Kisah Mentari

Kisah Mentari
Gerebek


__ADS_3

❤️❤️❤️


Mentari tercengang akan apa yang matanya tangkap. Sebuah benda yang asing namun mengerikan di pikirannya


"Mas... jangan macem-macem, itu Kon*dom buat apa coba?" Mentari semakin gelisah.


Dafa mendekat dengan bagian atas tubuhnya yang sudah polos.


"Tujuan kita bersama kan? untuk bisa bersama ya kita menikah! kamu masih ragu?" rentetan pertanyaan Dafa ajukan.


"Bukan ragu, bahkan aku nggak tau apa itu arti seorang istri, aku juga nggak bisa masak dan ngurus rumah!" jawabnya masih dengan pemikirannya yang melanglang buana.


"Ck... tugas kamu selalu ada di samping aku, nggak usah mikir masak kita bisa beli, nggak usah mikirin beresin rumah ada housekeeping.


Kita belajar bersama, aku juga nggak ngerti cara jadi suami yang baik."


"Menurut aku, di buat enjoy aja jangan di pake ribet. Asalkan kita bahagia udah lebih dari cukup. Yang lainnya bisa sambil belajar seiring berjalannya waktu." tambah nya lagi.


Mentari menatap netra hitam pekat milik kekasihnya itu, "Kamu, kenapa pingin nikahin aku?" tanyanya penasaran.


Dafa menghela nafasnya


"Sebelumnya, hidup aku hambar dan monoton. Aku rasa nggak ada orang yang peduli, aku ingin ada yang perhatiin aku, ingin ada seseorang yang jadi tujuan hidup aku, tempat aku pulang, dalam artian bisa menjadi tempat aku berbagi suka dan duka, dan itu semua aku dapat ada di kamu!" Ucap Dafa penuh rasa yakin.


"Selama ini aku haus kasih sayang, Papa yang tidak pernah menganggap aku, menjadikan aku orang yang tidak bisa mengekspresikan rasa cinta, kadang mikir aku hidup untuk siapa? apa aku berguna untuk orang lain? adakah yang perduli sama aku? selalu itu yang berputar dalam otakku." wajah tampan itu mulai sendu, terlihat dari matanya yang sudah mulai memerah.


"Keluarga kita?" tanya Mentari dengan wajah sendu.


Dafa membelai lembut wajah Mentari yang mulai meneteskan air mata.


"Kamu berat meninggalkan keluarga kamu?" tanyanya.


"Entah kenapa mereka begitu membenci kamu, Mas?"


Dafa menghela nafas beratnya.


"Sun...


" Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku, sekeras apapun aku mencoba meyakinkan mereka akan sia-sia, kita tetap akan selalu buruk di hadapan mereka. Dan sebaliknya seburuknya kita di depan orang yang menyukai kita ya kita tetap akan di cap sebagai orang baik. karena itu semua tergantung mindset mereka " terang lelaki 26 tahun itu.


Mentari terdiam menatap pria yang sedang mengucapkan kata-kata bijak.


"Aku kira Mas nggak bisa ngomong serius dan se dewasa itu." gadis itu menahan tawanya.


"CK... kamu meragukan kedewasaan aku? kamu tau aku udah nyari duit dari SMP, memecahkan segala masalah sendiri, mengambil keputusan-keputusan penting sendiri." Ujarnya bangga.


"Papa...Mas?" tanya nya takut.


"Aku males berurusan dengan orang sombong kayak gitu, mau menang sendiri, nggak mikir perasaan orang lain!" geramnya kesal.


"Ish... itu tetep Papa kamu,Mas!" Mentari menenangkan


"Nggak butuh," Dafa membuang wajahnya yang sudah mulai tersulut.

__ADS_1


"Aku beli apartemen, mobil pokoknya semua benda yang sekarang aku punya itu pakai uang hasil jeripayah aku sendiri. Kartu yang selalu dia transfer uang untuk hidup aku nggak pernah aku pakai. Aku bisa memenuhi semua kebutuhan aku sendiri." ucapnya membanggakan dirinya.


"Sombongnya... " Mentari memutar bola matanya jengah.


"Nggak lah, itu nyata. Aku cuma berbagi cerita aja." Elak nya sambil terkekeh.


"Terus kalau akhirnya kita nikah, kuliah aku?" tanyanya penuh harap.


"Ya terusin lah, aku juga dikit lagi kelar. Kita tetep jalanin semua hal kayak biasa. Bedanya kita sudah terikat pasangan. Dan aku pastiin bakal tambah seru dan berwarna hidup kita. Aku janji bikin kamu bahagia." Dafa kembali mengusap pipi itu sedikit menariknya agar mendekat lalu memagutnya lembut.


