
...❤❤❤❤...
Mentari gelisah dalam tidurnya, dia mengintip sedikit dari pintu yg kuncinya sudah kembali dia putar sejak tadi, tapi suaminya itu tidak mencoba masuk atau kembali membujuknya.
Dia melihat suaminya masih memangku laptopnya, "Ish, katanya capek. Tapi dah mau jam dua masih di depan laptop." Gerutunya dalam hati.
Kembali dia mencoba berbaring dan memejamkan matanya, namun rasa kantuk hilang begitu saja.
Sudah hampir jam tiga suaminya masih belum masuk ke dalam kamar, jujur saja dia rindu pada pelukan suaminya itu.
"Ck, ngapain aja sih?" dia kembali mengintip dari pintu yg dia buka. Punggung suaminya itu sudah tak terlihat, cahaya dari layar laptop pun sudah tidak terlihat.
Dia mengendap-endap mendekat. Terlihat Dafa sudah berbaring di sofa dengan sebelah tangan yang dia lipat di atas wajahnya.
Di meja terlihat gelas yang isinya tinggal sedikit, lalu ada bungkus obat masuk angin yang telah sobek.
Sepertinya suaminya benar-benar kurang enak badan, hatinya terenyuh. Merasa bersalah sudah marah-marah karena kecurigaan sebuah telpon yang masuk ke ponsel suaminya.
Keberanian dari mana, Mentari ikut merebahkan tubuhnya di samping sang suami, lalu memeluknya erat.
"Aku juga kangen, tapi kamu selalu nyebelin." gumamnya pelan.
...~~~...
Dafa yang baru terlelap setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya. Saat dia baru memejamkan mata, terdengar suara pintu kamar di buka.
Cepat-cepat dia menutup wajahnya dengan tangan nya.
Dia merasakan ada pergerakan di sofa itu, istrinya tidur di sebelah nya, aroma manis yang sangat dia kenal menyeruak di indra penciuman nya. Tubuh istrinya yang hanay memakai kain perdalaman menempel ke kulit kakinya yang hanya mengenakan boxer longgar.
Tiba-tiba terdengar ucapan Mentari yang mengutarakan rasa rindu nya. "Dasar cewek, gengsi nya kegedean. Sok2an nggak kangen." Kekehnya dalam hati.
Lalu pelukan itu, pelukan yang sudah sangat dia rindukan di minggu-minggu mengheningkan cipta untuknya. Akhirnya dia menyerahkan diri. Gumamnya dengan hati yang bersorak-sorai.
Hatinya sungguh senang, sesuatu dalam dirinya seolah bangkit menagih sesuatu.
Mentari yang sepertinya mulai terlelap dengan memeluk tubuhnya, dan tanpa sadar kakinya menyentuh sesuatu yang sudah mengetat sedari tadi.
Dafa berusaha memperjuangkan aktingnya, namun pergerakan dari istrinya semakin menyiksanya. Ingin rasanya dia mengungkung dan menghujani Mentari dengan kecupan yang membabibuta, namun nyatanya sebuah pukulan yang malah dia dapatkan.
Plakkk ... "Mas, kamu nggak tidur kan? ngeselin asli, aku kesell banget." Mentari mengguncangkan tubuh Dafa.
Dafa kemudian membuka matanya seolah dia baru bangun dari tidurnya. "Apa sih, Sun? dari kapan kamu di sini tidur?" tanyanya.
Mentari yang merasa malu, hanya diam mencebik dan memalingkan wajahnya yang merona.
"Sini, peluk lagi. Aku juga kangen bukan kamu doang."Dafa sedikit menarik tangan Mentari agar kembali berbaring dan memeluknya.
Pandangan mereka bertemu, Dafa menyeringai senang dan lega menjadi satu.
" Aku masih kesel."
"Iya, biarin."
"Masih kesel juga,"
"Aku tau."
"Masih marah."
"Iya, biarin asal cepet maafin. Aku nggak tahan kamu diemin dua minggu." Dafa mulai mengusap punggung Mentari yang setengah polos.
__ADS_1
Entah siapa yang duluan, namun kini mereka sudah saling menautkan bibir nya. Suara decapan saling berbalas. Mentari melepaskan bibir nya, terlihat raut kecewa di wajah Dafa
"Apa?" tanyanya sambil tersenyum meledek.
