meletakkan nampan di atas nakas lalu beralih ke langit yang tidur meringkuk.
"Abang .. makan dulu yuk!" Mentari membuka gorden dan jendela agar udara berganti.
Dia mendekati lagi kakaknya yang masih di peluk selimut.
__ADS_1
"Abang... " Mentari membuka selimut yang menutupi sebagian wajah Langit.
"Ya ampun bang.. kita ke rumah sakit ya!" Mentari panik saat melihat abangnya terlihat pucat sekali.
"Heeemm... nggak usah Abang laper, mau makan aja." dengan suara sangat pelan.
Mentari mencoba membenahi posisi Langit.
Langit menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal dan guling yang adiknya susun.
"Tuh sampai nggak bisa tegak, sakit banget kan?" omel mentari melihat keadaan langit yang memprihatinkan.
"Bawel .. ishh , tambah pusing nih Abang!" Langit meringis membenahi posisi duduknya.
"Kalo siang Abang nggak ada perubahan kita ke rumah sakit ya!" tawarnya sambil menyuapi Langit dengan bubur yang dia bawa.
Setelah selesai menyuapi dan memberikan obat pada langit, Mentari meninggalkan kamar sang Abang.
Mentari memutuskan untuk menonton Drakor kesukaannya, sambil mengerjakan tugas kampus yang akan di kumpulkan besok.
"Kenapa .. dia belum nelpon ya? jadi nggak sih balapannya?" Lirih mentari yang memeriksa chat masuk pada ponselnya.
*
*
Waktu pun berjalan Mentari ketiduran setelah menyelesaikan tugasnya sambil menonton Drakor kesukaannya.
"Hoaaamm..."
Dia menguap menggeliatkan badannya lalu melihat ke arah jam yang menggantung di atas TV nya.
"Hah.. dah jam dua aja!" dia bergegas meraih ponselnya berharap ada chat masuk dari Dafa. Namun nihil tidak ada sama sekali malah terakhir aktif tadi pagi.
Namun hatinya malah cemas ketika melihat ada pesan suara dari langit.
"Abang ngapain kirim suara?" herannya
dia membuka pesan itu yg berisi suara lemas sang Abang. "Dek... sini!" hanya itu yg di ucapkan sang Abang.
Mentari melompat dari kasurnya dan berlari ke arah kamar sang Abang. Benar saja abangnya tertelungkup lemas di dekat pintu kamar mandi.
"Abang...." jeritnya menghampiri sang kakak.
Langit mencoba bangkit namun badannya sama sekali tak bertenaga setelah bulak balik memuntahkan isi perutnya, sekarang dia merasa lemas den kepala yang terasa berat.
Mentari berlari meminta pertolongan ke bawah.
"Mbok...mbok.. tolongin, Abang sakit panggilin Mang Unang bantu aku bawa Abang ke rumah sakit.." Mentari berlari kembali ke arah kamar Langit.
Mbok Tini dan mang Unang menghampiri kamar Langit, memapah Langit ke dalam mobil.
"Bang... tahan ya bang, bandelll Chaca bilang kan dari tadi ke rumah sakitnya." Mentari menangis melihat keadaannya Langit yang menyandarkan kepala pada bahunya.
"euhh... " langit terus meremat perutnya dengan kening merengut menahan sakit.
*
Derap langkah kaki menghampiri Mentari, Mentari menoleh ke arah suara. dia yang sedang duduk di depan ruang rawat sang Abang melihat kedatangan Ayah setengah berlari.
"Ayah..." Mentari menghambur ke pelukan sang Ayah.
"Gimana Abang kamu?"tanya Ayah.
"Abang .. masih di periksa yah!" jawab Mentari.
Tak berselang lama seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Dok.. bagaimana keadaan anak saya?"
Ayah dan Mentari seketika bangkit dari duduknya menghampiri dokter itu.
"Alhamdulillah... sukur putra bapak cepat di bawa kemari, putra bapak mengalami dehidrasi , lambung nya juga luka," terangnya
sepertinya jam makannya tidak teratur ya?" tanya dokter kemudian.
"Benar dok anak saya kalau sudah bekerja lupa waktu, terus dia seorang penggemar kopi." Jawab ayah.
Dokter mengangguk "oh... pantas, kopi memperburuk keadaan lambungnya." ucap dokter , lalu pamit mempersilahkan ayah dan Mentari masuk ke dalam kamar rawat Langit.
*
Di tempat yang sama
Seorang pria dengan tangan yang di gips dan collar membelit lehernya sedang bertengkar dengan dua orang di meja resepsionis.
"Pokoknya .. gue mau pulang," bentaknya marah.
"Nggak bisa Daf.. lu perlu di rawat, gimana coba kalo lu tambah parah? lu bisa makin di siksa Ama bokap lu!" sergah ke dua orang tersebut.
Mentari yang sedang berjalan setelah membeli makan malam, melihat orang yang sedari pagi dia tunggu kabarnya, sedang bertengkar di meja resepsionis.
"Dafa...?" panggilnya
Dafa pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Mentari..? hey.. kamu ngapain di sini?" dia bertanya dengan wajah kagetnya.
"Kamu.. kenapa?" bukannya menjawab Mentari malah balik bertanya.
"Nggak apa-apa , cuma crash sedikit!" jawabnya enteng.
Ke dua orang pria yang tadi berselisih dengannya hanya memutar matanya jengah.
"Kamu bilang sedikit? ini tuh parah ya ampun!" cemas Mentari menatap luka yang ada di tubuh lelaki yang baru saja menjadi Pacarnya.
__ADS_1
"Hey.. kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu ngapain di sini?" tanya nya lagi.
