
...❤❤❤...
Perdebatan dengan Bintang membuat mood Mentari menjadi anjlok, fokusnya pun buyar dan dia mulai marah-marah dan menjerit-jerit.
Dafa menyendokkan satu sendok madu murni untuk istrinya, saat Mentari mengeluh sudah tidak bertenaga. Dokter menyarankan untuk meminum madu agar memberikan sedikit tenaga.
Mentari meringis dan Dafa dengan setia memeluk istrinya, mengusap-usap punggung sedangkan istrinya menjambak, mencakar dan menggigit pundaknya. Tak apa jika itu bisa mengurangi rasa sakit pada istrinya pikirnya. Walaupun tak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang di lalui istrinya.
"Argggghhhh... Ini, ini udah ada yang neken." Mentari menjerit saat merasakan sesuatu menekan inti tubuhnya seolah siap meluncur.
Dokter yang berada tak jauh dari mereka langsung mendekat dan memeriksa.
"Iya, pembukaan sudah sempurna, coba ibu pegang!" tangan Mentari di tuntun menuju tubuh bawahnya, sesuatu yang menonjol yang dia rasa adalah kepala bayinya sudah mengintip.
"Iya, itu kepalanya. Kepegang kan?" ucap dokter antusias memberi semangat.
Dafa menangis meraung seperti anak kecil, saat melihat perlahan kepala bayi itu semakin jelas terlihat.
"Sakit... " Mentari merintih saat kepala bayinya melintas keluar perlahan berkat aturan nafas dan dirinya yang mengejanya dengan tepat.
"Iya, sabar sayang. Kamu hebat... "Dafa berkata sambil menangis.
" Mas, nggak ngerasain. Aku yang sakit." Mentari kembali meremat kuat lengan atas suaminya tepatnya menancapkan kuku-kukunya.
"Iya, maaf. Gara-gara, Mas. Kamu jadi kesakitan kayak gini. Udah dua aja anak kita." Bujuknya memberi penguatan. Dia merasa menjadi orang yang paling di salahkan dalam proses kelahiran ini. Padahal salahkan cebongnya yang tangguh dapat menerobos perboden pil penunda kehamilan yang istrinya minum.
Dafa kembali menangis saat melihat kepala itu semakin sempurna keluar dari tubuh istrinya.
"Sayang... Huwaaa... " Dafa meraung bak anak kecil.
"Diem... diem... aku nggak fokus, anaknya beluk keluar semua." Mentari menjambak rambut Dafa dengan sekuat tenaga.
"Iya-iya maaf sayang, ayo terus semangat."
"Sakit... Semangat, bantuin." Mentari mengejanya sekuat tenaga saat gelombang cinta datang seolah bayinya mengajak ibunya untuk mengejan.
"Bapak boleh memegang bayinya, menyambutnya." Tawar dokter Mila yang berada di luar kolam, Bidan sudah siap dengan handuk menyambut bayi keluar.
Dafa menoleh sesaat ke kepala bayinya yang menghadap ke bawah, dengan takutnya dia memberanikan diri memegang kepala itu, dengan pundak yang di remat tangan istrinya.
Dan Dafa kembali menangis, membayangkan pengorbanan istrinya dulu saat melahirkan Helen tanpa dirinya.
"Argggghhhh.... " Mentari menjerit mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengejan.
Dan bayi itu meluncur sempurna jatuh di tangan Ayahnya. Dengan jeritan tangis melengking khas bayi.
"Alhamdulillah... " Ucap semua orang yang ada di sana. Intan yang berada di ambang pintu pun merasa lega.
Dafa masih mematung dengan air mata yang tak henti mengalir, sungguh dia takjub dengan proses itu melihat istrinya menderita di awal kehamilannya, hingga mood nya yang naik turun, dan akhirnya perjuangannya mengeluarkan bayi mereka menjadi sebuah tamparan untuknya. Dia tidak akan pernah menyakiti istrinya secuil apapun, dia akan membahagiakan istrinya sampai umurnya di dunia habis. Pokoknya istrinya harus bahagia. Dia lebih menghargai wanita, bagaimana perjuangan Mamanya dulu hingga meregang nyawa setelah melahirkan nya. Memang sesakit dan se menyiksanya proses persalinan. Batinnya bermonolog
"Mas... "
"I-iya?"
__ADS_1
"Wah, perempuan lagi!" Dokter yang mengambil alih bayi itu berkata sambil memberikan pada Mentari.
Dafa baru sadar dari rasa terpukau nya dan menyadari dia harus mengabadikan momen itu.
"Tan... Intan." Dia berteriak tanpa tahu Intan sudah berada di ambang pintu.
"Iya Pak?"
"Fotoin, anak saya fotoin." Ujarnya salah tingkah.
Intan dengan sigap mengambil ponsel yang terlihat di dekat kolam plastik itu.
Beberapa jepretan dia ambil dari berbagai posisi. Lalu memberikannya pada Dafa.
"ini bagus banget, harus di pajang ini. Estetik banget." ujarnya berbicara sendiri melihat hasil jepretan Intan.