"Ck, kalau sekiranya nggak akan ngasih, nggak usah sok2an gelar red karpet. Dah mau ke pintu, di banting tuh pintu." Dafa memeluk erat tubuh Mentari.
"Besok libur? nggak akan kemana-mana kan?" Mentari berkata di ceruk leher Dafa.
"Iya, makanya barusan aku beresin file yang harus di periksa, sama bales beberapa e-mail. Biar besok full sama kalian." Dafa berbicara sambil mengendus aroma tubuh istrinya yang begitu terasa menggoda.
"Aku pengen, apa nggak apa-apa ya dia?" tangannya mengelus tonjolan perut sang istri.
Mentari tertawa mendengar perkataan suaminya, "sejak kapan, kamu minta ijin? biasanya suka main terobos aja. Kecuali pas MP kita doang yang kamu minta ijin."
"Dih, aku masih ngerasa bersalah. Malu sama baby, udah ampir ngebunuh dia, tapi sekarang aku pengen tengokin." Ucapnya bangkit dan mencium perut istrinya yang membulat.
"Coba aja dulu, pelan-pelan aja." Usul perempuan hamil itu sambil menutup mulutnya malu-malu.
Dafa memandang ke arah nya dengan wajah yang penuh kegembiraan seperti seorang anak kecil yang memenangkan hadiah uang dari sebungkus ciki.
"Serius?"
Mentari mengangguk, "aku juga kangen." Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dafa menunduk mengecupi dada yang masih terbungkus naik ke leher, dan tangannya menarik tangan istrinya ke atas kepalanya, lalu bibir itu dia sesap penuh gai*rah.
Dia sudah mulai menggesekkan miliknya yang mulai mengeras ke paha Mentari, menandakan dirinya siap untuk memulai permainan.
Sebuah suara gagang pintu yang terbuka di ikuti suara langkah kaki mendekati dapur, Dafa langsung bangun dari posisi sedikit menindih tubuh istrinya
"Intan." Ucap keduanya tanpa suara.
*
*
"Eh, Teh udah bangun?" Intan kaget di jam yang baru menunjukkan pukul 4 kurang tapi majikannya sudah terbangun.
"Iya, haus." Mentari menyimpan gelas yang barusan dia pegang ke atas meja makan.
"Sekalian saya mau ijin pulang ke rumah ibu, Teh."
Mentari yang berjalan ke arah lemari mengambil susu hamilnya, menoleh ke arah orang yang membantunya di rumah itu yang sedang membereskan piring-piring sisa semalam mereka makan mie.
"Oh, iya . sekarang sabtu ya? boleh sok aja teh. Mau pergi jam berapa?" tanyanya
"Sekarang aja teh abis subuh. Saya mau beresin dulu ini sedikit." Ucapnya.
"Iya, gaji teteh udah di tranfer bapak nya Helen belum?" tanyanya.
"Udah teh, makanya saya mau pulang. Mau bayar cicilan huthut. Teteh sama Ayah nya Helen, meni baik pisan. Saya beruntung banget di rekomendasiin Pak Langit. Ini emang keluarga yang pada baik." Tatapannya penuh rasa terimakasih.
"Eh, emang Kak Bintang baik?" Mentari menatap Intan menunggu jawabannya.
"Kecuali itu, teh. Marah-marah wae, saya nggak ngerti salah saya di mana? kaos kaki Helen miring aja jadi masalah." ucapnya menerawang lelaki yang baru-baru dia kenal.
"Maaf, ya. Tapi aslinya dia baik, cuma lagi ada masalah sama pacarnya biasa kalo LDR suka ada aja masalah nya. Sama Ayah saya aja sering gelut, bibirnya setara dengan tiga bibir ibu-ibu rempong. Sama Ayahnya Helen juga sering bentrok kan dia. Ya gimana emang wataknya dia gitu, slengean." Mentari membenarkan perkataan Intan sekaligus membela Kakaknya.
"Ya udah deh, saya tidur lagi ya. Kalo mau pergi sok aja, tapi pager kunciin lagi ya kayak biasa."