"Oh.. itu Abang aku masuk rumah sakit, lambung." jelasnya.
Dafa pun mengangguk dan seketika idenya muncul.
"Di rawat berapa hari?" tanya nya lagi.
"Kata dokter tiga sampai empat hari mungkin." terangnya.
Dafa memandang ke dua lelaki tadi, yang adalah asisten dan sahabat dia di lintas balap.
"Ya udah gue mau di rawat.." ucapnya seketika.
Ke dua orang itu hanya mencibir nya, namun merasa lega akhirnya tak perlu membujuk Dafa lagi.
"Aku .. mau di rawat kamu urusin aku ya!" pintanya.
"Hem.. nanti aku sering tengokkin kamu." Mentari mengiyakan keinginan Dafa.
"Aku balik ke kamar Abang ku dulu ya.. mau ngasihin ini ke Ayah," terang nya menunjukkan tangannya yang menenteng sebuah keresek berisi makan malam sang Ayah.
"Ok.. nanti aku hubungi kamu ya cantik!" Ucap Dafa mengusap pipi Mentari dengan sebelah lengannya yang sehat.
*
Mentari pun beranjak pergi.
"Dih... giliran ada cewek aja lu mau di rawat." ledek dua pria itu setelah selesai mengurus pemesanan kamar inap untuk Dafa.
Dafa masih memandang punggung Mentari yang semakin jauh.
Mentari sungguh cantik hanya mengenakan kaos rumahan, celana kulot selutut, dan rambut yang di gulung asal. Malah semakin membuat nya terlihat cantik alami.
"Woy... malah ngelamun nih bocah tengil!" sambil memukul pelan punggung Dafa.
"Gila , cantik banget dia!" gumam Dafa.
Kedua temannya itu hanya bersungut melihat tingkah laku Dafa .
"Buruan lah... ke kamar lu, istirahat cepet . Minggu depan lu ada jadwal balap lagi, lumayan nih hadiahnya." Dafa di seret oleh ke dua temannya ke kursi roda yang telah siap di dorong oleh seorang perawat pria.
*
Mentari masuk ke kamar Langit dengan wajah yang berseri namun pikiran nya tetap mencemaskan lelaki yang kini menjadi Pacarnya.
terlihat di dalam kamar itu , Ayah tengah berbicara dengan Langit, dan ada juga Bintang yang baru datang tengah duduk di sofa memandang Mentari yang menentang makanan.
"Buruan gue laper!" Bintang merebut keresek yang Mentari pegang.
"Ish... itu buat Ayah." jeritnya nya kesal.
Ayah menghampiri ke dua anaknya itu.
"Biarin.. Ayah makan di rumah aja, kita pulang dek.. malam ini biar Bintang yang nungguin Abang, kamu besok siang aplusan ya."
"Soalnya besok Bintang nggak bisa bolos kuliah mau ketemu dosen pembimbing, Kakak kamu kan mau skripsi dah molor satu tahun nih!" Lelaki paruh baya itu berbicara panjang lebar sedikit kesal dengan kelakuan anaknya yang terlalu santai dalam kuliahnya.
Mentari sedikit kecewa, karena sebenarnya dia akan menemui Dafa saat Ayahnya pulang, namun ternyata dirinya pun harus ikut pulang.
**
Mentari sudah ada di rumah, dia baru saja mandi handuk masih melilit tubuh dan area kepalanya.
Saat sebuah panggilan video Dengan nama Dafa membuat nya senang, saking senangnya dia lupa hanya memakai handuk.
"Iya.. haii." Sapanya setelah panggilan terhubung.
Dafa hanya terpaku menatap pemandangan indah di depannya.
"Hai.. malah ngelamun?" Mentari kembali bertanya tanpa menyadari kesalahannya apa.
"Eh.. ii iya, kamu di mana? Tanya Dafa gugup.
"Maaf aku di suruh pulang sama Ayah paling besok ya aku nemuin kamu, kamu istirahat aja yang cukup." Jawab Mentari dengan sedikit menyesal.
Dafa masih terus terpaku melihat pemandangan di depannya, melihat dada indah yang terjepit oleh handuk putih, membuat otak liarnya berlarian entah kemana.
"Hey.. kamu kenapa? ada yang sakit?" Mentari masih belum menyadari.
"Nggak.. aku lagi mandangin karya Tuhan yang begitu indah, kamu cantik banget kaya gitu!" gombalnya.
"Hah.. apa sih maksud k... Arggghhh....."
Mentari yang baru sadar menjerit dan langsung memutuskan panggilan video itu.
"Ya ampun kenapa aku sampai lupa, menjawab videonya dengan masih menggunakan handuk!" Mentari mendudukkan tubuhnya di kursi meja riasnya.
Masih menutupi wajahnya yang memanas menahan rasa malu.
"Bodoh.. saking senengnya dia nelpon Ampe lupa cuma pake handuk!" racaunya.
Dering telpon kembali berbunyi namun panggilan biasa , sampai tiga kali panggilan namun tidak dia angkat karena rasa malu.
Dafa mengirimkannya sebuah pesan
"Angkat telpon aku!"
lalu ponselnya kembali berdering.
"I ...iya!" jawabnya dengan masih di lingkupi rasa malu.
Bersambung πππ
Terimakasih yang sudah berkenan mampir dan baca, semoga sukaπππ, jangan lupa tinggalkan jejak kalian like komen nya yaππππ, Komen saran dan kritik juga aku tampung loh , salam sayang π€π€ππ
__ADS_1
sehat dan bahagia selalu untuk kitaβ€οΈβ€οΈ
terimakasih πππ