
πΈπΈπΈ
Mentari tengah duduk di balik meja kasir, seperti biasa jika ada waktu lenggang dia akan menggambar design baju yang ide nya suka Tiba-tiba melintas di kepala nya.
Bu Nina datang dari arah dapur, melihat Karyawan nya itu entah kenapa dia selalu merasa dekat dan wajah nya mengingatkan pada seseorang.
"Lagi apa kamu?" Tanyanya saat sudah berada di depan Mentari.
Mentari mendongak kaget saat suara bos nya menyapa di telinganya.
"Mamih... maaf, lagi sepi. Aku iseng-iseng ngegambar." jawabnya takut.
"Coba Mamih lihat!" Tangannya menjulur meminta buku gambar yang sedang di pegang Mentari.
Bu Nina meminta Mentari memanggilnya Mamih seperti para pegawai yang lain, permintaan seorang wanita yang hidup tanpa kehadiran seorang anak. Haus akan sebutan keibuan yang tak akan pernah dia rasakan. Suaminya meninggal lima tahun lalu dan dia merasakan dunianya semakin sepi.
"Wawww... ini semua rancangan kamu?" tanyanya takjub setelah berhasil meminta buku gambar itu dari Mentari.
Mentari hanya mengangguk dan tersenyum.
"Iseng-iseng Mih ... " Mentari kembali tersenyum.
"Iseng-iseng gimana? ini keren banget, kamu mau nggak kalo kamu pindah ke Jakarta! kamu jadi designer di butik Mamih yang di sana." Wanita paruh baya yang masih cantik dan glamor itu menawarkan sebuah pekerjaan yang menjadi impian Mentari selama ini.
"Nggak bisa, Mih... aku lagi hamil, lagian suami aku gimana?" Mentari menolaknya walaupun sebenarnya dia sangat menginginkan.
"Iya, ya... Atau gambar kamu mamih beli ya? lumayan kan buat tabungan baby." ujarnya
Mentari terpaku mendengar ucapan bos nya itu, "Di beli? rancangan nya di beli, terasa bagai mimpi di siang bolong. Ternyata hobi nya bisa menghasilkan pundi-pundi di saat keuangan nya sedang sangat butuh tambahan.
"Udah berapa bulan sih sekarang?" tanyanya sambil mengelus perut Mentari.
"Mau lima bulan, Mih... " Mentari ikut mengelus perutnya yang sekarang semakin terasa gerakan-gerakan di dalam nya.
"Tapi.. gambarnya masih asal mih, aku mau nyempurnain dulu ya! biar di realisasikan di penjahitnya bagus." dia menerangkan.
"Ok, mamih tunggu ya!" Lalu Beliau pun berlalu masuk ke ruangan Beni.
Mentari tersenyum puas, ternyata karyanya bisa menghasilkan. Dan dia semakin bersemangat menggambar design baju-bajunya. Di peluknya buku gambar yang masih dia genggam di tangannya itu.
"Rejeki kamu sayang." Kembali tangan itu mengelus anaknya yang masih ada di dalam perutnya.
π
π
Mentari mengerjapkan matanya, kepalanya berat dengan mata yang membengkak. Dia bangun dan turun dari ranjang berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Semalam dia bertengkar hebat dengan Dafa, seperti biasa Dafa yang cemburu buta, hanya karena Mentari pulang di antar Beni, dan Dafa tak menerima alasan apapun.
Padahal Mentari kembali merasakan nyeri di bagian perutnya. Dan Beni lah yang mengantarkannya pulang itu pun atas perintah Mamih.
__ADS_1
Tepat di saat itu, Dafa yang baru akan keluar rumah untuk menjemputnya.Dan mereka saling berhadapan, Dafa yang hampir mengamuk di depan rumah mereka kalau saja Mentari tak menahannya mungkin mereka sudah baku hantam.