Intan mengangguk mengerti, dan langsung membereskan pekerjaan nya setelah Mentari kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
*
*
Mentari masuk ke kamar, dan pandangan nya tertumbuk pada Dafa yang sudah berbaring miring menatap dengan wajah sayu, kaos sudah terlepas tinggal boxer nya saja.
"Ayo , Sun. nggak kuat." Ajaknya sambil memukul-mukul bagian sisi tempat tidur mereka yang kosong di sebelahnya.
Mentari terkekeh sesaat, sambil berjalan ke arah suaminya sambil mengikat rambutnya.
"Urai rambutnya, jangan di iket." pinta lelaki yang sudah terlentang itu.
Mentari menarik ikatan rambutnya, merangkak naik ke atas tempat tidur sambil melepaskan kacamata dadanya. Dafa merentangkan tangannya menyambut istrinya yang terlihat sangat menggoda.
Tapi mentari tak menghampiri nya, dia menuju ke bagian tubuh bawahnya, boxer tipis itu dia tarik lepas. Dafa menatapnya penuh takjub dan memuja.
Apalagi saat kehangatan mulut istrinya melingkupi jamur kuncup miliknya, rahangnya mengeras dan kepalanya mendongak ke atas sambil memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang istrinya berikan di bagian intinya.
"Emmm ... Sun, ampun. kamu enak banget." Dafa terus meracau dengan desa*han yang tertahan. Tangannya memainkan dada Mentari yang menggantung dan puncak nya menggesek pahanya.
"Sun, aduh aku ampir nyampe. Udah, sini." Dafa menarik tubuh istrinya agar mendekat ke arahnya.
Mereka kembali menautkan bibir, saling menyesap. Rasa rindu itu mereka luapkan dalam sebuah kegiatan yang sama-sama mereka sukai.
"Cepet, masukin." Mentari merengek sebel saat suaminya terus mengulur waktu.
"Foreplay dulu, Sun."
"Ah, lama. Aku ngantuk. ntar keburu Helen bangun." Tangannya sambil menyusup ke bawah dan kembali memainkan jamur kuncup yang sudah bangkit sempurna.
Dafa terkekeh, dia pun bangun dan mengungkung tubuh istrinya, kembali dia menunduk mencium anaknya yang masih dalam perut Mentari. "Ayah masuk ya, adik jangan kaget." bisiknya, dengan tangan yang memilin chococips Mentari.
Saat dia mengarahkan posisi Jamur agar masuk sempurna, dan mereka melenguh bersama saat miliknya terbenam sempurna, Saat baru beberapa kali mengentak dengan perlahan, Mentari malah memukulnya. " Cepetan, ngapain slow motion, bukan kamu banget!" Mentari mencibir.
"Astaga, kau takut kalian kenapa-kenapa, malah di ledekin." Dafa menggerutu.
Saat mereka masih berdebat dengan tempo, dengan bagian tubuh masih tertanam. Helen terdengar merengek di box nya.
Dafa menepuk keningnya, Mentari mendongak ke arah box.
"Aduh," Ucapnya.
"Tanggung." Dafa kembali menggerakan tubuhnya sambil kepalanya menunduk dan mengecap seperti bayi kehausan. Erangan dan desa*han nikmat mereka tenggelam dan teredam dalam tangisan Helen yang mulai kencang.
Dafa melepaskan penyatuan mereka, mereka masih mengatur nafas masing-masing, "Ambil Helen." Pinta Mentari yang tangannya meraih kotak tisu di dekat nakas. Dafa yang masih memijat jamurnya yang masih sedikit mengeluarkan getahnya. Berjalan ke arah box dan melihat anaknya itu menangis namun dengan mata tertutup.
Tangannya menepuk-nepuk paha Helen, dan bayi itu berhenti menangis, dan kembali tertidur.
Dafa menyeringai lalu dia berlari ke arah istrinya kembali yang sedang melap sisa-sisa getah kental itu.
"Sun, tidur lagi. Yuk sekali lagi, masih keras nih!" Dia merangkak ke atas tempat tidur.
Mentari tersenyum, "Hayukk ... siapa takut." kekehnya.
"Gas keun ... " Dafa kembali memulai permainan.
Bersambung ❤❤❤
Like, komen, dan lope nya dong 🙏🙏🙏🙏
Sehat-sehat ya kalian semua😘😘😘
__ADS_1