*


*


Dafa kembali memagut bibir itu, saat dia lihat beberapa orang berjalan ke arah mobilnya.


Dia mengecupi leher Mentari, sedikit memberikan hisapan di beberapa titik leher jenjang nan putih itu.


"Ehmmm... Mas, jangan di situ."Mentari melenguh menahan perlakuan Dafa padanya.


Dafa menurunkan kecupan itu ke daerah dada, setelah dia berhasil membuka beberapa kancing kemeja yang Mentari pakai. Bulatan sintal nan lembut itu begitu membuatnya terhipnotis. Pikirannya bercabang antara rasa nikmat dan misi yang sedang dia jalankan.


"Sial.. bisa kacau ini!" gerutunya dalam hati.


*


*


Dafa... jangan di tanya itu memang kegiatan yang dia sukai saat bertemu dengan Mentari.


Rematan Dafa yang dia lakukan pada Mentari semakin liar dan menuntut. Mentari mencengkeram punggung polos Dafa.


Dafa sudah tidak kuat menahan sesuatu Nyang semakin mendesak, dia lepaskan sesapan di area benda empuk nan lembut itu.


Dia menetralkan deru nafasnya yang semakin tak karuan, saat akan kembali menyesap benda empuk itu...


"Dukkkk....Duk...Duk..."


Gedoran di kaca membuat mereka terlonjak kaget khususnya Mentari.


Dafa dengan segera membuka jendela itu, sedangkan Mentari membenahi kemejanya yang sudah lolos dari tubuh bagian atasnya.


"Heh... kalian lagi apa? "


"Lagi ,mesum pasti?


"Keluar kamu!"


Ucap ketiga orang yang menggebrak kaca mobil milik Dafa.


"Maaf, semuanya. Ini salah paham!" elak Dafa.


"Salah paham, tapi lepas baju!" ucap seorang lelaki.

__ADS_1


"Memangnya kita bodoh Mas?" timpal seorang wanita paruh baya.


"Kalian sudah memberi kesialan di kampung ini!" Ucap si ibu itu.


"Kami sebagai warga, ingin kalian bertanggung-jawab!" ucap pria bertopi.


"Bertanggungjawab bagaimana pak?" tanya Dafa


Ketiga orang itu saling berbisik, sedangkan Mentari menangis masih di dalam mobil.


"Telepon keluarga kalian masing-masing, kalian ikut ke rumah saya di atas sana!" tunjuknya pada sebuah rumah yang tak jauh dari Dafa memarkirkan mobilnya.


Dafa mengangguk dan masuk ke dalam mobil mengajak Mentari mengikuti perintah warga tersebut. Mobil pun tak luput dari geledahan para warga itu.


"Mas... kamu sih!" dia menangis sambil berjalan ke arah sebuah rumah.


"Shhhttt... Iya, maaf. Aku nggak tau bakal kayak gini." Sesalnya


*


*


Mereka sudah masuk ke dalam rumah itu duduk dengan saling berdekatan.


"Sekarang telepon orang tua kalian!" Perintah bapak-bapak botak dan gemuk itu.


Mentari meremat tangannya takut, apa yang akan di lakukan ayah dan kakak-kakaknya.


Saat mengetahui dirinya di gerebek saat melakukan hal gila.


"Ayo, cepat telepon orang tua kalian, atau kalian mau saya arak tanpa busana pelaku zinah begitu?" ancamnya.


Dafa langsung melakukan panggilan pada orang tua satu-satunya itu, dia mendapatkan bentakkan dan cacian di sebrang sana namun langsung si bapak botak itu mengambil alih ponselnya dan berbicara dengan Papa Harun.


"sekarang giliran kamu!" tunjuknya pada Mentari.


Mentari malah menangis ketakutan, tangannya bergetar mengetikkan nomor ayahnya.


"Sini biar saya yang berbicara!" Si bapak gendut itu menyambar ponsel milik Mentari.


Mentari pasrah, entah apa yang akan terjadi padanya saat ayah dan kedua kakaknya datang dan mengetahui apa yang terjadi padanya.


Dia menangis meraung-raung , saat mendengar si bapak itu berbicara dengan ayahnya.


Dafa tertunduk lesu dan Mentari masih menangis tersedu saat Papa Harun, Ayah Gunawan dan Abang Langit tiba di sana.


"Ayah... lirihnya menatap sang ayah mematung di ambang pintu.


Bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mau mampir baca🙏Semoga suka 🤗🤗 jangan lupa like dan komennya, komen julid dan membangun aku persilahkan😘😘😘😂😂


Sehat dan bahagia untuk kita semua ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2