"Bu, boleh sambil di inisiasi menyusui dini." Dokter yang tengah mengeluarkan plasenta yang terhubung dengan ari-ari bayi, dan membersihkan semua yang tersisa di dalam tubuh Mentari.
"Mau memotong tali ari-ari nya pak?" Tawarnya lagi sambil memberikan gunting medis.
Dafa mengangguk cepat dan langsung mengambil gunting itu memotong tali ari-ari anaknya, putri keduanya.
Dia memeluk dan menciumi Mentari, "makasih sayang, aku makin jatuh cinta sama kamu. Maafin aku ya, aku janji akan membahagiakan kalian." Janjinya dengan sungguh-sungguh.
Mentari ikut menangis harus dan bahagia, memandang bayi ke dua mereka yang sudah mulai bisa menyesap asi nya.
"Bayinya saya ambil alih, mau di bersihkan dulu." Bidan mendekati mentari dan mengambil bayi itu yang menelungkup di dada Ibu nya, setelah melepaskan hisapan asi pertamanya.
"Selimutin bagian atas tubuh Ibu nya, Pak." ujarnya saat melihat Mentari sedikit menggigil.
Lalu Dafa, segera menyelimuti tubuh istrinya.
Dan dokter menekuni memberi penanganan bagian bawah tubuh pasien nya.
"Mas... pusing... " Mentari meringis saat dia merasakan keadaan sekitarnya terlihat berputar-putar .
Dafa menunduk menatap wajah istrinya, "Dok, istri saya pucat sekali." Dafa menjengit cemas.
"Pak, boleh minta teh madu panas buat Ibu."
Dafa yang masih memakai boxer basahnya langsung berlari ke arah pintu hendak meminta Intan membuatkan teh madu yang di perintahkan oleh sang dokter.
Betapa kagetnya dia melihat mertua juga iparnya sudah ada di ruang tamu.
"Gimana?" Bunda bertanya menghampiri.
"Intan mana Bun?" tanyanya gelisah.
"Di bawa Bintang ngajak main Helen." Jelasnya.
"Di suruh bikin teh madu Bun, mentari pucat pusing juga katanya." Ujarnya.
__ADS_1
"Biar Bunda yang bikinin." Lalu wanita paruh baya itu berlari ke arah dapur.
"Pake baju dulu." Ayah yang duduk dengan Langit dan Cindy yang matanya di tutup oleh Langit. Menatap dirinya yang hanya memakai boxer basah.
"Eh, iya." Dafa buru-buru masuk kembali. Dan langsung mengambil bajunya dari lemari dan berlari ke kamar mandi.
Mentari tengah memejamkan mata sambil di beri penanganan terakhir.
"Sudah dok?" tanyanya mendekati istrinya sudah dengan pakaian lengkapnya.
"Sudah pak! Ini bayinya juga sudah cantik." Seorang bidan menyerahkan bayinya.
Dafa langsung menggendongnya dengan canggung, kembali merasakan rasa haru yang menyeruak di dadanya.
"Halo, anak ayah. Selamat datang di keluarga ini, ayah janji kamu sama kakak akan menjadi anak-anak yang paling bahagia." lalu dia kecup keningnya.
Mentari yang semakin merasakan pusing, tiba-tiba perutnya bergejolak dan kemudian muntah di pinggir kasur.
"Aduh... " Mentari mengaduh.
Dafa panik lalu saat akan memberikan bayi mereka pada Bidan, Bunda masuk ke dalam kamar dengan gelas berisi teh madu panas.
"Bun, titip dulu dedek. Saya mau bantuin dulu Ibunya." Ujarnya menyerahkan bayi merah itu pada Ibu mertuanya.
Mentari kembali muntah dan menggigil, dengan wajah pucat dan bibir kering dan bergetar.
Dafa langsung membantu membersihkan tubuh istrinya di bantu dokter dan bidan, lalu memakaikan pakaian dan menyelimuti tubuh menggigil istrinya.
Setelah di beri minum teh madu itu, Dia masuk ke dalam selimut dan memeluk erat tubuh istrinya.
Dokter dan Bidan keluar dari kamar memberikan waktu untuk pasangan suami istri itu.
"Ke rumah sakit , yuk." Dafa menawarkan.
Mentari nyang berada dalam pelukan nya hanya menggeleng lemah. "Mau bubur ayam, aku laper." ucapnya lemas.
Sebentar Dafa meraih ponsel nya dari meja nakas, dan mengirim kan pesan pada Intan yang sedang berada di luar.
Lalu dia kembali mengusap-usap punggung istrinya yang berada di bawah selimut tebal.
"Mas.."
"Ya?"
"Namanya siapa?"
"Shera Dafania putri." Ucapnya, "kayak kakaknya beda depannya aja." Ujarnya lagi.
"Cantik... namanya cantik" Mentari tersenyum mendongak menatap suaminya.
Dafa menunduk pandangan mereka bertemu, Dafa mengecup sesaat bibir pucat itu, "makasih sayang, makasih semuanya." Katanya.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