Di firma hukum Dafa masih belum ada kejelasan, terlalu banyak saingan dengan para advokat yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Pekerjaan nya di cafe Rijal pun masih di lakukan. Jadi Mentari belum mau berhenti bekerja karena belum mendapat kejelasan tentang pekerjaan Dafa.
Entah mungkin karena terlalu capek atau bagaimana kaki Dafa tak kunjung sembuh, malah makin sering ngilu dan jalannya masih terpincang-pincang. Dia berhenti berobat dan terapi di karenakan keuangan, apalagi yang kini sedang menguji mereka.
Mentari teringat kemarin suaminya itu langsung pergi saat mereka bertengkar, tapi jam 3 dini hari ranjang nya masih kosong, tampaknya suaminya itu belum pulang.
Dia berjalan ke luar kamar bermaksud membuat minuman hangat, karena lagi-lagi perutnya terasa nyeri kembali.
Mentari berjalan menuju dapur matanya membola sempurna saat melihat sepasang manusia teronggok tidur berpelukan di sofa ruang tamu mereka, yang terlihat jelas dari dapur yang posisinya sejajar dengan Ruang keluarga.
Mentari terburu-buru menghampiri, hatinya hancur dan juga dadanya sakit menyesakkan. Saat melihat suaminya tidur saling berpelukan dengan seorang wanita yang mengenakan baju kurang pantas dengan rambut berwarna merah menyala.
"Mas... Mas... bangunnn." Mentari memukul-mukul mereka berdua dengan bantal sofa.
Wanita yang sedang memeluk suaminya itu langsung tersadar dan segera bangun.
"Kamu siapa? beraninya tidur dengan suami saya!" Mentari menyentaknya dan kembali matanya menatap tajam pada leher wanita itu yang terdapat banyak tanda merah. Membayangkan jika itu ulah Dafa suaminya hatinya semakin merasa sakit dan di penuhi rasa kecewa.
"Saya menemani Mas Dafa dari semalem, dan saya antar kesini setelah menemukan alamatnya di kartu Tanda penduduk dalam dompet nya." Ujarnya santai.
"Kalian ngapain aja?" Mentari sudah tidak tahan lagi perutnya kembali terasa sakit.
"Nggak ngapa-ngapain, saya hanya menemani dia minum. Dia meracau katanya istrinya nggak nurut susah di atur, dia juga menyebut nama Beni dan memaki-maki nya." wanita itu dengan santainya menjawab sambil mengeluarkan sebuah bungkus rokok dari tas nya.
"Kalau malam dia tidak terlalu mabuk, mungkin kami sudah... " Ucapnya terhenti saat melihat Mentari yang pergi ke arah dapur dan datang kembali membawa sebuah wadah berisi air dan menyiramkan ke arah Dafa yang masih pulas tertidur.
"Anji**, apaaa ini?" Dia terbangun mengusap wajahnya yang basah kuyup. Kesadarannya belum kembali dia masih terlihat sempoyongan.
"Pergi kamu, ngapain masih di sini?" Mentari menatap nyaman wanita yang sedang asik merokok sambil menyaksikan apa yang di lakukannya pada Dafa.
"Aku belum dapat uang, dari Mas Dafa!" katanya tak tau malu.
"Berapa? Berapa yang harus suami saya bayar atas jasa kamu?" Tanyanya semakin geram.
"Satu juta, itu udah dengan servis kissing nya, kalo servis sampai di ranjang harganya bisa dau kali lipat." Ucapnya santai.
Mentari berlari masuk kamar, dan datang kembali dengan uang satu juta, "Nih... pergi sekarang juga dari sini." Dia melemparkan uang yang tadi di sebutkan oleh wanita di hadapannya.
Wanita itu mengambil uang itu, kemudian menyambar tasnya yang ada di meja.
"Lagi hamil kok marah-marah, makannya nurut sama suami jangan malah bikin dia kesal dan nyari pelampiasan ke minuman." katanya menggurui.
Mentari terduduk di lantai dia meraung menangisi kelakuan Dafa, yang selalu melampiaskan ke minuman saat sedang marah, tapi kali ini suaminya itu benar-benar keterlaluan.
Mentari mendongak ke arah Dafa yang terduduk dengan kepala yang basah kuyup.
"Kamu jahat, Mas." Wanita hamil itu bangun dan segera memukul-mukul Dafa dengan kepalan tangannya.
Dia semakin kencang menangis saat dia melihat noda merah yang juga terdapat di leher dan di sekitar rahangnya.
__ADS_1
"Berisik... kepala aku sakit, mana istri aku tadi? dia lagi tidur kamu bangunin, pergi kemana dia?" tanya Dafa dengan suara parau dan tubuh yang masih terseok.
"Aku, istri kamu... " Mentari kembali berteriak sambil kembali memukul-mukul nya.
"Bukan, istri aku yang tadi. Dia lagi nurut suruh apa juga mau, dia udah janji nurut." Dafa berucap dan kembali tertidur dengan posisi wajah yang menukik di sofa.
Mentari tertegun saat mendengar perkataan Dafa, "Istri yang nurut, maksudnya apa coba? aku nggak nurut soal kerjaan aja. Itu aja, karena kita butuh uang." jelasnya dalam Isak kan.
Mentari kembali meremat perutnya yang kembali sakit. Lalu dia kembali kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya walaupun isak tangis dan rasa sesak di dada masih dia rasakan. Dia mencoba tidur demi kesehatannya dan calon bayinya.
*
*
Aroma parfum menguar di indra penciuman nya.
Mentari terbangun dengan perut bawahnya yang masih terasa sakit, Dia melihat Dafa tengah memakai dasinya menghadap ke kaca lemari.
Tatapan mereka bertemu di pantulan cermin, Mentari masih terlihat kesal dan Dafa tak menampakan rasa bersalah nya.
"Kenapa kamu lakuin itu semua?" Mentari kembali terisak masih di atas kasur.
"Lakuin apa?" Dafa balik bertanya.
"Kamu peluk-pelukan dengan perempuan, leher kalian berdua penuh tanda merah." Suaranya bergetar menahan emosi.
"Kamu aja bebas sama laki-laki, kenapa aku nggak boleh?" Dafa menyambar Jas nya yang masih tergantung di lemari.
"Tapi aku nggak ngelakuin perbuatan hina kayak kamu, Mas... Malah Mas Beni banyak nolong aku." Mentari membantah tuduhan Dafa.
"Mana aku tahu apa yang kalian lakuin di belakang aku!" katanya ketus sambil berlalu dari kamar dan membanting pintu dengan kuat.
Mentari kembali menangis, sakit hati akan tuduhan Dafa yang tak masuk akal. Suaminya itu salah paham karena cemburu yang membelenggu hati dan pikiran nya.
Hampir dua jam Mentari menangis di atas kasur. Perutnya pun semakin sakit, dia bermaksud akan pergi ke rumah sakit. Saat sedang menutup pagar perutnya seolah tengah di sayat benda tajam.
Seketika dia meremas perutnya itu, dan cairan hangat mengalir di sela paha nya.
"Darah... ya Tuhan... selamat kan anakku." Dia histeris.
"Tolong... tolong selamatkan anak aku!" Mentari berteriak
Tetangga sebelah keluar dan segera menolong nya, membawa Mentari ke klinik di depan komplek.
"Tolong, selamatkan anak saya... " Mentari terus merintih dan histeris di dalam mobil tetangga nya itu.
"Iya, sabar ya Mba, berdoa." Ucapnya menenangkan Mentari yang terlihat panik.
Bersambung β€β€β€
Makasih yang udah mampir ππ, like komen nya jangan lupa biar kita bisa ngobrol π€π₯°π₯° semoga suka ππ
__ADS_1
sehat dan bahagia selalu buat kita semua β€β€β€